Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
40 Hari


__ADS_3

Selepas kepergian Aska ke Melbourne, Australia, rumah minimalis itu mendadak sepi. Apalagi, mamah mertua Riana juga harus kembali ke Indonesia karena ada sebuah pameran yang tidak bisa dia tinggalkan. Sekarang, hanya ada mereka bertiga di sana. Aksa, Gavin juga Riana.


"Sayang, apa kamu lelah?" Aksa memberikan satu gelas air putih kepada istrinya yang baru saja menyandarkan punggungnya di kepala sofa setelah meletakkan Gavin di dalam boks bayi.


"Lumayan, Bang. Gak ada Mommy gak ada yang gantiin jaga Empin."


Aksa tersenyum, dia segera meraih kaki sang istri dan memijatnya dengan sangat lembut. Aksa tahu, walaupun ada asisten rumah tangga yang membantu Riana. Gavin putra pertamanya tidak boleh digendong sembarang orang. Istrinya sangatlah posesif terhadap putra tampannya itu.


Apalagi sekarang usia Gavin sudah memasuki tiga Minggu. Tubuh kecilnya sudah semakin berisi. Riana maupun Aksa semakin senang menciumi pipi gembul Gavin.


"Bang, udah dulu. Ri, mau mompa asi."


Aksa sangat melihat jelas bahwa sang istri tak pernah beristirahat. Ketika Gavin terlelap, dia sibuk untuk memompa asinya. Namun, Aksa merasa bersyukur karena istrinya benar-benar menjadi ibu yang hebat. Aksa menyuruh Riana untuk mencampur susu Gavin dengan susu formula, tetapi dengan sangat tegas Riana menolak.


"Sayang, susunya jangan dipompa terus dong. Nanti Abang gak bisa ***** lagi."


Riana menatap jengah ke arah sang suami sedangkan Aksa malah terkekeh melihat wajah istrinya.


"Jangan macam-macam, Bang. Ri, masih nifas."


"Hanya satu macam doang kok, Sayang." Aksa sudah berada di samping sang suami. Dia memeluk istrinya dari samping dengan tangan yang sudah menggerayangi gunung kembar yang semakin membesar.


"Bang." Aksa segera meraih tangan Riana dan menuntunnya ke dalam celana pendek yang dia gunakan. Hangat dan mengeras. Kemudian, Riana menatap ke arah sang suami yang sudah mengharapkan lebih.


"Udah gak tahan, Sayang."


Riana pun merasa kasihan. Dia pun mengangguk pelan dan membawa suaminya ke kamar mandi. Dia tidak ingin telinga putranya ternoda dengan suara rintihan nikmat sang suami.


Benar saja ketika Riana menikmati es cone yang hangat itu, suara rintihan sang suami terdengar jelas. Sebenarnya Riana tidak mau, tetapi melihat suaminya seperti ini dia pun tidak tega. Selang setengah jam semua lahar panas menyembur di mulut Riana. Mata Riana melebar dan dia segera berlari menuju wastafel untuk mengeluarkan semua lahar yang ada di dalam mulutnya.


"Maaf ya, Sayang." Aksa memeluk tubuh Riana dari belakang dengan bagian bawahnya yang belum tertutup.


"Buatin Ri teh hangat ya, Bang." Wajah Riana terlihat pucat. Aksa segera menjalankan perintah sang istri tercinta.


Teh hangat sudah Aksa bawakan untuk Riana yang tengah bersandar di sofa. Istrinya masih merasakan rasa aneh yang masih menempel di mulutnya.


"Minum dulu, Sayang." Riana meraih cangkir teh yang suaminya berikan. Dia pun meneguk teh hangat itu.


"Lain kali bilang kalau mau keluar." Aksa mengangguk seraya tersenyum.


Aksa menarik tangan Riana ke dalam dekapannya. Dia mengecup ujung kepala Riana dengan sangat dalam.


"Makasih ya, Sayang."


Sebenarnya Aksa sedikit takut jika istrinya akan lebih mengurus Gavin dibanding dirinya. Banyak dari koleganya yang berbicara seperti itu. Jika, anak sudah lahir ke dunia perhatian sang istri akan lebih tertuju pada sang anak dibandingkan kepada sang suami. Namun, ketakutan Aksa itu tidak terbukti. Riana masih bisa membagi waktu untuk dirinya juga putranya.


"Setelah empat puluh hari mau liburan dulu di sini atau langsung ke Indonesia?" tanya Aksa.


"Boleh keliling mall dulu gak?" Aksa pun tertawa mendengar pertanyaan istrinya.


"Apa sih yang enggak boleh buat kamu." Riana tersenyum dan semakin membenamkan wajahnya ke dada bidang sang suami.


"Mau beli apa emang?" tanya Aksa.


"Mau potong rambut biar lebih segar." Aksa tersenyum dan mengusap lembut rambut Riana. "Biar lebih cantik juga supaya Abang gak berpaling." Aksa malah tertawa geli mendengar ucapan Riana.


"Mana mungkin sih Abang berpaling dari kamu. Pakai daster buluk aja kamu mah masih cantik, Sayang."

__ADS_1


Walaupun bermulut manis, tetap saja Riana harus waspada karena terkadang lelaki yang terlihat sangat sempurna itu menyeramkan.


Empat puluh hari sudah usia Gavin. Riana sering menggendongnya di depan dengan gendongan khusus. Jadi, dia bisa melakukan aktifitas apapun, kecuali memasak. Itu sangat dilarang oleh Aksara.


Ditinggal suaminya ke kantor pun sudah biasa karena dia tidak merasa sendiri. Pasti keluarganya yang berada di Indonesia selalu menghubunginya hanya untuk melihat perkembangan Gavin setiap hari.


"Cucu Engkong, kapan kembali ke Jakarta?" Wajah Rion sudah terlihat jelas di layar ponsel milik Riana.


"Mungkin lusa, Yah. Nunggu Abang beresin kerjaan di sini dulu."


Hal sederhana, tetapi mampu membuat Riana merasa bahagia. Dia mencoba untuk tegar menghadapi kenyataan yang ada. Awal memiliki anak rasa sedih terus menggelayuti hati Riana. Bagaimana tidak, dia merasa sendirian karena tidak ada sang ibu di sampingnya. Namun, ketulusan sang mamah mertua membuat Riana membuka mata. ketika dia tidak memiliki ibu, dia masih memiliki mamah mertua yang sangat menyayanginya. Anugerah yang Tuhan berikan kepadanya.


Kecupan hangat di belakang kepala membuat Riana terkejut. Namun, ketika dia menoleh bibirnya melengkung dengan sempurna.


"Kok ngelamun?" Riana hanya tersenyum. Dia membantu Aksa melepas jas juga dasi yang dikenakan Aksara. Suaminya baru saja pulang dari kantor.


"Mau minum apa?" tanya Riana.


"Air putih aja, Sayang."


Aksa sengaja merombak kamar yang dia tempati. Membangun pantry kecil agar ketika dia haus atau menginginkan apapun tidak usah keluar kamar. Asisten rumah tangga mereka hanya bekerja dari pagi hingga jam enam sore.


"Besok Abang akan menemani kamu dua puluh empat jam." Riana pun tersenyum bahagia.


"Jangan pendek-pendek ya potong rambutnya." Riana mengangguk pelan.


Jam dua belas siang sang istri sudah rapih dengan pakaian yang sungguh membuat Aksa menggelengkan kepala. Bagaimana tidak, celana pendek di atas lutut dengan kaos berwarna hitam yang Riana kenakan.


"Sayang, kenapa seksi begini?" protes Aksara.


"Seksi gimana sih, Bang." Aksa menggelengkan kepala dan mengambilkan celana yang lebih sopan untuk Riana. Dia tidak ingin kulit putih sang istri dikonsumsi oleh orang lain.


Celana kulot berwarna hitam dan juga kaos longgar berwarna putih yang Aksara berikan. Mau tidak mau Riana pun menurutinya saja. Padahal, dia hanya ingin terlihat lebih muda agar suaminya tidak melirik wanita lain.


"Gini 'kan lebih cantik." .


Tibanya di sebuah mall, Aksa tidak malu membawa tas khusus perlengkapan Gavin. Tangan yang satunya menggenggam tangan Riana dengan sangat erat.


Banyak mata yang menatap mereka berdua. Namun, Aksa maupun Riana tidak memperdulikan mereka. Riana sangat kesal ketika banyak para wanita yang seakan mencari perhatian terhadap suaminya.


"Gak ngeliat apa udah bawa singa betina," gerutu Riana. Aksa hanya tertawa dan menarik tangan Riana hingga langkahnya terhenti.


Cup.


Sebuah kecupan singkat di bibirnya membuat Riana melebarkan mata. Ini tempat umum! Begitulah sorot mata yang Riana ucapkan.


"Biar semua orang tahu, kamu itu hanya milik Abang dan Abang hanya milik kamu."


Senyum mereka pun merekah dan serasa dunia milik mereka berdua. Mereka terus memasuki toko-toko baju. Membeli baju untuk mereka berdua juga sang buah hati tercinta. Biarlah pandangan mata semau wanita tertuju pada suaminya, yang paling penting suaminya tidak bermain mata di belakangnya.


"Ri, colok matanya kalau sampai melirik wanita lain." Mode garang istrinya membuat Aksa tertawa. Dia malah merengkuh pinggang Riana dan mengecup ujung matanya. Aksa juga mencium kepala Gavin.


Selesai berbelanja di toko itu, mereka masih berkeliling. Kini, Aksa yang gantian menggendong putranya. Namun, tangan Aska tetap menggandeng tangan sang istri tercinta.


Riana sangat bahagia ketika masuk ke toko baju anak-anak. Aksa hanya menyunggingkan senyum ketika tangan istrinya memasukkan baju demi baju ke dalam tas yang tersedia di toko tersebut.


"Lucu," ucapnya. "Beli, ya." Aksa hanya bisa mengangguk.

__ADS_1


Dia tidak akan melarang sang istri membeli ini dan itu. Asalkan istrinya bahagia akan Aksa turuti. Gavin pun menjelang menjadi anak yang sangat soleh. Dia seakan tahu bahwa ibunya tengah mencarikan dia baju lucu dan imut.


Lelah berbelanja, Riana ingin makan. Lagi-lagi Aksa hanya tertawa dan dia mengajak Riana makan makanan khas Indonesia. Aksa sangat yakin bahwa istrinya merindukan masakan Indonesia.


"Wah, nasi Padang." Mata Riana berbinar. Aksa membiarkan saja istrinya makan terlebih dahulu karena dia tengah menggendong Gavin dan putranya pun nampak nyaman berada di dalam gendongannya.


Tanpa Aksa duga, Riana menyuapi dirinya. Aksa pun tersenyum.


"Makan dulu! Sekalian tangan Ri kotor." Sungguh bahagia sekali hati Aksa. Istrinya benar-benar memperlakukannya dengan sangat baik.


"Mau pakai apa lagi?" tanya Riana.


Aksa menunjuk beberapa menu di sana. Riana hanya tersenyum dan mengambilkan lauk yang ingin suaminya makan.


Selesai makan, mereka memilih untuk pulang karena hari sudah sangat larut. Kecupan hangat Riana berikan di pipi sang suami ketika Aksa hendak menghidupkan mobil. Aksa pun terkejut dan menatap ke arah sang istri.


"Tulus apa modus?" Mendengar ucapan seperti itu dari suaminya membuat Riana merengut kesal. Sedangkan Aksa tertawa dibuatnya. "Bercanda, Sayang." Aksa membalasnya dengan kecupan hangat di kening Riana.


Berada di negara ini membuat mereka bisa mandiri. Terutama Riana yang notabene ibu baru. Dia mampu memandikan putranya sendiri tanpa bantuan nanny. Juga Aksa yang selalu menjadi suami siaga untuk Riana. Dikala Gavin rewel tengah malam, Aksa akan menemani Riana begadang. Atau Riana yang disuruh untuk tidur dan Aksalah yang akan menjaga buah hatinya. Kekompakan mereka membuat rumah tangga mereka tetap harmonis. Apalagi Riana yang tak pernah melupakannya perannya sebagai seorang istri. Meskipun sekarang dia sudah menjadi seorang ibu, tetapi dia tetap harus mengurus suaminya. Dari hal terkecil pun Riana harus melayani suami tercintanya.


Tibanya di rumah, Riana meletakkan Gavin di dalam boks bayi dan dia membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Sedangkan Aksa tengah tersenyum bahagia melihat benda indah yang berada di dalam kotak kecil berwarna merah.


Suara pintu kamar mandi terbuka. Aksa segera menyimpan benda itu ke dalam sakunya. Sang istri sudah mencepol rambutnya ke atas karena dia akan memakai krim malam yang biasa Riana gunakan. Aksa menghampiri Riana dan memeluknya dari belakang.


"Ada apa, Bang?" Tangan Riana mengusap lembut pipi sang suami yang sangat mulus dan putih. Aksa mencium pipi Riana yang belum terkenal krim malam. Kemudian, dia memberikan kotak merah itu kepada Riana.


"Apa ini?" tanya Riana.


"Buka saja." Aksa masih memeluk tubuh istrinya dari belakang. Tangan Riana sudah membuka kotak itu dan dia terkejut melihat isi dari kotak merah itu.


"Cantik sekali," ucap Riana.


Aksa meraih kalung yang ada di dalam kotak itu dan memakaikan kalung tersebut di leher putih sang istri. Mata Riana berbinar melihat liontin pada kalung terang. Inisial nama depan mereka berdua. Namun, dengan huruf kecil.


"Manis sekali." Aksa tersenyum dan membalikkan tubuh Riana.


"Kamu suka?" Riana mengangguk. Aksa mendekap hangat kembali tubuh istrinya. Mencium ujung kepala Riana yang sangat wangi.


"Makasih, Sayang. Sudah menyempurnakan hidup Abang." Aksa menjeda ucapannya. "Sudah menjadikan Abang sosok yang berguna untuk kalian."


"Tidak perlu berterimakasih, Bang. Kita menikah untuk menyatukan ketidaksempurnaan yang kita miliki. Kita menikah untuk mewujudkan kebahagiaan yang kita idamkan." Riana tak kalah erat memeluk tubuh Aksa.


"Jangan pernah tinggalkan Ri karena Ri tidak akan sanggup hidup tanpa Abang."


"Selamanya Abang akan menemani kamu, mendampingi kamu. Kita akan bersama-sama hingga maut memisahkan kita."


Mereka berdua berjanji satu sama lain. Cinta mereka sangat kuat. Semoga ucapan mereka didengar oleh malaikat agar dikabulkan.


.


"Engkong, kapan dedek tampan pulang?" rengek Aleeya dan terus menarik tangan pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu.


"Kakak Sa udah siapin bando lucu gambar hello kitty buat dedek tampan."


Sang kakek tercengang mendengar ucapan dari Aleesa. "Dedek itu cowok, Kakak Sa," ucap Rion.


"Gak ada salahnya juga 'kan Kakak Sa beliin bando buat dedeknya. Emang ada larangan anak laki-laki pakai bando?" Astaga, pintar sekali anak ini berbicara membuat kening Rion berdenyut pusing.

__ADS_1


...****************...


Komen dong ....


__ADS_2