
Ketika Aleesa mendongak ke atas, seruan dari seseorang membuatnya menoleh.
"Kenapa masih di sini? Ayo masuk," ajak Fahri.
Aleesa pun mengangguk dan mengikuti Fahri, sedangkan cleaning servis itu sudah pergi.
"Tadi siapa, ya?" batin Aleesa. Bayangan itu sangat jelas.
Langkah Aleesa terhenti ketika melihat seorang pria yang tengah duduk termenung.
"Kerja! Jangan bengong," tegur Fahri.
Aleesa menatapnya sekilas, kemudian dia mengikuti langkah Fahri masuk ke ruangan direktur utama.
"Ke mana aja Aleesa?" tanya Riana.
"Maaf, Aunty," sesalnya.
Ruangan direktur utama bagai play grup. Akan tetapi, Aksa tidak mempermasalahkannya. Dia malah bahagia melihat ketiga keponakannya ceria. Berbeda dengan Fahri, dia benar-benar geram karena suara berisik dari ketiga keponakan atasannya tersebut.
Riana memilih duduk di samping sang suami, melingkarkan tangannya di lengan Aksa.
"Kenapa Sayang?" tanya Aksa.
Riana menggeleng, dia malah meletakkan kepalanya di bahu sang suami. Aksa mengusap lembut kepala istrinya. Ketukan pintu terdengar, Randilah yang masuk. Matanya melebar ketika dia melihat Riana tengah bergelayut manja di lengan direktur utama yang tak lain adalah suaminya.
"Ini Pak, laporannya," ucap Randi, sambil menyerahkan laporan yang baru saja dia kerjakan.
Aksa menerimanya, dia membaca laporan tersebut. Rasa penasaran Aleesa terhadap Randi semakin bertambah. Dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Randi. Aleesa menyentuh tangan Randi dan membuat Randi sedikit terkejut.
Aleesa malah tertawa dan Randi menatap bingung ke arahnya.
"Om suka sama Aunty, tapi Aunty sukanya sama Uncle."
Ucapan Aleesa mampu membuat mata Riana melebar, begitu juga. Aksa yang kini menatap Randi. Hati Riana bergemuruh, apalagi tatapan tajam Aksa kepada Randi yang menakutkan.
"Banyak yang salah. Perbaiki lagi," titah Aksa, sambil sedikit membanting laporan tersebut.
__ADS_1
Suasana mendadak panas membuat. Randi segera pergi karena dia melihat wajah Aksa penuh kemurkaan.
"Om," panggil Aleesa. Langkah Randi pun terhenti dan dia menoleh ke arah Aleesa.
"Kasihan deh," ejeknya seraya tertawa.
Sungguh bocah pembuat onar, begitulah batin Riana. Suasana mendadak hening dan Fahri memilih untuk pergi. Dia tidak mau ikut campur dalam rumah tangga orang lain.
Wajah Riana sudah berubah, ada ketakutan di hatinya apalagi Aksa yang mulai dingin. Tak ada obrolan dari mereka berdua hingga si triplets mengeluh lapar. Aksa membawa mereka makan siang.
Tak ada obrolan sedikit pun. Aksa terus fokus pada jalanan. Begitu juga dengan Riana yang tengah bergelut dengan pikirannya sendiri.
Makan siang pun terasa hambar, tak ada kemesraan yang biasa Aksa berikan kepada Riana. Ingin memulai pembicaraan pun Riana sedikit takut. Apalagi, makanan yang Aksa dan si triplets pesan adalah makanan yang tidak dia sukai dan malah membuat dia enek. Namun, sebisa mungkin dia menahannya.
Kedatangan kakaknya membuat suasana sedikit menghangat. Ada gelak tawa meskipun wajah Riana sudah pias menahan rasa mual. Ketika kakaknya pergi dan membawa si triplets pertahanan Riana pun roboh. Dia meninggalkan suaminya dan berlari ke arah toilet. Aksa yang melihat tingkah Riana yang aneh segera mengikutinya dari belakang. Sepuluh menit berselang, Riana keluar dengan wajah yang sudah pucat.
"Sayang," panggil Aksa dan segera menghampiri Riana.
"Kamu kenapa?" tanya Aksa. Riana pun menggeleng.
Aksa segera membawa istrinya pergi dari restoran tersebut. Di sepanjang perjalanan Riana masih terkulai lemah.
"Ri, mual makan yang tadi." Aksa pun tergelak.
"Kenapa gak bilang?" Riana menggeleng.
"Kamunya juga diemin Ri." Aksa menepikan mobilnya. Dia menatap tajam ke arah sang istri.
"Bicara apa tadi? Kamu?" hardik Aksa dengan tatapan tajam.
Riana seolah acuh, dia membiarkan suaminya itu marah. Toh, dia juga kesal dengan sikap suaminya.
"Oh, jadi kamu marah aku diemin?" Riana tidak menjawab.
"Udah, Ri ingin pulang," tukasnya.
Riana paling tidak suka jika seseorang itu mendiamkannya tanpa sebab. Tidak pernah menjelaskan di mana letak kesalahannya. Walaupun Riana tahu suaminya itu marah karena Randi. Alangkah lebih baiknya mereka bicarakan baik-baik.
__ADS_1
"Oke, baiklah." Aksa melajukan mobilnya kembali. Namun, bukan ke arah apartment miliknya.
"Mau ke mana kita?" tanya Riana.
"Ke tempat untuk kita bersenang-senang."
Mata Riana membola dan dadanya berdegup sangat cepat. Sungguh dia sangat ketakutan saat ini.
Mobil yang dikendarai Aksa berhenti di sebuah hotel bintang lima. Aksa membuka pintu penumpang dan meraih tangan Riana. Dada Riana bagai orang yang tengah mengikuti lomba lari maraton.
Aksa masuk ke dalam kamar suite room. Dia sudah membuka jas dan juga melonggarkan dasinya. Wajahnya sangat terlihat lebih ganas. Apalagi Aksa sudah membuang dasinya entah ke mana.
Satu per satu kancing kemeja sudah dia buka dan tubuhnya semakin mendekat ke arah Riana. Semakin Aksa mendekat, semakin Riana mundur hingga tubuhnya terbentur dinding. Seringai muncul di wajah Aksa dan dia segera mengunci tubuh istrinya.
Tangan Aksa sudah merengkuh pinggang Riana dan tanpa basa-basi dia sudah menguasai bibir mungil Riana. Tidak Riana sangka, bahwa itu adalah silat lidah paling lembut yang suaminya berikan dan mampu membuat Riana melayang-layang.
Tubuh Riana sudah meliuk-liuk ketika Aksa mulai menyusuri setiap inchi kulit putih tersebut. Tangan nakalnya sudah berkelana dan dengan mencari mainan yang bisa membuatnya senang.
Alunan melodi yang Aksa tunggu-tunggu pun keluar. Adiknya sudah sangat tidak tahan ingin menerjang pertahanan sang istri.
Aksa memancing Riana dengan sikap liarnya. "Sayang, Abang mau mawar merah darimu."
Sungguh Riana menjadi wanita liar sekarang ini. Dia mengikuti apa yang diminta suaminya. Bunga mawar merah dia tanam di leher sang suami. Merah dan hampir kehitaman. Senyum penuh kemenangan terlihat jelas di wajah Aksa. Dia membawa Riana ke atas tempat tidur tanpa melepaskan pagutannya. Baru saja pemanasan, Riana sudah mengerang untuk ketiga kalinya. Sungguh luar biasa kepuasan yang diberikan oleh Aksa. Benar-benar suami yang selalu memanjakan istri. Setelah semuanya sudah siap dan akan memulai pertempuran. Aksa berdoa dalam hati.
"Semoga benih ini bisa tumbuh di rahim istriku, Ya Allah."
Permainan pun dimulai. Semuanya terhanyut akan permainan yang disuguhkan. Alunan suara merdu nan menggairahkan terdengar. Sprei sudah berantakan karena ulah dua manusia yang tengah bersenang-senang. Aksa merasakan ada sensasi yang berbeda yang Riana berikan. Istrinya lebih agresif tidak seperti biasanya.
Dua jam berselang mereka terkulai lemah. Susu kental manis sudah berceceran di mana-mana karena berbagai gaya yang mereka lakukan. Kini, Riana membenamkan wajahnya di dada sang suami.
"Makasih, Sayang." Aksa mencium kening Riana sangat dalam.
Mereka masih mengatur napas masing-masing dengan saling memeluk satu sama lain. Tubuh yang basah karena keringat tidak mereka pedulikan. Apalagi bermain kuda-kudaan di siang hari, sungguh sangat melelahkan. Dinginnya AC tak membuat keringat mereka surut karena gairah yang menggebu.
"Mau nambah lagi gak?" tanya Aksa.
...****************...
__ADS_1
Komen atuh lah 🤧