
Ghea Anandhita Wiguna, kini sudah berusia dua tahun. Anak itu sedang masa aktif-aktifnya. Gavin yang tak lain adalah Mas Agha sudah memasuki TK. Dia menjadi anak yang paling tampan dia sekolah juga paling pandai. Agha menjadi anak yang sangat mandiri.
Jam enam pagi, tanpa dibangunkan oleh ibu atau ayahnya dia sudah bangun sendiri. Merapihkan tempat tidur, lalu mandi. Jam setengah tujuh pagi dia sudah turun ke lantai bawah untuk sarapan.
"Mash," panggil Ghea.
Agha tersenyum dan mencium pipi Ghea dengan lembut.
"Mam." Ghea menarik tangan Agha menuju meja makan. Menyuruhnya untuk makan. Agha pun tersneyum dibuatnya. Adiknya adalah penyemangat untuknya.
"Morning, My," sapa Agha.
Riana yang tengah menyiapkan bekal untuk sang putra menoleh dan tersenyum ke arah Agha.
"Morning, My son." Riana menghampiri sang putra, lalu mencium kening Agha.
"Mau buat susu rasa apa, Mas?" tanya Riana.
"Cokelat hangat aja, My." Riana pun mengangguk dan tersenyum ke arah putranya.
"Pagi anak-anak Daddy," sapa sang ayah yang baru saja masuk ke ruang makan.
Aksa mencium kening Agha juga Ghea bergantian. Kemudian, dia meletakkan Ghea di kursi khususnya untuk makan.
"PR sudah dikerjakan?" Agha pun mengangguk. Kemudian, dia mengambil buku tugasnya dan menyerahkannya kepada sang ayah untuk dikoreksi.
Aksa dengan senang hati melihat tugas putranya itu. Lengkungan senyum terukir di wajahnya.
"Pandai sekali anak Daddy." Aksa memuji Agha Karena memang putranya tumbuh menjadi anak yang pintar.
"Thank you, Dad."
Aksa mengerutkan dahi ketika melihat Agha terdiam. Seakan takut berbicara.
"Ada apa? Apa ada yang mau Mas katakan kepada Daddy?"
Riana ikut bergabung bersama suami serta putranya dan putri cantiknya di meja makan.
"Mas ingin ke perpustakaan nasional," ucap Agha dengan ragu.
__ADS_1
Aksa malah terkekeh mendengar ucapan dari putranya itu. Begitu juga dengan Riana.
"Hanya ingin ke sana? Kenapa ragu bilangnya?" tanya sang ayah.
"Mas takut, kalau Daddy tidak bisa."
Sedari kecil Agha bukanlah anak yang selalu memaksakan kehendaknya kepada orang tua. Dia mengerti kesibukan ayahnya. Dia tidak ingin mengganggu pekerjaan ayahnya.
"Daddy akan meluangkan waktu untuk semua anak Daddy. Jika, ada tempat yang ingin kalian kunjungi bilang saja kepada Daddy. Daddy akan mengatur waktunya dan kita akan pergi ke sana."
Setelah pulang sekolah, Agha akan langsung mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Dia mengerjakannya seorang diri karena dia tahu ibunya tengah sibuk mengurus Ghea yang super aktif.
"Mas, boleh Mommy masuk?" Riana selalu mengajarkan tata Krama yang baik kepada kedua anaknya.
"Masuk aja, My."
Hati Riana sangat bahagia ketika melihat putranya tengah mengerjakan tugas sekolahnya. Sang ibu menghampiri putranya yang tengah mengerjakan tugas matematika.
"Ada yang sulit?" Agha pun menggeleng.
"Setelah selesai Mas kerjakan, nanti Mommy periksa ya." Riana pun mengangguk.
"Pintarnya anak Mommy." Riana memeluk tubuh Agha dengan begitu erat. Mencium kening Agha sangat dalam.
"Boleh Mommy bertanya sesuatu?" Agha mengerutkan dahi ketika mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya.
"Nanya apa?" Agha terlihat bingung.
"Pernah gak sih, Mas itu sebal sama Mommy atau Adek?" tanya Riana.
"Enggak." Jawaban yang sangat singkat. "Mas 'kan sayang Mommy sama Adek."
Riana tersenyum perih mendengar ucapan dari putranya itu. Dia ingin Agha itu berkata jujur.
"Benarkah? Apa Mas tidak bohong?" Agha hanya menggeleng.
Benar kata sang suami, sedalam apapun Riana mengorek Agha. Putranya tidak akan membuka suara.
Riana hanya bisa memeluk tubuh sang putra dengan sangat erat dan berulang kali mengucapkan kata maaf.
__ADS_1
Beberapa hari yang lalu, Aksa mengajak Riana bicara berdua. Ada rasa takut di hati Riana karena tidak biasanya suaminya mengajak bicara serius.
"My, apa Mommy beberapa hari ini memarahi Agha?" Aksa berbicara dengan sangat lembut tanpa menyinggung istrinya.
Riana terdiam, dia hanya bisa menunduk dalam. "Tangan Ghea dipukul sama Agha, Mommy lihat sendiri." Aksa pun tersenyum. Dia membuka laci di samping tempat tidur. Menyerahkan sebuah kertas kepada istrinya.
Riana terkejut ketika melihat gambar yang sangat cantik penuh coretan dan di sana tertulis nama Gavin Agha Wiguna.
"Itu tugas sekolah Agha, karena coretan itu Agha tidak mendapat nilai." Riana tersentak mendengarnya.
"Ke-kenapa Agha gak bilang sama Mommy?" Suara Riana sudah bergetar dan Aksa memeluk tubuh istrinya itu.
"Agha tidak akan bercerita hal yang akan membuat Mommy sedih. Dia hanya akan bercerita tentang apa yang membuat Mommy bahagia. Contohnya, jadi juara." Aksa membelai rambut istrinya.
"Namun, Agha akan bercerita tentang kesedihannya kepada Daddy. Dia bercerita semuanya. Tugas yang dicoret-coret oleh Ghea itu bukan pertama kali Ghea lakukan. Sudah tiga kali Agha tidak mendapat nilai. Padahal, dia sudah susah payah mengerjakan."
Riana benar-benar merasa bersalah kepada Agha. Dia tidak tahu hal yang sebenarnya, dia hanya melihat jikalau Agha memukul Ghea hingga Ghea menangis. Ketika ditanya masalahnya apa, Agha hanya terdiam.
"Pernah Agha bertanya, kenapa Mommy lebih sayang sama Adek daripada sama Mas?"
Air mata Riana menetes begitu saja ketika mendengar kalimat yang dikatakan oleh Agha, kini ditirukan oleh suaminya.
"Mommy sayang keduanya, Dad. Mommy tidak pernah membedakan."
Aksa semakin erat memeluk tubuh Riana. Aksa mengerti perasaan Riana. Dia juga mengerti bagaimana perasaan Agha. Anak sulung pasti akan menjadi orang yang akan disalahkan ketika adiknya menangis. Terlepas, siapa yang membuat adik menangis. Aksa pernah berada di posisi Agha.
Riana benar-benar menyesal dan ingin memperbaiki kesalahannya kepada putranya. Kini, Riana mengurai pelukannya. Agha menghapus air mata sang ibu dan berkata, "jangan menangis. Mas, gak mau lihat Mommy menangis." Riana menangkup wajah sang putra. Kemudian, mencium kening Agha dengan sangat dalam.
"Mas, kalau Mas tidak salah, Mas berhak mengelaknya. Asal ada bukti. Jangan mengorbankan diri Mas sendiri." Diana menjeda ucapannya. "Jika, Adek salah, bilang kepada Mommy. Jangan diam saja. Jangan korbankan nilai Mas."
Agha terkejut ketika mendengar ucapan dari ibunya. Dari mana ibunya tahu akan hal ini? Begitulah batinnya berkata.
"Besok, Mommy akan datang ke sekolah Mas. Mommy akan menceritakan semuanya perihal tugas Mas yang dicoret-coret adek biar nilai Mas tidak jelek."
Agha tersenyum bahagia mendengar ucapan dari Sang mamah. "Adek tidak salah. Mas yang naruhnya sembarangan. Adek belum mengerti apapun." Tetap saja Agha akan membela adiknya.
"Mommy akan tetap datang ke sekolah. Kalau pihak sekolah memberikan tugas kembali, tugasnya sama dengan tugas yang dicoret-coret adek. Apa Mas mau mengerjakannya lagi?" Agha pun mengangguk cepat. Riana pun memeluk tubuh putranya dengan penuh cinta.
"Jangan sembunyikan apapun dari Mommy. Mommy juga berhak tahu atas perasaan kamu, Mas."
__ADS_1