Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Dua Pria


__ADS_3

Di lain tempat, seorang pria paruh baya yang masih terlihat bugar hanya bisa menunduk dalam. Terlalu emosi membuatnya tak berpikir jernih. Semalam putri tercintanya tidak pulang ke rumah.


"Iyan, kamu tahu 'kan di mana Kak Ri?" tanya Rion yang kini duduk di samping Iyan.


"Nggak."


Satu kata yang mengandung aura kemarahan. Tatapan Iyan masih tertuju pada gadget di tangannya.


"Iyan, Ayah mohon, " lirih Rion.


"Kenapa Ayah memohon sama Iyan? Iyan bukan dukun yang tahu keberadaan Kakak," tukasnya.


Iyan bangkit dari duduknya meninggalkan Rion seorang diri. Semenjak kemurkaan Rion pada Riana di Minggu pagi, keadaan rumah semakin sepi. Riana yang dibawa pergi dan si triplets enggan untuk tidur di rumah ini.


Rion hanya bisa menghela napas kasar. Keterangan Aksa pada media dengan memperlihatkan bukti yang mencenangkan tentang prahara rumah tangganya. Belum lagi, hari ini dia ikut terkejut dengan pemberitaan di media. Kehadiran Genta Wiguna menjawab semua rencana licik yang dimainkan oleh Mahendra dan juga Sarah. Bukan karena sakit hati atau balas dendam, tetapi karena ingin sebuah pengakuan atas benih yang telah ditanam oleh adik dari Mahendra sendiri.


Rion sudah salah menilai Aksa. Dia terlalu egois hingga menyebabkan putrinya menangis. Membentaknya dan memberikan pilihan yang sangat sulit.


"Ri, di mana kamu?" gumamnya.


Iyan menatap nanar ke arah sang ayah yang berada di lantai bawah. Dia tidak bermaksud menyembunyikan keberadaan kakaknya. Dia hanya ingin sang kakak menenangkan diri, itu saja. Sudah pasti psikis kakaknya sedikit terguncang.


Rion memutuskan untuk pergi ke rumah Arya. Hanya aura dingin yang Rion rasakan di sana.


"Kenapa? Nyesel?" hardik Arya.


"Bhas, gua mohon."


Arya masih bergeming. Dia melipat kedua tangannya di atas dada. Menatap Rion dengan tatapan tajam.


"Lu sudah meragukan anak lu hanya karena sebuah berita yang belum tentu benar. Lu udah nuduh pria yang rela mundur ketika lu ngasih dua pilihan yang sulit kepada Riana, supaya Riana bisa memilih ayah kandungnya. Apa dari situ lu belum bisa merasakan ketulusan yang Aksa miliki untuk Riana?"


"Sekarang lu lihat! Aksa mati-matian mengungkapan kebenaran yang ada dengan bukti yang dia pegang. Semua yang lu tuduhkan itu salah," terangnya.


"Aksa tidak seberengsek lu Rion Juanda!" geram Arya.


Arya benar-benar marah sekarang ini. Di mana dia harus melihat kembali Rion memarahi anak perempuannya. Sudah cukup dulu Arya menyaksikan Rion menampar Echa dan sekarang, Rion pun sudah tidak bisa mengendalikan emosinya kepada Riana.


"Echa dan Riana emang bukan anak gua, tetapi kasih sayang gua kepada mereka sama seperti ke anak kandung gua sendiri," imbuhnya.

__ADS_1


Arya menghela napas kasar, dia harus bisa mengendalikan emosinya. Dia memang konyol, tetapi dia memiliki sisi ketegasan yang tidak terkalahkan.


Di lain tempat, seorang pria yang baru saja turun dari mobil bergegas masuk ke dalam rumah yang cukup besar. Sambutan hangat dari para pekerja hanya dijawab anggukan kecil olehnya. Dia menuju ke lantai atas dengan sedikit berlari.


Tangannya sudah menekan kenop pintu. Hatinya teriris ketika melihat perempuan yang dia sayangi meringkuk bagai bayi kedinginan. Tanpa selimut yang menutupi tubuhnya. Berjalan pelan mendekat ke arah ranjang. Dia melihat ke arah nakas. Makanan masih utuh dan tak tersentuh.


Dia duduk di samping ranjang, memperhatikan setiap inchi demi inchi wajah sendu perempuan itu. Tangannya mulai mengusap lembut rambut Riana.


"Sayang." Suara Aksa sangat lembut dan pelan.


Sebenarnya dia tidak ingin mengganggu Riana, tetapi dia juga tidak ingin Riana kelaparan. Merasakan usapan lembut di kepala, Riana mencoba membuka mata. Seorang pria yang tersenyum hangat kepadanya.


Mata Riana mulai berkaca-kaca dan Aksa membantu membangunkan Riana, kemudian memeluknya.


"Jangan menangis, aku gak suka," ucap Aksa.


Tangisan itu semakin menjadi, membuat Aksa menghela napas berat. "Menangislah hanya di pundak ku. Dan tertawa lah hanya ketika bersamaku."


Sebuah kalimat yang membuat Riana menghentikan tangisnya. Dia mengurai pelukannya dan menatap sendu ke arah Aksa.


"I love you so much." Tangan Aksa mengusap lembut air mata Riana. Kemudian, bibirnya dia daratkan di kening Riana dengan sangat lama.


"Sekarang makan dulu, ya. Apa mau makan di luar?" Riana hanya menggeleng.


Setelah selesai, Aksa terus mendekap tubuh Riana seakan enggan melepaskan. Dia tidak membicarakan perihal masalahnya yang sudah menemukan titik terang. Pada nyatanya, masalah itu belum seratus persen selesai. Dia ingin memperjelas statusnya terlebih dahulu. Agar Riana pun tidak selalu menjadi bahan gunjingan orang lain.


"Aku antar kamu pulang, ya." Riana yang sedang membenamkan wajahnya di dada bidang Aksa mendongak ke atas. Menatap manik cokelat milik Aksa.


"Ayah pasti sedih. Sudah hampir dua malam kamu tidak pulang," imbuh Aksa lagi.


"Tapi ...."


"Kamu takut?" Riana tidak menjawab, tetapi sorot matanya dapat menjawab kegundahan hatinya.


"Aku jamin, Ayah tidak akan marah lagi sama kamu. Kalau Ayah berkata kasar lagi, aku akan membawa kamu dan tidak akan pernah mengembalikan kamu kepada Ayah," tegasnya.


Riana masih terdiam, dia masih menimbang-nimbang semuanya. "Mau ya?" Aksa memohon kepada Riana.


"Kasihan si triplets harus tidur di rumah sakit lagi kalau kamu gak pulang," ungkap Aksa.

__ADS_1


Mendengar ketiga keponakannya, hati Riana mulai melemah. Akhirnya dia menyerah, menuruti permintaan Aksa.


"Aku hubungi Bang Rindra dulu, soalnya mereka ada di rumah Bang Rindra." Riana mengangguk pelan. Dia pun meletakkan kepalanya kembali di dada bidang Aksa. Tempat yang memberikannya kenyamanan serta perlindungan.


Aksa pun tidak merasa terganggu malah bibirnya tersungging dengan sempurna. Padahal dia sedang menghubungi om dari si triplets.


"Udah, jangan cantik-cantik," ucap Aksa yang memeluk Riana dari belakang yang tengah menyisir.


"Cantik dari mana? Mata aku udah bengkak begini," jawabnya sambil memanyunkan bibirnya.


Aksa pun terkekeh dan membalikkan tubuh wanita yang dia sayangi.


"Si Puteri nangis." Perkataan Aksa mampu membuat Riana tertawa dan melingkarkan tangannya di pinggang Aksa.


Mereka menuju kediaman Rindra Addhitama terlebih dahulu sebelum ke rumah Riana. Namun, Riana tidak ingin turun. Dia malu karena matanya yang sembab dan lingkar matanya menghitam.


"Uncle, mana Aunty?" tanya Aleesa.


"Ada di dalam mobil." Aleesa yang hendak ke arah mobil dicegah oleh Aksa.


"Pamit dulu dong." Aleesa menepuk keningnya dan berbalik arah mencium tangan Rindra dan Nesha. Di mana Aleena dan Aleeya sudah selesai berpamitan kepada mereka.


"Uncle Papih, Aunty Mamih, Eeya pulang dulu, ya. Love you." Aleeya mencium pipi Rindra dan juga Nesha bergantian. Lalu, melambaikan tangan.


"Wah keren," puji Rindra kepada Aksa yang hendak berpamitan.


Aksa hanya menjawab dengan seulas senyum. Lalu, dia pamit karena ketiga kurcaci kesayangannya sudah berteriak tidak sabar. Selama perjalanan pulang, suasana mobil terasa bising membuat Riana tertawa lepas mendengar ocehan ketiga keponakannya.


Tibanya di rumah, Aksa mengernyitkan dahi ketika melihat ada mobil yang tidak dia kenali terparkir di halaman rumah Rion. Aksa menatap ke arah Riana, hanya gelengan kepala yang menjadi jawabannya.


Tangan Aksa terulur ke arah Riana dan disambutnya. Aksa selalu mengerti kondisi hati Riana yang masih menyinpan ketakutan. Sedangkan tiga kurcaci itu sudah masuk ke dalam rumah melalui pintu samping. Dengan alasan mereka tidak ingin bertemu dengan Rion.


"Assalamualaikum."


Ucapan salam itu membuat dua orang pria yang tengah berbincang, seketika menoleh. Senyum keduanya mengembang. Sedangkan mata Riana membola ketika melihat pria muda yang tengah bersama sang ayah.


"Arka."


...----------------...

__ADS_1


Udah 1200 kata, ngopi dulu lah 😁


Kalo hari ini komen sedikit, besok jangan nyariin aku, ya. 😁


__ADS_2