Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Dirahasiakan


__ADS_3

"Aw! Sa-kit!"


Mata semua orang tertuju pada Riana yang meringis kesakitan. Mereka takut jika Riana akan melahirkan hari ini juga.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aksa.


"My, Mommy kenapa?" Gavin pun ikut panik dibuatnya.


Riana melihat ke arah kakinya ternyata ada air yang mengalir di kakinya.


"Bang."


Riana menunjuk ke arah bagian dalam kakinya. Mengalir air di sana. Semua orang pun panik dibuatnya.


"Panggil ambulance." Ucapan Rion membuat semua orang mengerutkan dahi.


Plak!


Arya memukul kepala Rion bagian belakang. "Kita udah di rumah sakit. Ngapain panggil ambulance, bodoh!" omel Arya. Sontak semua orang pun tertawa.


Dokter Gwen segera menyuruh Riana untuk duduk kembali duduk di kursi roda dan dia segera membawa Riana ke IGD.


"Sakit, Bang," rintihnya lagi.


"Sabar ya, Sayang."


Tanpa diminta Aksa mengikuti Riana yang didorong oleh dokter Gwen, padahal dia juga tengah menahan rasa sakit di perutnya. Jahitannya masih sangat basah. Aska segera berlari mengambil kursi roda yang lainnya untuk membawa sang Abang. Dia tidak tega melihat sang kakak yang tengah menahan kesakitan. Sedangkan Gavin sudah digendong oleh Rion. Mereka semua mengikuti Riana ke ruangan IGD.


"Engkong, Mommy kenapa?" tanya Gavin penasaran. "Kenapa Mommy kesakitan sepelti itu?"tanyanya lagi.


Rion tidak bisa menjawab, dia hanya bisa mengusap lembut rambut lebat sang cucu. Jujur, hatinya tengah berdegup sangat kencang. Dia tidak tega melihat Riana melahirkan secara normal karena dia tidak pernah menyaksikan wanita yang dia sayangi melahirkan dengan metode seperti itu. Ketika Ayanda melahirkan putrinya, dia tengah berada dalam fase gila. Hanya Ayanda yang melahirkan secara normal.


Aska sudah mendorong kursi roda kosong dengan berlari. "Cepat naik!" titah Aska. Sang Abang tersenyum melihat kesiagaan adiknya. Sebelum duduk di atas kursi roda dua mengucapakan terima kasih kepada adik tercintanya. Kini, Askalah yang mendorong kursi roda yang diduduki Aksa.


"Kapan sih kalian berdua gak nyusahin gua?" Mulut Aksa terus bersungut-sungut apalagi dua manusia yang tengah duduk di kursi roda malah tengah saling genggam.


"Kalian kira ini kursi roda gandeng," omel Aska lagi. Dokter Gwen hanya tersenyum mendengar ocehan Aska.


Aksa tak menggubrisnya,dia terus menggenggam tangan Riana dengan sangat erat. Memberikan ketenangan kepada istrinya yang tengah merasakan kesakitan yang muncul menghilang.


"Saya periksa dulu, ya," ujar dokter Gwen ketika berada di depan ruang IGD. Aksa mengangguk mengerti dan dia ikut menunggu di luar berskala keluarganya.


"Tenang ya, Sayang. Abang akan menemani kamu melahirkan anak kedua kita." Riana tersenyum dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Aksa mengucapkan itu sebelum istrinya masuk ke ruang IGD.


Gavin meminta diturunkan dan dia menghampiri sang ayah. "Dad, Mommy kenapa?" Tadi, dia tidak mendapat jawaban dari sang kakek membuat Gavin meminta jawaban dari ayahnya. Aksa mengusap lembut rambut Gavin dan dia menangkup wajah putranya.


"Adek sudah ingin ketemu sama Mas Agha." Gavin terdiam tak percaya mendengar ucapan sang ayah. Matanya berbinar, tetapi mulutnya seakan tidak bisa berkata.


Semua orang yang melihat interaksi Aksa juga Gavin melengkungkan senyum bahagia. Aksa terlihat sangat menyayangi Gavin begitu juga dengan Gavin. Merkea tak bisa membayangkan jika Aska menjadi salah satu korban yang tewas dalam pesawat itu. Gavin akan kehilangan sosok ayah sekaligus teman.


"Daddy benelan? Gak bohong?" Aksa mengangguk dan menjawab iya.


Tanpa semua orang duga, Gavin menengadahkan kedua tangan. "Ya Allah, semoga adiknya Mas cewek. Amin."


Semua orang tertawa mendengar doa yang dipanjatkan oleh balita tampan itu. Aksa memeluk tubuh Gavin dengan begitu erat. Selama sembilan bulan ini keinginan Gavin tidak berubah. Anak itu sudah mewarisi sifat ayahnya. Teguh pada pendiriannya. Tidak goyah walaupun banyak orang yang mengompori.


"Doain Mommy dan Adek, ya. Semoga Mommy dan Adek sehat." Gavin pun mengangguk.


Pintu IGD terbuka, semua orang menatap penuh rasa penasaran kepada dokter Gwen. D

__ADS_1


"Tuan Aksara, Nyonya Riana meminta Anda menemaninya. Sekarang sudah pembukaan tujuh." Akhirnya, rasa penasaran itu terjawab.


Aksa mengangguk setuju. Dia berpamitan terlebih dahulu kepada sang putra tercintanya. "Daddy temani Mommy di dalam dulu ya, Mas." Gavin pun mengangguk mengerti.


"Saya akan membawa Nyonya Riana ke ruang persalinan."


Dokter Gwen masuk kembali ke ruang IGD. Kemudian mendorong brankar yang ditempati Riana keluar dari IGD.


"Mommy!" panggil Gavin ketika melihat Riana yang tengah terbaring didorong oleh para perawat.


"Maaf, dok. Boleh berhenti sebentar," pinta Riana. Riana ingin menyapa putranya juga mencium anak pertamanya. Perawat dan dokter yang membawanya pun menghentikan brankar rumah sakit yang tengah mereka dorong.


Rion yang tengah menggendong Gavin menghampiri Riana. "Aku sayang Mommy." Gavin mengecup kening Riana. Kemudian mencium pipi kiri dan kanan ibunya. Riana hanya menyunggingkan senyum. Hatinya menghangat ketika sang anak memberikannya semangat.


"Mommy juga sayang Mas Agha." Riana mencium pipi gembul Gavin.


"Kamu wanita kuat. Kamu pasti bisa." Riana mengangguk dengan air mata yang sudah menganak. Rion pun mencium kening Riana dengan sangat dalam. Melahirkan kali ini dia merasa benar-benar ditemani keluarganya. Ada ayah juga kakaknya yang mendampinginya. Juga ada anggota keluarga yang lain juga.


Semua orang mengikuti Riana. Namun, mereka hanya bisa menunggu di luar ruang persalinan. Hanya Aksa yang masuk ke dalam.


Kontraksi di kehamilan kedua tak seperti kontraksi ketika melahirkan Gavin. Riana hanya meringis kecil. Tidak separah anak pertamanya. Dia sangat merasa bersyukur. Seakan anaknya mengerti bagaimana kondisi ayahnya. Jika, Riana boleh memilih tanggal, dia tidak ingin melahirkan di hari ini. Dia masih ingin merawat suaminya yang tengah terluka.


Tangan Riana semakin erat menggenggam tangan Aksa karena rasa sakit yang kini sering muncul . "Kamu kuat, Sayang." Aksa mengecup kening Riana sangat dalam. Dia pun menyeka keringat yang sudah membasahi wajahnya.


"Sa-kit banget, Bang."


Ini kali pertama Riana berbicara seperti ini. Ketika dokter Gwen memeriksa ternyata kepala bayi sudah terlihat.


"Sempurna." Bidan dan perawat yang mendampingi dokter Gwen pun mulai menyiapkan segala peralatan.


"Nyonya ikuti aba-aba saya, ya. Ketika saya bilang dorong, barulah dorong." Riana hanya mengangguk dengan keringat yang tak pernah kering. Tangannya pun semakin menggenggam erat tangan Aksara. Aksa dengan setia mendampingi istri tercintanya.


.


"Kenapa?" Sahabat karibnya mendekat dan bertanya. Rion hanya menggeleng. Namun, matanya tidak membuka.


"Doain aja semoga anak dan cucu lu selamat."


Rion hanya menghembuskan napas kasar. "Gua hanya tengah menyesali perbuatan gua di masa lalu kalau mendengar Riana melahirkan secara normal." Arya mengerti maksud dari Rion. Dia ikut bersandar bersama Rion.


"Semua metode melahirkan itu sama saja. Sama-sama berjuang melahirkan nyawa baru dan nyawa orang tuanya yang akan menjadi taruhannya. Itu sudah menjadi kodrat wanita." Arya berbicara sambil menatap wajah Rion. Terkadang Rion akan menjadi pria melow. Apalagi jika sudah mengingat masa lalu. Dia akan menjadi manusia yang terlihat frustasi karena sebuah penyesalan yang gak pernah berakhir.


"Itulah kenapa alasannya derajat seorang ibu lebih tinggi dibanding ayah. Padahal, ayah yang mencari nafkah siang-malam dan banting tulang. Namun, ibulah yang Tuhan istimewakan."


Rion hanya terdiam. Dia tengah flashback ke belakang. Bagaimana Ayanda ketika mengalami kontraksi, dan bagaimana perasaannya ketika tengah berjuang antara hidup dan mati, dia malah berjuang sendiri karena dirinya tidak ada di samping Ayanda. Apakah Ayanda sedih? Sedangkan Ayanda sudah tidak memiliki keluarga lagi. Jika, wkayu bisa berputar Rion ingin mengulang masa-masa itu. Masa di mana dia menjadi pria kejam yang tak pernah tahu arah pulang.


Rion menoleh ke arah Echa yang tengah menggendong Gavin. Putri yang terlahir tanpa didampingi dirinya kini menjadi wanita yang cantik juga sukses..Rasa bersalah itu semakin dalam jika teringat akan dosa besar yang telah dia berikan kepada Ayanda dan juga Echa. Kini, Rion menunduk dalam. Tubuhnya bergetar membuat Arya tersentak. Rion menangis.


"Lu boleh menyesali perbuatan lu, tapi lihat diri lu sekarang. Lu udah berubah. Lu udah jadi ayah yang sangat luar biasa untuk ketiga anak lu. Kebodohan lu bisa menjadikan lu orang yang lebih baik seperti sekarang ini." Rion mengangguk seraya menghapus air matanya.


"Ayah, mau kopi gak? Echa mau pesan buat Kak Radit dan yang lainnya." Namun, Echa terlihat bingung ketika melihat wajah ayahnya basah. "Ayah nangis?" sergah Echa.


"Hanya kelilipan." Rion mencoba tersenyum, tetapi Echa menggeleng.


"Ayah bisa membohongi orang lain, tapi ayah tidak bisa bohongi Echa." Mendengar kalimat itu, Rion merasa terharu. Dia segera memeluk tubuh putrinya dengan sangat erat.


"Maafkan Ayah, Cha. Maafkan Ayah."


Echa tercengang mendengar ucapan sang ayah. Dia juga merasa bingung dengan sikap ayahnya.

__ADS_1


"Kenapa minta maaf? Ayah gak punya salah."


Mendengar ucapan dari sang Putri membuat Rion semakin terisak. Dia benar-benar beruntung memiliki putri seperti Echa. Walaupun sudah diabaikan dan disakiti masih bisa menerimanya dengan tulus ikhlas.


Echa mengurai pelukannya. Dia tersenyum ke arah sang ayah dan tangannya mengusap lembut air mata ayahnya.


"Seburuk-buruknya ayah di masa lalu, tidak akan ada yang bisa memutuskan ikatan darah kita berdua. Tidak akan ada yang bisa mengubah status kita sebagai ayah dan anak." Echa tetap menyunggingkan senyum tulusnya. "Kebahagiaan Echa adalah melihat ayah sudah berubah dan sekarang Ayah menjadi sosok teladan bagi Echa dan kedua adik Echa. Love you so much, Ayah."


Arya yang mendengar ucapan Echa sangat tersentuh. Echa benar-benar menjadi anak yang luar biasa. Aryalah yang menjadi saksi bisu bagaimana kesusahan Echa sewaktu kecil, juga kebodohan Rion yang selalu kambuh. Namun, sekarang dua bisa tersenyum bahagia karena Rion sudah sangat berubah.


Suara tangis bayi membuat Echa dan Rion menoleh ke arah pintu ruang persalinan. Semua orang pun sudah berdiri. Echa dan Rion segera mendekat ke arah semua orang yang sudah berdiri dengan rona bahagia.


"Pipo, itu suala adik aku?" tanya Gavin yang tengah digendong sang kakek.


"Iya, sekarang Mas Agha sudah menjadi kakak." Gavin tersenyum bahagia. Dia sudah sangat tidak sabar ingin bertemu dengan adiknya.


.


Aksa tersenyum ke arah Riana. Air matanya menetes begitu saja, begitu juga dengan Riana.


"Jangan tinggalin Ri, Bang. Ri, belum siap kehilangan Abang." Air mata Riana sudah membasahi wajahnya. Dia tidak bisa membayangkan jika suaminya benar-benar meninggalakannya untuk selama-lamanya.


"Abang tidak akan pernah meninggalakan kamu, Sayang. Abang akan selalu menemani kamu sampai kita menua bersama. Menyaksikan anak-anak kita menikah juga." Aksa menggenggam tangan Riana dan membawa punggung tangan itu ke bibirnya untuk dia kecup.


Tim medis yang berada di sana ikut terharu mendengarnya. Apalagi ketika mendengar suami dari ibu bersalin itu baru saja mendapat musibah. Namun, dia mampu menemani istrinya padahal kondisinya pun harus istirahat.


Aksa mengumandangkan adzan dan Iqamah di telinga anaknya, ketika dokter meyerahkan bayinyanh masih merah itu. Dia tersenyum melihat anak keduanya. Setelah selesai mengadzani, bayi itu diletakkan di atas dada Aksa. Dia tidak ingin berjauhan dengan istrinya, alhasil Aksa terus berada di samping Riana dengan sang bayi diletakkan di atas dada Aksa. Aksa mengusap lembut punggung anaknya dan tangan satunya menggenggam tangan istrinya yang tengah dilakukan tindakan penjahitan.


Ketika dokter mengambil bayi mereka kembali. Aksa masih setia mendampingi istrinya. Dia mengecup kening Riana sangat dalam. "Makasih, Sayang." Riana hanya tersenyum.


"Tuan, bayinya kami bawa ke ruang NICU, ya." Aksa mengangguk. Namun, sebelum perawat itu membawa bayinya, Aksa mengatakan sesuatu.


"Jangan beritahu jenis kelaminnya kepada siapapun." Perawat itu pun mengangguk. Mereka tahu siapa orang yang tengah menemani istrinya melahirkan itu.


Pintu ruang persalinan terbuka. Semua orang mendekat dan menanyakan jenis kelamin dari bayi Riana dan Aksa. Namun, perawat itu menolak memberitahukan membuat semua keluarga Aksa dirundung kecewa.


"Apa-apaan ini?" Orang yang baru saja berhenti menangis kini bersungut-sungut tidak jelas.


"Kenapa Adek dibawa? Kenapa aku gak boleh lihat?" Mata Gavin sudah berkaca-kaca, dia juga tengah menahan tangis.


"Adek harus diperiksa dulu, Mas. Setelah Adek dinyatakan sehat barulah Adek boleh bergabung dengan Mommy, Daddy dan juga Mas Agha." Ayanda memberikan penjelasan agar cucunya ini tidak sedih.


"Mimo gak bohong kan." Ayanda pun menggeleng.


Waktu sudah semakin malam, Gavin sudah terlelap dalam pelukan Aska. Mereka masih menunggu Riana keluar dari ruang persalinan.


Selang setengah jam, Riana keluar dari kamar perjalanan bersama sang suami yang sudah didorong dokter Gwen.


"Ri," panggil semua orang. Riana menyunggingkan senyum manisnya.


"Saya membiarkan Riana istirahat terlebih dahulu karena melahirkan normal menghabiskan tenaga." Dokter Gwen menjelaskan kepada pihak keluarga.


Akhirnya, Riana dipindahkan ke ruang perawatan. Gio memesan ruang perawatan yang sangat luas karena sudah pasti cucunya tidak akan mau jauh dari kedua orang tuanya. Aksa pun meminta ruang perawatannya dipindahkan ke samping bed Riana. Agar dia bisa menemani sang istri.


"Lagi sakit aja masih sweet." Sheza merangkul mesra lengan Kano.


Ketika bed Aksa sudah dipindahkan dan kini sudah berada di samping Riana, Rion sudah menatapnya tajam ke arah sang menantu.


"Anak kalian cewek apa cowok? Kenapa dirahasiakan?"

__ADS_1


...****************...


Komen dong


__ADS_2