Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Murka


__ADS_3

Aska tertawa puas melihat Ziva bagai mayat hidup sekarang. Dia membuka jas yang menempel di tubuhnya dan mengacak-acak rambutnya seperti style yang dia miliki.


"Selamat!" Aska mengulurkan tangannya. Namun, Ziva tidak menyambutnya.


Christian yang jahil segera menautkan tangan Ziva ke arah tangan Aska.


"Anda terkena jebakan Batman. Senjata makan tuan."


Tawa Aska pun menggelegar, diikuti oleh Christian. Mereka berdua malah bertos ria bagai anak kecil.


"Tian, taruhan yuk," ajak Aska.


Christian menatap ke arah Aska. Dia mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Menurut lu, si Suketi selamat apa lewat?"


Sontak Ziva menggebrak meja dengan sangat kuat. Dia menatap tajam ke arah Aska. Suketi yang Aska maksud adalah ibunya.


"Jaga bicara lu!" Tangan Ziva sudah menunjuk ke arah wajah Aska.


Tidak ada kata takut bagi Aska. Dia balik memandang Ziva dengan tatapan tak biasa. Menepis telunjuk Ziva yang sudah ada di depan wajahnya.


"Ck, ck, ck. Itu tangan mau gua patahin, iya?" bentak Aska.


Rahang Aska sudah mengeras. Urat-urat kemarahannya sudah terlihat jelas. Nyali Ziva menciut mendengar bentakan Aska.


"Christian, jangan pernah beri dia keringanan atas hukumannya. Kalau bisa, biarkan dia sekeluarga membusuk di dalam penjara seumur hidup."


Baru saja Aska selesai berbicara seperti, Gio datang ditemani Remon. Dia menatap nyalang ke arah Ziva.


"Masih belum puas kamu dan keluarga kamu menyakiti putraku?" Gio berucap dengan nada biasa, tetapi terdengar sangat menyeramkan di telinga Ziva.


"Jangan harap kamu dan keluarga kamu tidur nyenyak," lanjutnya.


"Christian, saya sudah mengerahkan pengacara handal untuk mengurus kasus ini. Syukur-syukur Sarah mati supaya Aksa dan juga Riana tidak diganggu lagi oleh makhluk seperti dia ini," sarkas Gio seraya menunjuk Ziva.


Ayah dan anak sama-sama bermulut pedas. Rasa kekeluargaan serta saling melindungi satu sama lain sangatlah kental. Ketika salah seorang keluarganya terkena masalah, pasti yang lainnya ikut membela dengan mati-matian. Begitulah keluarga Wiguna.


"Kenapa Om menyumpahi Mamih Zi seperti itu?" tanya Ziva dengan derai air mata.


"Kamu tanya kenapa? Kamu sudah amnesia?" hardik Gio.


"Masih mending saya mengeluarkan sumpah serapah saya. Seharusnya saya sudah membunuh kamu beserta keluarga kamu karena hampir melenyapkan nyawa ayah saya. Serta menyakiti hati anak dan menantu saya," tukasnya.


"Air mata lu gak akan pernah mampu membuat hati gua dan bokap gua iba, yang ada gua gemes banget ... gemes pengen nyekek leher lu terus gua lempar tubuh lu ke kubangan api neraka," timpal Aska.


Pengacara keluarga Mahendra hanya terdiam saja. Dia tahu siapa keluarga Giondra. Pengacara yang berada di belakang keluarganya pun dia tahu. Dia hanya bagai pengacara butiran debu dibandingkan dengan pengacara Gio.

__ADS_1


Di apartment Aksa, Riana masih belum sadar. Aksa pun tak beranjak dari samping Riana.


"Bangun, Sayang," ucapnya.


Aksa sudah menggenggam tangan Riana. Sesekali dia menciumnya dan membawa tangan itu ke pipinya. Walaupun dokter mengatakan bahwa Riana hanya tertidur, tetap saja rasa khawatir menyelimuti hatinya sekarang ini.


"Maafkan Abang, Sayang," sesalnya.


Selang setengah jam, mata Riana mulai mengerjap. Dia menatap sekitarnya. Ada sang suami yang tengah memandanginya dengan senyuman penuh arti.


"Kepala Ri, pusing," adunya.


Aksa tersenyum dan memijat lembut kening Riana. Tangan yang satunya masih Aksa genggam.


"Maafkan Abang, ya," ucap Aksa.


Riana yang tengah memejamkan matanya mencoba membuka matanya kembali. Dia menatap tidak mengerti ke arah sang suami.


Belum juga Aksa berbicara, Echa dan suaminya serta ketiga anaknya masuk ke kamar Riana. Wajah Echa sangat terlihat khawatir. Echa segera memeluk tubuh adiknya. Riana benar-benar bingung dengan apa yang terjadi dengannya.


"Alhamdulillah, kamu selamat," ucap Echa.


"Emangnya Ri kenapa, Kak?" tanya balik Riana.


Echa menatap ke arah Aksa. Hanya helaan napas kasar yang menjadi jawaban atas tatapan itu.


Mata Riana melebar mendengarnya. Dia menatap ke arah sang suami dan Aksa segera memeluk tubuh Riana.


"A-apa itu benar?" tanya Riana dengan nada sedikit tak percaya.


"Iya, Sayang."


Tangan Riana semakin erat memeluk tubuh Aksa. Tangisnya pun pecah.


"A-apa itu perbuatan Tante Sarah?" Aksa mengangguk.


Echa mengusap lembut punggung Riana yang tengah menangis di dalam pelukan Aksa.


"Yang paling penting, kamu selamat Ri. Racun itu malah dia tengguk sendiri," papar Echa.


Malam ini Riana tidak dapat tidur nyenyak. Pikirannya masih berkelana akan kejadian pagi tadi.


"Sayang, kenapa belum tidur?"


Jam dinding sudah menunjukkan pukul satu malam. Riana masih terjaga dengan bersandar di kepala ranjang. Aksa malah mendekatkan tubuhnya dan memeluk Riana dari samping.


"Bang, sebegitu bencinya kah ibunya wanita itu?" tanya Riana.

__ADS_1


Aksa mendongak ke atas menatap istrinya yang sudah menunjukkan wajah sendu.


"Manusia yang sudah dikuasai iblis pasti akan hidup di dalam kubangan penuh kebencian. Mereka tidak akan pernah bisa berpikir jernih. Hanya kejahatan yang ada di dalam otak mereka," jelas Aksa.


"Bagaimana kondisi mantan mertua Abang sekarang?" tanya Riana.


"Sekarat," jawab singkat Aksa.


Aksa mulai mendudukkan dirinya di samping sang istri. Tangannya mulai melingkar di perut Riana.


"Racun itu sangat mematikan. Harusnya dia bisa segera langsung mati, jika semua serbuk racun itu dimasukkan semua ke dalam minumannya. Namun, untuk melihat kandungan apa saja di dalamnya, setengahnya lagi untuk proses penelitian di laboratorium dan memang benar itu racun yang sangat mematikan. Siapa orang yang meminumnya, hanya akan bertahan satu jam."


Riana benar-benar terkejut mendengar ucapan dari Aksa. Dia tidak bisa membayangkan jika dia meminum racun itu. Melihat mimik muka Riana yang ketakutan, Aksa semakin memeluk erat tubuh Riana.


"Jangan dipikirkan. Banyak orang yang menyayangi kamu dan akan menjaga kamu." Riana menatap ke arah sang suami yang tengah tersenyum ke arahnya.


"Bagaiman jika kita bercocok tanam lagi. Supaya benih yang Abang miliki bisa tumbuh di ladang basah milik kamu." Aksa sudah menyeringai penuh ancaman yang memabukkan.


"Tapi, Abang aja ya yang aktif. Badan Ri, masih lemas." Aksa mengangguk semangat. Dia sudah tidak sabar melakukan kegiatan yang membuat keringatnya mengucur deras.


Keesokan paginya, Riana masih betah bergumul di bawah selimut tebal dengan tubuh yang tak tertutup kain sehelai benang pun. Tubuhnya bagai ayam tulang lunak karena sang suami begitu gagah dalam menggarapnya.


"Maaf ya, Bang. Ri, gak bisa nyiapain sarapan untuk Abang," sesal Riana dengan suara lemah.


"Gak apa-apa, Sayang." Aksa mengecup hangat kening sang istri.


"Abang berangkat, ya. Kalau ada apa-apa segera hubungi Abang." Riana mengangguk, Aksa mencium singkat bibir sang istri. Kemudian, menyingkapkan selimut yang membalut tubuh Riana. Riana hendak protes, tetapi dia urungkan karena Aksa tengah mengecup perut rata Riana.


"Cepat tumbuh di sana ya, Nak."


Hati Riana menghangat mendengar ucapan tulus yang keluar dari mulut suaminya.


Tibanya di kantor, amarah Aksa mulai mendidih kembali ketika melihat Randi sudah ada di lobi, dengan sengaja Randi menghadang langkah Aksa. Dia malah bersujud di kaki Aksa. Para karyawan yang melihat kejadian itu menjadikannya tontonan gratis.


"Pak, saya mohon jangan libatkan adik saya dalam masalah pemecatan saya kemarin."


Aksa tersenyum tipis, dia menatap tajam ke arah security yang ada di sana membuat security itu segera menarik tubuh Randi.


"Gampang banget kamu ngomong seperti itu," ucap Aksa meremehkan.


"Kamu sendiri saja dengan beraninya menghina istri saya dan menyangkut pautkan dengan masa lalu saya yang sama sekali tidak kamu ketahui," tekannya.


Urat-urat kemarahan nampak jelas di wajah Aksa. Para karyawan yang mendengar kemurkaan Aksa mulai gemetar hebat. Mereka menyaksikan langsung kemarahan Aksa yang mengubah wajah tampannya menjadi wajah monster. Kini, Aksa menatap karyawan yang ada di sekelilingnya.


"Untuk kalian semua yang berani mengusik istri saya. Saya pastikan kalian akan ditendang dari perusahaan ini dan tidak akan pernah bisa masuk ke perusahaan manapun."


...****************...

__ADS_1


Komen atuh, katanya nyuruh aku carzy up. Tapi komennya makin gak ada 🤧


__ADS_2