
Arka melihat Riana menuju hall seorang diri dan menghampiri kedua orang tuanya. Namun, Arka enggan ke sana. Melihat Riana seakan membuat hatinya perih kembali. Apalagi wajah Riana yang terlihat sangat berseri. Arka pun melihat Riana mencium tangan kedua orang tuanya menandakan dia akan pamit.
Ketika Riana ke luar dari hall, Arka memperhatikannya dalam diam. Tidak ada niatan untuknya mendekat ataupun mencegah. Terlalu sakit jika harus mendekat sekarang. Akan tetapi, ada sebuah dorongan yang membuat kakinya melangkah. Mengikuti jejak wanita yang sudah menempati hatinya.
Seorang wanita tengah menunggu lift terbuka. Lift pun terbuka, baru saja kakinya melangkah dengan sengaja seseorang menabrakkan tubuhnya ke arah wanita tersebut hingga wanita itu masuk ke dalam lift dengan sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya untuk mencegah Riana terjatuh.
Riana terkejut bukan main dan dia segera membalikkan tubuhnya. Matanya membola ketika melihat Arka lah yang memeluknya dari belakang. Sorot mata Arka membuat Riana takut. Sekuat tenaga Riana mencoba melepaskan tangan Arka, tetapi tenaganya tidak mampu melawan tenaga Arka yang sedang menahan marah.
"Kenapa, Riana? Kenapa kamu takut? Aku akan memperlakukan kamu dengan sangat manis seperti yang dilakukan pria tadi di depan lift. Kali ini, aku akan melakukannya di dalam lift." Seringai licik terlihat jelas di wajah Arka ketika tubuh Riana sudah berhadapan dengannya.
Tubuh Riana bergetar mendengar ucapan Arka. Apalagi tatapannya yang seperti sedang menelanjangiinya.
"Jangan macam-macam kamu, Arka!" Riana mulai menyentak Arka menutupi rasa takut yang ada.
__ADS_1
"Kenapa aku tidak boleh macam-macam terhadap kamu? Sedangkan pria itu boleh mencium bibir kamu," ujarnya dengan tangan yang sudah menyentuh bibir mungil Riana.
"Bukankah aku memiliki kesempatan yang sama dengannya?"
Riana semakin ketakutan tatkala tangan Arka sudah menarik dagu Riana dengan cukup kasar sehingga wajahnya mendongak ke atas. Sedangkan tangan Arka yang satunya merengkuh pinggang Riana dengan sangat erat hingga tubuh Riana sangat rapat dengan tubuh Arka.
Arka mulai mendekatkan wajahnya ke arah Riana. Sekuat tenaga Riana menghindarinya. Bagaimana pun bibirnya ini hanya untuk Aksa bukan untuk yang lain. Ketika wajah Arka sudah mulai mendekat, wajah Riana dipalingkan ke arah kanan. Alhasil, Arka geram sendiri.
"Jangan sok jual mahal," geram Arka.
Wajah Arka mulai mendekat dengan tangan yang semakin keras mencengkeram dagu Riana. Mata Riana sudah berkaca-kaca seakan memohon kepada Arka untuk tidak melakukan hal ini. Namun, Arka menjelma menjadi pria tak peka. Ketika bibir Arka semakin mendekat dan deru napasnya bisa dirasakan oleh Riana. Riana memejamkan matanya dengan bulir bening yang ikut menetes.
"Abang!" teriaknya dalam hati.
__ADS_1
Baru saja bibirnya hendak menempel, suara lift terbuka terdengar. Ketika Arka menoleh aura kemarahan sudah terlihat jelas di mata pria yang akan masuk ke dalam lift. Tangannya menarik kerah baju Arka tanpa basa-basi, dengan penuh amarah dia melayangkan pukulan keras tepat di wajah Arka hingga dia tersungkur dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Aku sudah bilang, jika aku bukanlah malaikat. Aku bisa menjelma menjadi iblis jahat."
Suara yang sangat keras penuh dengan penekanan serta nada yang penuh kemarahan. Wajahnya pun memerah, urat-urat kemarahan di sekitaran wajah nampak sangat jelas. Juga tangannya mengepal sangat keras.
Sedangkan Riana sudah menangis dan diamankan oleh kedua orang berbaju hitam tak jauh di mana Arka sudah tak berdaya.
...****************...
Komen dong ...
Di sini 'kan gratis bacanya, masa buat komen aja pelit. 🤧
__ADS_1