Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Pindah Tugas


__ADS_3

Bayang-bayang wajah Aska masih memutari kepala Jingga. Dia sama sekali tidak bisa tertidur untuk malam ini karena terus memikirkan Askara. Laki-laki yang rela terbang ke Jogja hanya untuk dirinya.


"Maafkan aku, Bang As," lirihnya.


Jingga merasa bahagia ketika Aska datang ke kosannya. Apalagi dia mengatakan bahwa dia sangat mengkhawatirkan keadaan Jingga. Aska yang dia kenal masih sama seperti Aska yang dulu.


Namun, jika mengingat statusnya sekarang Jingga benar-benar tidak ingin menyakiti Aska. Aska adalah orang baik tidak pantas untuk disakiti. Biarlah dia yang terus tersakiti karena dia sudah terbiasa dengan rasa sakit itu.


Jingga hanya bisa menatap punggung Aska yang sudah keluar dari restoran. Tidak ada kata pamit ataupun kecupan selamat tinggal. Aska pergi tanpa meninggalkan pesan.


Keesokan paginya, seperti biasa Jingga pergi ke restoran di mana dia bekerja. Matanya merah karena dia sama sekali tidak dapat memejamkan mata. Dia masih kepikiran dengan Aska.


Jingga melakukan pekerjaannya dengan sesekali menguap karena rasa kantuk yang mendera.


"Jingga!" panggil seorang pria berpakaian rapi.


Jingga sedikir terkejut, lalu tersenyum ke arah pria yang memakai kemeja maroon. Kemudian. dia mendekat. "Bapak manggil saya?"


"Ikut ke ruangan saya."


Pria itu adalah manager dari restoran tempat Jingga bekerja. Hati Jingga sedikit was-was dan juga cemas karena tidak biasanya dia dipanggil oleh manager tersebut.


"A-ada apa, ya?" tanya Jingga, tangannya sudah mulai mengeluarkan keringat dingin.


Manager itu menyerahkan sebuah amplop putih besar kepadanya. Sungguh Jingga sudah gemetar.

__ADS_1


"Bukalah!" titah sang manager.


Tangan Jingga perlahan meraih amplop tersebut. Di dalamnya berisi satu lembar kertas. Jingga membacanya dengan seksama.


"Kamu saya pindah tugaskan ke Jakarta," tukas sang manager.


"Jomblo's kafe?" gumam Jingga.


"Ya." Si manager tersebut memberikan satu buah tiket pesawat untuk Jingga. "Kamu berangkat sore nanti," lanjutnya.


"Gaji di sana lebih besar dari di tempat ini. Makanya saya merekomendasikan kamu untuk bekerja di sana," terang sang manager.


"Tapi, Pak ...."


"Kamu berat meninggalkan pacar kamu?" Tebakan sang manager sangat tepat.


Jingga terdiam sejenak. Ini sudah saatnya dia menghindari Fajar secara perlahan. Kapan lagi dia bisa jauh jika bukan karena pekerjaan.


"Untuk tempat tinggal sudah disiapkan kostan aman dan nyaman untuk kamu di sana. Hidup kamu di sana pasti akan terjamin," tutur sang manager.


Sudah saatnya kamu pergi dari Kota ini Jingga. Kota yang telah menyambutmu dengan hal yang menjijikan dan sekarang sudah waktunya kamu kembali ke Kota yang sudah menjadikan kamu wanita mandiri.


Begitulah yang diucapkan oleh Harto kecil Jingga. Dia mengangguk dengan cepat dan seulas senyum penuh kelegaan tercipta di wajahnya.


"Tiket penerbangan jam empat, sekarang kamu boleh pulang dan bersiap. Jam tiga, saya tunggu kamu di sini karena saya sendiri yang akan mengantar kamu ke Bandara."

__ADS_1


"Makasih banyak, Pak."


Jingga bergegas pulang ke kontrakan kumuhnya. Dia hanya membawa barang seperlunya saja. Dia tahu kostan di Jakarta sudah lengkap dengan isinya. Ponselnya sengaja dia matikan agar tidak diganggu oleh Fajar. Biarlah dia pergi tanpa kabar.


Dipindah tugaskan seperti ini membuat hatinya sangat senang. Seperti kembali ke rumah yang sesungguhnya. Sejurus kemudian, lengkungan senyum itu memudar.


"Bang As," lirihnya.


Dia teringat bahwa Aska tinggal di Jakarta. "Apa rasa bahagia ini karena sebentar lagi aku akan dekat dengan Bang As?" batinnya.


Jam tiga sore Jingga sudah berada di restoran. Bian sang manager sudah siap untuk mengantarkannya ke Bandara. Bian melirik ke arah Jingga yang sedari tadi memancarkan rona bahagia.


Jingga berpamitan kepada Bian dan tak lupa mengucapkan terima kasih.


"Pak, apa benar Bapak akan membantu saya untuk berbicara dengan Fajar?" tanya Jingga.


"Tentu. Sudah pasti pacar kamu itu akan mencari kamu ke restoran saya," jawabnya.


Jingga merasa lega dan tak hentinya mengucapkan terima kasih. Bian terus memandangi punggung Jingga hingga tak terlihat oleh pandangannya. Dia segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Sudah terbang. Misi selesai." Itulah pesan yang dikirimkan oleh Bidan kepada seseorang.


Pria yang tengah bersama seorang wanita cantik nan manja tersenyum tipis.


...****************...

__ADS_1


Komen ya, insha Allah akan up lagi.


__ADS_2