Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Tak Beretika


__ADS_3

"Ucapanmu pahit seperti kopi!"


Kalimat sarkas yang dikatakan oleh Echa kepada Melati. Dia hanya bisa mengusap wajahnya yang sudah basah dengan air kopi pahit.


"Kamu!"


Eki tidak terima dengan perlakuan Echa. Dia sudah berjalan ke arah Echa dengan tangan yang sudah menunjuk ke arah wajah Echa. Namun, ada tiga pria yang menghadangnya.


Tangan Aksa sudah menurunkan jari telunjuk Eki dengan sangat kasar, sedangkan Aska sudah mendorong tubuh Eki dengan cukup kasar.


"Kenapa kalian membela dia?" sentak Eki. "Lihatlah anak saya!" teriaknya, sambil menunjukkan wajah Melati.


"Masih untung saya siram pakai kopi dingin," balas Echa dengan raut penuh kemarahan.


Ayanda sudah menghampiri Echa. Dia menggelengkan kepala agar Echa tidak seperti ini.


"Mah, seorang anak pasti akan marah ketika mendengar juga melihat ada yang merendahkan dan memaki ibunya. Begitu juga dengan Echa," tuturnya.


Mata Aksa dan Aska melebar ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Echa. Mereka menatap ke arah Echa dengan penuh tanya.


"Ndra! Ajari sopan santun kepada anak tiri lu itu!" sentak Eki.


"Jaga mulut lu!" Gio sudah murka dengan ucapan demi ucapan yang selalu keluar dari mulut Eki.


"Anak gua gak akan berulah kalau gak ada yang mulai," terangnya.

__ADS_1


"Gak usah membela anak lu terus. yang salah tepat salah!"


"Jangan menyalahkan anak gua, tapi tanya sama anak lu. Dia sudah berbuat apa ke anak gua? Sampai anak gua marah seperti ini," terang Giondra.


Eki menatap ke arah Melati yang sudah menunduk dalam. "Mel," panggil Eki.


Melati masih terdiam, dia belum berani menegakkan kepalanya.


"Mel!" Kini suara Eki sudah meninggi.


"Kakak itu yang mulai duluan, mengambil barang yang Mel suka," ujarnya.


"Apa iya?" sergah Echa. Dia memperlihatkan sebuah rekaman video kepada Eki.


Dahi Eki mengkerut melihat rekaman itu. Suara Melati terdengar sangat jelas dalam video tersebut.


Melati terdiam, Eki juga sudah menatap nyalang ke arah putrinya. Si kembar sudah mengepalkan tangannya dengan urat-urat kemarahan yang sudah muncul.


"Ayah tidak pernah mengajarkan itu, Mel!" sentak Eki. Melati banyak menunduk dalam. Dia tidak bisa berkutik.


"Terus banggakan anak Anda, dokter Eki. Pada nyatanya anak Anda adalah anak yang tak beretika!" Aksa sudah mengeluarkan kalimat mutiaranya.


Riana mengusap lembut pundak sang suami dan meraih tangan Aksa untuk diletakkan di atas perutnya. Gerakan kecil sang calon anak membuat emosi Aksa mereda.


Eki tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pantas saja sedari tadi keluarga sahabatnya seolah menyerangnya. Ternyata ini alasannya.

__ADS_1


"Kamu aja bisa Kakak saya beli!" seru Aska seraya menunjuk ke arah Melati. Membalikkan apa yang telah Melati katakan pada kakaknya.


Mereka akan memasang badan untuk kedua wanita kesayangan mereka. Eki terlihat malu sendiri dengan ucapannya.


"Maafkan putri saya," ucap Eki pelan. Dia memilih pergi meninggalkan Melati.


"Ayah!" panggil Melati.


Namun, Eki terus melangkahkan kakinya. Tak sedikitpun dia menoleh.


"Ayah!"


Melati sudah meraih tangan Eki. Mengehentikan langkah Eki dan menatap nanar kepada sang ayah.


"Mel--"


"Kita bicarakan di rumah."


Perkataan sang ayah sungguh tegas dan juga tak terbantahkan. Tibanya di rumah, Melati hanya terdiam. Dia menunduk dalam.


"Kenapa kamu memiliki sifat tidak baik itu, Mel? Siapa yang mengajarkan?" tanya Eki.


"Ayah malu, Mel. Ayah ingin menjodohkan kamu dengan keluarga dari Giondra supaya kamu mendapatkan kasih sayang yang tulus dari Ayanda. Kamu lihat 'kan bagaimana tulusnya Ayanda menyayangi istri dari Aksara?"


Lagi-lagi Melati terdiam. Dia tidak bisa berkata.

__ADS_1


Eki berbicara seperti itu tidak berpikir bagaimana dirinya? Dirinya pun sama tak beretika. Mereka adalah keluarga yang berpendidikan tinggi, tetapi tak berakhlak. Mulutnya seakan dengan mudah melontarkan kata-kata indah menusuk jiwa.


__ADS_2