
Di belahan dunia yang berbeda, Aksa yang seharusnya langsung terbang ke Jakarta masih harus tertahan di Melbourne. Itu karena sang kakek. Ternyata sudah ada dosen Aksa yang bernama Jeremy dan juga Pia di sana. Dengkusan demi dengkusan keluar dari mulut Aksa. Dia terus menatap ke arah jam di tangannya. Dia sudah terlambat dua jam.
"Bagaimana, Tuan Genta?" tanya Jeremy.
Jeremy sedari tadi sedang bernegosiasi tentang study Aksa yang tidak selalu bisa belajar online. Mereka juga harus tatap muka, meskipun satu atau dua kali dalam seminggu. Itu pun tidak di kampus melainkan di rumah Jeremy.
Genta menatap ke arah Aksara yang sedari tadi menampakkan wajah yang sangat tidak suka.
"Kenapa Anda bertanya kepada saya? Itu urusan Anda dengan cucu saya. Saya tidak memiliki wewenang apapun perihal study yang sedang cucu saya jalani," tegas Genta.
"Bukan begitu, Tuan. Ini akan mempengaruhi nilai Aksara nantinya," timpal Pia.
"Sekeras apapun kalian memaksa saya atau kakek saya, saya TIDAK AKAN PERNAH MAU. Perjanjian pihak saya dengan pihak kampus hanya belajar online. Adapun ada pertemuan pasti akan di kampus, bukan di rumah Anda Tuan Jeremy," tekan Aksa.
Genta tersenyum tipis dengan ucapan Aksara yang sangat berani itu. Anak laki-laki yang keras kepalanya semakin menjadi.
"Anda sudah membuang waktu saya. Anda sudah mengacaukan agenda saya," tukasnya.
Aksara sudah bangkit dari duduknya. Sudah muak dia dengan ucapan Jeremy serta Pia. Selama dua jam ini dia hanya mendengarkan semua omong kosong dari keduanya.
"Kek, Abang harus pergi. Abang tidak bisa berlama-lama lagi. Semua pekerjaan dan tugas kuliah Abang
selesai semua. Sekarang waktunya Abang bertemu dengan wanita yang sangat Abang rindukan."
Genta tersenyum dan mengangguk pelan. Aksara mencium tangan Genta dengan sangat sopan.
Selepas Aksara pergi, Jeremy dan juga Pia tercengang dengan apa yang dikatakan oleh Aksara.
"Bisa kalian dengar? Cucu saya sudah menikah. Istrinya berada di Indonesia. Dia bukan pria bodoh yang akan masuk ke dalam perangkap murahan kalian," tuturnya.
Genta sudah tahu siapa Jeremy dan dosen seperti apa dia. Genta hanya menguji Aksa, apa dia akan terbawa alur? Nyatanya dia lebih teguh pendirian dari ayahnya.
Berkali-kali Aksara menghembuskan napas berat. Dia melihat jam di tangannya sudah pukul delapan, tetapi dia baru menuju Bandara. Perjalanan menuju Bandara pun satu jam.
"Selalu saja ada hambatan," gerutunya.
Belum kering ucapannya, hambatannya kembali datang. Di mana Bandara diguyur hujan yang sangat deras dengan angin serta petir. Maka dari itu penerbangan akan ditunda hingga hujannya reda. Pilot tidak akan mengambil risiko besar, apalagi dia membawa cucu pertama dari Genta Wiguna. Orang yang menggaji mereka dengan sangat besar.
Erangan kembali terdengar. Sopir yang mengantar Aksara hanya terdiam. Dia sangat tahu bagaimana jika cucu dari majikannya ini marah dan mengamuk. Sudah banyak korban yang berjatuhan akibat kemurkaan seorang Aksara.
__ADS_1
Aksa membuka ponselnya. Tangannya sangat lihai bermain di atas keyboard ponsel.
"Hamba tengah belanja jajanan ratu, wahai Baginda raja."
Aska segera mematikan ponselnya. Sudah pasti dia akan diteror oleh abangnya yang kadang tidak waras.
Aksa mendengkus karena pesan dan dia kirim hanya ceklis satu.
"Bhang Sat!" umpatnya kesal.
Jika, mengenai Riana dia tidak akan pernah bisa tenang dan sabar. Apalagi rencananya yang berjalan sangat tidak mulus. Mau tidak mau dia diam di bandara selama dua jam. Dia hanya bisa menatap wajah istrinya yang menjadi wallpaper ponselnya. Rindu yang menggebu membuat hatinya tak menentu.
Jam setengah dua belas malam, hujan reda. Aksa bisa bernapas lega. Pilot pun sudah mengatakan bahwa pesawat akan berangkat jam dua belas malam. Bibirnya sedikit terangkat, wajah murungnya mulai menghilang dan dia menghubungi Aska kembali. Kini, ponsel sang adik sudah aktif kembali.
"Kenapa sih?" Wajah Aska terlihat sangat terganggu.
"Riana mana?"
Sekarang, Aska yang mengerang kesal. Dia mengacak-acak rambutnya saking kesalnya.
"Dia 'kan punya ponsel, Bang. Kenapa gak lu telepon aja ke nomornya," sungut Aska.
"Lu gua bayar mahal untuk apa?" tanya Aksara.
"Pintar! Sekarang ke kamar gua dan jangan ketahuan Riana. Gua hanya ingin tahu dia lagi apa?"
Helaan napas kasar penuh emosi terdengar. Wajah yang sudah sangat malas terlihat jelas di wajah Askara. Namun, melihat tatapan penuh ancaman dari sang Abang membuat nyalinya ciut juga. Askara kini bangkit dari posisi rebahannya, dia menuju kamar sang Abang. Tangannya dengan pelan membuka gagang pintu kamar. Aska melongokkan kepalanya. Ternyata kakak iparnya itu tengah fokus menonton drama Korea sambil memakan makanan yang tersedia.
Aska mengarahkan ponselnya ke arah Riana untuk beberapa menit. Aska tahu, jika begini akan ada kejutan yang akan Aksa berikan.
Tiga menit sudah, Aska menutup kembali pintu kamar Riana dengan pelan. Dia kembali mengarahkan ponselnya ke wajahnya.
"Puas!" sentak Aska. "Lu liat 'kan berapa banyak sesajen yang ada di atas meja. Itu sengaja gua beliin biar nanti malam gak ganggu gua. Gua banyak tugas," oceh Aska.
Tut ... Tut ....
Sambungan video pun diputuskan oleh Aksara. Umpatan demi umpatan keluar dari mulut Askara.
"Kalau gua gak BU mah gak mau gua kerja sama sama lu!" umpatnya kesal.
__ADS_1
****
Hati Riana menghangat karena mendapat perhatian yang lebih dari ibu mertuanya. Dia merasakan sosok seorang ibu kandung di dalam diri Ayanda.
"Iya, Mom." Itulah jawaban Riana atas perintah yang baru saja diucapkan oleh sang ibu mertua perihal test pack.
"Mommy tidur, ya. Kamu jangan tidur malam-malam." Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Riana. Desiran hebat itu muncul di hati Riana. Air matanya sudah menganak.
"Ya Allah, terima kasih sudah memberikan ibu mertua yang sangat menyayangiku," gumamnya. Tak terasa air matanya menetes.
Riana mengusap lembut perutnya. Dia menatap lamat-lamat perut yang masih rata itu.
"Apakah kamu ada di sana, Nak? Apakah aku akan menjadi seorang ibu?" gumamnya dengan air mata yang masih menetes.
Dia memandangi test pack yang ada di dalam kantong plastik putih. Ada rasa bahagia dan takut yang menyatu. Namun, dia harus tetap melakukannya esok pagi agar semuanya tidak terus menerka-nerka.
Keesokan paginya, Riana yang sudah terbangun sedari jam enam pagi sedang berdiri di depan kamar mandi. Dia enggan untuk melihat hasil testi pack yang ada di atas wastafel kamar mandi. Dia takut jika hasilnya tidak sesuai dengan keinginannya serta ibu mertuanya.
Setengah jam sudah dia mematung. Akhirnya dia menarik napas panjang sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi. Perlahan tangannya menekan gagang pintu. Pelan tapi pasti langkah itu terus menuju wastafel dengan dentuman jantung yang sangat keras.
Satu per satu testpack itu Riana lihat. Matanya melebar dan dia tidak bisa berkata. Tubuhnya benar-benar membeku.
"Sayang."
Suara yang Riana rindukan terdengar. Riana semakin tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang dan juga dia dengar. Dia sangat yakin, dia sedang bermimpi indah.
Tangan kekar melingkar di perut Riana dengan cincin nikah berada di jari manisnya. Hembusan napas itu sangat menghangatkan kulitnya. Riana benar-benar tidak percaya bahwa semua ini nyata.
Perlahan dia membalikkan tubuhnya. Senyuman yang sangat manis tertuju padanya. Tangis Riana pun pecah.
"Sayang, kamu kenapa?" Riana masih terdiam dan semakin menangis keras. Aksa benar-benar bingung. Kenapa kedatangannya malah disambut dengan tangisan seperti ini? d
Dia segera memeluk erat tubuh sang istri.
Kedua alis Aksa menukik tajam ketika melihat banyak benda panjang kecil di atas wastafel. Dia meraihnya satu. Di sana terlihat ada dua garis biru. Tubuh Aksa menegang. Dia mengurai pelukannya dan menatap wajah istrinya yang sudah bermandikan air mata.
"Sayang ...."
Riana mengangguk pelan. "Positif, Bang." Aksa pun ikut menitikan air matanya mendengar ucapan Riana.
__ADS_1
...****************...
Hanya minta komen kalian, biar aku bisa UP 2x sehari mulai hari ini.?