Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Memikirkan


__ADS_3

Aska masih diberi kuliah tujuh menit oleh ketiga orang yang ada di ruangan Aksa.


"Lu terlalu baik, Dek," ucap Aksa. "Kalau di dunia bisnis besar, lu udah gulung tikar karena kebaikan lu."


Aska hanya terdiam, dia tengah mendengar petuah-petuah yang sangat berguna dari ketiga orang yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Gua akan tetap jeblosin dia ke dalam penjara, kalau dia gak bisa bayar uang sertengah M itu," tegas Aksa. Dia tidak akan menuruti permintaan Aska karena ini adalah masalah antara dirinya dan juga Bian.


"Semua bukti sudah ada di tangan saya. Jadi, dia tidak bisa mengelak," tambah Christian.


Aska hanya mengangguk pelan. Sahabatnya itu sudah melakukan kesalahan-kesalahan besar. Sudah sepatutnya Bian menerima konsekuensinya.


Setelah membahas perihal Bian dan juga laporan yang akan Aksa buat, mereka menikmati makan siang di sebuah mall ternama. Itu adalah permintaan dari istri Sultan.


"Ck, di kafe gua menu ayam panggang beginian cuma lima puluh rebu. Lah ini gimana ceritanya nyampe seratus lima puluh ribu?" oceh Aska bak ibu-ibu yang hobi membandingkan harga.


"Ayam yang lu pake pasti ayam tiren, makanya murah," ejek Christian.


"Bang sat!" umpat Aska.


Aksa dan Riana hanya terkekeh mendengar umpatan demi umpatan yang Aska berikan kepada Christian Karena ejekannya yang membuat Aska geram.


"Setelah makan siang mau ke mana?" tanya Aksa kepada sang istri tercinta. Riana yang tengah membaringkan kepalanya di pundak sang suami menoleh ke arah Aksa. "Abang emang gak ada kerjaan?"


Aksa hanya tersenyum dan mengusap lembut rambut sang istri. "Semua meeting sudah Abang batalkan. Abang juga udah ijin ke Daddy," ucapnya dengan sangat lembut.


"Serius?" Mata Riana nampak berbinar mendengar ucapan suaminya. Sebuah anggukan menjadi jawaban dari Aksa. Kemudian, Riana memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat.


"Mereka yang berpelukan kenapa gua yang baperan," imbuh Aska.


"Makanya kawin!" ejek Christian.


"Nikah, Tian edan. Bukan kawin." Aska sudah menoyor kepala Christian.

__ADS_1


Semua sahabat Aksa akan menjadi sahabat Aska juga karena Aska memang orang yang mudah bergaul dan tidak memilih teman. Berbeda dengan sang Abang yang sangat selektif dalam mencari teman. Meskipun, Aksa mengenal Ken dan juga Juno, tetapi dia tidak mengakui dua manusia itu sebagai temannya. Dia benar-benar pemilih dalam urusan pertemanan. Maka dari itu, Aksa memiliki sahabat-sahabat setia dan selalu ada untuknya dalam segala kondisi apapun seperti Christian, Christina, Fahri dan juga Fahrani.


Di kafe milik Aska, Ken, Juno dan juga Jingga hanya saling terdiam dan bergelut dengan pikiran mereka masing-masing. Jingga yang memikirkan Aska, sedangkan Ken dan Juno memikirkan Bian yang tiba-tiba berubah.


"Si Aska gak ke sini?" tanya Ken kepada Jingga.


"Enggak, kemarin dia udah bilang," jawab sendu Jingga.


Juno malah menghela napas kasar mendengar ucapan Jingga. Diamnya Juno itu memperhatikan gerak-gerik sahabatnya juga asisten dari sahabatnya tersebut.


"Lu tahu 'kan Bian sama Aska itu sahabatan," ujar Juno.


"Baru tahu kemarin," jawab Jingga.


"Berhubung lu udah tahu, sekarang gua mau nanya sama lu." Bian menjeda ucapannya dan menatap Jingga dengan tatapan penuh keingintahuan. "Lu memilih siapa? Aska apa Bian? Jangan sampai lu rusak persahabatan mereka berdua," tutur Juno penuh dengan keseriusan.


Jingga terdiam, dia malah menunduk dalam. Ken sudah benar-benar gemas kepada Jingga.


"Lu udah harus jujur sama perasaan lu sendiri. Kalau lu suka sama si Aska bilang, tapi kalau sebaliknya juga bilang, biar mereka gak salah paham," timpal Ken.


Hati Jingga memang untuk Aska. Namun, dia masih ragu. Dia tidak ingin bernasib sama dengan sang bunda. Menikahi anak orang kaya, tapi berujung menderita.


"Jujur ya, selama gua bersahabat sama Aska ... gua gak pernah lihat Aska segalau sekarang ini. Banyak cewek yang dia putusin, tapi dia biasa-biasa aja. Masih bisa ketawa, nongkrong bareng seakan gak ada kesedihan, tapi dengan lu?" Juno membeberkan semuanya kepada Jingga perihal Aska. Jingga pun sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Juno.


"Mohon maaf ya sebelumnya," ucap Ken. "Kalau gua lihat-lihat lu jauh dari para cewek-cewek yang nembak Aska. Lu cewek biasa, tapi bisa menaklukkan hati Aska yang sekeras batu. Itu sungguh luar biasa buat gua," terangnya lagi.


Lagi-lagi Jingga tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ken. Namun, sorot mata Ken menyiratkan kejujuran.


"Gua harap lu bisa ngasih kepastian sama Aska," imbuh Juno.


Kedua sahabat Aska sangatlah menyayangi Aska. Mereka seakan ikut sedih melihat Aska seperti ini. Aska yang selalu ceria kini berubah menjadi bermuram durja. Ingin menghibur pun mereka bingung. Ketika Aska dilanda masalah hati seperti ini, dia hanya ingin sendiri.


Mereka bertiga pun keluar dari ruangan untuk makan siang. Namun, mata Ken mendadak tajam ketika melihat Bian yang sudah ada di bawah anak tangga.

__ADS_1


"Jangan ge-er, gua mau ketemu Jingga," tukasnya.


Ken dan Juno tidak menanggapi. Mereka berdua memilih pergi, berbeda dengan Jingga yang kini tak bisa ke mana-mana.


"Aku ingin makan siang bareng kamu," pintanya.


"Jangan jauh-jauh, ya. Aku harus kerja lagi." Jingga merasa tidak enak jika harus menolak keinginan Bian.


"Iya, kita makan siang di restoran cepat saji di depan," ucap Bian.


Mereka berdua pergi ke restoran cepat saji yang berada tak jauh dari Jomblo's kafe. Menikmati makan siang dengan rasa yang kurang sedap. Dia bersama Bian, tetapi otaknya malah memikirkan Aska.


Tak banyak obrolan yang Jingga mulai. Pertanyaan Bian pun hanya dijawab seperlunya saja oleh Jingga. Ketika dia melihat punggung jari Bian yang terluka, ada sedikit rasa benci di dada.


"Tangan itu ... tangan yang sudah memukul Bang As."


Teringat akan sudut bibir Aska yang membiru. Darah yang menempel di jari Jingga ketika Jingga menyentuh sudut bibir Aska. Jingga memilih untuk ke kamar mandi karena terlukanya Aska semalam belum hilang dari ingatan.


Di kamar mandi restoran tersebut. Jingga memandangi wajahnya. Dia teringat akan perkataan Ken.


"Jika, banyak wanita yang lebih cantik. Kenapa dia mencintai aku?" batinnya.


Helaan napas kasar keluar dari mulut Jingga. Hati kecilnya dia sangat bahagia karena dicintai oleh pria seperti Aska. Di sisi lain hatinya, dia sedikit tersiksa dengan apa yang dikatakan oleh mendiang sang bunda.


Setelah bergelut dengan pikirannya sendiri, Jingga segera keluar dari kamar mandi. Tak terasa, sudah lima belas menit dia meninggalakan Bian.


Jingga keluar dari kamar mandi sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas. Tidak sengaja dia menabrak tubuh seseorang.


"Maaf," ucap Jingga. Dia belum menegakkan kepalanya.


Mata orang itu melebar ketika melihat Jingga, begitu pun dengan Jingga.


"Andhira ...."

__ADS_1


...****************...


Komen dong ....


__ADS_2