Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Duel


__ADS_3

Ketika Aksa dan Riana keluar dari IGD, mereka memeluk haru kedua orang tua mereka. Aska mendapat panggilan dari seseorang dan mulai menjauh dari keluarganya.untuk menjawabnya.


"Ada apa?" tanya Aska.


"Ke kafe sekarang! Ada orang yang bikin keributan," ucap Ken panik.


Aska menghela napas kasar. Dia mengiyakan ucapan dari Ken. Tanpa berpamitan dia menuju kafenya. Ketika Ken menghubunginya, samar terdengar jika ada teriakan seorang wanita di sana.


"Ada-ada aja," keluh Aska.


Dia menuju parkiran dan segera menginjak pedal gas menuju kafe miliknya. Aska tidak banyak berpikir, dia adalah manusia yang sangat santai. Sudah biasa jika banyak preman yang meminta jatah. Biasnya seperti itu.


Tibanya di sana, kafe sudah dalam keadaan tutup. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya. Dia masuk ke dalam kafe karena kafe sebenarnya tidak dikunci. Hanya saja tengah terjadi keributan di dalam sana. Aska sangat tahu itu.


Pintu baru saja terbuka, seorang pria menoleh dan menatapnya tajam. Aska mengerutkan dahi ketika dia melihat pria yang dia kenali. Meskipun hanya lewat video laporan dari anak buahnya.


Pria itu tersenyum tipis. Dia mendekat dan ....


Bugh!

__ADS_1


Satu buah pukulan mendarat mulus di wajah Aska. Juno yang ingin melerai malah ditahan oleh orang yang datang bersama pria itu. Ken sedari tadi dia tengah mengamankan wanita yang menjadi incaran pria itu.


"Kurang ajar lu!"


Bugh!


Satu pukulan lagi mengenai wajah Aska. Namun, Aksa mulai bisa bangkit. Dia menatap tajam ke arah pria itu, seperti sedang menahan dendam yang menahun.


"Tangan kotor lu aja meninggalakan bekas di wajah gua. Bagaimana dengan tangan lu yang dengan ringannya memukuli wanita!" teriak Aska.


Semua pegawai yang ditawan oleh orang-orang yang dibawa pria itu terkejut mendengar teriakan Aska. Selama mereka bekerja di sana, tidak pernah sekalipun Aska membentak ataupun berteriak kepada mereka.


Di ruangan atas, Jingga sudah menahan tangisnya. Hatinya tidak tenang, apalagi Fajar sudah merusak barang yang ada di kafe demi mendapatkan dia. Untung saja Jingga menerima telepon dari Bian, bahwa Fajar sudah menuju Jomblo's kafe. Pada akhirnya Bian menyuruh Ken untuk menjaga Jingga.


"Pak, lebih baik saya menyerahkan diri saja. Saya tidak ingin membuat kerugian kafe Bapak," ucap lirih Jingga.


"Materi bisa dicari Jingga, terapi saya tidak bisa melihat wanita disakiti oleh pria yang tidak waras itu," sahutnya.


Jingga dapat mendengar dengan samar suara dua lelaki yang tengah berteriak. Ken terdiam sejenak. Dia tahu itu suara siapa. Ken berlari meninggalkan Jingga di ruangan atas. Jingga bingung dengan tingkah bosnya. Ketika Ken sudah tidak terlihat, Jingga memberanikan diri untuk keluar ruangan. Suara teriakan dari para pegawai semakin jelas terdengar. Tubuh Jingga semakin bergetar hebat.

__ADS_1


"Aska!" teriak Ken dan juga Juno di lantai bawah.


Jingga yang hendak menuruni anak tangga terdiam sejenak. Nama laki-laki yang dia rindukan yang di serukan oleh kedua bosnya. Jingga segera turun ke lantai bawah dan sudah ada duel satu lawan satu. Ken yang melihat Jingga segera menghadang Jingga.


"Jangan turun!" Jingga tetap memaksa dan terus memaksa.


"Saya mohon, Pak," pinta Jingga dengan sorot mata mengiba. "Saya tidak ingin merugikan kafe ini," tukasnya.


Bukan hanya kafe ini yang rugi, tetapi pemilik kafe ini pun sudah babak belur. Ken lebih memilih menyerahkan wanita yang ada di hadapannya dari pada melihat sahabatnya terluka parah.


"Lebih baik kamu menyerahkan diri. Saya tidak ingin sahabat saya semakin dianiaya oleh kekasih gila kamu," tegas Ken.


Tidak ada rasa sakit hati mendengar ucapan Ken. Dia sadar diri dia siapa. Mungkin dia sudah ditakdirkan untuk hidup bersama Fajar. Jingga menerobos ke arah pada karyawan yang tengah ditawan dengan ditodongkan senjata tajam juga Juno yang dipegangi oleh dua orang berbadan kekar. Mereka hanya berteriak tanpa bisa membantu apapun.


Mata Jingga melebar ketika dia melihat seorang pria yang tengah terengah-engah memegangi dadanya dengan sudut bibir yang sudah mengeluarkan darah juga punggung tangannya mengalir deras cairan berwarna merah.


"Bang As!"


...****************...

__ADS_1


Komen dong biar up lagi.-


__ADS_2