
Hari ini, rumah Ayanda sudah dipenuhi banyak orang. Keluarga besar Ayanda juga Giondra serta Rion sudah berkumpul di rumah besar milik Gio. Mereka sudah mengenakan pakaian yang senada.
"Dek, ini baju pesanan kamu buat otw calon mantu Mommy."
Aska hanya tersenyum. Dia menerima baju dari ibunya. Baju yang hanya akan jadi sebuah kenangan yang menyakitkan.
"Maafkan Adek, Mom. Otw calon mantunya gagal," lirih Aska.
Ayanda tersenyum dan mengusap lembut pundak sang putra. "Jangan sedih, Nak. Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untuk kamu, tapi belum saatnya saja kalian dipertemukan," tuturnya.
Sebuah kalimat yang membuat hati Aska menghangat. Dia menatap sang ibu dengan penuh cinta.
"Acara sudah akan dimulai. Kita harus bergabung ke sana."
Acara empat bulanan kandungan Riana berjalan dengan sangat khidmat dan khusyuk.
Dalam acara tasyakuran 4 bulanan, ada banyak ayat-ayat suci Alquran yang bisa dibacakan. Biasanya ayat-ayat yang dibaca diniatkan untuk kebaikan janin dalam kandungan. Khususnya, bacaan surat untuk ibu hamil yang berusia 4 bulan, yakni:
QS. Al-Fatihah ayat 1-7
QS. Al-Mukminun ayat 12-14
QS. Al-Baqarah ayat 233
QS. Al-Ahqaf ayat 15
QS. Maryam ayat 18-22
QS. Yusuf ayat 1-6
Surat-surat tasyakuran 4 bulanan yang dibacakan di atas dimaksudkan agar bayi dalam kandungan Moms mendapatkan manfaat kebaikan serta keberkahan.
Setelah semua rangkaian acara selesai dilaksanakan, semua tamu undangan diperbolehkan untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia. Riana dan Aska terus melengkungkan senyum bahagia.
Banyak pujian yang berdatangan karena kecantikan ibu hamil juga ketampanan sang calon ayah muda. Tangan Aksa terus merengkuh pinggang sang istri tercinta.
"Pegal gak, Yang?" Riana menggeleng seraya menatap sang suami.
Aksa membawa Riana untuk duduk di samping kakak tercinta mereka yang tengah mengurus ketiga anaknya yang sedang ribut masalah makanan.
__ADS_1
"Mau asinan?" tawar Aksa. Riana menggeleng.
"Mau apa dong?" tanya Aksa.
"Belum ingin apa-apa, Bang." Tangan Riana sudah merangkul lengan Aksa dengan sangat erat.
"Si Adek mana?" tanya Radit.
Semua orang tersadar akan ketidak beradaan Aska di sana. Aksa sudah mau mencari adiknya, tetapi sang ibu yang baru saja bergabung dengan mereka berkata, "si Adek lagi di ruangan Daddy."
Aksa bisa bernapas lega, dia kembali duduk bersama sang istri. Begitu juga Riana yang kini sudah bermanja dengan sang suami.
Di ruangan kerja Gio, Aska sudah menghadap sang ayah. Dahi Gio mengkerut ketika melihat Aska sudah ada di depannya.
"Ada apa, Dek? Tumben kamu mau menemui Daddy," sergah Giondra.
"Adek ingin mengatakan sesuatu kepada Daddy" ucapnya.
"Silakan."
Aska menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum dia memulai ucapannya.
Bagai mendapat door prize Gio mendengarnya. Bibir Gio melengkung dengan sempurna.
"Kamu serius?" Aska pun mengangguk.
"Mulai besok, kamu udah bisa masuk ke perusahaan Daddy, biar Abang kamu yang mengajarkan hal-hal dasarnya."
Gio merasa sangat bersyukur karena Aska mau masuk ke dalam perusahannya. Tanpa paksaan ataupun ancaman dari dirinya. Aksa sengaja tidak memberitahukan kepada sang ayah agar keputusan Aska menjadi surprise yang tak terkira untuk ayahnya.
Setelah membicarakan keinginannya kepada sang ayah, Aska memilih masuk ke dalam kamar. Di atas tempat tidur masih ada baju yang sudah Mommy-nya buatkan untuk Jingga. Pikiran Aska berputar pada acara sesi foto tadi. Di mana semua orang berfoto bersama.
"Jika, kamu datang ke sini. Mungkin suasana akan berbeda."
Otaknya masih memikirkan Jingga, tetapi dia berusaha untuk melepaskan semuanya. Meskipun teramat sulit.
Suara pintu terbuka terdengar, sudah ada Ken dan Juno yang masuk ke kamar Aska. Mereka berdua baru saja datang ke acara empat bulanan Riana.
"Mereka pindah lagi ke Jogja," imbuh Ken.
__ADS_1
Aska menatap ke arah Ken dengan senyum yang dipaksakan.
"Biarkanlah."
Aska sungguh sudah tidak ingin tahu menahu perihal sepasang suami-istri dadakan tersebut. Namun, Ken malah memberitahukannya.
"Are you okay?"
Pertanyaan Juno membuat Aska tersenyum penuh arti.
"I will try to okay."
Jawaban yang membuat Ken dan Juno terdiam. Senyum yang Aska tunjukkan bukanlah senyum kebahagiaan. Bukan juga senyum yang seperti biasanya.
"Mumpung ada kalian di sini. Gua mau ngomong sesuatu," ucap Aska serius.
Ken dan Juno mengerutkan dahi mereka. Mereka berdua sedikit merasa aneh dengan cara bicara sahabatnya ini.
"Mulai besok, gua serahin Jomblo's Kafe ke lu berdua," ucapnya.
Sontak kedua sahabat Aska terkejut mendengarnya. "Jangan bercanda, Ka," ucap Ken.
"Gak lucu tau," tambah Juno.
"Gua serius. Gua akan masuk ke perusahaan Daddy gua."
Kedua sahabat Aska hanya terdiam. Dia tidak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh Aska. Anak yang keras kepala ingin mendirikan kafe sendiri, kini sudah berubah haluan.
"Gua percaya sama kalian. Tolong kembangkan kafe yang sudah kita bangun dari nol."
Inilah salah satu cara bagi Aska untuk melupakan Jingga. Terlalu banyak kenangan yang Jingga ukir di ruangannya. Sudah saatnya Aska mencari kebahagiaannya.
"Menyibukkan diri adalah cara yang paling ampuh untuk melupakanmu. Meskipun aku tahu, itu tidak akan mudah dan berhasil dalam waktu dekat."
...~Askara~...
...****************...
Komennya jangan lupa ....
__ADS_1