
Sepasang suami istri pun tertidur pulas dengan wajah Riana yang kini tenggelam dalam dada Aksa. Hari yang sangat melelahkan juga menyebalkan. Apalagi ketiga anak Echa sudah menguasai tempat tidur membuat Aksa dan Riana tidur berhimpitan.
Pagi pun datang, ketiga anak Echa sudah mengganggu sepasang suami istri yang masih terlelap. Mereka merangkak dan memisahkan Aksa dan Riana hingga tak sengaja Aleeya menendang bagian sensitif Aksa yang tengah menjulang ketika pagi datang.
"Burungku!" seru Aksa sambil menutupi bagian bawahnya.
Mata Riana membuka, sedangkan si triplets malah mencari-cari burung yang disebutkan oleh Aksa.
"Mana ada burung di kamar hotel, Uncle," ujar Aleena.
Sungguh malang sekali nasib Aksa, sudah tak dapat jatah, benihnya terbuang sia-sia dan sekarang burungnya disenggol Aleeya. Sungguh ngilu rasanya.
Aksa terus bersungut-sungut ketika sang kakak hanya mengantarkan baju untuk ketiga anaknya dan meninggalkan mereka kembali.
"Udah dong, Bang. Jangan marah-marah terus, mereka hanya ingin melepas rindu dengan kita. Kita berdua 'kan jarang bertemu mereka." Riana mengusap lembut pundak Aska, meredakan emosi Aksa yang pagi-pagi sudah tersulut.
Dia menarik tangan Riana untuk duduk di pangkuannya. Memeluk erat pinggang sang istri yang terasa menenangkan.
Ketiga anak tuyul itu pun sudah keluar dari kamar mandi. Dengan bathrobe yang menempel di tubuh mereka. Sangat lucu sekali mereka, bagai anak itik.
"Uncle, mandi sana. Kakak Na mau pakai baju."
Anak-anak Echa diajarkan untuk tidak memakai baju di hadapan laki-laki manapun semenjak mereka bisa mandi sendiri. Termasuk ayah serta keluarga mereka. Aksa menghela napas kasar dan menuruti perintah Aleena. Sekesal-kesalnya Aksa kepada si triplets, mereka adalah keponakan-keponakan yang paling Aksa sayangi.
Sudah rapi semua, mereka keluar kamar untuk sarapan. Keluarga mereka menyambut mereka dengan. sangat antusias. Antusias untuk mencibir dan juga meledek.
"Pengantin baru kayaknya kelelahan banget nih," ledek Arya.
"Lelah menahan napsu," ketus Aksa.
Semua orang pun tertawa. Semua itu adalah ide konyol dari kedua ayah Aksa, Rion dan juga Gio. Mereka tengah menguji sampai mana batas kesabaran putra dan menantu mereka tersebut.
"Sabar ya, Bang. Hari ini mereka akan pulang kok," ujar Ayanda.
Menikmati sarapan pagi dengan ejekan dan cibiran dari para senior membuat Aksa mendengus kesal. Ingin rasanya Aksa membungkam mulut para senior laknat tersebut.
Riana hanya bisa mengusap lembut punggung tangan sang suami dengan sorot mata penuh ketenangan.
Ponsel Aksa terus berdering, tetapi Aksa abaikan. Dia masih mengunyah makanan tanpa berselera.
"Kok gak dihabisin, Ri?" tanya sang mommy mertua.
"Ri, gak biasa sarapan, Mom." Riana malah meletakkan kepalanya di pundak sang suami.
"Mau Abang suapin?" Riana menggeleng. Tangannya malah merangkul lengan sang suami dengan manja.
__ADS_1
Decakan kesal bertanda protes keluar dari mulut Aska dan juga Beeya. Playboy tengik dan playgirl somplak merasa iri dengan kemesraan dua orang di hadapannya ini.
"Jangan buat iri lah, Bang." Kalimat yang dilontarkan oleh Beeya.
Semua orang hanya tertawa melihat jomblowan dan jomblowati ngenes tersebut.
Niat hati ingin berduaan dengan sang istri di kamar ketika semua orang sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Namun, dering ponsel Aksa terdengar nyaring. Fahri lah yang menghubunginya.
Aksa yang masih berada di lobi selepas mengantar keluarganya, masih menggenggam tangan sang istri. Riana hanya menatapnya dengan rasa penasaran karena wajah Aksa nampak serius sekali.
"Ada apa?" tanya Riana.
Aksa tidak menjawab, dia menuntun Riana menuju lantai atas di mana kamar suite room mereka berada. Aksa membawa Riana duduk di sofa.
"Abang pergi dulu ya sebentar. Hanya ke kafe seberang hotel ini. Ada sedikit masalah di WAG Grup."
Riana hanya terdiam, ada gurat kecewa yang dia rasakan. Bukan hanya Aksa yang menginginkan waktu berdua, Riana pun sama ingin menikmati waktu bersama sang suami.
"Maafkan Abang, Sayang." Aksa sudah memeluk erat tubuh Riana.
"Pergilah!"
Perintah yang tidak sesuai dengan hatinya. Namun, Aksa masih bergeming. Dia masih betah memeluk tubuh sang istri.
"Apa seperti ini menikahi seorang pria pewaris penting?" Batinnya berkata.
"Pergilah, Bang. Ri, akan menunggu Abang di sini." Riana menatap ke arah sang suami yang sedari tadi diam saja.
"Abang," panggil Riana.
Riana menangkup wajah sang suami yang masih terdiam. Menatapanya penuh cinta.
"Maaf," sesal Riana.
"Tidak, Sayang. Abang yang harusnya minta maaf karena ...."
"Ri akan belajar memahami pekerjaan Abang," potongnya.
Seulas senyum Aksa berikan dan dia memberikan ciuman manis dan lembut untuk istrinya. Menjelajahi bibir istrinya sebentar sebelum menemui Fahri.
"Jangan lama-lama," pinta Riana yang kini sudah terbaring tak berdaya karena ulah sang suami. Jejak cinta pun sudah Aksa berikan di leher sang istri.
"Tentu, Sayang. Abang tidak akan pernah bisa berlama-lama pergi tanpa kamu." Riana pun terkekeh mendengar gombalan receh Aksa.
"Peluk lagi." Riana sudah merentangkan tangannya dan dengan senang hati Aksa memeluk tubuh istrinya.
__ADS_1
"Istirahat, ya. Siapkan tenaga kamu karena setelah Abang kembali Abang akan membuat kamu kewalahan." Riana hanya tersenyum.
Selepas suaminya pergi, Riana membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Kepalanya sedikit pusing dan dia lupa membawa obat pusing yang biasa dia konsumsi.
Dua jam berlalu, Aksa belum juga kembali. Riana malah sudah terlelap karena rasa lelah yang menderanya. Tepat jam dua siang Aksa kembali ke kamarnya, senyumnya mengembang ketika melihat istrinya yang tengah tertidur dengan sangat damai.
"Maaf ya, Sayang." Kecupan hangat Aksa berikan di kening Riana.
Setengah jam sudah Aksa memandangi wajah istrinya yang sangat cantik ini. Apalagi dia melihat tanda merah sang istri hasil karya nakalnya.
"Cepat bangunlah, Sayang. Adik Abang sudah gak tahan," gumamnya.
Ternyata bertemunya Aksa dan Fahri bukan hanya membicarakan perihal pekerjaan, tetapi Fahri memberikan film-film yang dapat membuat aliran darah memanas. Apalagi, Aksa dan Riana adalah pengantin baru. Masih harus banyak melihat tutorialnya agar sama-sama dapat memuaskan satu sama lain. Sungguh asisten serba bisa. Ditambah Arya pun ternyata mengirimkan film-film pendek Asia untuk mereka tirukan.
"Jangan monoton, lebih enak pakai banyak cara. Dijamin gak mau berhenti."
Itulah isi pesan yang Arya kirimkan. Semua film yang Fahri dan Arya kirimkan belum Aksa buka. Dia ingin menontonnya bersama sang istri tercinta.
Pukul tiga Riana barulah bangun. Dia terkejut ketika di hadapannya sudah ada sang suami yang tengah tersenyum.
"Puas tidurnya?" Riana mengangguk.
"Kenapa gak bangunin?" Aksa menggeleng.
"Biar tenaga kamu pulih dulu, Sayang," bisiknya nakal.
Riana menatap jengah ke arah Aksa. Dia bangkit dari tidurnya dan mencuci wajahnya agar terlihat segar. Sebuket bunga mawar Aksa berikan membuat senyum merekah di wajah cantik Riana.
"Makasih suamiku." Riana mengecup pipi Aksa.
Aksa menuntun Riana untuk kembali ke atas tempat tidur, membuat jantung Riana berdebar tak karuhan.
"Jangan takut, Sayang," ucapnya.
Riana yang masih memeluk buket bunga pun mengikuti suaminya. Mereka duduk bersandar di kepala ranjang. Aksa mengambil ponselnya di atas nakas. Dia memutar film yang dikirimkan oleh Arya.
"Ini film romantis," dustanya.
Kepolosan Riana membuatnya menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Namun, seketika matanya melebar dengan apa yang diperagakan dalam film tersebut. Ingin rasanya dia berhenti menonton, tetapi rasa ingin tahunya juga semakin besar. Aksa melihat Riana sudah menelan ludahnya ketika melihat adegan intim dengan ******* manja yang tidak dipungkiri membuat aliran darah pada tubuh Aksa pun memanas.
Tangan Aksa sudah merengkuh pinggang sang istri. Tangan satunya lagi sudah menelusup ke bagian bawah tubuh Riana. Senyum tipis pun terukir di wajahnya.
"Kamu sudah basah, Sayang," bisiknya.
...****************...
__ADS_1
DiPotong dulu ya ...😂 Kalau mau lanjut lagi komen yang banyak