Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Angkat Bicara


__ADS_3

Fahrani keluar dengan hati yang teramat pedih. Dia juga hanya bisa menunduk dalam. Ucapan Aksa mampu membuat hatinya terkoyak. Dia seharusnya sadar siapa Aksa dan siapa Aska. Dua orang yang memiliki sifat yang sama. Dia juga harus bisa membedakan mana cinta suci mana ambisi. Jelas-jelas Aska tidak memiliki perasaan apapun. Dia yang memancing kemurkaan Aska. Dari anak kucing yang lucu, kini menjadi harimau yang sangat buas. Ternyata persidangan itu belum selesai. Setelah Fahrani turun ke lantai bawah, Aksa meraih ponselnya dan mengetikkan nama seseorang di kontak ponselnya. Christina, nama itulah yang dia panggil.


Melihat Fahrani yang keluar dengan wajah suram pun membuat Christina takut. Sekarang, ponselnya berdering dan Aksalah yang memanggilnya. Hatinya sudah ketar-ketir. Tangannya sedikit bergetar untuk menggeser panggilan ke gagang telepon berwarna hijau. Kemudian, dia meletakkan ponselnya di telinga.


"Ke ruangan atas sekarang!"


Sambungan telepon pun diputus secara sepihak oleh Aksa. Dia menatap ke arah Christina yang juga tengah menatapnya.


"Pak Aksa," katanya.


Fahri dan Christian sedikit terkejut. Ada apa dengan Aksa malam ini? Setelah turun dari lantai atas saja wajah Fahrani sudah berbeda, sekarang giliran Christina.


"Ada apa, Pak?" tanya Christina. Dia mencoba terlihat baik-baik saja, tetapi hatinya sudah sangat tidak karuhan.


Apalagi Aksa sudah menatap ke arah Christina dengan tatapan tajam, seperti ingin menguliti dirinya hidup-hidup.


"Saya bukan orang yang suka berbasa-basi." Kalimat itu yang menjadi kalimat pembuka dari Aksa.


Jantung Christina sudah berdisko ria mendengar penuturan dari Aksa. Dia sudah bisa menebak apa yang akan Aksa ucapkan.


"Kamu wanita baik-baik, tolong hargai keputusan adik saya."


Sebuah permintaan yang datang dari seorang bos muda kepada Christina. Namun, permintaan itu sepertinya sangat sulit untuk Christina lakukan.


"Selama ini saya tahu hubungan kamu dengan adik saya, tetapi saya hanya diam dan tidak ingin ikut campur karena itu bukan ranah saya," jelasnya kepada Christina.

__ADS_1


"Akan tetapi ada satu hal yang membuat saya bertindak. Sikap kamu yang seperti wanita tak punya harga diri itulah yang membuat saya angkat bicara," lanjutnya lagi. Christina hanya terdiam mendengar ucapan Aksa.


"Wanita tak punya harga diri," batin Christina.


Dia hanya menunduk dalam. Apa yang diucapkan Aksa memang benar adanya. Padahal, Aska terang-terangan tidak menyukai Christina, tetapi Christina tetap kekeh. Memberi kesempatan pun sudah Aska lakukan. Namun, ada benteng besar yang tidak bisa ditembus, yaitu iman yang berbeda.


"Kamu sudah sangat tahu kenapa kamu tidak bisa bersatu dengan Aska, tetapi kamu seolah tidak menyerah dan mengatakan bahwa kamu akan mengubah keyakinan kamu demi Aska. Itulah letak kesalahan fatal kamu," tukasnya.


"Fatal dari mana? Bu-bukankah itu menandakan bahwa saya mencintai adik Anda," balas Christina yang kini sudah menatap Aksa dengan air mata yang menganak.


"Christina, keyakinan itu bukan untuk main-main. Begitu juga dengan pernikahan. Alangkah lebih baiknya kamu mengubah keyakinan kamu karena diri kamu sendiri bukan karena orang lain. Itu namanya kamu tidak yakin, kamu hanya mengikuti cinta sesaat kamu. Padahal cinta yang sesungguhnya dan akan kekal itu adalah cinta kepada Tuhan," papar Aksa.


"Aska itu memiliki sifat yang sama kerasnya dengan saya. Jika, kamu memaksa dia, dia kan semakin menjauh. Apalagi, dia sudah terang-terangan mengatakan bahwa dia tidak cinta sama kamu. Kenapa kamu masih saja keras kepala? Kenapa kamu senang sekali memaksakan kehendak?"


"Kamu masih muda, yang lebih baik dari Aska pun pasti banyak. Utamakan yang seiman karena jika dalam satu kapal ada dua nahkoda, kasihan kepada penumpangnya nanti. Mau ikut ke nahkoda yang A atau yang B. Saya harap kamu mengerti akan ucapan saya."


Refleks Christina mengangguk pelan. Ucapan Aksa seperti perintah harga mati yang tidak bisa dibantahkan. Christina keluar dengan langkah gontai. Bukan hanya keluarga Aska yang tidak merestui, Aksa yang tidak lain adalah sahabatnya pun tidak merestuinya.


Fahri dan Christian saling pandang. Mereka benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi. Fahrani yang terus menyeka ujung matanya serta Christina yang sedari tadi diam membisu. Ingin menemui Aksa pun Fahri dan Christian tidak berani. Mereka berdua sangat tahu bagaimana Aksa yang sesungguhnya. Hanya menerka-nerka, itulah yang bisa mereka lakukan.


Aksa melakukan semua ini karena Aksa tidak tega terhadap adiknya. Segala keluh kesah Aska, dia tumpahkan di malam kepulangannya dari Jogja. Lima tahun memendam semua yang dirasakannya seorang diri dan baru malam itu Aska bercerita semuanya kepada Aksa.


Perihal Jingga, sebenarnya orang suruhan Aska adalah orang yang sama yang Aksa turunkan untuk mengawasi Jingga. Laporan lebih detailnya orang suruhan itu berikan kepada Aksa, sedangkan kepada Aska hanya sebagian saja. Aksa tahu, Aska bukanlah pria nekat. Dia juga bukan pria pemaksa. Dia lebih memilih mengatur strategi dari pada harus bertaruh mati, walaupun demi orang yang dia cintai.


Jingga bekerja sebagai pelayan restoran pun itu atasan perintah Aksa karena Aksa tidak mau Jingga bertemu dengan Fahrani lagi. Dia juga kenal baik terhadap pemilik restoran tersebut sehingga dia bisa memantau Jingga. Selidik punya selidik, ternyata kakak, Abang iparnya serta si triplets pun sudah kenal dengan Jingga. Hanya Aska yang baru kenal dengan Jingga. Itulah sebabnya dia ingin membantu sang adik, tanpa sepengetahuan Aska.

__ADS_1


Aksa masuk ke dalam kamar yang berada di samping ruangan Aska. Sebelumnya dia sudah mengatur napas karena dia tidak ingin terlihat emosi di depan sang istri.


Pintu kamar itu terbuka, Riana sudah bersandar dengan mata yang nanar. Dia turun dari tempat tidur dan segera berhambur memeluk tubuh suaminya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Aksa. Dia bingung tiba-tiba Riana menangis dalam pelukannya.


"Anak perempuan itu ...."


Aksa membalas erat pelukan Riana. Tangannya mengusap lembut punggung sang istri.


"Itu hanya mimpi, Sayang. Hanya bunga tidur. Jangan terlalu dipikirkan," ucap Aksa.


"Tapi ... anak itu memanggil Mommy kepada Ri," jelasnya dengan terbata.


"Ya Tuhan, bertanda apa ini?" batin Aksa.


Bukan hanya Riana yang dipanggil Mommy, Aksa juga dipanggil Daddy oleh anak perempuan itu. Anak yang sangat manis dan juga cantik. Namun, Aksa tidak berbicara kepada Riana. Dia tidak ingin membuat istrinya khawatir.


Aksa mengurai pelukannya. Dia menghapus air mata yang sudah membasahi wajah istrinya. "Jangan bersedih ya, Sayang. Itu akan mempengaruhi tumbuh kembang anak-anak kita. Kamu harus selalu happy. Percayakan semua kepada Tuhan. Minta lindungan Tuhan di dalam setiap doa kita," ujar Aksa seraya tersenyum.


...****************...


Komen dong ...


Jangan bosan ya kalau aku UP banyak tiap hari.

__ADS_1


__ADS_2