
Mendengar menantunya pingsan dan harus dirawat di rumah sakit membuat Ayanda panik juga khawatir. Dia mendapat kabar tersebut dari dokter Gwen. Ayanda pun segera menghubungi Remon untuk mendengar cerita yang lebih detail. Namun, Remon seakan menutupinya membuat Ayanda murka.
"Oke, saya akan ke Jogja sekarang!"
Bak ancaman yang sangat mematikan kalimat tersebut di telinga Remon. Remon yang baru saja akan masuk ke dalam kamar perawatan Riana menghela napas kasar.
"Perang dunia ketiga ini," gumam Remon. Kelamaan bosnya itu ada pada istrinya.
Tangan Remon menekan gagang pintu, terlihat Riana yang sedang bersandar di ranjang yang sudah dinaikkan bagian atasnya. Di sampingnya dengan setia Aksa mendampingi. Begitu juga dengan Gio yang duduk di kursi di samping ranjang pesakitan menantunya.
"Maafkan, Daddy."
Riana tersenyum, lalu menggeleng. "Gak apa-apa, Dad. Kalau Daddy mau ngirim Abang ke manapun. Ri, akan ikut bersama Abang. Ri dan anak Ri gak mau pisah jauh dengan Abang," jelasnya.
Gio tersenyum dan menghampiri menantu tercintanya. "Daddy janji, Daddy tidak akan memisahkan kalian lagi. Kalian akan terus bersama sampai maut yang memisahkan."
Riana tersenyum dan meraih tangan sang ayah mertua yang masih terlihat sangat tampan. "Makasih banyak, Dad."
"Tidak perlu berterima kasih, Sayang. Sudah tugas Daddy untuk membuat kamu dan putra Daddy bahagia. Nantinya, akan hadir cucu-cucu Daddy yang harus Daddy bahagiakan juga."
Tidak ada kata untuk mengungkapkan kebahagiaan yang Riana rasakan. Bersyukur dan terus bersyukur yang Riana lakukan. Ketidak sempurnakan keluarganya, disempurnakan oleh kasih sayang tulus yang kedua mertuanya berikan kepadanya. Dia merasakan bagaimana rasanya disayangi oleh banyak orang seperti sang kakak.
"Boleh Ri peluk Daddy?" Gio pun tersenyum dan merentangkan kedua tangannya serta tersenyum. Riana berhambur memeluk tubuh Giondra dengan sangat erat.
"Makasih sudah menyempurnakan kasih sayang di dalam hidup Ri." Kalimat yang sangat tulus yang Riana ucapkan untuk ayah mertuanya.
"Sama-sama, Sayang. Makasih, sudah mau menjadi istri dari anak Daddy yang tidak sempurna."
Aksa hanya tersenyum melihat pemandangan di depannya. Hatinya sangat bahagia, sedangkan Remon masih mematung di tempatnya. Dia tidak ingin mengganggu kebahagiaan yang ada. Tidak mungkin juga dia merusak kebahagiaan yang tengah terjadi.
Perlahan, Remon pun melangkahkan kaki menuju Gio, Aksa, dan juga Riana. Dia tersenyum sopan kepada mereka bertiga.
"Ada apa?" sergah Gio, seakan dia tahu ada hal penting yang akan Remon katakan kepadanya.
Remon bingung harus mengatakan apa. Dia hanya bisa menghela napas berat. Gio semakin curiga dan menukikkan kedua alisnya.
"Ada apa?" tekan Gio.
"Em ... Bu bos."
Dahi Gio mengkerut begitu juga dengan Aksa. Mereka berdua saling tatap. Gurat cemas sudah mulai nampak pada wajah mereka berdua.
__ADS_1
"Bu Bos tahu keadaan Nona Riana."
"Apa?" balas Gio dan Aksa kompak. Mereka berdua mulai terlihat panik.
"Beliau mau terbang ke sini."
"Mampoes!" seru Aksa.
Gio mengerang kesal. Orang yang dia takuti bukan musuhnya, tetapi musuh bawah selimutnya. Istrinya sendiri. Gio segera mengecek ponselnya.
"****!" umpatnya kesal.
Ternyata sudah banyak panggilan dari sang istri kepadanya. Namun, ponselnya dia silent sehingga tidak terdengar.
Baru saja hendak memasukkan ponselnya ke dalam saku, nada dering ponsel Gio terdengar. Lagi-lagi dahinya mengkerut. Helaan napas berat keluar dari mulutnya. Aksa sudah mengira pasti sang ibu yang menghubungi ayahnya lagi karena wajah ayahnya nampak pucat sekali. Ternyata Echa yang menghubungi Giondra.
"Kenapa bisa terjadi?"
Suara penuh kemurkaan terlontar dari mulut putrinya. Gio hanya menghela napas kasar dengan mata yang terpejam.
"Echa akan terbang ke sana sama anak-anak Echa."
Duar!
"Gimana ini, Dad?" tanya Aksa dengan wajah panik.
"Bukan hanya Mommy yang akan datang. Kakak dan anak-anaknya pun akan ke sini." Aksa tercengang mendengar penuturan sang ayah. Riana tersenyum dan tertawa dalam hati ketika melihat dua pria di depannya terlihat panik. Dua pria garang, tetapi akan berubah ciut di hadapan Ayanda.
"Parah ini," keluh Aksa.
"Sudah pasti."
"Terima nasib aja," ejek Remon seraya mengulum senyum.
Waktu seakan cepat sekali berlutar. Sore sudah datang, pintu kamar perawatan Riana terbuka dan bukan hanya lima orang yang datang, ada sembilan orang yang masuk ke dalam ruang perawatan itu. Gio melebarkan mata, apalagi melihat besannya sudah menatapnya dengan sangat murka dan mulai melangkahkan kakinya dengan sangat lebar menuju Giondra.
"Lu apain anak gua?" Rion sudah menarik kerah baju Giondra. Matanya menyiratkan kemarahan karena Ayanda sudah menceritakan semuanya.
Bagaimanapun, Rion harus tahu kabar putrinya seperti apa. Ayanda tidak ingin menutupi apapun perihal Riana dari ayah kandungnya.
Remon hendak melerai mereka, tetapi dilarang oleh Arya. "Cukup jadi penonton aja kita sekarang," ucap Arya dengan sangat santai.
__ADS_1
Remon mencerna ucapan Arya, dan apa yang dikatakan oleh Arya ada benarnya juga. Sudah biasa besan dan besan itu bertengkar. Lebih baik duduk manis dan menonton pergulatan yang akan terjadi.
"Ri, gak apa-apa, Yah," jawab Riana.
Rion melihat ke arah Riana yang terlihat baik-baik saja. Hanya ada selang infus di tangannya. Putrinya tersebut tersenyum ke arah Rion. Pada akhirnya, Rion melepaskan cengkeraman di kerah kemeja Gio dengan sangat kasar.
"Kagak jadi berantem?" tanya Arya.
Rion dan Gio menatap tajam ke arah Arya. Namun, yang ditatap seakan biasa saja. Malah dengan sengaja menyahuti tatapan tajam kedua sahabatnya itu, "baru gua sama Remon mau taruhan."
Riana pun tertawa mendengar ucapan omnya yang terkadang menjadi pelawak dadakan. Bebas dari Rion, kini Giondra ditatap tajam oleh kelima perempuan di depannya. Mereka sangat kompak melipat kedua tangannya di atas dada.
"Jelasin!" seru mereka berlima.
"Wow!"
Begitulah batin Giondra berkata. Kelima perempuan itu sangatlah kompak jika sudah marah. Tatapan mereka pun seperti tengah menguliti Giondra hidup-hidup. Bukan hanya Giondra yang merasa takut, Aksa pun merasakan hal yang sama.
"Jelasin atau Mommy yang--"
"Maaf," potong Giondra.
"Hanya maaf, gitu?" sergah sang istri tercinta. Tatapannya sangat nyalang. "Kalau terjadi apa-apa dengan menantu kita, Daddy mau tanggung jawab?" lanjutnya lagi.
"Kalau Dedek bayi di dalam perut aunty kenapa-kenapa, Kakak Na gak akan maafin Aki!"
Sebuah ancaman yang keluar dari mulut Aleena. Gio hanya terdiam tak bisa berkutik sama sekali.
"Gak usah ribut sih. Orang Kak Ri gak apa-apa juga," ujar Iyan.
Gio tersenyum ke arah Iyan dengan sorot mata yang mengatakan terima kasih banyak. Namun, Iyan seolah acuh. Dia masih fokus pada gadget di tangannya.
"Yang harus kalian khawatirkan itu Kak Aska," lanjutnya lagi.
"Aska?"
****
Yang udah komen makasih, yang malas komen juga makasih juga. Kalo kalian bilang kisah ini semakin ke sini semakin banyak kisah Aska dan Jingga ya mohon maaf, ******* mereka memang belum sampai. Setelah klimaksnya sampai, akan aku pindah ke judul yang lain dan akan terfokus pada Aksa dan Riana.
Jadi, nikmatin aja. Kalau gak suka gak apa-apa diskip juga.
__ADS_1
Satu lagi, yang bilang up-nya lambat, aku ini bukan plagiat. Tinggal copy paste tulisan orang. Kudu mikir dulu, belum kalo keganggu ini dan itu. Satu jam serebu kata, kalian baca lima menit. Pas udah baca Komen nyelekit. Ah sudahlah .... !!