Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Tidak Gila!


__ADS_3

"Bang Sat!"


"Istri gua itu!"


Pekikan suara seorang pria membuat Aska melepaskan kecupan hangatnya. Aska maupun Jingga tidak terkejut, mereka berdua malah terlihat santai, sedangkan Bian sudah memasang wajah murka. Dia menghampiri Aska dan dengan kasar menarik kerah baju Askara.


"Jangan pernah rusak rumah tangga gua," tekan Bian.


Aska tersenyum kecil mendengar ucapan Bian. "Siapa yang jadi perusak? Gua atau lu?"


"Bang Ke!"


Kepalan tangan Bian mendarat di wajah Askara hingga dia tersungkur.


"Bang As!"


Bukannya membela suaminya, Jingga malah mengkhawatirkan Aska. Jingga hendak turun dari tempat tidur, tetapi tangan Bian mencekal tangannya dengan sangat kencang.


"Suami kamu itu aku apa dia?" geram Bian sambil menunjuk ke arah Askara.


"Gak usah kasar sama cewek! Lu cowok apa banci!"


Adu mulut pun terjadi antara Aska juga Bian. Tak segan, Bian menghadiahi bogem mentah lagi. Aska sama sekali tidak membalas. Jingga pun berteriak hingga pihak keamanan datang dan melerai dua orang yang tengah bertengkar.


Melihat wajah Aska yang penuh luka lebam membuat Jingga menitikan air mata. Aska hanya tersenyum.


"Jaga diri kamu baik-baik, ya."


Masih sempat Aska mengatakan kalimat itu kepada Jingga. Tak dia pedulikan wajah Bian yang sudah memerah menahan amarah. Dia hendak menyerang Aska lagi, tetapi pihak keamanan segera menghadangnya.


"Lepasin! Dia itu perebut istri orang!" serunya.


Mata Jingga menatap nyalang ke arah Bian. Dia tidak habis pikir, mulut Bian sangatlah kejam. Dia dengan mudahnya memutar balikkan fakta yang ada.


"Cukup Bian!" pekik Jingga.


"Kalian lihat 'kan, sepasang selingkuhan yang bukannya menyangkal malah menunjukkan kemesraan."


Urat-urat kemarahan sudah hadir di wajah Jingga. Dia ingin sekali menampar mulut Bian yang tak tahu diri itu.

__ADS_1


"Orang waras akan mengalah." Aska menjawab dengan senyum santainya.


Cuihh!


Bian meludahi wajah Aska dan sontak membuat kemarahan Jingga mendidih. Dia mengibaskan tangan yang masih dicengkeram oleh Bian.


Plak!


Tamparan keras Jingga daratkan di pipi Bian. Aska yang diludahi, Jingga yang naik pitam.


"Harusnya kamu yang interospeksi diri!" pekik Jingga dengan dada yang turun naik menahan emosi. "Jangan lempar batu sembunyi tangan!" lanjutnya lagi.


Semua orang terdiam melihat Jingga murka. Aska tercengang karena baru kali ini dia melihat Jingga sangat marah.


"Kamu yang sudah merusak hidupku juga cintaku!" teriak Jingga. Perlahan dia mendekat ke arah Bian. Tatapannya sangat tajam juga membunuh. Dia mencengkeram kerah baju Bian dengan mata yang sudah memerah.


"Kembalikan kesucianku!" teriak Jingga.


Dada Aska sangat sakit mendengar teriakan itu. Bagai disayat sembilu hatinya saat ini. Apalagi, dia melihat sisi lain dari Jingga. Tangan Jingga hampir mencekik leher Bian.


"Tolong saya! Istri saya gila!"


Bugh!


Kini, kepalan tangan Aska yang mengenai wajah Bian. "Jaga mulut lu, si Alan!" maki Aska dengan kemarahan yang tak terkira.


"Dia istri lu! Dia butuh perlindungan lu! Bukan lu katain dengan seenak mulut lu, biadab!" Aska sudah tidak bisa menahan emosinya, apalagi mendengar Jingga yang terus meronta.


"Aku tidak gila! Dia yang gila!" teriak Jingga dengan suara yang semakin serak. Sungguh membuat hati Aska terluka sangat parah.


"Kalau lu gak sanggup bahagiain dia. Lepasin dia! Gua masih sanggup bahagiain dia," bisik Aska di telinga Bian.


"Bang Sat!"


Bian mencoba untuk menyerang kembali Aska, tetapi benerapa pihak keamanan yang lain baru saja masuk ke ruang IGD melerai mereka. Aska tersenyum tipis ke arah Bian, seperti senyuman yang sangat mengejek.


"Mulut sampah!" teriak Bian.


Jingga yang melihat Aska pergi ingin mengejarnya. Namun. Tubuhnya sedang ditahan oleh dua orang perawat.

__ADS_1


"Bang As! Jangan tinggalin aku!"


Teriakan Jingga mampu didengar oleh Aska. Akan tetapi, dia tidak menoleh sama sekali. Dia terus melanjutkan langkahnya keluar dari rumah sakit itu. Tubuhnya luruh ke tanah ketika berada di area parkiran yang sepi. Dia menunduk dalam dengan air mata yang sudah berjatuhan.


"Maafkan aku."


Di dalam ruang IGD, tangan Jingga diikat bagai orang gila. Jingga tidak menolak ataupun memberontak. Dia hanya menatap kosong lurus ke depan.


Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Jingga. Guyuran air keran sudah membasahi tubuhnya.


"Kapan kamu normal lagi, Jingga? Kapan?"


Begitulah perlakuan Bian. Sakit, sudah pasti Jingga rasakan. Itulah yang membuat Jingga pergi dan berniat untuk mengakhiri hidupnya karena dia sudah tidak tahan lagi. Bian dan Fajar adalah laki-laki yang ringan tangan.


"Aku tidak gila," ucapnya pelan seraya menggelengkan kepala. "Aku tidak gila," ulangnya lagi, ketika mengingat perlakuan Bian kemarin.


Bian melamun ketika dia tengah diobati. Seharian kemarin, setelah dia bersikap kasar kepada Jingga, dia merasa kehilangan juga merasa bersalah. Apalagi, Jingga keluar rumah kontrakannya dengan tubuh yang basah. Dia terus mencari Jingga hingga dia rela mendatangi rumah sakit satu per satu untuk menanyakan pasien bernama Jingga. Namun, hasilnya nihil.


Bian merutuki kebodohannya, Bian menyesali perbuatannya. Ketika malam tiba, dia tidak bisa tertidur karena terus teringat akan Jingga. Dia takut Jingga kenapa-kenapa karena Jingga hanya membawa dirinya saja keluar dari rumah.


Pagi harinya, Bian melanjutkan untuk mencari Jingga. Hingga dia masuk ke rumah sakit di mana Jingga ditangani. Hatinya lega juga bahagia, tetapi ketika dia masuk ke IGD pemandangan yang sangat menyayat hati membuatnya murka lagi. Aska dengan mesranya mencium kening wanita yang sama sekali tidak bisa dia sentuh.


Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Setelah selesai diobati, Bian memilih untuk pergi ke taman rumah sakit. Dia duduk sendirian di bangku besi panjang.


Berputar kenangan manis bersama Aska. Di mana mereka tertawa bersama dan saling membantu satu sama lain. Ketika Bian mengalami musibah kebakaran, Aska dan ayahnyalah yang memberikannya rumah untuk dia dan ibunya tempati. Ketika dia membutuhkan modal besar untuk restorannya, Askalah yang membantunya dengan memakai uang modal Jomblo's cafe hingga Aska dan dua sahabatnya Ken dan Juno bertengkar.


"Gua akan selalu ada buat lu."


Kalimat itu yang masih Bian ingat sampai sekarang. Namun, dia malah sudah sangat jahat kepada Aska. Menikungnya dan merebut secara tidak sengaja Jingga dari tangannya. Akan tetapi, Aska sama sekali tidak pernah mengungkit akan kebaikan yang sudah dia lakukan kepada Bian semarah apapun dia.


Hanya kedua sahabatnya yang lain yang seakan memusuhinya. Memblokir kontaknya. Dia akui dia memang salah, dia memang tak tahu malu, tak tahu terima kasih.


"Maafin gua, Ka. Gara-gara gua persahabatan kita seperti ini."


...****************...


Komen dong ...

__ADS_1


Makin hari komen makin sepi.


__ADS_2