Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Gavin Dan Ghea


__ADS_3

Riana sudah berkecil hati ketika mendengar kabar Aksa meninggal. Hidupnya seperti hancur seketika. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan tanpa kehadiran Aksara. Namun, melihat Gavin membuatnya kembali bangkit. Dia harus bisa menjadi ibu yang kuat. Begitulah pikirannya kemarin. Kabar yang membuat hatinya hancur seketika.


Namun, Tuhan seakan hanya ingin mengajaknya bercanda. Semuanya tidak terjadi dan Aksa masih bisa kembali kepadanya juga kepada keluarganya. Aksa terus menggenggam tangan Riana dan mengecup punggung tangan itu sangat dalam. Hanya kebahagiaan yang mereka berdua rasakan.


Keesokan paginya, keluarga mereka sudah berkumpul semua di kamar perawatan Riana karena ingin melihat bayi yang dilahirkan oleh Riana. Sepasang suami-istri itu menjadi manusia menyebalkan sekarang ini. Merahasiakan jenis kelamin sang bayi yang baru lahir ke bumi. Tidak seorang pun yang bisa melihat wajah anak kedua Aksara.


Riana baru saja selesai berganti baju. Dia didampingi oleh Aksa, mereka sama-sama mendampingi satu sama lain. Bukannya keluarga tidak ingin membantu, tetapi mereka yang tidak mau.


"Udah bisa jalan emang, Ri?" kata sang ayah.


"Bisa, Yah. 'Kan dibantu sama Abang." Aksa pun tersenyum.


"Perban sudah diganti?" tanya Gio.


"Sudah, Dad. Tadi, Riana yang ganti perbannya."


Lengkungan senyum terukir di wajah semua keluarga Aksa maupun Riana. Mereka benar-benar pasangan yang


bukan hanya ada di dalam suka saja. Namun, di dalam duka pun mereka saling melengkapi.


"Makan dulu." Ayanda sengaja membawakan bubur ayam untuk anak dan menantunya. Sedangkan sang putra tengah memakan bubur itu dengan sangat lahap karena itu adalah makannya kesukaannya.


"My, Adek kapan di bawa ke sini?" Gavin sudah tidak sabar. Riana dan Aksa hanya tersenyum bahagia.


"Sebentar lagi kayaknya."


Setengah jam berselang, suara roda terdengar. Pintu ruang perawatan Riana juga Aksa terbuka. Semua mata tertuju pada boks bayi yang tengah didorong oleh perawat.


"Mau lihat!" Gavin berlari menuju boks bayi. Semua orang pun mengerumuni boks bayi tersebut.


"Masha Allah."


"Imut banget."


Pujian demi pujian keluar dari mulut mereka semua. Gavin mengerutkan dahi ketika melihat adiknya ini.


"My, ini adik atau kakak aku?" Pertanyaan Gavin membuat semua orang terdiam. Apa maksud dari pertanyaan balita ini?


"Ini adik Mas Agahalah," ucap Ayanda.


"Mukanya milip Kak Aish. Iya, ini mah Kak Aish."

__ADS_1


Semua orang saling pandang mendengar ucapan dari Gavin. Mereka tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Gavin.


"Aish?" tanya beberapa orang.


"Aishlaa adalah kembaran Agha yang sudah gugur."


Semua orang pun hanya ber-oh saja ketika mendengar penjelasan dari Aksa.


Namun, hati Riana dilanda kesedihan ketika mendengar nama Aish. Sekarang, dia sudah memiliki pengganti putrinya, Aishlaa. Bisa menemani Gavin, kakaknya.


"Dulu, kamu menjadi kakaknya Gavin. Sekarang, kamu menjadi adiknya Gavin."


Senyum mereka di wajah Riana. Hidupnya teras sangat sempurna sekarang ini.


Mata Ayanda kini melebar dan menatap anak menantunya penuh keingintahuan tahuan. "Berarti cucu Mommy-"


Aksa dan Riana tersenyum dan Ayanda mengucapakan syukur yang tak terkira. Akhirnya doa Gavin terkabul. Asik Gavin adalah perempuan.


"Yeay! Adik aku cewe." Gavin terlihat sangat bahagia.


Sedari tadi Gavin terus memandangi wajah cantik adiknya yang mampu membuat Gavin jatuh hati pada pandangan pertama.


"Namanya siapa, Ri?" tanya Beby.


"Ghea Auvki Wiguna."


"Namanya cantik, sama seperti orangnya." Beby terlihat sangat gemas kepada baby Ghea yang berbibir merah merona.


"Kebiasaan nih si Riana kalau lahiran," oceh Aska. "Numpang lahir Mulu anak-anaknya. Biar keren di akta kelahirannya kali." Orang-orang itupun tertawa keras mendengar Omelan Aska.


Satu Minggu berselang, Aksa dan Riana sudah kembali ke rumah yang Gio sewa untuk mereka tinggali selama empat puluh hari ke depan. Baby Ghea belum boleh melakukan penerbangan.


Riana mengurus Ghea maupun Gavin seorang diri tanpa bantuan nanny. Aksa pun ikut membantu istrinya dalam menjaga Gavin. Semenjak punya adik, Gavin semakin aktif.


"My, aku ingin makan." Riana yang baru saja menidurkan Ghea mengangguk. Dia mengambilkan Gavin makan. Hanya dengan sayur dan lauk seadanya. Namun, Gavin tidak pernah menolak.


Sang ayah tengah melakukan meeting online jadi tidak bisa diganggu sama sekali.


"Mommy gak makan?" Riana tersenyum dan mengusap lembut Gavin.


"Mommy mau nyuci baju adek dulu, ya." Gavin pun mengangguk.

__ADS_1


Selesai makan dengan hanya sayur bayam dan juga ayam goreng, Gavin menuju kamar ibunya. Dia melihat Ghea tengah terlelap di atas tempat tidur yang dihalangi guling. Pelan-pelan Gavin naik ke atas tempat tidur. Dia menyingkirkan guling yang membatasinya dengan Ghea.


"Adek cantik, jangan nakal, ya. Mommy Lagi nyuci. Biarkan Mommy makan dulu. Kasihan Mommy."


Baby Ghea semakin merapatkan matanya mendengar ucapan dari sang kakak. Gavin yang hanya memandang adiknya, kini ikut merebahkan tubuhnya di samping tubuh Ghea. Dia pun ikut terlelap.


Riana yang baru saja selesai mencuci pakaian kembali masuk ke dalam rumah. Di meja makan hanya menyisakan makanan yang Gavin masih makan Saja. Sedangkan Gavin sudah tidak ada.


"Mas," panggil Riana. Anak itu tak kunjung menyahut membuat hati Riana berdegup sangat kencang. Dia memeriksa pintu luar. Takut Gavin keluar melalui sana. Namun, semua pintu tertutup.


Riana sudah panik dan alhasil dia mengetuk pintu ruang kerja sang suami. Aksa segera membukakan pintu dan dia tersentak melihat istrinya terlihat sangat panik.


"Kenapa, Sayang?"


"Mas Agha gak ada."


Sontak Aksa pun tak tinggal diam. Dia segera mencari sang putra. Riana ke kamarnya terlebih dahulu memastikan Ghea masih terlelap. Ketika Riana membuka pintu kamar alangkah terkejutnya ketika dia melihat sang putra tengah tidur bersama Ghea di atas tempat tidurnya.


"Masha Allah, Mas. Jantung Mommy hampir copot nyari kamu, ujar Riana."


Dia menghampiri Gavin juga Ghea dan mengecup kening Kedua anak-anaknya penuh dengan cinta.


"Makasih sudah hadir di dalam hidup Mommy."


Aksa dengan cukup keras membuka pintu kamar membuat Riana mendekatkan telunjuknya ke arah bibirnya. Mata Aksa melebar melihat putranya ternyata tertidur di kamarnya bersama sang putri. Tubuh Aksa luruh ke lantai karena dia panik mencari putranya yang tak kunjung ada.


"Ya Allah, lemas banget ini badan," ucapnya. Riana tersenyum dan ikut duduk bersama suaminya di lantai.


"Maaf ya, udah merepotkan." Aksa malah tersenyum dan mencubit gemas hidung Riana.


"Tidak ada kata repot untuk anak-anak. Kita harus saling bahu membahu menjaga mereka." Riana pun tersenyum mendengar ucapan dari Aksara.


"Kalau kamu lelah, kita cari pembantu."


"Enggak!" Riana benar-benar menolak. "Mau nyuruh para wanita ganjen di depan sana itu, iya?" Mata Riana sudah melotot bagai mata Suzzana.


Aksa malah tertawa melihat kegarangan sang istri. "Gak gitu juga, Sayang."


"Lebih baik Ri capek tenaga daripada capek hati," ujar Riana. "Ri, kira hidup di sini lebih aman malah sebaliknya."


Pesona Aksa tak terbantahkan. Banyak wanita yang mengagumi ketampanan seorang Aksara. Semuanya memuji Aksa. Apalagi, jika Aksa keluar rumah, sudah seperti melihat artis. Itulah yang membuat Riana tidak memperbolehkan suaminya keluar rumah.

__ADS_1


__ADS_2