Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Meminta Bantuan


__ADS_3

"Daddy."


Aska benar-benar terkejut akan kehadiran sang ayah. Setahu dia ayahnya sedang bertugas di luar Kota untuk beberapa Minggu ke depan.


"Muka kamu kenapa kayak orang yang terciduk?" Heran, itulah yang Gio rasakan.


"Eh?" Aska menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia juga tertawa sumbang.


"Daddy kenapa udah pulang?" tanya Aska, seraya mengalihkan topik pembicaraan.


"Semalam Mommy hubungi Daddy. Katanya Riana dirawat, makanya Daddy kembali ke Jakarta untuk melihat menantu Daddy. Sekaligus mencarikan dokter kandungan terbaik untuk Riana."


Aska dapat merasakan kasih sayang yang tulus yang ayahnya berikan kepada Riana. Buktinya saja, sekarang ini. Gio rela kembali ke Jakarta hanya karena mendengar Riana dirawat.


"Kamu ke sini sama siapa?" Kini, Giolah yang bertanya.


"Sama asisten, Dad."


Dahi Gio mengkerut mendengar kata asisten. Sejak kapan Aska memiliki asisten. Batinnya berkata seperti itu.


"Cewek apa cowok?" Pertanyaan yang langsung ke inti. Bingung Aska menjawabnya. Namun, jika dia berbohong pun pasti sang ayah mengetahuinya.


"Cewek," jawab Aska.


Gio hanya tertawa mendengar ucapan Aska. Dia mengusap lembut pundak Aska.


"Boleh Daddy berkenalan dengan asisten kamu itu?"


Deg.


Jantung Aska berhenti berdetak untuk sesaat. Menolaknya tidak bisa, berkata jujur pun tidak bisa.


Namun, Dewi Fortuna seakan berpihak kepadanya. Ponsel ayahnya berdering.


"Halo!"


....


"Iya, gua masih di lantai bawah."


....


"Oke, tunggu gua."


Sambungan telepon pun Gio akhiri, sedangkan Aska sudah membayar total tagihannya dan pesanannya pun sudah siap.


"Daddy ke atas, ya. Teman Daddy sudah menunggu." Aska pun mengangguk. Dalam hatinya dia sangat bersyukur.


Setelah ayahnya ke lantai atas, Aska menuju meja di mana Jingga berada. Akan tetapi, perempuan yang tadi datang bersamanya tidak ada. Aska pun sedikit panik. Dia meletakkan makanan yang baru saja dia pesan dan akan mencari Jingga. Baru saja berbalik badan, perempuan yang dia cari sudah mengerutkan dahi.


"Mau ke mana?" tanya Jingga.


"Mau cari kamu." Jingga pun terkekeh dan menarik lengan Aska untuk duduk.

__ADS_1


"Aku tadi ke kamar mandi dulu." Aska menghembuskan napas penuh kelegaan. Dia takut jika Jingga kabur darinya.


"Dari tadi kamu ke kamar mandinya?" Pertanyaan yang membuat Jingga menukikkan kedua alisnya. Dia benar-benar tidak mengerti.


"Maksudnya?" Jingga malah balik bertanya.


"Kamu berarti gak lihat ayah aku?" Jingga menggeleng dengan cepat.


Syukurlah.


Aska belum ingin memperkenalkan Jingga kepada keluarganya. Dia ingin Jingga menerima cintanya terlebih dahulu supaya perkenalan itu lebih afdol.


Di lantai atas, Gio tersenyum ke arah pria yang tengah menyesap secangkir kopi. Pria yang seumuran dengan dirinya, menggunakan kemeja berwarna gelap.


"Long time no see."


Pria itu pun terkejut mendengar ucapan Gio. Dia segera menoleh dan senyum pun mengembang dengan sempurna.


"Mantan dokter playboy," ejeknya. Giondra hanya tertawa dan duduk berhadapan dengan sahabatnya tersebut.


"Masih ganteng aja lu," sergah pria tersebut. Gio hanya tertawa.


"Ketampanan gua ini abadi," balasnya. Mereka berdua tergelak bersama.


"Gua gak nyangka kalau sekarang ini lu jadi pria terkaya di negara ini," puji sahabatnya itu.


"Bukan gua, tapi bokap gua." Inilah Gio, pria kaya yang sesungguhnya ialah ayahnya, Genta Wiguna.


Dia hanya sekedar penerus Wiguna Grup karena yang sesungguhnya berjuang dari nol itu adalah ayahnya. Jadi, yang pantas dibilang kaya bukan dia, tetapi ayahnya. Dia hanya pewaris saja. Jika, dia tidak mampu menjalankan perusahaan dengan baik, sudah pasti dia akan jatuh miskin. Sebaliknya, jika dia mampu meneruskan perusahaan ayahnya, apalagi sampai bisa lebih sukses. Dia akan menjadi pewaris yang sukses.


Gio menghela napas kasar sebelum mengutarakan maksud dan tujuannya. Dia tidak ingin berlama-lama. Sekarang, dia menatap serius ke arah pria tersebut.


"Tolong Carikan dokter kandungan terbaik di negara ini." Sontak, mata pria tersebut melebar. Dia menatap tak mengerti ke arah Gio.


"Untuk siapa?" tanyanya. "Buat istri lu?" Gio pun menggeleng.


Gio menyesap kopi yang masih mengepul di dalam cangkir sebelum menjawabnya. "Buat menantu gua."


Surprise, sahabatnya itu benar-benar terkejut dengan apa yang dia dengar. Kini, di menatap nyalang ke arah Gio.


"Anak lu udah married?" Pertanyaan bodoh yang telinga Gio tangkap.


"Lu gak tahu?" Pria tersebut pun menggeleng.


Pria itu terlalu sibuk dengan urusannya. Dia juga tidak tahu, dengan siapa sahabatnya ini menikah? Malah sekarang, Gio sudah memiliki seorang menantu. Tidak seperti dirinya yang masih bergelut dalam penyesalan yang tak berkesudahan.


"Menantu gua belum lama ini mengalami VTS. Gua tahu, pasti janin yang bertahan itu lebih kuat." Gio menjeda ucapannya sejenak. "Tetap saja gua khawatir. Apalagi mualnya itu membuat dia harus kehilangan banyak cairan dan sekarang dirawat di rumah sakit," lanjutnya lagi.


Sahabat Gio itu hanya mengangguk. Dia dapat melihat raut penuh kecemasan yang Gio tunjukkan.


"Gua akan bantu lu Carikan dokter terbaik," tukasnya.


"Kalau bisa, dokter kandungannya cewek. Gua gak mau anak gua malah murka kalau istrinya disentuh sama dokter cowok." Tawa sahabat Gio pun pecah mendengar penuturan Gio. Dia penasaran siapa putra dari Giondra Aresta Wiguna ini.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu siapa putra lu?" tanya sahabatnya. "Sangat beruntung wanita yang menjadi menantu lu karena memiliki mertua yang super pengertian."


Gio hanya tersenyum, dia mengeluarkan ponselnya. Tangannya menari-nari di atas layar benda pipih. Dia mencari foto pernikahan putra pertamanya.


"Ini!"


Gio menunjukkan foto pernikahan anak dan menantunya. Sahabatnya meraih ponsel Gio dan hampir saja matanya jatuh dari tempatnya.


"I-ini--"


"Itu anak gua, Ghassan Aksara Wiguna."


Mulut sahabatnya menganga tak percaya. Dia juga menatap ke arah Gio dengan sorot penuh keingintahuan. Apa Gio berbohong? Namun, hanya sorot mata keseriusanlah yang Gio tunjukkan. Gio menggeser foto yang ada di dalam ponselnya. Memperlihatkan kembali kepada sahabatnya. "Itu istrinya."


Apa yang pria itu lihat memang benar. Wanita itu adalah wanita yang memang pernah dia lihat ketika sedang menunggu obat di rumah sakit tempatnya praktek. Pria itu merupakan penanam modal terbesar di rumah sakit tempat putrinya praktek.


"Bukankah dia penanam modal di rumah sakit--"


"Ya, dia putra pertama gua."


Mata sahabat Gio itupun melebar mendengar penuturan Gio. Dia menggeleng tak percaya.


"Semuda itu sudah sukses luar biasa," ungkapnya.


Gio hanya tersenyum. "Semua anak-anak gua memang pekerja keras. Mereka bukan penikmat harta bapak mereka. Mereka adalah pejuang rupiah yang gigih," jelas Gio.


Pria di depan Gio benar-benar tak menyangka dengan apa yang didengarnya. Ponsel Gio berdering, dia segera menjawab panggilan tersebut.


"Iya, Dek.


....


"Oh ya udah, hati-hati. Daddy masih bicara sama sahabat Daddy."


....


Sambungan telepon pun berakhir. Sahabat Gio itu masih memandangi Gio. "Anak lu?" tanyanya.


"Iya, tadi dia ada di lantai bawah. Sekarang dia mau kembali ke kafe."


Dua pria itu terus berbincang perihal pekerjaan mereka masing-masing serta membahas anak-anak mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga belas tiga puluh empat, Gio harus beranjak karena alarm dari ketiga cucunya sudah berbunyi. Ingin pergi ke mall bersama aki dan juga Mimo mereka.


"Makasih banyak atas waktunya, Ndra," ucap sahabat Gio.


"Sama-sama. Gua yang harusnya ngucapin terima kasih sama lu karena udah mau bantu gua," balas Gio dengan seulas senyum di bibirnya.


"Kapan-kapan boleh dong gua ke rumah lu. Sekalian ngenalin anak gua ke lu. Siapa tahu lu tertarik jadiin anak gua menantu lu," kelakar sahabat Gio. Gio pun tertawa mendengarnya.


"Wah, gua penasaran sama anak lu yang dokter itu. Pasti cantik dan pintar," puji Gio.


"Tentunya."


Gio tersenyum dan mengulurkan tangan ke arah sahabatnya. "Gua tunggu kedatangan lu, dokter Eki Mandala."

__ADS_1


...****************...


Butuh asupan komen ...


__ADS_2