
Di lain kamar, Riana tengah terisak. Namun, dalam keadaan terpejam.
"Hai Mommy!"
Sapaan yang diucapkan oleh anak perempuan cantik yang datang ke dalam mimpi Riana. Anak yang sangat mirip dengannya, melihat anak perempuan itu seperti bercermin.
"Mommy, Kakak senang karena sekarang Daddy sudah selalu ada di samping Mommy. Daddy akan selalu jaga Mommy juga adik."
Senyuman anak itu mirip sekali dengan senyuman Aksa. Begitu manis dan mempesona. Namun, dalam mimpi tersebut Riana tidak bisa memeluk tubuh anak itu. Ada penghalang yang sangat tebal di antara mereka.
"Mommy, sudahi sedih Mommy. Kakak tidak apa-apa pergi mendahului Mommy, Daddy dan juga adik. Kakak sudah bahagia di sini. Semuanya menyayangi Kakak. Semuanya balik sama Kakak. Kakak pun nyaman di sini. Ini adalah tempat Kakak sesungguhnya. Mommy jangan menangisi Kakak lagi, ya. Kasihan adik."
Tangan anak itu seperti tengah mengusap lembut air mata Riana yang sudah terjatuh. Dia hanya membisu tak bisa berkata apapun.
"Sayangi adik ya, My. Lindungi adik. Bilang kepada adik, bahwa dia punya Kakak. Hanya saja, Kakak tidak bisa bermain langsung bersamanya. Kakak hanya bisa jagain adik dari sini, dari keajuhan. Kakak akan menjadi kakak yang baik untuk adik. Kakak janji, My."
Tidak ada yang tidak tersayat hatinya mendengar ucapan seperti ini. Riana hanya menangis dan menangis di dalam mimpinya.
"My, maafin Kakak. Kakak gak bisa selalu hadir di mimpi Mommy, di mimpi Daddy. Kakak janji, Kakak akan terus memohon kepada pengasuh Kakak untuk bisa masuk ke dalam mimpi Mommy. Memeluk hangat tubuh Mommy. Mencium pipi Daddy. Kakak sayang Mommy juga Daddy. Sampaikan salam sayang Kakak untuk Daddy ya, My."
Lambaian tangan anak itu mengakhiri mimpi Riana. Dia pun terbangun dengan ujung matanya sudah basah. Riana tengah terduduk dengan menatap lurus ke depan. Dia terbangun dari tidurnya karena sebuah mimpi yang terasa nyata. Dadanya pun terasa sangat sesak sungguhan.
"Apakah itu anakku? Anak yang tidak berkembang di rahimku?"
Bulir bening menetes begitu saja. Hati Riana belum sepenuhnya rela. Masih ada rasa sakit yang terasa. Janin uang seharusnya ada, malah mengalah. Ibu mana yang tidak akan sedih?
Kini, Riana sudah menunduk dalam dengan tubuh yang bergetar. Tangannya memeluk erat perutnya yang sedikit membukit.
"Maafkan Mommy, Nak. Harusnya kamu masih di sana dengan adikmu." Ucapan yang sangat pilu dan bergetar yang keluar dari mulut Riana.
Pintu kamar terbuka, Aksa yang baru saja selesai memberikan kuliah tujuh menit kepada sang adik terkejut melihat istrinya yang sudah terduduk dan menangis.
"Sayang."
Aksa berlari dan segera memeluk tubuh Riana. Tangis Riana pun semakin menjadi membuat Aksa bingung.
"Ada yang sakit? Kita ke dokter sekarang." Wajah khawatir Aksa sudah terlihat jelas. Namun, Riana malah menggeleng. Tangannya semakin erat memeluk pinggang sang suami.
"Sayang, kalau ada yang sakit bilang. Sudah cukup kita kehilangan salah satu calon anak kita," tutur Aksa dengan sangat lembut.
Mendengar ucapan sang suami, Riana kini mendongak ke arah Aksa.
"A-anak perempuan itu ... datang lagi ke mimpi Ri."
Aksa mengeratkan pelukannya. Sebelum datang ke dalam mimpi Riana, anak perempuan itu datang ke dalam mimpi Aksa. Namun, Aksa tidak bercerita kepada sang istri. Dia tidak ingin istrinya sedih lagi.
__ADS_1
"Daddy!"
Teriakan anak itu membuat Aksa tersenyum. Dia berlari menghampiri Aksa. Tangan Aksa pun sudah terbuka lebar. Namun, ada penghalang yang membuat mereka tidak bisa bersentuhan langsung. Anak itu selalu ceria, seakan dia bahagia dengan rumahnya sekarang.
"Jaga Mommy ya, Dad. Jangan tinggalin Mommy. Kalau Daddy pulang telag kabarin Mommy. Kakak tidak ingin Mommy khawatir. Kakak juga tidak ingin melihat air mata Mommy menetes lagi. Ini bukan salah Mommy ataupun Daddy. Ini semua memang kehendak sang pemilik semesta."
Mimpi itu terjadi ketika Riana dirawat di rumah sakit ketika kekurangan cairan. Itu bukan seperti mimpi, tetapi sepeti nyata. Bagaimana tidak, anak itu seakan berada tepat di depannya. Dia terus bercerita dengan penuh gelak tawa, seperti anak-anak pada umumnya. Anak itu pun seakan tidak mau jauh dari dirinya. Penyekat itupun seakan tidak menghalangi kedekatan anak juga sang ayah muda tersebut. Aksa akan menjadi pendengar yang baik juga sesekali menimpali ucapan anak perempuan itu.
"Nak, tolong datang ke mimpi Mommy ya. Pasti Mommy rindu sama kamu. Ingin melihat kamu," pinta Aksa ketika anak itu menatap penuh cinta ke arah Aksa.
Anak itu dengan cepat mengangguk. Senyumnya sangat manis membuat hati Aksa teriris.
"Daddy bahagia sekaligus sedih. Coba kalau kamu hidup, pasti keluarga kita akan ramai."
Begitulah hati Aksa berkata.
"Daddy, ada atau tidaknya Kakak di dalam keluarga Daddy dan Mommy. Itu tak menjamin keluarga kalian bahagia. Sejatinya, kebahagiaan diciptakan oleh diri sendiri."
Anak itu bisa membaca isi hati orang lain. Seseorang berbaju putih datang menghampiri anak perempuan itu dan membawanya pergi dari Aksa.
"Kakak sayang Daddy."
Kalimat itu yang masih Aksa ingat sampai saat ini. Kalimat yang sungguh sangat menyayat hatinya dengan lambaian tangan serta senyuman khas yang dia miliki.
"Sayang, sudah ya. Kasihan anak kita," ucap Aksa seraya menghapus air mata sang istri. Dia mengecup kening Riana sangat lama.
"Lebih baik kamu istirahat," titah Aksa.
Riana membaringkan tubuhnya dengan tangan yang melingkar di perut Aksa. Wajahnya pun dia benamkan di dada sang suami tercinta. Belaian lembut tangan Aksa membawa kenyamanan untuknya.
"Cukup ya sedihnya," ucap lembut Aksa. "Kasihan calon anak kita yang sudah semakin tumbuh," tambahnya lagi.
Riana menatap sang suami dengan mata yang merah juga sembab. Aksa pun menatapnya dengan penuh kehangatan.
"Si Kakak sudah bahagia di sana. Sekarang, waktunya kita bahagiakan adiknya yang lebih membutuhkan kasih sayang kita berdua," ucapnya kembali.
Riana pun mengangguk pelan dan menghembuskan napas kasar. "Apa boleh besok kita ke makam Bunda?" Tanpa berpikir panjang Aksa pun menyetujuinya.
Keesokan sorenya, sesuai dengan keinginan sang istri, Aksa dan Riana pergi ke makam sang bunda. Sebelum pergi, Aksa dan Riana berkonsultasi terlebih dahulu kepada Iyan, adik Riana yang memiliki kelebihan melihat makhluk yang tak nampak.
"Tidak apa-apa. Iyan akan suruh Om Uwo jaga Kak Ri."
Begitulah yang dikatakan oleh Iyan. Tandanya masih di zona aman. Lagi pula Riana sudah sering meminta untuk ziarah ke makam sang ibu. Akan tetapi, Iyan selalu melarang karena kondisi kandungan Riana yang masih sangat muda. Terlalu berbahaya.
Mereka berdua berjalan beriringan dengan tangan yang saling bergandengan. Mereka sudah berdiri di samping makam yang bernamakan Amanda Maharani.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Bunda."
Ucapan salam yang terdengar berbeda di telinga Aksa. Nada bicara Riana seakan menyimpan kerinduan yang sangat mendalam.
Riana meletakkan bunga yang dia bawa di atas pusara sang ibu. Dia sudah berjongkok di samping pusara tersebut dengan tangan yang mengusap lembut Nissan berwarna hitam.
"Sudah lama ya, Bun." Bibir Riana pun tersenyum kecut.
"Jika, berhadapan dengan Bunda ... semua kata yang ingin Ri ungkapkan seakan sirna. Ri, tidak mampu mengutarakannya. Kalimat demi kalimat itu seperti tercekat di tenggorokan," adu Riana.
Tangan Aksa sudah mengusap lembut pundak sang istri, seakan memberikan kekuatan kepada Riana.
"Sebenarnya ... banyak sekali yang ingin Ri ceritakan kepada Bunda. Sudah banyak kalimat yang Ri rangkai untuk Ri sampaikan. Namun ...."
Tubuh Riana pun bergetar, Aksa merangkul istrinya yang tengah terisak. Kehilangan ibu seperti kehilangan separuh jiwanya. Sejahat apapun bundanya semasa hidup, beliau tetaplah wanita yang paling mulia bagi Riana dan juga Iyan. Beliau yang sudah Sudi mempertaruhkan nyawanya demi menghadirkan anak-anak yang luar biasa.
"Katakan saja, Sayang. Jangan dipendam sendirian." Kecupan hangat dan penuh kasih sayang Aksa berikan.
Riana menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum dia berbicara. Matanya terus memandangi pusara sang ibu.
"Semuanya sulit untuk dikatakan. Ri, hanya bisa menitikan air mata tanpa bisa berkata. Hati Ri masih terluka jika berada di depan pusara Bunda." Suara Riana bergetar. Namun, dia mencoba untuk melanjutkan ucapannya lagi.
"Bun, sebentar lagi Ri akan jadi seorang ibu. Sudah ada kehidupan di perut Ri. Kalau Bunda masih ada pasti Bunda akan sangat bahagia. Ini cucu pertama untuk Bunda." Helaan napas berat menjadi penjeda ucapannya.
"Sama halnya dengan Ayah yang selalu bawel kepada Ri karena Ayah tidak ingin terjadi sesuatu hal kepada calon cucunya." lanjutnya lagi dengan lengkungan senyum tipis yang terukir di wajahnya.
"Sepertinya Ayah lebih sayang sama cucunya dibanding dengan Ri." Tawa terpaksa pun keluar dari mulutnya.
Aksa mengusap lembut pundak sang istri lagi, membuat Riana malah memeluk erat tubuh Aksa. Dia menitikan air mata di dada bidang sang suami.
Riana akan selalu menangis jika dia mengunjungi pusara ibunya. Tempat yang menjadi rumah abadi untuk sang bunda seperti membawa luka tak kasat mata bagi Riana. Luka yang tak pernah ada obatnya.
"Bunda, doakan Riana dan calon anak kami, ya. Semoga semuanya baik-baik saja dan proses persalinannya dilancarkan tanpa ada halangan apapun. Abang yakin, Bunda tersenyum bahagia di atas sana," kata Aksa.
"Putri Bunda sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Abang yakin dia akan menjadi ibu yang hebat seperti Bunda."
Tangan Riana semakin erat melingkar di pinggang Aksa. Menandakan dia semakin terisak. Aksa menangkup wajah istrinya. Dia mengusap lembut air mata yang sudah membasahi wajah sang istri.
"Jangan menangis, Bunda akan sedih kalau setiap kali ke sini kamu menitikkan air mata." Sebuah kecupan mendarat di kelopak mata Riana bergantian.
Kini, tangan Aksa mengusap lembut perut Riana. Senyum pun melengkung indah.
"Nak, ini rumah Nenek. Kamu sekarang sudah ada di depan rumah abadinya. Ketika kamu lahir, Daddy janji akan bawa kamu ke sini dan berkenalan dengan Nenek. Meskipun Nenek hanya tinggal nama dan pusara, Daddy yakin Nenek akan selalu menjaga kamu dari atas sana. Sehat terus ya, Nak. Esok atau lusa bukan hanya Daddy dan Mommy yang ke sini, tapi kamu juga."
...****************...
__ADS_1
Komen dong ...