
Aska terus memperhatikan Jingga sedari tadi. Wajahnya nampak sedikit berbeda.
"Kamu kenapa?" Aska sudah membuka suara. Namun, pandangannya tetap lurus ke depan melihat ke arah jalanan.
Jingga hanya menggeleng, tetapi Aska tahu ada yang tengah Jingga sembunyikan.
"Aku tahu loh kalau kamu bohong sama aku," ucapnya. Mobil pun berhenti karena lampu merah.
"Orang yang tidak bisa kamu bohongi hanya aku." Jingga terdiam sesaat. Beberapa detik kemudian dia menatap ke arah Aska dengan sorot mata yang penuh dengan luka.
"A-aku--"
Tangan Aska sudah menggenggam tangan Jingga. Dia tersenyum seraya menggeleng. "Jika, kamu belum mau cerita, aku gak akan maksa."
Aska benar-benar mampu mengerti dirinya. Sikapnya yang selalu manis membuat Jingga terhipnotis.
"Kita beli es krim dulu untuk memperbaiki mood kamu."
****
Di kamar perawatan, Aksa terus menemani istrinya. Tak dia tinggalkan Riana barang sedetik pun.
"Mau makan apa?" tanya Aksa yang sedang memeluk tubuh istrinya. Riana hanya menggeleng. Inilah yang dia inginkan, dipeluk mesra oleh sang suami.
Tangan Aksa kini sudah berada di atas perut Riana. Usapan lembut Aksa berikan. "Nak, memangnya kamu gak lapar?" Riana malah terkekeh dan mencium mesra pipi sang suami. Aksa sedikit terkejut dengan perlakuan Riana.
"Kok makin hari makin berani sih," goda Aksa kepada sang istri. Riana menggeleng dan membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.
Sungguh Aksa sangat bahagia dengan perubahan sikap Riana sekarang ini. Manjanya seperti obat mujarab untuk rasa lelah yang mendera.
Ketika menjelang malam, kamar perawatan Riana bagai ruang keluarga. Di mana banyak manusia di sana. Termasuk ayahnya, Rion Juanda yang sedang dikerjai habis-habisan oleh ketiga cucunya.
"Gi, kenapa sih lu beliin karet jepang Ampe sekilo begini," sungut Rion yang tengah merasakan sakit karena rambutnya terus di tarik ke kanan dan ke kiri oleh ketiga cucunya.
"Mereka yang minta," balas Gio sambil memakan pizza yang Arya bawa. "Jarang-jarang mereka minta barang murah," lanjutnya.
"Iya itu emang murah, tapi lu kudu bayar mahal ke gua," omel Rion.
"Lah?"
"Gua yang jadi kelinci percobaannya, Giondra." Semua orang pun tertawa melihat besan dan besan bertengkar layaknya sahabat.
"Ri, bapak lu makin tua makin bawel," ujar Arya. Riana mengangguk pelan, membenarkan apa yang diucapkan oleh Arya.
"Kalau gua jadi anaknya mah, udah gua masukin ke panti jompo."
Botol saus sambal mengenai kepala Arya hingga dia mengaduh. Untung saja itu bukan botol beling.
"Set an emang!" sungutnya.
__ADS_1
Kini, Echa yang melemparkan bantal sofa ke arah Arya. "Kebiasaan tuh mulut," ocehnya.
"Echa selepet pake karet ban, mau?"
Sungguh sial dan Malang sekali nasib Arya hari ini. Omelan dan tindakan kasar yang dia dapatkan dari sepasang ayah dan anak yang terlihat selalu kompak. Aksa hanya menggelengkan kepala melihat keluarganya seperti itu. Bukan hal aneh, saling mencela, mencaci bagi mereka. Malah itu yang membuat keakraban mereka terjalin.
"Tadi gua ketemu si Eki," ucap Gio setelah selesai memakan satu potong pizza.
"Si dokter geblek itu," timpal Arya. Ya, Eki adalah sahabat dari Arya dan juga Giondra. Ayanda dan Rion pun mengenalnya.
"Kok geblek?" tanya Ayanda.
"Ya gebleklah, udah hamilin cewek cuma dinikah secara siri doang. Terus dianya kawin lagi. Kalau gak geblek apa coba namanya?" sungut Arya berapi-api.
"Edan," jawab Rion yang tengah dikuncir oleh ketiga cucunya.
"Apa bedanya sama lu Rion oon? Lu lebih kelewat edan," omel Arya bak ibu-ibu komplek.
Rion berdecak kesal sedangkan yang lainnya malah tertawa. Selalu saja ada perdebatan di antara dua pria paruh baya tersebut.
"Dia udah punya anak seumuran si kembar," imbuh Gio.
"Anak dari perempuan mana?" sergah Arya.
"Mana gua tahu. Gua itu bukan tukang gosip kaya lu," pungkas Gio.
Di antara tiga pria paruh baya itu, Aryalah yang menjadi manusia serba tahu akan segala bentuk gosip apapun. Dia selalu update perkembangan berita terbaru dan terpopuler.
Semua orang menoleh ke asal suara. Sudah ada Aska yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Gak bosan apa pelukan mulu," sindir Aska kepada sang Abang.
"Iri?" balas Aksa yang malah mempererat pelukannya. Aska berdecih sebal, dia memilih duduk di samping sang kakak yang hanya sendiri. Ternyata sang Abang ipar laknat tidak ada.
"Si Bandit ke mana?" tanya Aska yang sudah merebahkan tubuhnya di atas paha Echa.
"Masih di kantor," jawab Echa.
"Dek, lu betah banget sih jomblo," ejek Arya.
"Dia gak jomblo, Pah. Dia playboy sama kayak Bee."
Turunan Arya benar-benar gila, jadi playgirl malah bangga. Padahal itu aib.
"Pemain laki-laki sih bangga," celetuk Rian.
"Ciye ... calon suami cemburu, ya," goda Beeya ke arah Iyan yang fokus pada layar ponselnya.
"Dih, amit-amit gua besanan sama lu, Bhas," ucap Rion.
__ADS_1
"Apalagi gua, ogah banget punya besan kurang seons macam lu." Perdebatan Rion dan Arya pastinya akan menimbulkan gelak tawa penuh kehangatan.
"Dek, teman Daddy punya anak cewek. Dia seorang dokter," ungkap Gio.
Helaan napas kasar keluar dari mulut Aska. Dia bangkit dari posisi rebahannya. Menatap serius ke arah sang ayah yang juga menatapnya.
"Masih jaman jodoh-jodohan?" imbuhnya. Ada raut penuh ketidaksukaan yang Aska perlihatkan.
"Kemarin Mommy mau jodohin Adek. sekarang Daddy," keluhnya.
Gio pun tertawa dan menepuk paha sang putra. "Pikiran kamu terlalu jauh, Dek. Daddy tidak akan mengulangi kesalahan Daddy, Daddy hanya ingin melihat anak-anak Daddy bahagia dengan wanita yang memang kalian cinta," terangnya.
Seulas senyum Aska berikan kepada Gio. Ini saatnya dia bertanya kepada sang ayah.
"Jika, Adek mencintai wanita yang bukan dari kalangan kita ... apa Daddy akan merestui?" Ayanda dan Echa sudah mengulum senyum, sedangkan Riana dan Aksa sudah tersenyum lebar.
"Tidak!" Aleesalah yang menjawab.
Semua orang pun tersentak, berlanjut tertawa terbahak.
"Om itu cocoknya sama Kak Jing-jing," ujar bocah enam tahun itu.
Dahi Aska mengkerut mendengar ucapan Aleesa. Aleeya dan Aleena pun ikut mengangguk setuju dan menghampiri sang paman.
"Tidak ada yang boleh dekat dengan Om, kecuali Kak Jing-jing," tekan Aleeya.
"Jing-jing siapa, Dek?" tanya Rion kepada cucunya yang nomor tiga.
"Pengasuhnya si kelapa."
"Kelapa?" ulang semua orang di sana.
"Bukan kelapa, tapi Kalfa. Anaknya Opa Satria," jelas Aleena.
Mereka semua mengangguk paham, mereka tahu bahwa Satria mengadopsi anak laki-laki setelah kepergian putra pertamanya, Devandra.
"Nak, Kak Jing-jing 'kan sudah pulang kampung. Kalfa juga sudah tidak diasuh olehnya," ujar sang ibu.
"Tapi, Kakak Sa yakin Kak Jing-jing akan kembali, dan Kakak Sa tidak setuju kalau Om menikah dengan perempuan lain selain Kak Jing-jing," ucap Aleesa tanpa jeda.
"Kalau Om menikah dengan leeemoua lain, kakak Na akan pecat Om dari daftar paman yang Aleena punya." Aleena sudah mengancam dengan tatapan tajam.
"Kalau Dedek mah, cuma doain yang buruk aja." Mata semua orang melebar mendengar ucapan Aleeya.
Kini, bocah comel itu sudah menengadahkan tangan.
"Ya Allah ... jika, Om Dedek menikah dengan wanita lain, buatlah mereka bercerai. Jangan beri kebahagiaan untuk mereka berdua. Jika, wanita itu cantik ubahlah menjadi wanita buruk rupa. Pokoknya Dedek maunya Om menikah dengan Kak Jing-jing. Titik. Semoga Allah mengabulkan doa Dedek."
"Amin," jawab dua kembarannya yang lain.
__ADS_1
...****************...
Komen dong ....