Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Ulang Tahun


__ADS_3

Aska menatap ke arah pengunjung. Nektra matanya bertemu dengan nektra mata indah yang juga tengah menatapnya. Berharap itu adalah Jingga. Akan tetapi, itu hanya bayang semu belaka. Sesungguhnya Jingga tidak ada di sana.


Aska tersenyum tipis, ternyata wanita itu belum hilang dari ingatannya. Dia masih terus memikirkan Jingga. Belum tentu Jingga memikirkannya.


Kata orang, Aska adalah orang yang lamban dalam bertindak. Bukan seperti itu, Aska sudah mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya dengan Jingga sehingga dia memilih untuk mundur secara perlahan sambil mencari celah untuk bisa mendapatkan.


Kisah Jingga sangat membuat hatinya sakit, maka dari itu dia tidak ingin menambah luka di hati Jingga dengan cara memaksa. Biarlah kekuatan yang berbicara.


Tanpa dua pria ini duga, Ayanda beserta Gio juga keluarga Rion datang membawa dua buah kue ulang tahun. Nyanyian dari ketiga keponakan mereka serta Upin Ipin menambah keterkejutan mereka berdua.


"Selamat ulang tahun, Abang Sayang," ucap Riana seraya tersenyum ke arah Aksa. Kemudian, dia memeluknya dengan erat.


Aksa tidak bisa berkata-kata, sungguh dia amat terkejut. Si triplets naik ke atas mini panggung dan memeluk Aska.


"Selamat ulang tahun, Om," ucap mereka bertiga.


Hari yang sangat membahagiakan, tetapi terasa masih ada yang kurang. Hati Aska terasa kosong, berbeda dengan abangnya yang sudah mendapat hadiah terindah, dua benih yang tengah tumbuh di rahim Riana.


"Make a wish, lalu tiup lilinnya." Kedua pria kembar itu memejamkan mata dan memanjatkan doa masing-masing. Kemudian, mereka meniup lilin secara bersamaan.


Senyum melengkung indah di wajah Ayanda. Dia bisa merasakan kembali acara ulang tahun kedua putranya dengan lengkap. Biasanya, Aksa tidak ada di Indonesia.


"Selamat ulang tahun, Kak," ucap Riana.


Walaupun sudah menjadi kakak ipar, Riana tetap memanggil Aska dengan panggilan kakak. Dia tidak biasa karena sedari kecil memanggil Aska dengan panggilan kakak.


"Makasih, ya." Aska tersenyum ke arah Riana.


Dia membungkukkan tubuhnya ke arah perut Riana dan berucap, "jangan minta yang aneh-aneh ya, kalau Daddy kamu lagi dinas. Uncle gak sanggup," keluhnya.


Semua orang tertawa mendengar keluhan Aska, sedangkan Riana sudah memeluk pinggang sang suami. Berhubung malam ini adalah malam yang spesial, semua pengunjung tak perlu membayar tagihan makan mereka. Semuanya Gio yang menanggung.


Ternyata, banyak tamu yang datang. Ada Fahri, Fahrani, Christian serta Christina. Mereka mengucapkan selamat dan memberikan hadiah kepada dua pria dewasa yang tengah berulang tahun ini.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun bos muda," ucap Fahri dan juga Christian.


"Selamat ulang tahun, Pak," ucap Christina juga Fahrani.


Aska memilih untuk pergi, dia tidak ingin berbicara ataupun menatap dua wanita sahabat abangnya itu, sedangkan si triplets masih menatap tajam ke arah Christina. Sedari umum tiga tahun mereka sangat tidak menyukai Christina.


"Jangan liatin om aku kayak gitu, nanti aku colok nih," ancam Aleesa sambil memegang garpu kue ulang tahun.


Christina sedikit terlonjak mendengar ucapan Aleesa, sedangkan Fahrani sudah tertawa.


"Jangan ketawa nenek lampir," sentak Aleeya yang sudah berkacak pinggang.


"Jangan harap om aku mau sama kamu!" oceh Aleeya.


"Gak mau ih sama kalian berdua. Gelay," lanjut Aleena dengan gaya songongnya.


Dua wanita itu seperti merasa dimusuhi oleh ketiga keponakan Aksa serta Aska. Padahal, mereka merasa tidak memiliki masalah apapun dengan ketiga keponakan Aska tersebut.


Aska memilih duduk di halaman belakang kafe miliknya. Dia menatap langit yang sangat indah, tetapi tak seindah hatinya.


Aska sedang meratapi kesedihannya. Terkadang dia ingin komplain kepada Tuhan, kenapa sang Abang yang diberikan kebahagiaan terlebih dahulu. Namun, dia juga sadar dia tidak lebih baik dari sang Abang.


Tepukan di pundak Aska membangunkannya dari lamunannya. Kedua sahabatnya sudah berada di belakangnya. Mereka sudah menyerahkan satu buah kotak kecil kepada Aska. Dahi Aska mengkerut ke arah kotak tersebut.


"Kita berdua gak bisa ngasih lu apa-apa," tukas Ken.


"Ini apa?" tanya Aska.


"Buka aja," jawab Juno.


Aska membuka kotak kecil itu dan ternyata isinya kunci motor yang sedang kekinian sekarang.


"Itu buat lu touring, motor lu 'kan udah sering ngadat," ejek Ken.

__ADS_1


Aska tertawa dan merasa terharu dengan apa yang dilakukan oleh dua sahabatnya ini.


"Makasih, ini gak murah loh," ucap Aska seraya menatap ke arah Ken dan Juno.


"Itu gak sebanding dengan bantuan lu selama ini kepada kami berdua," tukas Juno.


Aska adalah anak yang memang tidak ingin menunjukkan siapa dirinya kepada semua orang. Dia ingin orang lain mengenal dirinya sebagai orang biasa saja. Dia juga ingin melihat masih adakah orang yang ingin berteman dengannya tanpa melihat latar belakang keluarga. Ternyata, hanya Ken dan Juno serta Bian yang mau berteman dengannya tulus. Selalu membantu Aska dalam kesusahan, meskipun bukan dalam bentuk materi.


Contohnya saja, ketika Aska kehabisan bensin di tengah jalan karena jarum penunjuk bensin di motornya sudah tidak berfungsi. Meskipun dengan terus bersungut dan mengoceh, Ken tetap datang membantu Aska. Teman seperti itu yang Aska inginkan. Bukan hanya ketika senang saja mereka ada, tetapi di kala Aska susah pun mereka selalu ada.


"Ken, Jun, ini di atas tiga puluh jutaan. Mahal banget loh," imbuh Aska pada kunci motor yang dia pegang.


Kedua sahabatnya itu hanya tersenyum. Mereka berdua duduk di samping Aska.


"Keuntungan kita dari buka kafe sengaja kita kumpulin, buat beli hadiah ketika lu ulang tahun," tutur Ken.


"Maaf ya, kita gak bisa ngasih hadiah yang mahal." Aska menggeleng dengan lengkungan senyum yang merekah.


"Ini udah cukup banget. Sumpah gua speechless," balas Aska serius.


Dari kejauhan Gio tersenyum melihat persahabatan putra keduanya. Berbeda dengan Aksa yang bersahabat dengan pengusaha serta pengacara. Cara mereka berteman dan bergaul amatlah berbeda.


Ketiga keponakan Aska dan Aska sudah repot berjalan ke sana ke mari. Memesan ini dan itu yang dia inginkan. Kedua orang tuanya malah asyik bernyanyi di atas panggung, seperti tengah mengenang masa lalu. Rion pun malah asyik menyantap makanan yang tersedia.


Aleesa tengah membawa minuman yang dia pesan dengan mengoceh sendiri. Di sampingnya ada Merriane, sahabat tak kasat mata Aleesa, sedangkan Aleeya si bocah rempong sudah sibuk dengan makanan di kedua tangannya. Tak sengaja dia tertabrak seseorang yang juga tengah sedikit berlari ke arah dalam. Minuman dan makanan yang Aleeya bawa pun terjatuh dan tidak bisa di makan. Matanya nanar menatap makanan yang sudah lama dia pesan malah terbuang sia-sia.


"Maaf ya, Sayang," ucap wanita itu.


Aleeya sedikit terisak dan mulutnya hendak mengomel bagai ibu-ibu yang diberi jatah bulanan telat oleh suami. Akan tetapi, mulutnya seketika kelu ketika menatap orang yang sudah menabraknya itu.


"Kak Jing-jing!"


...****************...

__ADS_1


Maaf baru up.


Komen dong ...


__ADS_2