
Waktu cepat sekali berputar. Riana dan Aksa sudah menjalani hubungan LDR selama enam bulan. Selama itu pula rindu mereka semakin menumpuk. Hanya lagu dari Mahen yang menjadi backsound penyemangat hubungan mereka.
🎶
Tunggu nanti pasti bertemu
Simpan dulu rasa
kesalmu, rindumu
Saat kita bertemu
Aku tahu kau cemaskanku
Saat ku tak ada di situ, dekatmu
Simpan luka dalam rindu
Hanya helaan napas kasar jika Riana mendengarkan lagu ini.
"Sungguh Ri merindukan, Abang."
Bukan hanya berjuang memendam rindu. Dia juga sedang berjuang untuk menjadi orang yang sabar jika menginjakkan kaki di kantor WAG Grup. Setiap hari selalu saja ada omongan yang membuat Riana membuang napas kesal.
"Tumben gak bareng sama atasan tercinta," ejek ratu nyinyir, Denisa.
Riana tidak menjawab, dia terus melanjutkan langkahnya menuju tempat di mana dia harus bergelut dengan pekerjaan.
"Sampai kapan harus mendengar ucapan seperti itu?" Ucapan Riana terdengar frustasi.
"Ternyata menjadi orang sabar itu sangatlah melelahkan," lanjutannya lagi.
Riana pun menunduk dalam, sebuah cangkir berisi cokelat panas disodorkan ke arahnya. Perlahan Riana mengangkat kepala, senyum manis karyawan magang yang dipekerjakan oleh Rani tersungging. Dia dipekerjakan di dekat meja Riana.
"Cokelat panas akan mengembalikan mood kamu yang sedang hancur."
Riana tidak buru-buru menerima cangkir berisi cokelat panas itu. Selama ini dia terus menjaga jarak dengan pria manapun karena dia tahu ada seseorang yang sedang berjuang di belahan negara sana.
"Makasih, tetapi saya tidak suka cokelat," tolak Riana halus.
Randi menampakkan wajah yang sangat kecewa, tetapi dia mencoba untuk tetap tersenyum. Riana bangkit dari duduknya dan memilih ke pantry. Dia mendudukkan diri di sana dan memijat keningnya yang terasa pusing.
"Diminum, Mbak."
Secangkir cokelat Belgia panas Jingga berikan untuk Riana, dengan senang hati Riana menerimanya dan segera meminumnya karena dalam keadaan panas sangatlah nikmat.
"Yang sabar ya, Mbak. Setahu aku, Mbak Denisa itu menyukai Mas Randi. Makanya selalu nyinyiran Mbak supaya Mas Randi ilfeel sama Mbak," jelas Denisa.
Riana hanya tertawa dan meminum cokelat panasnya lagi. Dia sudah tidak tertarik dengan pria manapun. Hatinya sudah terkunci oleh satu pria yang bernama Ghassan Aksara Wiguna.
Setelah dirasa mood-nya kembali normal, Riana kembali ke ruangannya. Di sana Randi sudah fokus dengan laptopnya begitu juga Riana yang akan bergelut dengan pekerjaannya.
Sesekali Randi mencuri pandang ke arah Riana yang sedang fokus pada layar segiempat di hadapannya. Sorot matanya memandang kagum ke arah Riana.
"Wanita cantik," gumamnya pelan.
Riana juga tahu bahwa Randi sering memperhatikannya. Akan tetapi, Riana selalu bersikap acuh dan pura-pura tidak tahu.
Di dalam ruang direktur, ponsel sedang menempel di telinga Ari.
__ADS_1
....
"Gak bisa begitu dong, main pecat karyawan tanpa alasan jelas. Semuanya udah ada ketentuannya."
....
"Ini sih pendapat saya, ya. Dia menyembunyikan statusnya karena dia belum tahu bahwa Anda ...."
Ketukan pintu terdengar, membuat Ari mengentikan ucapannya.
"Masuk."
Riana pun masuk, Ari masih berbicara dengan orang yang berada di balik sambungan telepon.
"Selesaikan tugas Anda dengan baik, Pak. Saya menunggu kedatangan Anda ke sini."
Riana memandang aneh ke arah Ari. Tidak biasanya dia menerima panggilan telepon dengan wajah sumringah. Terdengar ucapan itu pun adalah ucapan meledek. Riana tidak mau ambil pusing. Tugasnya masuk ke ruangan Ari hanya untuk menyerahkan pekerjaannya yang sudah selesai.
Jam makan siang sudah tiba, Riana hendak turun ke lantai bawah. Namun, Randi memanggilnya.
"Makan di kafe seberang, yuk. Biar aku yang traktir." Randi berucap dengan bersemangat.
"Maaf, saya sudah membuat janji dengan Jingga."
"Mbak Riana," panggil Jingga dan mengahampirinya.
"Saya duluan, ya." Riana menunduk sopan kepada Randi sebelum dia pergi.
Seperti biasa mereka mendatangi warung makan murah meriah dan duduk di bawah pohon sambil menikmati makan siang ditemani angin sepoi-sepoi. Jingga menjadi teman pertama untuk Riana selama bekerja di WAG Grup. Meskipun, hinaan sering terlontar kepada Riana karena berteman dengan office girl.
"Selera bertemannya rendah banget," cibir para karyawan.
Ingin rasanya Riana menimpali ucapan mereka. Dia tidak peduli jika dirinya yang dihina, tetapi ini malah sahabatnya yang dihina.
"Riana, aku belikan cokelat mete untuk kamu." Randi memberikan cokelat ratu perak kepada Riana. Awalnya Riana ingin menolak, tetapi dia teringat akan Jingga yang suka dengan cokelat itu. Namun, karena keterbatasan uang dia hanya bisa membelinya sebulan sekali ketika gajian saja.
"Makasih, Ran," ucap Riana seraya tersenyum.
Baru kali ini Randi melihat senyum tulus Riana. Dia semakin mengagumi Riana.
Sepulang kerja, Riana menghampiri Jingga dan memberikan cokelat pemberian dari Randi.
"Apa ini, Mbak?"
"Tadi Randi ngasih aku cokelat itu. Awalnya aku gak mau Nerima, tapi aku inget kalau kamu suka cokelat ini. Makanya aku ambil dan aku kasih ke kamu," ungkap Riana.
"Makasih ya, Mbak."
"Makasihnya sama Randi. Aku pulang dulu, ya." Riana melambaikan tangannya kepada Jingga.
Baru saja Riana keluar dari lift, Randi sudah menunggunya. Dia tersenyum ke arah Riana.
"Pulang bareng aku, ya."
"Makasih, ojol yang aku pesan sudah datang. Permisi." Riana berlalu begitu saja membuat Randi menghembuskan napas kesal.
"Kenapa kamu susah sekali didekati?"
Baru saja Randi hendak melangkah, panggilan dari arah belakang membuatnya menoleh.
__ADS_1
"Makasih atas cokelatnya," ucap Jingga.
"Cokelat?"
Jingga pun mengangguk dan menjelaskan semuanya. Tangan Randi mengepal bertanda dia kesal.
Di kosan.
Riana baru saja meletakkan tasnya di atas meja. Dia mengambil handuk untuk membersihkan tubuhnya. Namun, ponselnya tiba-tiba berdering. Wajah Riana terlihat bahagia sekali. Apalagi Aksa melakukan sambungan video.
"Baru pulang?"
Riana tersenyum lebar ketika melihat wajah tampan sang kekasih.
"Ri, rindu sama Abang."
Jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Aksa. Namun, Aksa merasa bahagia mendengarnya.
"Abang juga sangat rindu sama kamu, Sayang."
"Ingin cepat-cepat Minggu depan," ujar Riana dengan wajah yang berseri.
Namun, wajah Aksa tidak menampilkan wajah yang sama seperti Riana.
"Maaf ya, Sayang. Sepertinya pertemuan kita akan tertunda lagi."
Mata Riana sudah berkaca-kaca. Hari yang dia tunggu-tunggu, susunan tempat yang ingin dia kunjungi sudah dia tulis, tetapi harus berakhir tragis.
"Tiga bulan lalu Abang gak jadi datang ke sini, dan sekarang harus begitu lagi," ucap Riana dengan suara yang bergetar.
"Maafkan Abang, Sayang."
Lama mereka hening dengan air mata Riana yang sudah menetes.
"Ri lelah, Bang. Ri, ingin istirahat."
Riana memutuskan sambungan video tersebut secara sepihak. Dia menelusupkan wajahnya di bantal. Menangis sesenggukan karena pertemuannya dengan Aksa harus tertunda lagi dan lagi.
"Kenapa harus selalu begini?"
Lelah menangis, Riana pun tertidur tanpa mengganti pakaiannya dulu apalagi membersihkan tubuhnya.
Pagi menjelang, dia melihat matanya bengkak efek menangis semalam. Dia mengecek ponselnya, hanya ada beberapa pesan yang dikirim Aksa. Dia hanya mengucapkan kata maaf.
Semua orang di kantor menatap aneh ke arah Riana. Matanya yang sangat sembab membuat mereka semakin berspekulasi.
"Kamu kenapa, Riana?" Tidak ada jawaban dari Riana, dia masih terdiam dan fokus pada pekerjaannya. Tidak menimpali ucapan Randi sedikit pun.
Hari ini ponsel Riana terasa sangat sepi. Aksa yang biasanya selalu mengirimkan pesan, hari ini tidak. Riana membiarkannya saja. Dia sedang merajuk kepada Aksa.
Jam pulang kantor tiba, tetapi pekerjaan Riana belum rampung semua. Dia memilih untuk menyelesaikannya terlebih dahulu karena di rumah dia ingin beristirahat.
"Akhirnya selesai juga," gumam Riana. Dia melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh.
Riana turun ke lantai bawah, dia sengaja belum memesan ojek online. Rencananya dia ingin menikmati langit malam sambil menunggu ojek online.
Riana berdiri di depan kantor dengan pandangan fokus ke layar ponsel. Sebuah mobil berhenti di depannya dan membunyikan klakson. Riana memicingkan mata ke arah mobil yang tidak dia kenali tersebut. Turunlah seorang pria yang memakai kemeja hitam dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya dan membuat mata Riana hampir melompat dari tempatnya.
"Abang!"
__ADS_1
...****************...
Komen dong, ya ...