
"Aku tidak suka penolakan!"
Sorakan pun terdengar riuh. "Bagus! Pria sejati harus begitu," teriak salah satu pengunjung.
Radit dan Echa hanya tertawa, tetapi Rion masih membeku. Belum ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Kita harus ke Jakarta, sekarang."
Aksa berbisik di telinga Riana. Mata Riana membola dan menatap manik Aksa penuh tanya.
"Nanti juga kamu akan tahu," ujarnya.
"Tapi ...."
"Abang yang akan ijin kepada Ayah."
Tangannya sudah bertaut dengan tangan Riana. Melangkahkan kaki secara beriringan menuju tempat sang ayah dan keluarga berada.
"Ayah ... Kakak ... ijinkan Abang untuk membawa Riana ke Jakarta sekarang juga."
Semuanya terlonjak mendengar ucapan Aksa. Sorot mata mereka bertanya ada apa?
"Ada sesuatu yang harus Abang selesaikan di sana. Abang janji, besok Abang akan bawa Riana kembali ke Jogja."
"Kenapa harus bawa Riana?" Kali ini Rion membuka suara.
"Karena ini ada sangkut pautnya dengan Riana."
Rion baru saja membuka mulutnya, tetapi sudah dipotong oleh Aksa.
"Pesawat yang akan kita tumpangi sebentar lagi akan berangkat. Jadi, Abang tidak bisa berlama-lama. Bye, semua."
"Bye Uncle!" balas ketiga keponakan Aksa.
Ingin rasanya Radit tertawa melihat tampang sang mertua. Namun, dia takut dosa.
"Menantu sama calon menantu sama aja," gerutu Rion.
Echa yang mendengar gerutuan sang ayah segera menatap sang ayah. Rion jadi salah tingkah.
"Ciye ... udah restuin nih ceritanya," ejek Echa.
"Apaan? Kamu salah dengar. Makanya kupingnya bersihin," elak Rion.
Echa hanya tertawa melihat tampang ayahnya yang seperti orang terciduk sedang berada di dalam sebuah hotel dengan seorang waria. Eh salah! Seorang wanita.
Aksa terus menarik tangan Riana hingga Riana mengaduh, barulah langkahnya terhenti.
"Kenapa?"
"Bisa gak sih pelan-pelan. Ri 'kan pakai hak lima centi," keluhnya.
Aksa segera berjongkok, melihat keadaan kaki Riana. Ada sedikit luka lecet di kakinya.
"Maaf," sesal Aksa, seraya menatap manik Riana.
Kali ini Aksa menggandeng tangan Riana dengan sangat hati-hati. Bagai membawa barang pecah belah. Mereka duduk berdampingan dengan tangan yang saling menggenggam.
"Masih sakit?" Riana menggeleng pelan. "Kan gak dipakai jalan," jawabnya.
__ADS_1
Aksa tersenyum dan menatap Riana dengan penuh cinta. "Kamu sangat cantik hari ini." Wajah Riana bersemu mendengar ucapan dari Aksa.
Mobil berbelok ke sebuah restoran bukan ke Bandara. Dahi Riana mengernyit dan menatap Aksa penuh tanda tanya.
"Katanya ...."
"Satu jam lagi keberangkatannya. Abang lapar, ingin menikmati makan bersama kamu," imbuhnya.
"Tadi ... Ayah ...."
"Kalau berlama-lama di sana yang ada kamu gak bisa Abang bawa ke Jakarta. Abang belum yakin Ayah sudah merestui hubungan kita."
Riana mengerti akan hal itu. Ayahnya adalah manusia yang tidak bisa ditebak. Sekarang baik besok bisa menjadi pemeran antagonis.
Ternyata Aksa sudah melakukan reservasi tempat terlebih dahulu. Ruangan yang sangat private yang hanya mereka berdua berada di sana. Riana membeku ketika kakinya hendak melangkah masuk. Suasana yang sangat romantis.
"Kamu suka?" bisik Aksa.
Riana terkejut dan refleks menoleh ke arah Aksa yang masih merendahkan posisi kepalanya.
Cup.
Tak sengaja bibir Riana menyentuh bibir Aksa membuatnya kaget sendiri. Sedangkan Aksa hanya tersenyum menang. Kecupan itu sangat singkat karena Riana segera memundurkan kepalanya dan menunduk dengan wajah yang sudah merona.
"Maaf," ucapnya pelan.
Aksa malah terkekeh dan menarik tangan sang kekasih ke dalam pelukannya. Mengecup ujung kepala Riana dengan sangat lembut.
"Sering-sering aja."
Mata Riana membelalak dan menatap horor ke arah Aksa.
"Bercanda, Sayang."
Mereka duduk saling berhadapan. Pesanan sudah tersedia di sana. Namun, Aksa malah fokus pada perempuan yang ada di depannya. Makanannya terus saja dianggurkan.
"Kenapa, Bang? Katanya lapar," ujar Riana.
"Udah kenyang."
Aksa meraih tangan Riana yang berada di atas meja. Mengecup punggung tangannya sangat lama.
"Mau 'kan jadi pendamping hidup, Abang?"
Pertanyaan yang sama yang Aksa lontarkan karena tadi dia belum mendapat jawaban dari Riana.
Riana masih diam, dia bimbang. Ayahnya adalah orang yang sangat dia sayangi. Sangat berjasa juga, tetapi restu belum keluar dari mulutnya. Apa dia harus melawan restu ayahnya?
Merasakan tangannya yang kembali hangat, Riana tersenyum ketika Aksa mencium punggung tangannya lagi.
"Kita sama-sama yakinkan Ayah."
Aksa seolah tahu kegundahan hati Riana. Refleks, kepala Riana mengangguk dan senyum pun terukir lebar di bibir Riana.
"Makasih, Sayang."
Mereka bertolak ke Jakarta dengan menggunakan pesawat pribadi ternyata. Terlambat berapa jam pun tidak masalah bagi Aksa. Toh, pilot dan pramugarinya dibayar oleh keluarganya.
Riana sudah membaringkan kepalanya di bahu Aksa. Tangan Aksa pun selalu bertaut dengan tangan Riana. Kebiasaan Aksa sekarang mencium punggung tangan Riana yang malah menjadi candu untuknya.
__ADS_1
"Bang ... kenapa kita ke Jakarta?" tanya Riana lagi.
Tidak ada jawaban dari Aksa. Dia malah memejamkan mata. Riana mendongak menatap ke arah sang kekasih. Dengusan kesal pun keluar dari bibir Riana. Suasana mendadak hening.
"Kenapa kamu menemui pria itu tanpa bilang kepada Abang?"
Riana terdiam mendengar pertanyaan Aksa. Ternyata pria di sampingnya ini hanya pura-pura tertidur.
"Jawab!"
Ucapan Aksa membuat dada Riana berdegup cukup cepat. Tak biasanya dia berbicara setegas ini.
"Ri ... hanya ingin menemani teman Ri ... di saat dia sedang membutuhkan dukungan dari seorang teman. Ri ... ingin membalas budi, dia selalu ada ketika Ri terpuruk karena ditinggal Abang menikah."
Hembusan napas kasar terdengar. Aksa membuka matanya. Dilihatnya Riana sudah tidak lagi menyandarkan kepala di pundaknya. Aksa menangkup wajah Riana, menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.
"Dia ... mengecup kening Ri sebagai permintaan terakhirnya."
Riana tidak dapat memandang manik mata Aksa. Dia takut, Aksa akan marah. Namun, dugaan Riana salah. Aksa malah memeluknya erat.
"Jangan buat Abang cemburu. Apapun katakan pada Abang."
Ada kelegaan di hati Riana, tangannya pun membalas pelukan erat Aksa. Tibanya di Bandara Halim Perdana Kusuma, Aksa dijemput oleh Christian. Mobil itu melaju membelah jalanan ibukota.
Sesekali Christian melirik ke arah Aksa yang terus mendekap hangat tubuh Riana. Dia hanya menggelengkan kepala.
Nih orang, kalau di depan Riana gak ada wibawanya. Malah kayak anak kucing.
Riana menatap bingung ketika mobil yang dibawa Christian berhenti di sebuah rumah sakit.
"Bang ...."
"Ikut aja, ya."
Aksa menggenggam tangan Riana dan mengikuti langkah Christian di depannya. Tiba di lantai empat, Riana melihat ada beberapa orang yang mengenakan seragam kepolisian yang berjaga. Mereka mengangguk hormat kepada Aksa.
"Di sini, Pak."
Christian membukakan pintu kamar perawatan untuk Aksa. Namun, Riana menghentikan langkahnya.
"Jangan takut, ada aku."
Riana berpikir bahwa Arka sudah dipindahkan ke rumah sakit yang berada di Jakarta. Namun, ketika dia berada di ambang pintu. Dilihatnya sosok perempuan yang tengah berderai air mata menatap Aksa.
Ada apa ini?
"Anak kita ...."
Mata Riana membola sedangkan Aksa menatap Ziva tanpa ekspresi.
"Kenapa? Sudah mati?"
Riana tersentak mendengar ucapan dari Aksa. Betapa kasar sekali mulut Aksa dalam berbicara kali ini.
"Baguslah, anak itu adalah anak yang baik. Dia tidak ingin menyiksaku terlalu lama lagi. Dia ingin membebaskan ku dalam jeratan iblis wanita seperti kamu!"
Harapan Ziva hanya angan-angan saja. Tidak ada pelukan tidak ada kata penyemangat yang keluar dari mulut Aksa. Hanya kata yang sangat kasar yang Aksa ucapkan.
"Christian, segera urus perceraian ku dengan wanita biadab itu. Pastikan, persidangan itu berjalan dengan cepat."
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa Komen ...