
Gavin sangat bersemangat ketika diajak ibunya ke kantor sang ayah. Sebenarnya ini bukan kali pertama anak itu datang ke sana. Namun, dia terlihat sangat bahagia dan sangat antusias.
"My, masih lama?" Balita tampan itu sedikit bawel karena jalanan yang macet. Setiap jalan beberapa meter harus terhenti lagi.
"Sabar ya, Nak." Gavin menghembuskan napas kasar dan menyandarkan punggungnya pada jok mobil dengan tangan yang dilipat di atas dada.
Riana tersenyum melihat putranya yang tengah merajuk. Dia mencium gemas pipi gembul itu. Kemudian, memeluknya.
"Emangnya Empin mau main apa di mall?" Riana mencoba membuka percakapan dengan sang putra.
"Banat." Riana tertawa, putranya ini masih merajuk dan kesal rupanya karena mobil masih berhenti dan belum bergerak sama sekali.
Ponsel Riana berdering dan lengkungan senyum terukir di wajah cantiknya.
"Iya, Daddy."
Mata Gavin melebar ketika mendengar kata Daddy. Riana akan memanggil suaminya dengan sebutan Daddy jika berada bersama Gavin. Sama halnya dengan Aksa yang akan memanggilnya Mommy.
Balita tampan itu segera merebut ponsel Riana dan terpampang jelas wajah ayahnya yang sudah tersenyum.
"Kok lama?" tanya Aksa kepada Gavin.
"Matet, Dad. Matanna te tantol Daddyna pate tawat ada."
(Macet, Dad. Makanya ke kantor Daddy-nya pakai pesawat aja)
Aksa pun tergelak mendengar ucapan Gavin. Ingin rasanya dia mencubit gemas pipi putih putranya itu.
"Kaki kamu sudah sembuh?" Aksa menanyakan kaki Gavin yang tadi pagi terbentur ujung kursi.
"Atu tan tuat!" jawab cadel Gavin. "Atu tan mu dadi pendagana Mommy."
Aksa mengacungkan dua ibu jarinya kepada Gavin. Putranya itu pun tertawa. Riana yang mendengarkan obrolan ayah dan anak itu hanya dapat tersenyum seraya mengusap lembut rambut sang putra.
"Yeay! Dah dalan ladi." Gavin sangat bersemangat ketika mobil yang dia kendarai mulai melaju kembali.
"Oke, Daddy tunggu di kantor, ya."
"Ciap, Daddy!" Gavin pun mencoba melakukan hormat meskipun masih salah. Setelah sambungan video berakhir dia menyerahkan kembali ponselnya kepada sang Mommy.
"Udah?" Gavin mengangguk dan memeluk pinggang sang ibu.
"Love you, My."
Kalimat yang sederhana, tapi mampu membuat hati Riana bergetar hebat. Dia mengecup puncak kepala Gavin dengan sangat dalam dan dengan air mata yang sudah menganak. "Love you more, pelindung Mommy."
Kehadiran Gavin membuatnya menjadi wanita kuat. Kehilangan janin di kehamilan keduanya tidak membuat Riana sedih terlalu lama. Putra pertamanya menjadi obat untuknya, pelipur segala lara yang tengah melanda. Berkat Gavin, dia dan Aksa mampu move on dari rasa kehilangan janin yang Riana kandung satu tahunan yang lalu. Mereka lebih melimpahkan kasih sayang kepada Gavin dan terus memberikan yang terbaik untuk putranya itu.
Tibanya di depan kantor sang ayah, Gavin terlihat sangat bahagia sekali. Dia menggenggam erat tangan ibunya menuju ke dalam kantor. Sapaan hangat dari para karyawan membuat Riana menyunggingkan senyum. Mereka juga sangat gemas terhadap anak dari petinggi perusahaan tempat mereka bekerja. Sangat tampan, tetapi tak bisa mereka sentuh.
Aturan yang Aksa buat untuk para karyawan di sana adalah tidak memperbolehkan Gavin Agha Wiguna disentuh oleh sembarangan orang. Apalagi orang asing. Peraturan yang tidak bisa dibantah.
"Hai! Gavin."
Gavin hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala sopan. Begitulah yang diajarkan kedua orang tuanya jika ada yang menyapa dirinya. Namun, dia juga tidak boleh bicara dengan sembarang orang. Itu juga yang diajarkan oleh kedua orang tuanya.
"My, ini lantun te luanan Daddy?"
(My, ini langsung ke ruangan Daddy)
Anggukan serta senyuman yang menjadi jawaban dari Riana. Tangannya masih menggenggam erat tangan Gavin. Setelah pintu lift terbuka, Riana menawarkan untuk menggendong sang putra. Namun, balita itu menolak. "Atu tuat."
Riana hanya tersenyum, dia juga tidak ingin memaksa putra tercintanya. Tibanya di depan ruangan Aksa, Riana disambut hangat oleh sekretaris Aksa. "Silahkan masuk, Bu. Pak Aksa ada di dalam."
"Makasih, Mbak."
Sopan santun yang Riana miliki menjadi contoh yang baik untuk Gavin tiru.
"Matatih, anteu."
"Sama-sama, Sayang." Sekretaris itu hanya dapat tersenyum tanpa bisa menyentuh kepala ataupun pipi Gavin.
Ketika pintu ruangan terbuka, Aksa yang sedang fokus pada layar segiempatnya menoleh dan putranya sudah memasang wajah gembira.
"Daddy!" Gavin hendak berlari menuju sang ayah, tetapi Aksa larang.
"Jangan lari, kakinya nanti sakit lagi." Sekali Aksa melarang, pasti Gavin akan menurut. Berbeda dengan larangan ibunya yang sudah sering Gavin langgar.
Aksa m menghampiri istri juga anaknya. Dia mengecup kening Riana, lalu menggendong tubuh putranya. "Senang banget kayaknya," ujar Aksa kepada Gavin.
__ADS_1
"Tentu. Mu te emol Tama Mommy dan Daddy." Gavin merangkul leher ayahnya. Kemudian mencium pipi Aksara. Dia juga merangkul leher Riana dan mencium pipi Mommy-nya.
Kedua orang tua itu sangat bahagia memiliki anak selucu Gavin. Aksa membawa putranya ke kursi kebesarannya, sedangkan Riana sudah duduk di sofa. Tubuhnya sebenarnya sedang tidak fit, tetapi sebagai seorang ibu yang memiliki anak sedang aktif-aktifnya tidak boleh sakit.
"Tenapa dudut? Tapan belantatnya?" Balita itu mulai protes ketika sang ayah malah menatap layar laptop kembali dan tangannya mulai menari-nari di atas keyboard.
"Daddy selesaikan pekerjaan ini dulu, ya." Gavin mengangguk mengerti. Tak mendengar suara sang istri, Aksa menoleh ke arah sang istri yang tengah menyandarkan punggungnya di sofa. Aksa tahu, istrinya tengah kelelahan.
Setelah selesai semua pekerjaannya, mereka bertiga berangkat ke sebuah mall yang ingin Gavin kunjungi. Balita itu terus bersenandung ria.
"Yayayayayayaya yayayayaya yayayayaya ...."
"... atu tenang tetali dolaemon."
"... hei Ninda dodalu."
Riana dan Aksa tertawa mendengar nyanyian putra mereka. Hanya hapal ujung lagunya.
"Mommy capek?" Aksa sudah membuka suara dan melihat sebentar kepada Riana. Hanya seulas senyum yang Riana berikan.
"Udah biasa, Dad." Hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Riana.
Aksa mengusap lembut rambut Riana dan menarik tangan istrinya ke bibirnya. Lengkungan senyum terukir di wajah Riana karena Aska memberikan kehangatan kepadanya.
Tibanya di mall, Aksa menggendong tubuh Gavin dan tangan satunya lagi menggenggam tangan sang istri.
"Dad, atu mau main tapit boneta."
"Siap, terus mau main apa lagi?" Aksa akan mengikuti apapun yang diminta oleh sang putra karena dia sangat jarang memberikan waktu untuk putranya itu.
"Bom-bom tal, balapan, banat potona."
Aksa tertawa dan mengiyakan apa yang diminta oleh Gavin. Kini, dia melihat ke arah sang istri. "Mommy mau belanja?" Riana menggeleng pelan.
"Ri, hanya ingin rebahan."
Ingin sekali Riana berkata seperti itu. Namun, itu tidak mungkin. Dia sendiri yang menolak menggunakan jasa pengasuh.
Aksa yang mengerti kondisi istrinya membawanya ke sebuah kedai minuman. Dia tahu apa yang dibutuhkan oleh sang istri.
"Ngapain ke sini?" tanya Riana bingung.
"Daddy ... atu duda mau."
Ketika di tempat permainan, Riana hanya menjadi penonton. Dia membiarkan Aksa dan Gavin menghabiskan waktu berdua dengan bermain bersama. Riana tertawa ketika melihat Gavin yang emosi karena tidak bisa mengambil boneka yang dia inginkan.
"Ah, Daddy payah!"
Begitulah kalimat yang Gavin keluarkan. Sudah lebih dari sepuluh kali Aksa dan Gavin mencoba bermain capit boneka. Namun, tidak pernah berhasil. Riana pun mendekat dan berkata, "beli aja, ya. Pasti banyak boneka seperti itu di sini."
"Dak au! Atu mau boneta itu," tunjuknya pada boneka beruang putih yang besar.
"Udah My, biarin aja. Gak apa-apa, kok." Aksa melerai perdebatan antara istri dan anaknya. "Mommy udah bosan?" Riana menggeleng. Aksa mendekat dan meraih pundak istrinya. "Itu menandakan putra kita bukan orang pantang menyerah. Akan melakukan berbagai cara agar bisa meraih apa yang dia inginkan." Ternyata itu yang tengah Aksa ajarkan.
"Daddy, detetin ladi taltuna."
(Daddy, gesekin lagi kartunya)
Aksa melepaskan rangkulannya ke pundak Riana. Dia mendekat ke arah sang putra dan mulai menggesekkan kartunya kembali. Balita tampan itu terlihat fokus dan sudah mengarahkan pencapit boneka ke arah boneka yang dia inginkan. Gavin menarik napas panjang sebelum menekan tombol untuk menurunkan pencapit tersebut. Mata Gavin terus mengikuti pencapit itu yang sudah bisa mengangkat boneka beruang besar.
"Yeay!"
Gavin bersorak gembira ketika dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Sama halnya dengan Aksa yang sudah tersenyum bangga. Begitu juga dengan Riana.
"Ketika kegigihan ada pada diri seseorang dan dibarengi dengan keyakinan, pasti apa yang diinginkan akan tercapai." Riana mengganggukkan mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya.
Riana baru mengerti, di setiap Aksa bermain dengan Gavin ternyata diselipkan sebuah pembelajaran terhadap Gavin. Bukan semata-mata bermain dan bersenang-senang. Ada sebuah pembelajaran baru yang diterima Gavin. Itulah alasan Aksa tidak dengan mudah menawarkan untuk membeli boneka beruang.
Gavin memeluk tubuh boneka beruang yang lebih besar dari tubuhnya. Tak Aksa dan Riana sia-siakan momen itu. Mereka berdua mengambil foto Gavin yang tengah memeluk boneka beruang besar seraya tertawa bahagia.
Belum cukup bermain capit boneka, kini Gavin ingin bermain perang-perangan dengan ayahnya. Aksa akan mengikuti kemauan putranya. Tak terasa waktu cepat berlalu. Sudah empat jam mereka berada di tempat permainan itu hingga pada akhirnya balita tampan itu mengeluh lapar.
"Mau makan apa?" tanya Aksa.
"Beef."
Aksa mengacak-acak rambut Gavin. Putranya ini sangat kurang
suka dengan yang namanya ayam tepung. Dia lebih menyukai aneka olahan daging sapi.
__ADS_1
Masuk ke dalam restoran yang menyediakan aneka masakan daging sapi membuat Gavin tersenyum bahagia. Dia memilih beberapa menu makanan yang dia suka. Aksa hanya menggelengkan kepala.
"Kamu kalau mau makan enak terus seperti ini harus jadi orang sukses, ya. Kalau kamu punya banyak uang, kamu bisa dengan mudah makan makanan seperti ini." Gavin mengangguk mengerti.
Sebenarnya Gavin sama seperti si triplets. Segala makanan dia suka. Hanya saja terhadap makanan cepat saji dia kurang suka, kecuali nugget. Makanan itu bukan menjadi lauk untuk makan melainkan untuk cemilan. Itulah yang membuat dapur Giondra memiliki Frozen khusus untuk penyimpanan makanan beku kesukaan cucunya.
Gavin terus berbicara riang kepada sang ayah. Dia bercerita dengan antusias dan Riana hanya akan menjadi pendengar yang baik untuk putra dan suaminya. Obrolan anak laki-laki tak jauh dari mainan, film kartun, perkelahian dan mobil-mobilan. Riana asyik merebahkan kepalanya di bahu Aksara.
Makanan yang mereka pesan sudah sampai. Gavin memakan olahan daging berupa bakso-baksoan yang dapat dia makan. Itulah favoritnya. Aksa hanya tersenyum bahagia ketika melihat putranya sangat lahap.
"Mau Mommy bantu potongin?" Gavin menggeleng. Dia asyik mengunyah makanan dengan sangat lahap sekali.
"Sekarang Mommy makan. Setelah ini mau belanja?" tawar Aksa. Riana berpikir sejenak.
"Mau, Dad. Beli Ainan."
Jawaban Gavin membuat Riana tertawa sedangkan Aksa menggelengkan kepala.
"Itu udah dapat boneka, 'kan sama aja mainan."
Gavin terdiam sejenak. Dia mencerna ucapan dari ayahnya. Tak lama, dia menggeleng. "Itu buat tewe."
Aksa dan Riana pun tertawa. "Atu towo."
Celotehan Gavin membuat makan sore mereka semakin menghangat. Jarang-jarang mereka bisa quality time seperti ini. Sesuai dengan keinginan Gavin, mereka menuju toko mainan. Jangan ditanya bagaimana wajah Gavin, mimik wajahnya sudah sangat bahagia.
Kedua orang tuanya hanya mengikuti Gavin dari belakang. Membiarkan Gavin memilih mainan yang dia suka, tapi dengan satu catatan. Tidak boleh membeli mainan yang sudah ada di rumah.
Langkah Gavin terhenti ketika dia melihat anak laki-laki seusianya tengah memberikan makanan kepada bayi perempuan yang ada di dalam stroller. Dia melihat anak laki-laki itu sangat bahagia mengajak bicara bayi di dalam stroller, hingga terlihat bayi perempuan itu tertawa.
"Nak, kenapa berhenti?" tanya Riana.
"Empin mau apa?" tanya Aksa.
Gavin menoleh ke arah kedua orang tuanya yang ada di belakangnya. Kepalanya mendongak ke atas dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kenapa, Sayang?" Riana segera mensejajarkan tubuhnya dengan mengusap wajah putranya.
"Kakinya sakit lagi?" tanya Aksara. Gavin pun menggeleng. Kemudian, tangannya menunjuk ke arah stroller yang berada tak jauh dari mereka.
Kini, Aksa dan Riana yang saling tatap. Mereka berdua tidak mengerti maksud Gavin.
"Atu ... inin dadi tata tepelti dia."
(Aku ... ingin jadi kakak seperti dia)
Tubuh kedua orang tua Gavin menegang mendengar penuturan dari putranya tersebut. Aksa segera menggendong tubuh Gavin dan membawanya keluar dari toko mainan tersebut. Aksa memangku Gavin, di sampingnya ada Riana yang tengah duduk di kursi panjang yang diperuntukkan para pengunjung beristirahat.
"Empin mau punya adik?" Aksa menatap serius ke arah sang putra. Bagaimanapun perkara memiliki adik dengan mengharuskan Riana hamil kembali harus Aksa pikirkan matang-matang. Melihat, Gavin masih memerlukan kasih sayang seutuhnya dari mereka berdua.
Balita itu mengangguk dengan mantap. Tidak ada kebohongan dari sorot mata indah itu. Kini, Aksa menatap ke arah Riana yang sedari tadi terdiam.
"Nak, dengarkan Mommy. Kalau Empin punya adik, apa Empin gak akan cemburu kepada adik Empin nantinya kalau Mommy dan Daddy gendong adik, cium adik serta bermain bersama adik." Gavin menggeleng.
"Atu duda bita adat adit ain. Atu tan pelindun Mommy Dan adit."
(Aku juga bisa ajak adik main. Aku kan pelindung Mommy dan adik)
Melihat ibunya terdiam, Gavin memasang puppy eyes di hadapan Riana. "Boleh 'tan, My? Tepi tendili dak ada teman ain. Tata tembal tida cekula." (Boleh kan My? Sepi sendiri gak ada teman main. Kakak kembar tiga sekolah)
Aksa tersenyum dan mengusap rambut sang putra. "Kalau Daddy sih terserah Mommy aja," ujar Aksa.
"Daddy tetudu?" Aksa mengangguk. Gavin pun bersorak gembira.
"My, boleh tan." Gavin terus membujuk ibunya hingga akhirnya Riana mengangguk. Gavin pun bersorak sangat keras sambil joget-joget tak jelas.
"Bonetana nanti buat adit atu." Aksa dan Riana hanya tertawa melihat tingkah sang putra.
"Nanti, kita konsultasi ke dokter Gwen buat lepas IUD." Riana mengangguk seraya tersenyum.
"Dad, My ...." Aksa dan Riana menatap ke arah Gavin ketika putranya itu memanggil mereka.
"Atu inin liat ya, dimana talana bitin adit."
(Aku ingin liat ya, gimana caranya bikin adik)
...****************...
Komen dong ..
__ADS_1
Jangan bosan ya kalau Jodoh Rahasia sampai akhir bulan ini sering UP. Ini bulan terakhir Jodoh Rahasia mengejar pendapatan minimum. Gimana dengan Bang As? Insha Allah Bang As juga akan rutin up walaupun sehari sekali.