
Hati Aksa sangat sakit ketika mendengar Aksa terisak. Meskipun kecil, tetapi mampu Aska dengar.
Sebelumnya ...
Aksa sudah berada di rumah Genta Wiguna sebelum dia berangkat ke kantor.
"Tumben," hardik Genta ke arah Aksa. Dia berjalan dengan menggunakan tongkat.
"Abang ingin mengatakan hal yang penting, Kek." Aksa adalah manusia yang langsung ke inti. Dia tidak ingin berbelit-belit.
"Katakanlah!" Genta terlihat sangat santai.
"Riana hamil, Kek." Aksa menatap ke arah sang kakek.
"Wah, selamat. Sebentar lagi Kakek akan memiliki cicit lagi," jawab Genta dengan senyum yang merekah.
"Abang ingin meminta keringanan kepada Kakek," ucap Aksa.
"Akan?" potong Genta.
"Abang ingin mendampingi Riana melalui hamil mudanya, Kek."
Genta tersenyum tipis mendengar ucapan dari Aksa. Dia menghembuskan napas kasar.
__ADS_1
"Aksa, kamu di sini memiliki tanggung jawab penuh akan perusahaan kamu sendiri yang baru saja merangkak. Apakah kamu akan meninggalakannya demi kehamilan istrimu?" Genta menatap tajam ke arah Aksa yang kini terdiam ketika mendengar ucapan Genta. "Jika, perusahaan ini kamu tinggalkan, akan kamu beri makan apa anak dan istrimu?" tanya Genta lagi.
"Abang bisa kerja di perusahaan Daddy," sahutnya. Genta tertawa mendengarnya.
"Masih ingatkah kamu akan janji kamu untuk membahagiakan Riana? Inilah caranya, kamu dirikan perusahaan kamu sendiri. Majukan perusahaannya dan kamu akan menikmati hasilnya. Kamu di rumah saja pun bersama istri dan anak kamu, uang tetap mengalir," papar Genta.
"Kakek bukan terlalu mendewakan uang. Akan tetapi, Kakek menginginkan kamu bertanggung jawab atas pekerjaan kamu. Jika, kamu mampu bertanggung jawab atas pekerjaan kamu, kamu juga akan bisa bertanggung jawab atas keluarga kamu," lanjut Genta lagi.
"Bang, Zaman sekarang cinta doang itu tidak cukup. Kamu juga harus memiliki harta dan tahta agar keluarga kamu bahagia. Apa pantas seorang kepala keluarga masih meminta-minta kepada orang tua?" Kalimat yang membuat Aksa membungkam mulutnya. Apa yang dikatakan oleh kakeknya benar. Dia tidak ingin menjadi penikmat harta orang tua.
"Kamu memang dilahirkan dari anak orang kaya. Ingat, ayahmu yang kaya, sedangkan kamu? Tidak memiliki apa-apa jika tanpa bekerja keras," tukas Genta. "Kakek tidak ingin melihat cucu-cucu Kakek hanya berpangku tangan mengandalkan harta orang tua. Kamu harus bisa berdiri sendiri tanpa embel-embel nama ayah kamu ataupun Kakek," tambahnya lagi.
Didikan yang sangat luar biasa dari seorang Genta Wiguna. Gio pun mendapat didikan yang sama hingga dia sukses seperti sekarang ini. Genta menanamkan bahwa anak serta cucunya harus bisa lebih sukses dari dirinya. Uang memang tidak dibawa mati, tetapi manusia akan mati jika tidak punya uang.
"Sabar sebentar, nanti juga kamu akan terus bersama-sama dengan istri kamu," ujar Genta.
****
Aska merebahkan tubuhnya dengan berbantalkan lengan kanannya. Dia menatap langit-langit kamar. Pikirannya menerawang jauh ke depan. Denting ponselnya terdengar. Aska segera meraih ponselnya.
"Karyawan barunya cantik Mas bro."
"Lumayan buat cuci mata."
__ADS_1
Pesan yang dikirimkan oleh Ken. Namun, Aska tidak ingin tahu dulu perihal kafe. Dia hanya ingin menjaga sang kakak ipar yang tengah bersedih. Jari nakal Aska menari-nari di atas layar ponsel
"Cuci mata mah pake sun light aja biar bersinar." Sebuah balasan yang Aska kirimkan.
Dia sudah tahu bahwa ada karyawan baru yang bekerja di kafenya. Semuanya sudah dia serahkan kepada Ken dan Juno. Selama Aksa masih berada di Melbourne dia tidak akan datang ke kafe.
Aska mulai memejamkan matanya. Dia terlelap dengan posisi yang masih sama seperti tadi. Namun, dia merasakan ada sentuhan tangan halus di pipinya. Ketika dia membuka mata, dia melihat seorang anak kecil perempuan tengah tersenyum ke arah Aska. Wajahnya sangat mirip dengan Riana.
"Hai Uncle! Makasih sudah mau nurutin apa yang aku mau hampir tiga Minggu ini. Makasih sudah selalu berkorban untuk aku." Senyum manis anak itu berikan kepada Aska.
Aska terdiam mendengar ucapan tersebut. Dia tidak mengerti, dia juga tidak kenal dengan anak perempuan itu.
"Uncle, selama Daddy tidak ada di samping Mommy, tolong jaga Mommy ya. Aku tidak ingin melihat Mommy terus-terusan menangis karena rindu Daddy. Bukan hanya Mommy yang sedih, Daddy juga pasti sedih. Tapi ... aku yakin Daddy di sana sedang bekerja keras untuk Mommy. Titip Mommy ya, Uncle. Aku sayang Uncle." Sebuah kecupan mendarat di pipi Aska.
Aska terbangun dari tidurnya dan menatap ke arah kiri dan kanan. Mencari sosok yang tadi datang ke dalam mimpinya.
"Uncle, Daddy, Mommy," gumamnya. Aska terdiam sejenak. Dia tengah menyambungkan otaknya.
"Siapa anak itu?"
...****************...
Aku hadir lagi, gak komen aku jitak nih.
__ADS_1