
Aleesa menatap ke arah layar monitor. Ada dua titik di sana, tetapi jika melihat ke arah perut Riana terkadang dia menggeleng.
"Dua? Tapi ...."
Aleesa menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau berpikiran negatif akan kehamilan sang Tante. Ayahnya pernah bilang, kemampuannya hanya seujung kuku dari Tuhan. Tuhanlah yang berkuasa atas semuanya dan jangan pernah mendahului Tuhan.
Tibanya di rumah, keluarga besar Rion sudah berkumpul di kediaman Gio. Mereka tengah menanti kabar bahagia ini.
Baru saja mobil yang Aksa bawa berhenti di depan rumah, mereka yang ada di dalam rumah sudah keluar dan menyambut Riana.
"Gimana hasilnya?" sergah Ayanda serta Echa.
"Biar Riana masuk dululah," sewot Aksa.
Di mata Ayanda dan Echa sifat posesif Aksa sekarang ini menyebalkan. Berbeda dengan kedua pria yang juga ada di sana. Mereka sudah membawa Riana masuk.
"Apa hasilnya, Ri?" tanya Echa.
"Dua, Bubu. Dua," jawab Aleeya sambil menunjukkan kedua jarinya.
"Dua?" ulang Ayanda.
"Kemungkinan kembar, Mom."
Ucapan syukur mereka ucapakan. Wajah mereka semua nampak sangat bahagia.
"Jaga cucu Ayah dengan baik ya, Ri." Pesan sang ayah.
"Baik, Ayah."
Aleesa dan Iyan saling pandang. Dua anak manusia ini tengah menyembunyikan sesuatu. Ada yang mereka lihat, tetapi tak mereka ungkapkan kepada keluarga mereka.
"Apa benar?" tanya Iyan seraya berbisik di telinga Aleesa. Hanya gedikan bahu yang menjadi jawaban dari Aleeya.
"Akhirnya ... rumah Mimo akan ramai dengan anak kecil," ujar Ayanda.
"Kalau si Aska nikah anaknya kembar lima, ini rumah bakalan jadi Play gruop," kelakar Rion.
Riana masih memeluk tubuh sang suami. Berada di samping Aksa memiliki sensasi yang berbeda. Rasa ingin ini itu hilang, juga mual di pagi hari tidak ada.
"Usia kandungan Riana berapa Minggu, Bang?" tanya Ayanda.
"Tiga Minggu, Mom. Kata dokter jangan beraktifitas banyak dulu," terang Aksa.
"Jangan juga berhubungan. Di usia kehamilan itu sangat rentan loh." Kini, Radit yang membuka suara.
Wajah Aksa berubah seketika jika mendengar larangan itu. Di ruangan dokter pun, Gwen sudah mewanti-wanti agar tidak melakukan hubungan suami-istri terlebih dahulu sebelum kandungan Riana dinyatakan kuat. Gio hanya mengulum senyum melihat wajah Aksa ditekuk seperti itu.
Aksa membawa Riana ke kamar, meskipun masih banyak orang di ruang keluarga dan juga ruangan yang lain. Tangan Riana terus merangkul manja lengan Aksa.
"Jangan pergi lagi ke Melbourne," pinta Riana.
"Abang juga inginnya seperti itu, Sayang. Nanti Abang bilang ke Kakek, ya." Riana mengangguk setuju.
Aksa belum memberitahu siapapun perihal kehamilan Riana. Dia tidak ingin berbagi kabar sebelum semuanya pasti.
__ADS_1
"Malam ini kamu mau makan apa? Kata Mommy dan Aska kalau tengah malam kamu suka minta makanan yang aneh-aneh," ujar Aksa.
Riana hanya tersenyum. Dia menoleh ke arah sang suami yang juga menatapnya.
"Ri, tidak ingin apa-apa. Ri, hanya ingin bersama Abang. Memeluk Abang dan bermanja bersama Abang," tuturnya.
Aksa tertawa mendengar penuturan Riana. Dia mengecup kening istrinya sangat dalam.
"Anak Daddy gak mau jauh dari Daddy, ya."
"Iya, Daddy," jawab Riana menirukan suara anak kecil.
Sungguh bahagia sekali hati mereka sekarang. Riana maupun Aksa terus berbagi cerita tentang segalanya. Termasuk, tentang anak kecil perempuan yang ada dalam mimpi Riana.
"Abang juga mimpi yang sama. Anak itu sangat mirip sekali dengan kamu, Sayang," jelas Aksa.
"Siapa dia ya, Bang?" tanya Riana.
"Semoga hanya bunga tidur saja," jawab Aksa.
"Jangan berpikir macam-macam, ya. Kamu harus selalu positif thinking dan juga harus selalu bahagia." Riana mengangguk seraya memeluk pinggang sang suami.
"Kalau mau apapun beli saja ya, Sayang. Kalau uang yang Abang kasih habis, jangan sungkan untuk minta lagi, ya."
Sungguh Aksa adalah suami idaman. Selalu ingin memberikan yang terbaik untuk sang istri.
Berbeda dengan seseorang yang tengah berada di Jogja. Di apartment sang Abang dia duduk termenung. Meratapi nasibnya yang sangat miris.
"Aku mencintai dia! Aku tidak mencintai kamu, Bang As."
"Aku akan terima jika itu jawaban kamu. Aku pun tidak bisa memaksa kamu untuk mencintaiku. Aku pergi."
Aska memejamkan matanya sejenak. Wajah Jingga yang penuh luka lebam pun terlihat jelas. Namun, dia tidak ingin menjadikan dia sebagai pria pemaksa.
"Pergiku bukan untuk melupakan, tetapi untuk menyatukan."
Sebuah kalimat penuh keyakinan yang Aska ucapkan. Apa yang akan Aska lakukan? Tunggu kisah mereka di judul yang berbeda.
Aska memutuskan untuk kembali ke Jakarta esok malam. Dia ingin menghabiskan rasa kecewanya di sini. Di Kota yang dia kira akan berujung bahagia ternyata malah berakhir kecewa.
Sebelum dia bertolak ke Jakarta, sedari jam lima sore dia sudah berada di kafe tempat Jingga bekerja. Memperhatikan Jingga yang juga Jingga pun memperhatikannya dalam diam.
Sudah dua cangkir kopi panas yang dia pesan. Namun, Aska masih betah duduk di samping jendela. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Aska sudah dua jam di sana dan tak bergerak. Pengamen kafe pun sudah menyanyikan lagu. Pengunjung sudah banyak yang didatangkan dan menikmati alunan lagu yang dibawakan.
Aska sudah berdiri, dari kaca penghubung antara dapur dan juga kursi pengunjung Jingga menatap sendu ke arah Aska yang naik ke atas mini panggung. Dia sudah memangku gitar dan memetiknya dengan penuh penghayatan.
"Kadang kalian gak sadar kalau yang terbaik selama ini, ada di samping kalian," ucap Aska.
🎶
Untuk apa bersama
Bila dirimu terluka
Tuk apa kau bertahan
__ADS_1
Jika tak bahagia
Kau datang kepada ku
Dengan air mata
Mengucur deras di pipi
Ku tanya mengapa kau menangis
Katakan apa yang terjadi
Dan kau bilang
Kau telah disakiti lagi
Karena cinta mu yang berkhianat
Dan ku hanya bisa berkata ...
Untuk apa bersama
Bila dirimu terluka
Untuk apa kau bertahan
Jika tak berhagia
Sudah tinggalkanlah dia yang menyakiti
Kau pantas mendapatkan yang terbaik
Dan yang terbaik ada disamping mu
Andai dirimu tahu
Tlah lama ku menunggu
Mengaharapkan mu tuk lepaskan dia
Menjadilah milikku
Namun apa dayaku jika itu maumu
Tuk bertahan bersamanya
Lagu itu seperti sentilan untuk Jingga. Dia hanya mematung dengan air mata yang sudah ditahan. Aska pun bernyanyi dengan sangat menghayati. Pengunjung pun ikut terbawa dengan suasana.
Di akhir lagu, Aska tersenyum dengan sangat terpaksa. Dia memandang ke arah Jingga yang tengah mematung di tempatnya.
"Yang di samping kamu, itulah yang mencintai kamu dengan tulus."
...****************...
Maaf kemalaman, udah pada tidur belum nih?
__ADS_1
Jangan lupa Komen.