
Keesokan harinya, konferensi pers balasan Mahendra lakukan. Hanya Mahendra seorang diri yang berada di sana. Dia didampingi para pengacara ternama serta beberapa ahli telematika untuk melakukan klarifikasi. Para awak media sudah memenuhi tempat diadakannya konferensi pers.
"Video itu bukan video anak saya." Mahendra sudah membuka suara.
"Itu hanya akal-akalan dari pihak suami putri saya agar dia lepas dari tanggung jawab," ucapnya lagi.
Di tempat yang sama, tetapi di ruangan berbeda empat pria muda sedang tertawa terbahak-bahak melihat tayangan di layar laptop di atas meja. Apalagi mendengar penuturan dari Mahendra, membuat bibir mereka terus mencibir.
"Aktingnya luar biasa," cibir Fahri.
"Kayaknya klien saya kalah deh. Pengacaranya senior semua. Apalah saya, cuma pengacara remahan," imbuh Christian.
"Hebat ya, ada ahli telematika segala. Holang kaya," ucap Aska.
Bukannya takut mereka malah tertawa mengejek. Sebenarnya apa yang sedang empat orang ini rencanakan?
Kembali ke konferensi pers, Mahendra mulai menunjukkan foto-foto Aksa yang tengah tertidur bersama Ziva. Foto mesra mereka terlihat jelas. Para awak media pun semakin menyorot ke arah foto yang diperlihatkan.
"Rencananya pihak sana mau melakukan tes DNA. Apa pihak Anda siap?" Pertanyaan dilontarkan oleh salah satu wartawan.
"Kenapa tidak siap? Saya jamin seribu persen hasil DNA sama dengan Aksara."
"Bagaimana dengan video itu?" tanya wartawan yang lainnya.
__ADS_1
"Itu bukan anak saya. Itu video wanita yang jadi selingkuhan Aksara. Mereka sengaja mengedit video tersebut," jawab Mahendra dengan wajah yakin.
"Ini video aslinya," tunjuk Mahendra ke arah layar putih.
Video pun diputar, Mahendra sangat percaya diri sekali dan tidak ingin melihat ke arah belakang di mana layar putih yang membentang itu ada.
"Nikmat sekali, Ziva. Nikmat sekali."
Suara yang dijawab desahan demi desahan membuat Mahendra melebarkan mata. Dia segera melihat ke arah belakang, di mana tidak ada yang berubah dari video tersebut. Wajahnya masih sama persis dengan wajah video aslinya.
Wajah Mahendra sudah merah padam. Dadanya sudah naik-turun bertanda amarahnya akan meluap Tatapan membunuhnya mengarah pada dua ahli telematika yang dia datangkan.
"Katanya bukan anak Anda? Ini malah nama Ziva yang pria itu sebut. Apa Anda mencoba memanipulasi video ini?" kata salah seorang wartawan yang sudah mulai curiga.
"Saya pastikan video itu seratus persen asli. Tidak ada editan sama sekali," ucap salah seorang ahli telematika yang bernam Roy Ruryana.
"Maaf, Pak Mahendra. Saya ingin menegakkan kebenaran. Bukan malah memberikan kebohongan. Saya ingin membantu pihak mana pun yang memerlukan bantuan saya dalam hal kebenaran. Bukannya saya tidak butuh uang. Saya tidak mau mempertaruhkan profesi saya hanya karya tergiur uang yang tidak halal," lanjut salah seorang ahli telematika lainnya, bernama Abimana.
Sungguh pengakuan yang luar biasa yang membuat semua orang tercengang. Berita yang sebentar lagi akan viral. Apalagi, ada salah satu media yang menyiarkan konferensi pers ini secara langsung.
Mau ditaruh di mana wajah Mahendra saat ini? Dia yang terlalu yakin kini malah dia yang tidak bisa berkutik. Motif awal mengadakan konferensi pers ingin membantah dengan bukti palsu. Sekarang malah dia yang mempermalukan dirinya sendiri dengan rencana busuknya.
Baru saja dua ahli telematika pergi dari ruang konferensi pers. Sekarang giliran tiga pengacara senior yang angkat bicara.
__ADS_1
"Awalnya saya tulus membantu Anda. Setelah mengetahui semua itu, saya lebih baik mengundurkan diri. Terlalu banyak kebohongan yang Anda berikan," ucap salah seorang pengacara bernama, Lumut Sitompel.
Dua pengacara yang lainnya pun mengikuti langkah pengacara yang itu. Tujuan mereka ingin membantu malah dibohongi seperti ini.
Sorak kemenangan pun terdengar dari ruangan yang tak jauh dari tempat diadakannya konferensi pers.
"Parah, ditinggalin sendirian tuh orang," ucap Fahri seraya tertawa puas.
"Sebentar lagi orang yang ditunggu-tunggu akan keluar," imbuh Aksa.
Ketiga pria itu menatap bingung ke arah Aksa. "Orang yang akan mematahkan keyakinannya akan tes DNA." Aksa menunjuk ke arah layar monitor yang sedang dia tonton dengan bibirnya.
"Lihat! Siapa yang datang."
Fahri, Aska serta Christian melebarkan mata mereka. Seorang pria memakai jubah putih. Jubah kebesaran dari profesi yang mulia, masuk begitu saja ke ruang konferensi pers. Seakan ada orang dalam yang membantunya. Sangat mudah tanpa harus melalui penjaga yang berdiri kokoh di sana. Dia duduk di samping Mahendra dengan senyum hangat. Kejutan lagi untuk Mahendra.
"Saya adalah dokter yang ditugaskan untuk melakukan tes DNA oleh Ibu Sarah, istri dari Pak Mahendra," ucapnya kepada para awak media.
Dokter Arif menjeda ucapannya sejenak. Bukannya melanjutkan ucapannya, dia malah mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Dokter Arif, saya meminta Anda untuk mengambil cairan amnion di kandungan anak saya, Ziva. Suaminya kekeh ingin melakukan tes DNA. Pasti Anda sudah mengenal suaminya 'kan. Anda adalah dokter yang memeriksa kandungan anak saya ketika anak dan menantu saya datang ke rumah sakit di mana Anda praktek. Say minta, setelah pencocokan DNA dan hasil tesnya keluar, tolong ubah hasilnya jadi positif. Apapun yang Anda minta akan saya turuti. Ini cek, silahkan isi dengant nominal yang Anda butuhkan.
...****************...
__ADS_1
Senang gak? Kopinya Jagan lupa ..