
Aksa masih tersenyum mengingat Riana yang mendesahh tak karuhan ketika tangan dan bibir nakalnya beraksi. Wajah lemahnya membuat Aksa semakin ingin membuat Riana melayang lagi dan lagi. Apalagi sambutan sang tuan rumah yang membuat Aksa merasa puas. Pijatan yang menghanyutkan hingga permainan yang membuat Aksa tidak ingin berhenti untuk memainkannya terus menerus. Seakan tidak ada kata lelah. Tidak ada kata puas meskipun sang istri sudah terkulai lemah. Apa yang ada di tubuh Riana seperti santapan lezat yang harus Aksa nikmati, hingga semua bibit-bibit unggul berupa cairan kental seperti susu kental manis ditabur di lahan yang sangat basah. Saking basahnya, benihnya pun banyak yang tercecer di mana-mana.
Demi meraih surga dunia tersebut, dua anak manusia ini rela melewatkan makan malam. Seolah mereka kenyang hanya dengan melakukan gaya Syahrini. Maju-mundur cantik, diiringi dengan alunan suara yang mendebarkan. Senyum di bibir Aksa melengkung sempurna ketika istrinya terlelap dengan damainya. Dia menyibakkan selimut yang membalut tubuh sang istri. Dia kecup perut Riana penuh cinta
"Cepat tumbuh ya, Nak. Temani Mommy-mu ketika Daddy tidak ada di samping kalian. Daddy tidak ingin Mommy-mu merasa kesepian."
Aksa sangat berharap bibit unggulnya tumbuh di perut sang istri. Setidaknya, Riana tidak akan merasa kesepian jika ditinggal kerja oleh Aksa. Rumahnya pun akan bising dengan tingkah lucu Aksara junior. Apalagi jika Tuhan memberikannya anak kembar seperti si triplets. Meskipun kacau dan penuh emosi, pasti akan menyenangkan.
Tangan Aksa menaikkan selimut ke tubuh istrinya kembali. Dia mengecup kening Riana penuh cinta dan ikut terlelap bersama istrinya. Walaupun, adiknya masih tidak mau tidur.
Bias sinar matahari masuk ke sela-sela kamar suite room yang dihuni pengantin baru. Namun, dua anak manusia ini belum beranjak dari tempat pembaringannya. Suara rintihan membuat Aksa terbangun. Dia melihat sang istri yang terus merintih.
"Sayang, kamu kenapa?" Wajah panik Aksa terlihat jelas. Punggung tangannya sudah dia letakkan di kening Riana, suhu badannya cukup panas.
Riana terlihat menggigil kedinginan dengan bibir yang sudah pucat pasi. Dia segera mencari baju yang telah berceceran di bawah. Memakainya dan kini memeluk sang istri.
"Kita ke dokter, ya." Riana menggeleng. Aksa merasakan getaran tubuh Riana.
"Sayang, kamu sakit. Wajah kamu aja pucat banget. Abang suruh pelayan bikin teh manis, ya." Tidak ada jawaban dari Riana. Dia malah semakin menggenggam erat tangan Aksa.
Aksa segera menghubungi pelayan dan meminta untuk dibawakan teh manis hangat dan juga bubur. Aksa mencari baju Riana yang sudah ada di lantai. Dia pakaikan ke tubuh sang istri agar tak kedinginan.
"Sabar ya, Sayang." Kecupan hangat Aksa berikan kepada istrinya. Dia terus memeluk tubuh Riana.
Pelayan sudah datang dan membawakan pesanan Aksa. Dia segera menyuapi Riana. Baru satu suap, perut Riana sudah bergejolak. Dia hendak turun dari tempat tidur, tetapi bagian bawahnya sangat perih. Untuk bangun pun sangat sulit sekali.
"Aw!"
"Kamu kenapa, Sayang?" Rasa cemas melanda Aksa lagi. Apalagi istrinya seperti menahan kesakitan.
"Ma-mau ke kamar mandi," lirihnya.
Aksa membopong tubuh Riana menuju kamar mandi. Baru saja diturunkan Riana sudah mengeluarkan isi perutnya di wastafel kamar mandi. Aksa membantu Riana dengan memijat tengkuk leher sang istri yang terdapat gigitan drakula tak bertaring.
"Sayang, masa baru enam kali percobaan sudah langsung jadi."
Perkataan bodoh yang membuat kepala Riana semakin berdenyut sangat pusing. Riana tidak menjawab. Setelah dia membersihkan mulutnya, dia menyandarkan tubuhnya pada tubuh Aksa. Keringat dingin sudah bercucuran.
__ADS_1
"Masih mual?" Riana menggeleng.
"Kita ke tempat tidur lagi, ya." Aksa membawa kembali tubuh Riana. Meletakannya di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati. Apalagi wajah Riana yang sudah pucat.
Aksa melihat ke arah sprei putih yang tidak beraturan. Ada bercak merah di sana cukup banyak. Senyum pun terukir di wajahnya.
Perjuangannya sungguh tak sia-sia. Dari menunggu, terluka, berjuang lagi dan mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk meminang wanita pilihannya yang berujung membahagiakan dan tak pernah ada penyesalan. Malah dia sangat bangga dan bahagia. Dia lah pria satu-satunya yang dapat memiliki Riana seutuhnya.
"Abang telepon dokter aja, ya. Biar dia datang ke sini."
Setengah jam berlalu, dokter wanita bernama Jenita masuk ke dalam kamar hotel. Matanya memicing ketika melihat leher Riana bagai lukisan abstrak.
"Malam pertama boleh, tapi gak usah gragasan juga kali," sindir Jenita.
Jenita adalah teman Aksa semasa di LN. Pertemuan mereka hanya sekali, tetapi mereka merasa sangat cocok dan malah masih menjalin pertemanan sampai saat ini.
"Berisik lah! Cepat periksa," titah Aksa.
"Ck, lu nyuruh-nyuruh gua bayarannya lima kali lipat," ujar Jenita.
"Berapapun akan gua bayar, Jen. Sembuhin istri gua sekarang!"
Aksa berada di pinggiran ranjang dengan menggenggam tangan sang istri. Jenita mulai memeriksa keadaan Riana.
"Keluhannya apa?" tanya Jenita, sambil mengarahkan stetoskop ke perut Riana.
"Pusing, mual, dan perih," jawab Riana.
"Perih?" Dahi Jenita mengkerut. Riana hanya mengangguk dan menunjuk ke arah bawah.
Helaan napas kasar keluar dari mulut Jenita. Dia menatap tajam ke arah Aksa.
"Lu menjauh dulu, gua mau periksa istri lu." Jenita mulai berani memerintah, tetapi Aksa menatapnya tajam.
"Gua suaminya, gua berhak tahu atas istri gua," sanggah Aksa.
"Gua dokter, gua juga harus memeriksa dengan detail pasien gua!" Emosi Jenita meluap-luap jika menghadapi sifat Aksa yang sangat berbeda ini.
__ADS_1
"Bang, biarkan dokter periksa Ri dulu, ya."
Suara Riana sangat lembut, keras kepala Aksa pun luluh mendengar perkataan itu. Aksa mengangguk dan mencium kening Riana sangat dalam sebelum menjauh.
"Dasar bucin!" cibir Jenita.
"Makanya kawin," balas Aksa.
Riana dibuat bingung oleh kedua orang di hadapannya. Pertemanan macam apa yang Aksa dan dokter ini jalin. Dia melihat bukan persahabatan, melainkan permusuhan yang mereka tunjukkan. Namun, Riana membiarkannya saja. Jika, terlalu banyak berpikir kepalanya akan semakin sakit.
"Saya periksa bagian bawahnya, ya." Riana pun mengangguk.
Jenita membuka kaki Riana sedikit melebar, kepalanya menggeleng. Dia bersungut-sungut dalam hati. Mengumpat kesal kepada Aksara.
"Berapa kali kalian melakukanya semalam?" tanya Jenita.
"Hampir tujuh kali."
Jenita benar-benar terkejut mendengar jawaban dari Riana. Pantas saja bagian sensitif Riana terdapat luka lecet akibat gesekan benda keras dan besar.
"Saya akan memberikan obat pusing, mual, pereda nyeri dan juga salep. Jangan telat makan karena maag kamu mulai kambuh lagi. Bed rest lah, tubuh kamu kelelahan." Riana mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Dia menghampiri Aksa yang tengah duduk di sofa dengan rasa khawatir di dada. Jenita menatap Aksa dengan tatapan membunuh.
"Jangan mentang-mentang lu masih perjaka, lu seenaknya ngehajar istri lu gak kira-kira," geram Jenita.
"Kenapa sama istri gua?" tanya Aksa panik.
"Mahkotanya lecet dan lu kudu puasa selama tiga hari," tukas Jenita.
Mata Aksa melebar dan dia menatap penuh permohonan kepada Jenita.
"Kagak ada penawaran, lu yang berbuat lu juga yang harus bertanggung jawab," pungkas Jenita lagi.
...****************...
Puasa loh Bang Aksanya. Jangan minta adegan ehem-ehem jederr dulu, ya. Mikirnya pusing, kalau terlalu detail alamat naskah bintang semua 😂
__ADS_1
Yang minta Echa bunting lagi, jawabannya ada di Yang Terluka ya. Benang merahnya ada di sana semua.
Jangan lupa komennya biar semangat dan khilaf terus 😁