Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Test Pasar


__ADS_3

Kali ini aku akan menyuguhkan sepenggal cerita tentang Iyan. Kalau kalian suka dan komennya banyak akan aku terbitkan di sini. Kalau tidak suka akan aku bawa ke tempat yang baru. 😁


Silahkan dibaca, ya. Terus komen suka atau enggak sukanya.



Rian Dwiputra Juanda baru saja tiba di kampus. Berjalan melewati lorong kampus menuju kelasnya. Namun, langkahnya harus terhenti ketika ponsel di sakunya bergetar. Dahinya mengkerut ketika melihat nama si pemanggil.


"Ada apa? Tumben pagi-pagi begini." Heran dan bingung Iyan dibuatnya. Namun, dia tetap menjawab panggilan tersebut.


"Halo."


Tubuhnya seketika membeku ketika mendengar kalimat demi kalimat yang diutarakan oleh sang kakak dari balik sambungan telepon. Tubuhnya seperti tak memiliki tulang dan ponselnya pun terjatuh ke lantai. Air matanya pun menganak, memaksa untuk terjatuh.


"Enggak! Enggak mungkin." Senyum tipis nan perih terukir di bibirnya. Dia mencoba menolak.


"Ini hanya mimpi." Kepalanya pun menggeleng mencoba untuk tidak percaya. Menolak kenyataan yang ada.


"Iyan!"


Tubuhnya semakin menegang ketika mendengar suara siapa yang memanggilnya. Iyan ingin berbalik, tapi tubuhnya tak mampu melakukannya. Pelukan hangat dari belakang Iyan terima. Tangan putih dan mungil sudah ada di depan perutnya.


"Yang sabar ya, Yan."


Air mata yang sedari tadi sudah Iyan coba untuk bendung, kini jebol juga. Air matanya mengalir begitu deras di wajah tampannya. Terasa tubuh Iyan bergetar.

__ADS_1


Perempuan yang lebih pendek dari Iyan pun membalikkan tubuh Iyan. Dia mendongak menatap wajah Iyan yang sudah bermandikan air mata.


"Kita pergi sekarang." Tangan Iyan sudah digenggam dengan sangat erat. Perempuan itu sangat tahu Iyan tengah menahan kesedihannya.


Mobil yang ditumpangi Iyan pun melaju dengan sangat cepat. Namun, tak Iyan cegah. Pikirannya sudah ke mana-mana. Mobil itu pun berbelok ke sebuah rumah sakit.


Tangan perempuan itu terus menggenggam tangan Iyan dan membawa Iyan menuju ruangan paling ujung. Sedari tadi Iyan terus berdoa bahwa ini hanya prank belaka.


Namun, langkahnya terhenti ketika melihat dua wanita tengah menangis histeris di dalam pelukan suaminya masing-masing. Lima keponakannya sudah memanggil-manggil nama ayahnya.


"Ini hanya mimpi 'kan." Suara Iyan sangat lemah dan bergetar.


Mencoba untuk tidak mempercayai semua ini, tapi dia melihat jelas seorang pria yang tak lain adalah sahabat ayahnya menangis sangat keras. Dia terlihat sangat terpukul.


"Tuhan, Engkau tengah bercanda 'kan." Perempuan yang bersama Iyan pun menggeleng. "Ini nyata, Yan."


"Iyan!"


"Ini bohong 'kan, Kak. Ini bohong 'kan."


Echa semakin terisak begitu juga Riana. Mereka menghampiri Iyan dan memeluk tubuh adik bungsu mereka.


"Ayah masih hidup 'kan, Kak. Ayah gak mungkin ninggalin kita."


Echa dan Riana semakin erat memeluk tubuh Iyan. Namun, tubuh Iyan luruh ke lantai karena tidak sanggup menopang kesedihannya yang sangat mendalam.

__ADS_1


Radit dan Aksa segera menghampiri Iyan dan memapah tubuh lemah Iyan. Air mata Iyan terus mengalir.


Aksa menoleh ke arah Radit. Sebuah anggukan yang menjadi jawaban. Mereka berdua membawa Iyan masuk ke dalam kamar jenazah. Langkah mereka terhenti pada satu brankar yang ada di hadapan mereka.


"Itu bukan Ayah 'kan. Abang berdua hanya bercanda 'kan."


Hati Radit dan Aksa sangat sakit mendengar ucapan Iyan yang sangat frustasi.


"Kamu harus ikhlas, Yan." Radit mengusap lembut punggung adiknya. Sedangkan Aksa sudah mendekat ke brankar yang di atasnya sudah berbaring jasad yang ditutupi kain putih.


"Itu bukan Ayah, Bang. Bukan!" Iyan terus menolak kenyataan.


Tangan Aksa perlahan membuka penutup kain putih tersebut.


"Ayah!"


Iyan berteriak histeris dan berhambur memeluk tubuh ayahnya yang sudah terbaring kaku.


"Bangun, Ayah! Bangun! Jangan tinggalkan Iyan!"


Iyan terus memeluk tubuh ayahnya. Dia juga mengguncang tubuh ayahnya agar ayahnya membuka mata.


"Kenapa Ayah tidak menepati janji Ayah untuk melihat Iyan menikah? Kenapa Ayah pergi secepat ini? Bangun Ayah! Bangun!"


...****************...

__ADS_1


Aku tunggu komentar kalian, ya.


__ADS_2