Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Dikira Sahabat, tapi ....


__ADS_3

"Apa-apaan ini?" Bian mencoba untuk memberontak, tetapi kedua pria tersebut semakin mencengkeram tubuhnya dengan sangat kuat.


Setelah tiba di parkiran, satu orang melepaskan cengkeramannya dan memutari mobil sedangkan pria yang satunya lagi masih menahan tubuh Bian. Ketika pintu mobil sudah dibuka, pria tersebut mendorong tubuh Bian dengan sangat keras hingga dia mengaduh. Pria itu pun duduk di samping Bian karena dia tidak ingin Bian kabur.


"Maksud kalian apaan?" bentak Bian ketika mobil sudah melaju dengan kecepatan cukup tinggi karena jalanan sudah sangat sepi.


"Sebenernya gua bermaksud untuk bunuh lu," jawab si pengemudi mobil dengan senyum tipisnya. "Tapi, gua masih punya hati dan ego gua gak tinggi."


Mulut Bian terkunci rapat mendengar ucapan dari pria tersebut. Kini, dia menatap ke arah pria yang berada di sampingnya.


"Tujuan gua sama dia sama, tapi gua masih ingat dosa," ketusnya.


"Sebenci itukah kalian sama gua?" lirih Bian.


Mobil yang pria tampan kendarai itu pun berhenti mendadak mendengar pertanyaan bodoh macam itu.nken pun menginjak rem dengan sangat keras.


"Harus lu tanya? Hah!" pekik Ken yang sudah tidak bisa menahan emosinya.


"Lu anggap apa persahabatan kita?" geram Ken dengan wajah yang sudah memerah.


"Makan satu piring bersama pun pernah kita lakukan. Berbagi satu potong roti pun pernah kita alamin. Apa lu udah amnesia? Sehingga lu jadi manusia keji seperti ini?" Suara Ken sudah meninggi. Menandakan dia teramat marah kepada Bian.


"Askara ... anak yang berpura-pura susah ternyata orang kaya raya. Anak yang banyak membantu kuliah kita dari segi finansial. Anak yang udah merubah hidup kita yang tadinya nongkrong cuma bisa makan mie instan, sekarang bisa makan makanan mahal." Juno menerangkan dengan suara yang sangat tenang. Dibanding Ken dan Aska, Juno adalah pria yang bisa mengontrol emosinya dengan baik.


"Anak yang banyak berkorban, anak yang hanya menuntut ketulusan dalam sebuah persahabatan. Anak yang tidak neko-neko dan memiliki simpati dan empati tinggi. Namun, sangat disayangkan ... ada orang yang dia anggap sahabat malah menikungnya dan mendorongnya ke dalam jurang kesakitan yang sulit untuk disembuhkan."


Plak!


Seperti tamparan yang sangat keras ucapan Juno tersebut. Bian hanya terdiam, dia pun menunduk dalam. Ken menyalakan mesin mobil kembali dan membawa mobil tersebut bagai pembalap profesional.


Mobil berhenti di sebuah hotel sederhana di mana dua orang itu bermalam di tempat itu. Bian sama sekali tidak memberontak, dia mengikuti ke mana langkah kaki kedua sahabatnya menuju. Di sebuah kamar hotel double bed, Bian ikut masuk dan duduk di sofa yang berada di dalam kamar. Ada sebuah laptop yang baru saja Ken nyalakan hingga Ken membuka satu buah folder yang membuat mata Bian melebar dengan sempurna.


"Ibu Weni, nyokap lu," ujar Ken seraya menatap Bian yang membeku.

__ADS_1


Wanita paruh baya yang tengah duduk di kursi roda yang tengah diperiksa oleh seorang dokter. Hati Bian sedih ketika melihat sang ibu yang harus terus berjuang melawan sakitnya.


"Selama ini, nyokap lu mendapat pengobatan gratis dari salah satu rumah sakit besar di Jogja. Tak sepeser pun uang yang lu keluarkan ketika membawa nyokap lu ke rumah sakit," terang Ken.


"Apa lu gak curiga?" tanya Ken. Sontak Bian menoleh ke arah Ken dengan dahi yang mengkerut tak mengerti.


"Mana ada zaman sekarang rumah sakit swasta menggaratiskan pengobatan untuk pasiennya. Apalagi pengobatan rutin hampir lima tahun." Seketika Bian berpikir menggunakan otaknya. Apa yang dikatakan oleh Ken memang benar. Apalagi rumah sakit yang memberikan kebebasan biaya adalah rumah sakit internasional.


"No," panggil Ken. Juno pun menghampiri Ken dengan membawa beberapa lembar kertas putih yang sudah distreples. Dia menyerahkannya kepada Ken.


"Lu baca dengan seksama dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya," sinis Ken yang sudah memberikan kertas itu kepada Bian.


Lembar demi lembar kertas itu Bian baca. Dia terdiam dan hatinya seperti dipukul balok yang sangat panjang dan juga besar.


"Lu lihat nama yang menerima tagihan pengobatan nyokap lu siapa?" Ken menatap nyalang ke arah Bian. "Askara!" bentak Ken dengan nada yang sudah marah.


Kertas di tangan Bian pun terjatuh. Apa yang dikatakan oleh Ken benar adanya. Apalagi melihat total pembiayaan yang sengaja Juno totalkan.


Ken mengambil kertas yang sudah terjatuh itu. Kemudian mencari tanggal terakhir di mana ibunda Bian harus check up. "Lu lihat ini!" pekik Bian.


"Kalau gua jadi Aska, gua sudahi kebaikan gua itu. Toh, orang yang gau baikin pun malah jahat sama gua. Namun, Aska bukan tipe orang seperti itu," tutur Ken.


Biaya ibundanya check up kian tahun kian naik. Sekarang sudah kisaran lima juta dan Aska masih mau menanggungnya. Bian benar-benar terkejut menerima kenyataan ini.


"Tugas gua dan Ken cuma ingin menyadarkan lu akan kesalahan yang sudah lu lakukan kepada Askara," imbuh Juno.


Bian masih diam seribu bahasa, mencerna ucapan Ken dan Juno dengan seksama. Tatapannya masih pada kertas putih dengan berisikan angka-angka yang tidak sedikit jumlahnya.


"Lu masih ingat gak ketika hari di mana nyokap lu nangis dan terpuruk sampai gak mau makan selama seminggu," kata Juno. Melihat tidak ada respon dari Bian, dia pun melanjutkan lagi ucapannya. "Lu juga masih inget gak ketika lu hampir di DO gara-gara nunggak uang kuliah," tambahnya lagi.


Lagi-lagi Bian terdiam. Memorinya berputar ke empat tahun yang lalu. Di mana ayahnya pergi dipanggil Tuhan, ibunya yang semakin parah sakitnya dan dia mendapat surat peringatan terakhir karena terus menunggak uang kuliah. Di situlah dia yang sudah menyerah padahal dia sudah bekerja paruh waktu. Namun, uang itu hanya bisa dia gunakan untuk pengobatan ibunya juga uang untuk makan sehari-hari.


"Apa lu masih belum terbangun dari hibernasi lu?" sergah Ken.

__ADS_1


Tangan Juno sudah berada di pundak Bian. Tangannya membuka sebuah video empat tahun lalu di mana Aska datang ke rumah Bian dan menghadap ibu dari Bian tersebut.


"Kalau lu masih belum ingat, lu tonton video ini sampai habis. Di menit 05:23 lu dengar ucapan orang yang telah lu sakiti." Mata Bian kini terfokus pada layar laptop. Juno hanya dapat menghela napas kasar. Dulu mereka sedekat Desember ke Januari, tapi sekarang mereka sejauh Januari ke Desember.


Di menit kelima dua puluh tiga detik Aska berbicara, " Tante, jangan khawatir. Insha Allah aku akan membantu biaya keuangan kuliah Bian sampai dia lulus kuliah. Biaya pengobatan Tante pun insha Allah akan aku tanggung semua sampai Tante sembuh. Aku janji itu, Tante." Sebuah pelukan haru mengakhiri video tersebut dan di sana Bian merasa ditampar sangat keras.


"Lu tahu kenapa gua merekam kejadian itu?" tanya Ken yang sudah berbicara dengan nada rendah. Bian tidak menjawab, dia hanya menatap Ken.


"Aska takut kalau dia lupa akan janjinya. Video itu adalah jejak digital yang akan menjadi alarm untuknya," lanjutnya lagi.


Sudah ditampar kini hati Bian seakan ditusuk belati tajam mendengar kenyataan yang ada. Dia benar-benar menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan.


"Lu lihat ini!" Ken menunjukkan hasil visum dari salah satu rumah sakit perihal luka lebam yang diderita Aska.


"Kalau gua yang ngalamin itu, gua gak akan pernah Mandang lu sebagai sahabat gua lagi. Pasti akan gua laporin lu ke pihak yang berwajib atas pasal penganiayaan. Apalagi, keluarga Aska adalah orang berduit dengan mudahnya mereka tinggal menunjuk pengacara juga menuntut lu dengan hukuman yang berat," sinis Ken.


Rasa takut kini sudah menjalar di hati Bian. Dia takut jika itu benar terjadi dan bagaimana nasib ibunya juga Jingga jika di dipenjara.


"Tapi, sayangnya Aska masih menganggap lu sahabat dan dia gak mau memperkarakan lu. Padahal, si Abang Sultan sudah berapi-api untuk memenjarakan lu. Dia juga sudah menunjuk tujuh pengacara hebat untuk menangani masalah adiknya itu."


Deg.


Aska memang orang yang baik, tapi tidak dengan abangnya yang seperti Monster menyeramkan jika sudah murka. Apapun bisa dia lakukan.


"Harusnya lu bersyukur memiliki teman yang sepeduli itu, bukan malah lu nyakitin dia dengan sikap lu yang menjijikan itu!" Ken benar-benar sangat marah kepada Bian.


"Gua kira kita sahabat selamanya, tetapi semuanya harus hancur ketika lu bertindak tanpa menggunakan otak."


Jleb.


Perkataan Juno sangatlah menyakitkan.


...****************...

__ADS_1


Scroll ke bawah masih ada ya kelanjutannya. Tapi, jangan lupa komen di bab ini.


__ADS_2