
Visual Si Pengantin Baru. (Biar emak-emak bisa membayangkan sendiri ya)
GHASSAN AKSARA WIGUNA
RIANA AMARA JUANDA
...****************...
Adegan demi adegan yang diperagakan di film romantis itu membuat Aksa menahan napas, sedangkan Riana terus menggigit bibir bawahnya dan terlihat Riana mulai gelisah.
Tangan Aksa mulai menggenggam tangan Riana dan membuat Riana menatap Aksa dengan mata yang sudah sayu. Aksa tersenyum dan menarik dagu Riana ke arahnya dan perkelahian bibir pun tak terelakan. Berawal dengan kelembutan dan kehangatan hingga menciptakan sebuah kenikmatan, kini malah semakin liar. Apalagi, tangan Aksa sudah masuk ke bawah selimut. Senyum tipis pun melengkung di wajah Aksa ketika telapak tangannya lembab.
"Kamu sudah basah, Sayang," bisik Aksa dengan suara parau.
Aksa menuntun tangan Riana untuk menyentuh adik tercintanya. Terasa sangat berdenyut dan mengeras. Riana benar-benar terbawa suasana sehingga tangannya mulai mengelus pelan layaknya ke anak kucing. Aksa pun tak mau berdiam diri, dia mulai menyusuri jalan menuju puncak surga dunia. Pelan dan penuh cinta, membuat Riana tak berdaya. Di setiap langkahnya, Aksa selalu memberikan jejak agar dia tidak lupa akan jalan untuk pulang. Kain yang digunakan pun sudah disibakkan dan dilempar ke bawah. Kini memperlihatkan sesuatu yang membuat matanya berawan dan tak tahan.
Layaknya anak yang kekurangan asupan vitamin, Aksa terus menghisap dan menghisap. Padahal, sampai pipinya kempot pun hanya udara yang dia hisap. Tidak akan mengeluarkan cairan yang menyehatkan yang biasanya bayi konsumsi. Kulit putih di bagian sana kini berubah warna menjadi merah kehitaman. Sungguh kejam sekali drakula tak bertaring itu.
Aksa terus melangkah dan membelai lembut kulit putih itu hingga the Sahan, le nguhan menjadi supporter bagi Aksa. Semangatnya semakin menggebu ditambah desakan di bawah sana sudah sangat kuat seperti ingin cepat dibebaskan.
Tibalah di mana surga dunia itu berada. Usapan lembut dan kecupan perkenalan dia berikan. Lagi-lagi, istrinya bergerak bagai cacing kepanasan dengan tangan yang mencengkeram sprei. Tangan Aksa sudah mulai menyingkirkan kain penghalang, matanya tak berkedip melihat pemandangan yang membuat dadanya berdegup sangat cepat. Aliran darahnya semakin memanas dan semakin mendidih.
Aksa sangat hati-hati dan belaian lembutnya membuat Riana mengerang. Kecupan hangat dia berikan di bagian atas, dan tangannya mulai menyibak belahan yang ada di hadapannya. Sungguh luar biasa ruangan itu, berwarna merah jambu dan mampu membuat Aksa menelan ludah. Namun, dia akan membuat istrinya bahagia terlebih dahulu, sebelum dirinya.
Perkelahian lidah dan petikan jemarinya membuat Riana terus melengooh cukup keras.
__ADS_1
"Abang."
Dapat Aksa rasakan sesuatu yang sudah berdenyut bagai urat nadi, tetapi Aksa tetap tidak berhenti. Dia terus melanjutkan perkelahian lidah dan petikan jemarinya hingga istrinya berteriak kecil.
"Ingin pipis."
"Pipis aja, Sayang."
Kelegaan yang Riana rasakan setelah mencapai garis finish setelah berkejaran dengan rasa yang tak bisa tergambarkan karena ini kali pertamanya dia meraskan ini. Suaminya tersenyum bahagia dan mengecup kening Riana sangat lama. Aksa membiarkan istrinya beristirahat sejenak, tetapi tangan Riana dia letakkan di tempat adiknya berada.
"Sayang, boleh ya."
Melihat istrinya mengangguk dan tersenyum membuat Aksa semangat empat lima. Namun, dia tidak langsung melakukan pendobrkan. Tetap harus memberikan pelumas kepada istrinya. Dirasa sudah sangat licin perlahan tapi pasti adiknya mulai mencoba masuk.
"Aw!" Ringisan keluar dari mulut Riana.
Sungguh pintunya sangat rapat, tak sama sekali terbuka. Adik Aksa mencoba kembali. Mendobrak dengan tenaga kuat membuat suara ringisan cukup keras terdengar. Aksa menatap ke arah Riana yang sudah menitikan air mata.
Aksa mengecup kelopak mata Riana. Kemudian turun ke bibir mungilnya. Setelah dirasa istrinya mulai menikmati kembali, adik Aksa mulai mendobrak untuk ketiga kalinya dan berhasil meskipun Riana sedikit menjerit karena sakit. Seperti dirobek paksa itulah yang Riana rasakan.
Gerakan pelan membuat rintihan kesakitan berubah menjadi alunan nada yang menyenangkan. Suara-suara gemercik cipratan air terdengar. Membuat aliran darah semakin panas. Nyanyian yang bersahutan membuat mereka semakin bersemangat. Tak mereka pedulikan peluh yang membasahi seluruh tubuhnya. Terus menikmati irama-irama yang membuat mereka terbuai dan akan terbang ke awang-awang.
"Bang."
Suara Riana bagai kode untuk Aksa dan dia mulai mengubah posisi tanpa saling melepaskan. Kini Riana lah yang berpacu. Tujuannya agar mereka bisa mencapai garis finish secara bersamaan.
Alunan nada yang membuat bulu kuduk meremang terdengar. Kata 'terus' layaknya tukang parkir Aksa kumandangkan hingga semua benih-benih cinta yang sehari semalam terpendam keluar tanpa tersisa. Malah berceceran hingga ke mana-mana.
"Makasih, Sayang." Aksa mengecup kening Riana.
__ADS_1
Dia sangat bersyukur karena Riana adalah wanita yang memang masih tersegel rapi. Belum ada yang menjamahnya. Napas Riana masih terengah-engah, tetapi Aksa sudah ingin mengulanginya lagi. Riana sempat tak percaya, tetapi dia melihat jelas apa yang terjadi pada adik suaminya itu.
Biarlah sore ini menjadi sore pertama untuknya dengan sang suami. Akan dia serahkan segalanya dan mengikuti kemauan suaminya. Sudah kewajiban seorang istri melayani suami dengan baik, bukan?
Tidak Riana sangka, ternyata suaminya tidak pernah mengenal lelah. Selesai yang kedua kali meminta lagi dan lagi. Hingga tubuhnya tak berdaya dan dia melayani bagai gedebog pisang, pasrah tak ada perlawanan.
"Minum obat kuat apa sih?" keluh Riana di dalam hati.
Akhirnya, suaminya sampai juga di garis finish. Sekilas dia melihat suaminya juga nampak kelelahan dan berbaring di sampingnya. Baru saja Riana hendak memejamkan mata, sebuah suara terdengar.
"Lagi ya, Sayang."
Mata yang sudah lima Watt kini melebar dengan sempurna. Sudah lima kali dan masih meminta lagi. Ingin rasanya dia menolak, tetapi Riana juga takut dosa. Mau tidak mau dia mengiyakan meskipun harus menahan kesakitan di bagian mahkotanya.
Tiga puluh menit berselang, Aksa kembali mengerang. Napasnya kembali terengah-engah. Riana sudah sangat pucat karena kelelahan. Tak dia hiraukan kulitnya yang mulanya putih kini bagai tokek.
Riana mulai memejamkan matanya, sungguh tubuhnya seperti tak bertulang.
"Sayang ...."
"Bang, Ri lelah sekali dan ini (bagian bawah) Ri juga sakit. Besok lagi, ya." Riana sudah tidak bisa berpura-pura. Sungguh dia tengah menahan keperihan di bagian bawahnya.
Aksa mengangguk dan meminta maaf. Dia menaikkan selimut ke tubuh sang istri juga dirinya. Mengecup kening istrinya sangat dalam. Aksa menatap Riana yang tengah tertidur. Melihat wajahnya saja membuat aliran darah Aksa memanas, apalagi melihat Riana seperti sekarang ini yang tak memakai sehelai benang pun. Tak dia pungkiri adiknya sangat puas menerima pelayanan dari pemilik rumah. Sungguh sangat ramah dan juga mengasyikan membuatnya tidak ingin berhenti apalagi tertidur.
"Besok pagi, kita pakai gaya yang berbeda lagi ya, Sayang."
...****************...
Udah ya? Puas ya?
__ADS_1
Tahan napas aku nulisnya 🤧
Gak kasih poin/koin keterlaluan. 🤧