
Di unit apartment milik Aksa, keriuhan pun terjadi. Di mana ketiga anak Echa tengah dijahili oleh Arya. Telur mata sapi yang ada di piring mereka Arya ambil dan dia makan kuning telurnya yang setengah matang kesukaan si triplets hingga membuat ketiga anak itu berteriak histeris.
"Kembaliin kuning telurnya!" pekik Aleeya.
"Udah masuk ke dalam perut," jawab Arya.
Aleena dengan raut wajah yang ditekuk mengambil putih telur dari piring kedua saudaranya. Meletakkan di piring miliknya. Tatapan tajam Aleena membuat Arya acuh.
"Buka mulut!" titah Aleena.
Arya terlalu bodoh menghadapi anak yang jenius itu. Dia pun membuka mulutnya. Enam putih telur Aleena masukkan ke dalam mulut Arya dengan paksa.
"Habisin!" Aleena sudah berkacak pinggang sedangkan Arya sudah tidak bisa berbicara karena mulutnya penuh dengan putih telur. Rion tertawa terpingkal-pingkal melihat Arya disiksa oleh cucu pertamanya.
"Gak mau! Ingin telur mata sapi lagi!" tolak Aleeya atas tawaran sang nenek. Wajahnya masih merengut kesal.
Echa memijat kepalanya yang sangat pusing karena teriakan tiga Tarzan cilik. Apalagi kondisi Echa yang kurang sehat. Sedari tadi dia merebahkan tubuhnya di atas sofa dan tidak ikut berkumpul di ruang makan.
"Masih pagi, Sayang. Belum ada minimarket yang buka," tutur sang kakek yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Pasalnya, stik telur di lemari sudah habis. Aksa hanya menyetok ikan juga daging-dagingan serta makanan beku daripada menyetok telur.
"Mau ke mana lu?" tanya Arya ketika melihat Gio sudah tampan sedangkan dirinya masih menggunakan celana tidur.n
"Meeting gantiin Aksa," jawabnya.
"Aki, minta Pak Doraemon beliin telur yang banyak," rengek Aleesa. Sehari tanpa makan telur seperti ada yang kurang bagi Aleesa dan kedua saudaranya.
Para wanita juga Radit mengkerutkan dahi mereka. "Doraemon siapa, Kakak Sa?" tanya Radit.
"Temannya Aki, Ba."
"Om Remon," balas Radit. Aleesa mengangguk.
Ayanda mencubit gemas pipi Aleesa. Cucunya memang sangat menggemaskan.
"Kalau belum mau makan, makan sereal aja dulu, ya. Nanti ketika Pak Doraemon datang, Mimo akan buatkan telur mata sapi yang banyak untuk kalian."
"Asyik!" sorak mereka bertiga.
"Jangan nakal, Bubunya lagi gak enak badan," pinta sang engkong yang baru saja selesai membuatkan jahe dan madu untuk putri pertamanya.
"Iya, Engkong."
Radit dengan setia dan sabar mengurus Echa yang sedang tidak sehat. Wajahnya nampak pucat juga kepalanya yang sering pusing.
"Nanti sekalian periksa kondisi kamu, Dek," ujar Rion seraya menyerahkan jahe hangat plus madu kepada Radit. Echa hanya menjawab dengan sebuah anggukan.
Di perjalanan menuju apartemen milik Aksa, Remon terus bersungut-sungut karena Gio memerintahkan hal yang tidak wajar kepadanya. Membeli telur ayam omega tiga satu peti. Sungguh di luar nalar Remon dan menjatuhkan kewibawaannya ketika masuk ke dalam agen telur.
"Ini orang mau buka toko kelontongan atau mau mandi pake telur sih?" gerutu Remon sambil melihat ke arah belakang di mana satu peti telur duduk manis di kursi penumpang belakang.
Tibanya di depan apartment, Remon bingung bagaimana dia membawa satu peti telur tersebut sehingga dia memutuskan untuk menyuruh salah satu cleaning service untuk membawa peti telur tersebut. Sudah pasti itu tidak gratis.
Kedatangan Remon membuat si triplets bersorak gembira. "Mau pesta telur?" tanya Remon kepada Gio.
"Stok buat tiga cucu saya." Mulut Remon menganga tidak percaya mendengarnya. Namun, dia dapat melihat sendiri bagaimana raut bahagia wajah ketiga cucu seorang Giondra Aresta Wiguna ketika mendapat satu peti telur.
"Apa mereka sudah bosan hidup bergelimang harta dan makan enak?" gumam batin Remon. "Apa sesederhana ini kebahagiaan mereka bertiga?" tambah batinnya lagi.
"Mimo, Dedek ingin lima, ya."
__ADS_1
"Kakak Na juga sama."
"Kakak Sa juga."
Remon tercengang mendengar permintaan ketiga atasannya ini. Dia menggelengkan kepala tak percaya.
"Bisulan lu makan telur banyak-banyak," ejek Arya.
"Biarin!" seru Aleesa dengan tatapan tajamnya. Melipat kedua tangan di atas dada karena masih kesal kepada wawanya yang jahil.
"Jangan bicara! Dedek masih marah!" pekik Aleeya.
Semua orang pun tertawa melihat tingkah tiga bocah perempuan itu. Apalagi jika mereka sudah marah seperti ini.
"Jangan bangunkan tiga anak singa yang lagi tidur," omel Rion yang tak lain adalah engkong si triplets. Dia sangat tahu bagiamana watak dari ketiga cucunya itu. Marahnya mereka adalah petaka untuknya. Bagaimana tidak, jika ketiga cucunya marah sudah pasti Rion akan merogoh kocek cukup besar untuk menerima maaf dari mereka bertiga. Sungguh merugikan bagi seorang kakek yang pelit, tetapi dia menanaminya irit.
"Sudah siap?" Gio berkata pada Remon dan sebuah anggukan penuh keyakinan yang Remon berikan.
Gio berpamitan terlebih dahulu kepada sang istri juga cucu-cucunya yang tengah memandori sang nenek di dapur.
"Hati-hati Aki," ucap mereka bersamaan. Gio tersenyum kemudian mencium pipi ketiga cucunya secara bergantian.
"Jangan nakal, Bubu lagi gak enak badan." Pesan sang kakek untuk ketiga cucunya. Mereka hanya mengangguk.
"Kalau jadi anak yang baik, pulang kerja akan Aki belikan makanan untuk kalian." Mata ketiga bocah itu pun berbinar.
"Martabak telur, pakai telur bebeknya sepuluh," pintu Aleeya.
"Martabak manis pakai Ovaltine dan kejunya dua blok," pinta Aleesa,
Gio hanya tertawa, dia pasti akan menuruti keinginan ketiga cucunya tersebut. KIni, dia menghampiri Putri pertamanya.
"Gak usah, Pah. Echa nanti akan ke rumah sakit jenguk Riana sekalian periksa kesehatan Echa." Echa tidak ingin selalu merepotkan ayah sambungnya yang seperti ayah kandungnya sendiri.
"Baiklah." Gio pun tidak akan memaksa. "Kalau istri kamu tidak mau berobat, hubungi Papah." Gio berkata kepada Radit dan dijawab anggukan oleh suami Echa. Echa pun berdecih kesal.
Gio tahu bagaimana putrinya ini, Dia adalah orang yang paling malas memeriksakan kesehatannya sekalipun dia sakit. Harus diancam terlebih dahulu agar mau berobat. Bukan tanpa alasan Gio selalu tegas kepada putrinya perihal kesehatan. Echa memiliki penyakit Aritmia yang kapan saja bisa kambuh meskipun sudah dinyatakan sembuh.
Ketika menunggu lift terbuka, Gio menoleh ke arah Remon. "Sudah diatur semua?"
"Dia sedang otw ke perusahaan." Senyum kecil pun terukir di wajah Giondra.
****
Suara pintu kamar perawatan terbuka membuat tiga orang yang sudah terbangun menoleh. Aska sangat terkejut dengan apa yang dia lihat. Kedua sahabatnya datang di pagi hari ini.
"Ini Bang pesanannya." Juno memberikan satu kantong plastik berisi dua steroform kepada Aksa.
"Lu ngapain ke sini?" sergah Askara.
"Mau lihat orang yang mukanya kayak nangka busuk," canda Ken.
Aska tersenyum kecil dan menatap ke arah sang abang yang sedang menyuapi istrinya bubur ayam.
"Dia pasti gak mau ngeliat adiknya terpuruk dan bersedih terus menerus," ujar Juno.
Aska pun terdiam mendengar ucapan dari Juno. "Lu harusnya bersyukur punya saudara yang sangat baik dan care kayak si bang Sultan."
Kini, Aska menatap ke arah dua sahabatnya. "Sahabat itu harus selalu ada di saat suka maupun duka," kata Ken seraya tersenyum.
__ADS_1
"Gua dan Juno mencoba melakukan itu karena kita berdua tidak ingin persahabatan kita bertiga hancur. Biarlah hilang satu karena dia bagai duri dalam daginh di persahabatan tulus kita," papar Ken lagi.
Senyum Aska tersungging di bibirnya. Dua sahabatnya ini benar-benar orang yang baik dan juga tulus. Selalu ada di saat masa-masa sulitnya. Namun, ada kesedihan yang menyelimuti hatinya saat ini. Akankah dia mampu mengucapakan kata pisah kepada kedua sahabatnya ini? Aska memandang sendu Ken dan Juno.
Juno menepuk pundak Aska. Dia menyodorkan satu buah steroform kepada sahabatnya itu. "Sarapan dulu, pura-pura bahagia itu butuh tenaga."
Semua orang yang berada di kamar perawatan Riana pun tergelak. Keputusan Aksa menyuruh dua sahabat Aska itu datang tidak salah. Dia dapat melihat sedih Aska mulai menguap walaupun sedikit karena kehadiran Upin Ipin versi Indonesia yang selalu menghibur.
Suasana semakin riuh ketika dua pria paruh baya yang ketampanan tidak pudar membuka kamar perawatan.
"Wow! Ada calon mertua," goda Ken pada Arya.
"Pede amat lu, Tong!" Arya menoyor kepala Ken.
"Udah difitrahin ini calon Papah mertua kepala akunya," keluh Ken.
"Gak sudi gua punya menantu kayak lu."
Semua orang pun tertawa, bilamana ada Ken dan juga Arya suasana akan ramai. Godaan Ken akan membuat Arya murka apalagi jika sudah mengatakan calon menantu.
"Jangan jahat-jahatlah jadi bapak mertua. Di tipi-tipi mah ibu mertua yang jahat, lah kenapa di kehidupan nyata bapak mertua yang jahat," keluh Ken lagi. Hanya decakan kesal yang keluar dari mulut Arya.
"Kita beda kasta," balas Arya.
🎶
Didepan orangtua mu
Kau malukan diriku
Kau bandingan aku dengan dirinya
Kau hina diriku
Kau sebut tentang harta
Kasih kusedar ku tiada berpunya
"Ngapa lu jadi nyanyi!" sergah Arya.
"Lah ngapa Om juga joget?"
Duo pelawak dadakan mulai beraksi membuat Riana terus terkekeh geli. "Capek ketawa terus," ucap Riana sambil memegang perutnya.
"Syarat jadi menantu gua itu laki-laki seperti Raditya Addhitama dan juga Ghassan Aksara Wiguna. Tampan, mandiri dan mapan. Udah kayak mereka belum lu?" oceh Arya.
"Lah, anak Om sendiri udah kayak Kak Echa sama kak Riana belum?" tanya balik Ken.
Rion pun tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Ken yang malah menyudutkan Arya.
"Pintar lu, Ken," puji Rion.
"Ya harus dong, Om. Ingin punya menantu sempurna dan tajir kayak Sultan Andara. Anaknya udah kayak Nagita Slavina belum?" sahut Ken.
"Pada kam pret emang lu berdua," omel Arya. Ken pun tertawa begitu juga dengan Rion.
Rasa sedih di hati Aska menguap begitu saja karena kehadiran empat pria gial. Candaan sperti ini yang akan selalu Askara rindukan. Jauh dari mereka dan tidak bertatap muka secara langsung dengan sahabatnya. Apa dia bisa?
...****************...
__ADS_1
Komen dong ....