
Perkataan Aska mampu membuat Ken dan Juno terlonjak. Aska sendiri yang tidak ingin memiliki asisten atau pegawai tambahan yang berada di ruangan atas. Kenapa sekarang malah berbalik seperti ini?
"Gua gak ngerti sama jalan pikiran lu!" sentak Ken.
"Gua pengen kita ngobrol serius. Lebih afdol lagj kita bicarakan berempat sama Abang Sultan," tukas Juno.
Mereka berdua benar-benar bingung dengan jalan pikiran Aska. Setelah dirawat di rumah sakit, otak Aska mulai banyak korslet. Jari Ken menekan gagang telepon berwarna merah untuk mengakhiri panggilan video dari sahabatnya itu.
"Kok gua curiga, ya," ujar Ken.
"Sama," timpal Juno.
Mereka berdua menghembuskan napas kasar. Kepala mereka terasa pusing karena ulah dua kembar yang masuk ke dalam hidup mereka, yang satu tengil yang satu angker bagai rumah tua yang sudah ratusan tahun tak berpenghuni.
Di lantai bawah, duo sejoli tengah menikmati makan siang dengan terus tersenyum bahagia. Apalagi perlakuan manis Aska yang membuat Riana semakin nyaman.
"Ri, ikut ya ke rumah sakit," ucap Riana.
Aksa yang sedang mengunyah makanan menatap ke arah istrinya. "Banyak virus, Sayang. Besok atau lusa juga Aska akan Abang pindahkan ke apartment yang sudah Abang sewa untuk satu bulan ke depan," jawab Aksa.
Wajah kecewa Riana terlihat jelas Aksa segera pindah tempat duduk dan kini sudah berada di samping Riana.
"Kita harus jaga calon buah hati kita, Sayang." Tangan Aksa sudah menggenggam tangan Riana.
"Abang akan melakukan yang terbaik untuk kamu juga calon anak kita. Abang juga akan lebih protect kepada istri dan anak Abang." Aksa mencium punggung tangan Riana dengan sangat mesra. Bagai dunia milik berdua dan para karyawan yang masih menonton mereka bagai patung selamat datang.
Akhirnya, Riana menyetujuinya karena Aksa hanya akan melihat kondisi adiknya sebentar. Aska sudah menghubunginya sedari pagi. Ada yang ingin Aska bicarakan katanya.
"Jangan lama-lama, kita ke mall." Manja sekali istrinya jika berada di samping Aksa.
"Iya." Sebuah kecupan Aksa berikan di kening Riana.
Lagi-lagi wanita yang melihat sikap Aksa menjerit. Ken dan Juno yang baru saja turun segera ke belakang dengan sedikit berlari.
"Ada apa?" tanya mereka berdua dengan wajah panik.
__ADS_1
Sontak mata para karyawan itu melebar dan mereka segera kembali ke bagian pekerjaan masing-masing. Ken dan Juno malah saling tatap.
"Wa taii, ada apa?" desak Ken.
"Nama saya Wati, Pak. Bukan Wa taii," balas Wati.
"Suka-suka saya. Cepat jawab pertanyaan saya!" paksa Ken.
Wati berdecak kesal. Ken adalah bos yang kurang waras. Nama siapapun pasti akan dia ubah. Wati tidak menjawab apapun. Dia hanya menunjuk ke arah Aksa juga Riana. Sepasang suami-istri yang kelewat mesra.
Decakan kesal keluar dari mulut Ken dan juga Juno. Rasa iri mereka belum hilang kini malah dibuat semakin iri. Apalagi, Riana yang semakin hari semakin cantik.
"Itu bukan tandingan kita semua," ujar Ken.
"Kalian kerja yang benar! Jangan menonton adegan delapan belas tahun ke atas terus." Juno memberikan peringatan kepada para karyawannya.
Dia pun berlalu begitu saja dan diikuti Ken dari belakang. Mereka berdua ingin bertemu dengan Aska si manusia yang selalu membuat jantung mereka hampir copot.
Setelah makanan itu habis, Aksa meraih tangan Riana kembali. "Abang pergi, ya." Riana mengangguk dan menjawab, "pamit dulu." Aksa pun terkekeh.
"Daddy ketemu uncle dulu, ya. Setelah itu kita jalan-jalan ke mall," ucapnya pelan dengan senyum yang mengembang.
Tangan Riana mengusap lembut rambut sang suami, sedangkan Aksa mencium perut istrinya penuh cinta. Jingga yang tidak sengaja melihat adegan itu tersenyum bahagia. Dia juga ingin seperti itu. Diperlakukan manis oleh pria yang nanti akan menjadi suaminya.
"Abang panggil Jingga dulu, ya." Riana pun mengangguk. Aksa melangkahkan kaki menuju belakang. Semua karyawan tengah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Jingga."
Suara seseorang membuat semua karyawan menoleh. Mata Mereka melebar ketika melihat pria tampan yang disebut Sultan sudah ada di hadapan mereka. Pria yang sangat mirip dengan atasan mereka. Jingga segera menghampiri Aksa.
"Saya, Pak," jawabnya sopan.
"Temani istri saya!"
Kalimat perintah yang tidak bisa dielakkan lagi oleh Jingga. Semua karyawan hanya menggeleng meliha sikap direktur utama WAG Grup tersebut. Dia terlihat lebih tampan dari Aska, auranya pun sangat berbeda. Namun, tingkat kehangatannya jauh berbeda.
__ADS_1
Jingga segera melaksanakan perintah dari Aksa. Dia membuka celemek yang dia gunakan dan sedikit berlari ke arah meja Aksa dan Riana. Namun, langkahnya terhenti ketika Aksa memeluk pinggang sang istri dan dua dapat mendengar kalimat yang dikatakan oleh Aksa.
"Love you, Sayang."
"Love you too, Abang."
Kalimat yang terdengar sangat romantis. Apalagi Aksa mencium kening Riana sangat lama dan tidak dia hiraukan pengunjung yang lainnya.
Jika, mengingat hubungannya dengan Fajar, Jingga hanya bagai Sasak tinju untuk Fajar. Tamparan, pukulan, tendangan serta cacian akan Fajar layangkan kepadanya. Bukan fisiknya saja yang sakit. Hatinya sudah terluka sangat parah hingga berdarah-darah.
"Banyak orang yang menjaga kamu di luar. Kamu jangan khawatir, ya," bisik Aksa di telinga Riana. Istrinya hanya mengangguk. Pelan-pelan dia mulai terbiasa dengan penjagaan seperti ini. Hanya saja penjaga Riana tidak terlihat, jadi Riana tidak merasa terganggu. Mereka hanya memantau dari kejauhan. Setelah Aksa pergi Jingga baru mendekat.
Senyuman hangat Riana berikan kepada Jingga. Namun, Jingga merasa kikuk berhadapan dengan Riana yang sekarang sudah menjadi istri dari mantan atasannya tersebut.
"Boleh saya memeluk, Mbak?" tanya Jingga dengan sangat hati-hati.
Riana tertawa dan dialah yang memeluk tubuh Jingga lebih dul. "Jangan sungkan, Jingga." Jingga sedikit tersentak dengan apa yang diucapkan oleh Riana.
Ada kehangatan yang Jingga rasakan. Dia merasa dipeluk oleh keluarganya sendiri. Pelukan yang sangat tulus yang Riana berikan. Riana pun mengurai pelukannya. Dia menatap bahagia ke arah Jingga yang masih terlihat sungkan.
"Jingga, saya masih Riana yang dulu Hanya saja, status saya uang berubah. Saya sudah menjadi istri dari seorang direktur utama WAG Grup," terang Riana.
"Saya hanya takut ... jika Mbak malu memiliki teman seperti saya," balas Jingga dengan nada sedih.
Riana malah tertawa dan mengusap lembut rambut Jingga. "Saya bukan orang kaya baru yang merasa tidak level berteman dengan orang yang berkasta lebih rendah dari saya. Sedari kecil saya dibesarkan dari keluarga berada. Kakak saya pun orang yang sangat punya, tetapi saya lebih nyaman berteman dengan orang biasa, seperti kamu," jelasnya. Jingga merasa terharu mendengar ucapan dari Riana.
Mereka berbincang ria seraya tertawa. Para rekan kerja Jingga dibuat bingung karena Jingga terlihat sangat akrab dengan Riana, yang tak lain istri dari direktur utama perusahaan besar.
Jingga masih ragu antara maju atau mundur untuk menanyakan perihal Aska kepada Riana. Wajah Jingga yang terlihat bingung dapat diketahui oleh Riana.
"Ada apa Jingga?" tanya Riana.
"Em ... apa ... Mbak Riana ... tahu di mana Pak Aska dirawat?"
...****************...
__ADS_1
Begadang cuy !