
Di lain tempat, seorang pria tengah bersungut-sungut seorang diri di dalam ruangan. Dia terus melihat ke arah jam tangan yang dia gunakan.
"Anak buah gak guna," umpatnya kesal.
Bagaimana tidak, sekarang sudah pukul delapan lima belas. Dua sahabatnya yang tak lain anak buahnya malah belum menampakkan batang hidung mereka. Hal yang g paling dia benci adalah telat dan lelet. Dia bukanlah orang yang akan menghubungi dua anak buahnya. Dia ingin mereka sadar akan tugas dan tanggung mereka.
Lima belas menit berselang, suara derap langkah kaki terdengar mendekat. Suara pintu pun terbuka dan pria yang sudah duduk di depan laptop nampak murka dengan kehadiran dua orang pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Gak punya jam kalian!" bentak Aska kepada Ken dan juga Juno. Dua sahabatnya itu terkejut dengan bentakan Aska. Ken sudah memegang dadanya.
"Cuma telat satu jam doang, Sa."
Brak!
Suara pukulan di meja membuat Ken dan Juno mundur satu langkah. Wajah murka nampak terlihat jelas di wajah Askara.
"Hanya satu jam," tekan Aska pada kalimat tersebut. "Waktu adalah uang. Lu paham gak dengan pepatah itu," ucap Aska dengan nada meninggi.
Ken berniat ingin mengajak Aska bercanda. Namun, Aska malah sangat sensitif seperti anak ABG yang kedatangan tamu bulanan.
"Maaf, Sa. Tadi gua nganter Ken dulu ke rumah sakit buat jemput Jingga." Juno mencoba berbicara dengan sangat lembut agar emosi sahabatnya yang sati ini perlahan mereda. Datar, itulah reaksi Aska. Malah kini dia menatap ke arah Ken dengan tatapan tak terbaca.
"Sejak kapan lu perhatian sama karyawan?" Sergahan Aska mampu membuat Ken menggaruk tengkuknya.
Wajah tidak suka Aksa sangat kentara. Jika, sudah seperti ini Ken maupun Juno tidak akan berani menimpali ucapan Aska. Lebih baik mereka diam dari pada ada benda pecah belah yang mengenai bagian tubuh mereka berdua.
"Sekarang kalian berdua kerja!" sentak Aska. "Sampai telat lagi gua jadiin tukang sapu," ancamnya.
Aska sering seperti ini dan ucapannya tidak pernah main-main dan akan dia realisasikan dengan sempurna. Itupun jika dia tengah dilanda masalah yang membuat emosinya meletup-letup. Apakah Aska cemburu karena Ken mencoba mendekati Jingga?
"Laporan keuangan emang lagi kacau?" tanya Ken sembari berbisik kepada Juno.
"Setahu gua sih malah semakin pesat karena udah kerja sama sama pihak ojek online," balas Juno dengan berbisik juga.
Ken dan Juno kini menatap ke arah Aska yang raut wajahnya nampak terlihat berbeda.
"Apa tuh anak abis ditolak cewek?" tebak Ken. Juno hanya menggedikkan bahunya.
Di lantai bawah, beberapa karyawan sedikit terkejut dengan kehadiran
Jingga di sana.
"Kamu udah sembuh?" tanya karyawan bernama Wati.
"Sudah, Kak." Seulas senyum Jingga semaikan. Namun, langkah tertatihnya masih terlihat jelas.
__ADS_1
Sebenarnya Jingga belumlah pulih. Dia hanya tidak ingin gajinya dipotong terus-terusan karena tidak bekerja. Dia juga merasa bosan jika harus di kosan sendirian. Setidaknya dengan bekerja dia bisa melupakan seseorang yang baru saja ingin dia hilangkan dari ingatannya.
Ruangan atas bagai ruangan uji nyali, dingin dan sangat mencekam. Ken dan Juno yang biasanya berisik, kini menjelma menjadi anak yang alim tak banyak tingkah.
Jarum jam terus berputar, tak terasa sudah pukul sepuluh tiga puluh. Aska menggeser kursi kebesarannya dan mampu membuat kedua sahabatnya melirik ke arah dirinya. Ingin rasanya mereka bertanya, tetapi nyali mereka tidaklah terlalu berani. Langkah Aska membawanya menuju lantai bawah, yaitu dapur.
"Buatkan saya ...."
Ucapannya terhenti ketika melihat seorang wanita yang seharusnya istirahat malah tengah sibuk bekerja. Dia melihat ke arah kursi pengunjung pun sudah mulai ramai dengan para driver ojek online yang tengah menunggu pesanan.
"Ada yang bisa kami bantu, Pak?" Mendengar kata Bapak, membuat semua karyawan menoleh, termasuk Jingga.
"Saya ingin cokelat panas dan bawa ke tempat biasa."
Jingga menatap intens ke arah Aska. Namun, Aska sama sekali tak menggubrisnya. Ada sedikit sesak yang Jingga rasakan. Diabaikan oleh Aska sedikit membuatnya tak bisa bernapas dengan benar.
Helaan napas kasar terdenbar di meja paling pojok. Di situlah Aska berada. Ekspresinya sangat datar dan tidak bisa ditebak. Tangannya mengepal seperti orang yang tengah menahan amarah.
Jingga terus menatap ke arah punggung Aska. Tubuh belakang yang sangat tegap dan kekar. Hatinya sakit melihat tatapan Aska yang tidak seperti biasanya.
"Jingga, nanti tolong antarkan ini kepada Pak Aska, ya." Perintah dari seseorang yang tengah meracik minuman.
"Ke-kenapa harus saya?" tanya Jingga.
Jingga melangkah perlahan dengan nampan yang dia bawa. Di sampingnya ada brownies lumer cokelat sebagai pendamping minuman yang Aska pesan.
🎶
Kalau ini memang maumu
Silakan pergi!
Pergi menjauh dariku
Seharusnya ku tak memulai semua
Semua cerita antara kita
Yang kini tinggal kenangan
Langkah kaki Jingga pun terhenti mendengar lagu yang tengah Aska putar. Seperti sindiran keras untuk dirinya.
🎶
Akan kubuktikan bahwa
__ADS_1
Ku bisa tanpamu
(aku bisa tanpamu)
Kau memang tercipta bukan 'tuk bersamaku
(oh, tapi)
Tapi ingatlah bahwa suatu hari nanti
Takkan kau temukan pada yang lain
Yang sangat mencintaimu
Lebih dariku
Bulir bening yang sudah menganak ingin sekali menetes. Dadanya sakit, hatinya sesak dan dia tidak bisa berkata apapun mendengar lagu tersebut.
Mencoba untuk menguatkan langkah pun dia tidak bisa. Tulangnya terasa terlepas semua. Dia pun menunduk dengan bulir bening yang perlahan menetes.
"Maafkan aku," batin Jingga.
Pria itu tengah sibuk dengan gawai di tangannya. Pandangannya sangat fokus pada layar segiempat tersebut. Kehadiran Jingga di belakangnya pun tidak dia ketahui.
"Silahkan diminum, Pak."
Seketika pandangan Aska pada layar segiempatnya terlepas. Dia menoleh ke arah Jingga yang masih mematung di sampingnya. Sorot mata tanpa ekspresi yang Aska berikan.
"Letakkan di situ!" tunjuknya dengan matanya ke arah meja. Kemudian, Aska kembali memfokuskan pandangannya ke arah ponsel, dan mengabaikan Jingga yang masih memandanginya.
Tangan Jingga perlahan mengambil gelas yang berada di atas nampan dan meletakkannya di atas meja.
"Silahkan dinikmati."
Suara yang terdengar sangat lemah dan bergetar. Jingga pun segera pergi dari samping Aska. Dia tidak kuat diperlakukan seperti ini oleh Aska, sakit rasanya.
"Kenapa aku sedih diperlakukan seperti ini oleh Bang As. Bukankah harusnya aku senang?"
Jingga memegang dadanya yang terasa ditusuk-tusuk pisau yang sangat tajam. Sakit tak berdarah, seperti itulah rasanya.
...****************...
Komen dong ...
Boleh gak sih aku minta sesuatu ke kalian. Kalau Jodoh Rahasia up langsung baca ya. Jangan ditimbun-timbun.
__ADS_1