
Di penghujung malam, seorang wanita berambut pendek sebahu dengan badan berisi tengah memandangi langit malam yang cerah. Dia teringat akan seseorang yang dia lihat di lampu merah tadi.
"Apa itu benar dia?"
Wanita itupun berpikir keras. Wajah tampan pria itu masih tetap sama. Namun, cara berpakaian saja yang berbeda. Dia takut salah orang. Kembaran dar pria itu pun bukan. Dia sangat tahu perbedaan antara pria itu dengan kembarannya. Pikirannya harus buyar karena ketikan pintu kamar.
"Selamat malam, Non. Minum obat mualnya dulu sama susunya."
Wanita itu pun tersenyum dan meraih nampan yang sudah dibawa oleh seorang pelayan. "Makasih, Mbak."
"Besok harus kontrol lagi, ya. Katanya sih mau di USG." Wanita itupun mengangguk.
Berada di rumah ini menjadikan wanita yang sebatang kara tak memiliki siapa-siapa dulunya, kini malah menjadi ratu di istana megah ini. Malah dia juga diajarkan berbisnis secara online oleh beberapa orang yang didatangkan khusus untuk mengajarinya juga menemani waktunya. Sungguh perubahan hidup yang drastis. Walaupun dia juga belum tahu siapa pemilik rumah megah ini, tetapi dia merasa sangat berterima kasih. Akhirnya, dia bisa merasakan memiliki keluarga anggota sesungguhnya walaupun Hanay diperhatikan oleh seorang pelayan wanita paruh baya yang sudah menganggapnya seperti anak.
.
Di sebuah apartment mewah, seorang wanita hamil tengah merasakan nyeri diperutnya. Rasa nyeri itu semakin mendesak dan mendesak. Namun, dia tak lantas memberitahukan kepada suaminya. Dia tidak ingin membuat Aksa khawatir. Dia memilih mengambil ponselnya dan memasangkan TWS ke telinganya agar bisa mendengarkan juga mempraktekan apa saja yang harus ibu hamil lakukan di tengah kontraksi awal.
Secara pelan-pelan Riana turun dari tempat tidur dan mulai mendengarkan arahan dari video tersebut. Berjalan-jalan kecil, membuang napas hingga apapun yang diarahkan dalam video tersebut dia lakukan.
Keinginan Riana melahirkan secara normal sangatlah besar. Maka dari itu, setiap terjadi kontraksi dia mencoba tidak panik. Banyak yang dia pelajari dari video edukasi ibu hamil dan hendak melahirkan. Kini, dia tengah mempraktikannya. Satu jam bergelut dengan rasa sakit, kini Riana duduk di sofa seraya mengatur napas. Rasa sakitnya kini mulai hilang. Hanya ada celekat-celekit sedikit.
"Nak, bantu Mommy lahiran secara normal, ya." Riana mengusap perutnya yang sudah sedikit turun ke bawah. Senyumnya masih merekah di bibir mungilnya.
Riana teringat akan perkataan seorang ibu, "kalau sakitnya masih sedikit, cuma cenat-cenut doang jangan buru-buru ke bidan. Rasain aja dulu. Kalau udah sakitnya makin ngedesek dan terus ngedesek baru deh ke bidan. Pasti pembukaannya udah mau sempurna tuh."
__ADS_1
Sudah jarang sekali ibu muda seperti Riana yang kekeh ingin melahirkan secara normal. Pada zaman sekarang wanita berlomba-lomba melahirkan dengan metode tidak sakit, Riana malah menginginkan metode yang menyakitkan. Padahal, dia mampu membayar metode yang tidak menyakitkan ity, tetapi Riana tehuh pada pendiriannya. Di depan orang tua juga mertua Riana memang mengiyakan dan menuruti kemauan mereka melahirkan secara ERAS, tetapi dalam lubuk hatinya paling dalam dia ingin menjadi ibu yang sempurna. Melahirkan anaknya dengan cara normal. Setiap hari dia berdoa kepada sang pemilik rencana untuk mengubah rencana orang tua dan juga mertuanya.
Ketika pagi menjelang, Aksa terbangun karena dia tidak mendapati istrinya di sampingnya. Dia sudah panik, tetapi ketika dia menoleh ke arah belakang sang istri tengah tertidur di sofa dalam keadaan duduk. Hati Aksa terasa nyeri melihatnya. Dia segera turun dari tempat tidur dan menghampiri Riana. Ketika tangannya hendak mengangkat tubuh Riana dia melihat di samping istrinya ada TWS juga ponsel milik Riana. Dia meraih ponsel tersebut dan membukanya. Alangkah terkejutnya Aksa ketika dia melihat video yang belum Riana tutup. Aksa menatap kasihan kepada sang istri.
"Apa kamu ingin keluar dalam waktu dekat ini, Nak?" Tangan Aksa mengusap lembut perut Riana.
Dia memutuskan untuk tidak memindahkan Riana. Membiarkan istrinya tertidur seperti ini, tetapi dengan keadaan lebih nyaman lagi. Jika, istrinya mengalami kontraksi lagi dia bisa tahu.
Jam enam pagi Riana membuka mata ketika perutnya mulai terasa sakit lagi. Dia melihat suaminya sudah tidak ada di tempat tidur. Riana mengira Aksa tengah mandi dan dia pun mencoba beranjak dari sofa untuk menyiapkan pakaian sang suami. Dia mencoba untuk berdiri dengan memegangi perutnya yang sudah mulai terasa sakit kembali. Posisi buncit perut Riana semakin ke bawah dan Riana pun tersenyum.
"Bantu Mommy ya, Nak."
Aksa yang sedari tadi sudah berada di balik pintu mencelos mendengar ucapan sang istri. Dia melihat bagaimana mimik wajah Riana ketika menahan sakit, tetapi dia masih bisa tersenyum ketika berbicara dengan sang buah hati yang masih berada di dalam perut.
"Sayang."
"Kirain Ri, Abang di kamar mandi," sahut Riana.
Aksa tidak menjawab, dia malah mengecup kening istrinya sangat dalam. Kemudian memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat. Dia pun menuntun Riana ke tepian tempat tidur. Menyuruhnya untuk duduk dan dia sendiri bersimpuh di depan Riana. Mata Aksa pun berkaca-kaca.
"Kenapa kamu tidak bilang bahwa perut kamu sakit semalam?" Suara Aksa sudah bergetar. Dia tidak tega melihat istrinya menahan kesakitan seorang diri. Harusnya dia juga ikut merasakan kesakitan yang dialami istrinya karena dialah yang sudah membuat Riana hamil. Sungguh sangat tidak adil jika hanya Riana yang merasakan kesakitan sendirian.
"Ri, tidak ingin mengganggu Abang. Abang terlihat nyenyak sekali semalam," balas Riana dengan seulas senyum.
"Sayang." Aksa menggenggam erat tangan Riana. "Sekecil apapun kesakitan yang kamu rasakan, kamu harus bilang kepada Abang. Abang gak mau kamu kenapa-kenapa," lanjutnya lagi.
__ADS_1
Riana hanya tersenyum dan mengecup kening sang suami. "Sudah kodrat seorang wanita untuk melahirkan. Sakitnya hanya sebentar, tetapi setelah itu berganti dengan kebahagiaan yang tak terkira. Jadi, Abang tidak perlu khawatir. Cukup berada di samping Ri, itu sudah cukup."
Aksa benar-benar bangga kepada Riana. Dia bisa menyikapi ini dengan sangat santai. "Tapi, kalau kamu lahiran sekarang jatuhnya prematur, Sayang," ujar Aksa.
"Ri tahu, Bang. Ini 'kan bukan kemauan, Ri, tetapi kemauan si jabang bayi," jelasnya dengan wajah santai.
"Kita 'kan gak tahu posisi kepala bayi itu berada," balas Aksa lagi.
"Insha Allah di bawah, Bang. Anak kita insha Allah akan lahir secara normal."
Aksa ingin melarang dan membawa Riana ke rumah sakit, tetapi melihat wajah penuh keyakinan yang Riana tunjukkan membuat dia tidak tega melakukannya. Namun, di satu sisi dia juga takut terjadi hal buruk kepada Riana.
Keyakinan itu Riana dapat karena sudah seminggu ini dia merasa sang putri yang telah gugur selalu berada di sampingnya. Menggenggam tangannya ketika dia merasakan kesakitan dan terus menyemangatinya.
"Mommy pasti bisa. Jangan takut karena ada Kakak yang akan menemani Mommy sampai Adek lahir."
Kalimat itulah yang menjadi obat dari segala rasa sakit yang Riana rasakan ketika kontraksi-kontraksi kecil. Tangannya pun seakan digenggam oleh tangan mungil itu. Satu lagi, dia merasa ada sentuhan hangat di pundaknya dan di telinganya terdengar suara lembut sang ibunda. "Kamu pasti, Ri. Kamu akan menjadi ibu yang hebat dan kuat seperti kakakmu."
Hanya halusinasi semata atau memang benar adanya. Riana merasakan ada dua kekuatan yang berada di tubuhnya. Ada keyakinan yang kuat yang tengah dia genggam karena setiap malam sebelum dia tidur, dia selalu berdoa untuk mendiang sang bunda. Walaupun bundanya sudah tiada, dia tak henti-hentinya meminta maaf atas segala kesalahannya. Menurut orang tua dulu, meminta maaf kepada orang tua sebelum melahirkan akan memperlancar persalinan seorang ibu hamil.
Tangan Aksa Riana genggam, dia juga menatap serius manik mata Aksara. "Tolong ijinkan Ri berjuang sedikit saja untuk melahirkan normal. Jika, memang nantinya usaha Ri tidak berhasil Ri ikhlas jika dilakukan tindakan operasi sesuai dengan yang Abang inginkan," ungkap Riana dengan penuh permohonan. "Lahiran normal is my dream."
...****************...
Komen lagi dong. Jangan bosen ya ...
__ADS_1