Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Perusahaan WN


__ADS_3

Sebelumnya ...


Aksa menghubung kedua sahabat adiknya perihal kondisi Aska yang sesungguhnya. Setidaknya mereka akan menjadi pelipur lara untuk Aska. Mereka mampu menghibur Aska dan menyelamatkan Aska dari jurang kehancuran juga kesedihan. Tanpa berpikir panjang, Ken dan Juno segera terbang ke Jogja ketika pekerjaan mereka sudah selesai.


"Bang sat!" Makian terus keluar dari mulut Ken ketika mereka menuju Bandara. Ken benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Bian. Padahal, dia adalah orang yang paling banyak dibantu oleh Aska, tetapi tidak ada rasa terima kasih sama sekali.


"Tanya ke Bang Sultan di mana Jingga dirawat," titah Ken dengan wajah penuh marahnya.


"Hah?"


Juno terkejut dengan apa yang dia dengar. Ken menatap malas ke arah Kini yang terkadang otaknya berjalan seperti siput, lamban.


"Gua pengen ngasih pelajaran ke si Bian edan," tukasnya. Juno mengangguk mengerti dan segera mengirim pesan kepada Abang dari sahabatnya itu. Jangan berharap akan cepat direspon. Pesan Ken atau Juno seperti pesan tak penting bagi Aksa. Setelah setengah jam sampai satu jam barulah pesannya dibalas.


Ketika mereka tiba di Jogja, orang pertama yang ingin mereka temui bukanlah Aska melainkan Bian. Mereka berdua sangat geram kepada Bian, sahabatnya yang tak tahu diri. Terlebih Ken yang sedari tadi mengucapkan umpatan dan makian untuk Bian. Apalagi Aksa menceritakan bahwa Bian sudah memukuli Aska hingga wajah tampan Aska seperti nangka busuk.


"Tahan emosi lu. Jangan sampai kebablasan," pinta Juno. "Satu pukulan yang lu berikan kepada Bian bisa dipidanakan oleh dia. Kita gak boleh gegabah." Nasihat yang Juno katakan kepada Ken. Dia sangat tahu sifat asli Ken itu seperti apa. Ken hanya mengangguk dan dalam hatinya berkata, "gua gak janji, No."


****


"Gua kira kita sahabat selamanya, tetapi semuanya harus hancur ketika lu bertindak tanpa menggunakan otak."


Jleb.


Perkataan Juno sangatlah menyakitkan. Dia tidak pernah mendengar Juno berkata seperti ini selama mereka bersahabat dekat.


"Aska itu ibarat kata ngasih makan bayi harimau yang lucu. Semakin harimau itu besar ... bukannya balas Budi, malah menerkamnya hidup-hidup," pungkas Ken dengan senyum tipisnya.


Bian hanya terdiam, menatap Juno pun dia tidak mampu. Kalimat demi kalimat yang Juno katakan teramat menyakitkan untuknya.


"Kita gak ngebela Aska karena dia kaya. Kita berdua hanya menjadi manusia yang tahu diri. Manusia yang tahu terima kasih. Sekecil apapun kebaikan yang orang lain berikan, sebisa mungkin kita harus membalasnya dengan kebaikan pula. Sesederhana itu kok," papar Juno.


Suasana kamar hotel pun mendadak hening. Tidak ada yang berbicara dari ketiga pria tersebut.


"Kenapa lu gak mau ngalah?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Ken. Dia sudah melipat kedua tangannya di atas dada dengan tatapan yang sudah sangat tajam.


"Bukankah Aska yang bilang sendiri akan mundur kalau di antara kita ada yang menyukai wanita yang sama," balas Bian.


"Cih!" Ken tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala tak percaya dengan jawaban Bian.

__ADS_1


"Batu ya tetap batu," cibir Ken.


Bian terdiam lagi, dia seperti sedang disidang dengan bukti yang tidak bisa terelakkan. Dia hanya bisa membungkam mulutnya.


"Kalau gak ada si Juno, mungkin lu udah gua bikin bonyok sama seperti si Aska," ujarnya.


"Dia cium istri gua, Nyetir!" Kini Bian mencoba untuk menjawab ucapan Ken.


"Istri? Lu bilang Jingga istri lu, tapi lu malah kasar sama dia sampai dia kabur dari kontrakan. Benar 'kan?" sanggah Ken dengan urat penuh kemarahan.


"Dia sedikit gila!"


Plak!


Kini, tangan Juno yang menampar Bian. Rahangnya sudah mengeras menandakan dia sudah sangat kesal dengan perkataan Bian.


"Suami macam apa lu? Bilang istri sendiri gila," geram Juno. "Gua aja yang ngedengernya kesal, apalagi Aska," omelnya lagi.


"Harusnya seorang suami itu menutup aib istri bukan malah dengan ringannya ngomong begitu," bentak Juno lagi. "Harusnya lu sempurnakan kekurangan Jingga. Bukan malah membuat dia semakin terpuruk," lanjutnya lagi.


"Kepala lu isinya apa sih? Enteng banget ngomong begitu," decak kesal Ken. "Apa otak lu udah diganti dengan otak-otak ikan? Makanya bebelnya gak ketulungan." Ken sebisa mungkin untuk tidak menyentuh tubuh Bian meskipun jiwa premannya sudah ingin memberontak.


"Kenapa? Gak terima?" hardik Ken dengan tatapan penuh amarah.


Bian hendak mencengkeram kerah baju Ken, tetapi Juno dengan kasar menarik baju Bian dari belakang hingga di terjengkang.


"Pergi dari hadapan gua, Ken. Dan Aska seorang juga!" seru Juno bagai orang kesetanan.


Bian bangun dari posisi terjengkangnya, dia tersenyum tipis ke arah dua sahabatnya itu.


"Pengecut!"


Ken hendak menyerang Bian, tetapi Juno menghadangnya. "Lepasin!" teriak Ken.


"Yang waras ngalah," balas Juno.


Bian pun pergi dengan hati yang sangat kesal sedangkan Ken sudah menatap Juno dengan nyalang.


"Lu nyuruh gua buat tahan emosi. Kenapa lu malah nampar tuh bocah?" tanya Ken.

__ADS_1


"Kebablasan." Ken pun terkekeh mendengar ucapan Juno.


****


Askara masih belum bisa memejamkan matanya. Dia memilih berdiri di depan jendela kamar perawatan Riana memandangi lampu-lampu indah yang menerangi malam ini. Abang dan kakak iparnya sudah terlelap dengan tangan yang saling bertaut membuat senyum bahagia mengembang. Hati kecilnya menginginkan seperti itu, tetapi dia harus bisa merelakan apa yang dia inginkan karena sesungguhnya apa yang diingkan itu tidak selamanya bisa dimiliki.


"I must go."


Sebuah keputusan yang akan dia ambil. Berlama di sini akan membuat hatinya akan terpatri pada sosok Jingga terus menerus. Lebih baik dia yang pergi, dia yang mundur meskipun akan menyakiti dirinya sendiri. Pada nyatanya, pergi atau tidaknya dia rasa sakit itu pasti akan ada. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya.


"Aku pergi bukan karena aku tidak ingin berjuang, tetapi inilah akhir dari perjuanganku. Mungkin, ini pelajaran untuk kamu. Hargai dia yang berjuang karena ketika dia pergi itu tandanya dia sudah menyerah dan tidak akan kembali lagi."


****


Semalaman Bian tidak ke rumah sakit menjaga Jingga. Dia terus merenungi apa yang telah dia lakukan kepada Askara. Terbesit penyesalan yang sangat dalam di hatinya. Apalagi kedua sahabatnya sudah mengingatkannya dengan perkataan yang sangat menyakitkan.


"Apa gua harus minta maaf ke Aska?" tanyanya dalam hati.


Bian memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi dan berniat untuk kembali ke rumah sakit. Ketika dia selesai membersihkan tubuhnya, ponselnya terus berdering. Dahinya mengkerut ketika dia tidak mengenal nomor yang masuk ke dalam ponselnya, dengan sedikit ragu dia menggeser ke arah gagang telepon hijau.


"Halo!"


"Dengan Pak Abian Putra."


"Iya, saya sendiri."


"Saya manajer dari perusahaan WN. Saya meminta Bapak untuk ke perusahaan hari ini karena kami akan membicarakan perihal kontrak kerja sama dengan cathering Bapak."


Bian terkejut mendengar ucapan dari balik sambungan telepon. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia malah terdiam, mencerna ucapan dari orang yang menghubungi itu.


"Pak Abian," panggil sang manajer. "Bapak bisa 'kan ke perusahaan hari ini."


"Bi-bisa, Pak. Saya akan ke perusahaan WN sekarang juga."


Hanya kebahagiaan yang Bian rasakan. Dia benar-benar tidak menyangka akan menerima kabar bahagia ini di pagi hari. Setidaknya dia memiliki modal untuk memperkenalkan rumah makannya kepada orang-orang. Tanpa dia mencari tahu apa itu perusahaan WN? Siapa pemilik resminya?


...****************...


Komen lagi dong ...

__ADS_1


__ADS_2