
Nungguin ya ... 😂😂
...****************...
Ketika pihak Aksa sedikit demi sedikit mengungkap kebenaran yang ada, pihak Ziva sedang merasa berada di atas angin. Bagaimana tidak, mereka sedang berpesta kecil-kecilan sambil berkaraoke di ruangan kedap suara. Kericuhan yang ada di depan rumahnya pun tak terdengar.
Security yang berjaga malah kewalahan untuk mengusir para wartawan pencari berita. Jumlah mereka semakin banyak. Hampir semua orang menginginkan bertemu dengan Ziva. Meminta penjelasan lebih dari Ziva.
"Kami hanya ingin bertemu dengan Zivanna Meysha Mahendra," ucap para wartawan.
"Non Ziva gak ada di rumah."
Berbohong, itulah yang pekerja di rumah Sarah lakukan. Mereka sudah terlebih dahulu melihat berita online, jadi bisa berantisipasi.
Para wartawan merasa tertipu karena sosok yang mengatakan tersakiti malah dia yang mendustai suaminya sendiri. Dengan tega dan tak punya hati, dia bisa asik bermain kuda-kudaan bersama pria lain. Pria yang memiliki otot-otot sempurna. Ketika dipergoki, malah dia yang mengatakan kepada semua orang bahwa suaminya telah mengkhianatinya. Bermodalkan air mata buaya dan perut anak yang ada di dalam perutnya. Pasti akan membuat semua orang merasa iba akan nasibnya.
Pembantu rumah tangga mencoba masuk ke dalam ruangan khusus yang ada di rumah Sarah. Pembantu itu menghadap Sarah dengan napas yang terengah-engah.
"Ma-maaf, Nyonya. Di-luar banyak orang," terangnya pada Sarah.
"Orang?" ulang Sarah.
"Mereka mengaku wartawan dan ingin bertemu dengan Non Ziva," imbuhnya lagi.
Mata Sarah melebar, Brandon segera membuka ponsel pintarnya. Hampir saja bola mata Brandon jatuh karena melihat berita di berbagai media online. Dalam waktu setengah jam video konferensi pers Aksa menjadi trending topik di semua berita online. Apalagi, di setiap berita disisipkan video syur yang melibatkan dirinya dan Ziva. Video itu benar-benar tidak diblur. Membuat Brandon mengerang kesal.
"Bodoh!" maki Mahendra dengan urat-urat kemarahan yang sangat terlihat.
Mahendra menarik kerah kemeja Brandon dan gertakan gigi Mahendra terdengar sangat jelas di telinga Brandon.
"Kenapa mereka semua bisa mendapatkan video kalian?"
Ternyata Mahendra tidak tahu bahwa Aksa memergoki Brandon dan Ziva yang tengah asyik merajut cinta hingga ke langit ketujuh. Mereka berdua sengaja merahasiakannya. Mereka pikir dengan hanya memfitnah Aksa dan Riana, masalah akan selesai. Ternyata mereka keliru. Benar yang dikatakan oleh Genta, jika Brandon berotak dangkal. Selalu tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu. Tanpa menimbang-nimbang terlebih dahulu. Buktinya sekarang, mereka yang merasa menang malah sekarang dipermalukan di depan semua orang.
__ADS_1
"Istri gak ada akhlak! Kurang apa coba lakinya. Ganteng iya, tajir iya. Benar-benar kayak lonthee."
"Coba gua bisa merasakan tubuhnya. Ngeri-ngeri sedap kayaknya. Luar biasa banget cuy."
"Kemarin dia yang nangis-nangis bilang kalo lakinya selingkuh sama daun muda. Sekarang malah video sepanas terik matahari muncul. Wajar kalo lakinya selingkuh, kelakuan bininya juga bobrok begitu."
"Kalo gua punya menantu macam begini udah gua Jambak sampe botak tuh. Sekalian gua siram pake air keras."
"Mbak ini kayaknya wanita yang haus akan tusukan 😁. Saya aja yang ditusuk tiap malam gak gitu-gitu amat reaksinya."
"Cocok nih buat jadi bintang Pelem biru."
Masih banyak lagi komenan dari para netizen tentang video yang ternyata tersebar di media sosial. Hujatan dan makian para netizen yang maha benar membuat Ziva menangis pilu. Apalagi, salah satunya ada Rakha yang berkomentar di sana.
"Apa permainannya lebih menghanyutkan dari pada permainanku? Sepertinya kamu sangat menikmati permainannya."
Dari komentar Rakha lah muncul balasan-balasan komen yang lainnya. Membuat Ziva tidak bisa berkutik dan terkulai lemah tak sadarkan diri.
"Ziva!" teriak mereka bersama-sama.
Helaan napas lega terdengar. Sarah menatap nanar ke arah sang putri.
"Dia hanya syok," ucap pelan Sarah.
Mahendra duduk di samping tempat tidur Ziva. Mengusap lembut rambut sang putri.
"Kita tidak boleh tinggal diam, Pih," geram Sarah.
Mahendra masih bergeming, menatap intens wajah Ziva. Anak tunggalnya yang telah dirusak oleh pria berengsek.
"Apapun akan Papih lakukan, Zi. Papih sanggup mengorbankan nyawa Papih asal kamu bahagia. Papih janji, Papih akan terus berusaha untuk mendapatkan Aksa. Menjadikan Aksa ayah dari anak kamu."
Keempat manusia ini tetap berada di dalam rumah. Semakin sore keadaan di depan rumah mereka semakin penuh dengan para awak media yang sedang memburu berita.
__ADS_1
"Papih udah atur semua," ucap Mahendra setelah menghubungi beberapa orang.
"Mamih juga sudah menghubungi orang yang bisa dipercaya. Mamih yakin, dia akan mau bekerja sama dengan kita," tukas Sarah.
"Semua pihak keamanan sudah berjaga. Tidak akan ada yang bisa mensabotase rencana kita. Pihak media online pun akan siap membantu kita," ujar Brandon.
"Di konferensi pers besok semua orang yang berkompeten kita datangkan. Tujuannya mematahkan berita yang sudah tersebar karena pihak sana. Saya tidak ingin rencana ini gagal," tandas Mahendra.
Di sebuah hotel, lima manusia muda masih asyik mengatur strategi. Ketika mereka bersantai sambil menikmati kopi serta makanan yang ada, tiba-tiba Aska tertawa bahagia.
"Awal dari sebuah permainan yang mengasyikkan. Lu jual gua beli," gumamnya dengan seringai mematikan.
Aksa tidak memperdulikan di sekelilingnya. Dia tengah sibuk mengecek CCTV rumah besar yang di dalamnya ada Riana. Hatinya sakit, ketika tidak sedikit pun Riana menyentuh makanan. Sedari tadi Riana hanya menelungkupkan wajahnya di atas kedua kaki. Keadaan yang sangat membuat hati Aksa sakit.
"Keputusan yang kamu ambil itu memang berat. Ingatlah, sebuah hasil yang baik memerlukan perjuangan yang tidak main-main." Fahri berbicara layaknya seorang sahabat.
Aksa hanya menghela napas kasar, dia merebahkan kepalanya di sandaran sofa.
"Sepertinya perjuangan kamu masih butuh waktu yang lama," ujar Christian.
Aksa hanya menatap Christian dengan ekspresi datar. Dia mengerti apa yang dimaksud oleh Christian. Hasil dari melakukan tes DNA memerlukan waktu dua minggu. Jika, terbukti itu bukan anaknya, Aksa tidak dapat melayangkan gugatan cerai. Kondisi Ziva tengah mengandung. Jadi, harus menunggu hingga Ziva melahirkan.
"Anggap saja Abang sedang memantaskan diri untuk Riana. Buktikan pada Ayah, jika Abang layak menjadi pendamping anaknya." Lagi-lagi Aksa menghela napas kasar. Perjuangan sesungguhnya dimulai dari hari ini.
Ponsel Aksa berdering, dahinya mengkerut ketika melihat nama siapa yang memanggilnya.
"Saya diminta untuk melakukan tes DNA atas nama Zivana Meysha Mahendra. Bukankah itu istri Anda?"
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Pepatah itu yang mewakili hati Aksa.
...----------------...
Sekian dulu, ya ...
__ADS_1
Mau minta ke kalian, kalo Riana-Aksa terbit langsung baca ya. Jangan ditimbun-timbun.