Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Mawar Merah


__ADS_3

Aska mengejar Jingga, sedangkan dua wanita itu masih berada di pantry. Christina Memilih pergi, sedari tadi dia memang curiga akan tawaran Fahrani. Ternyata ada udang di balik batu.


Di apartment, ponsel Riana terus berdering. Nama yang tertera di layar ponsel adalah ibu dari Arka. Dia agak sedikit takut, apalagi kemarin Fikri menjadi dalang dari kecelakaan kawan suaminya.


Ingin rasanya Riana menghubungi Aksa, tetapi dia takut mengganggu suaminya yang tengah berkerja. Apalagi sekarang masih menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi.


Ketika Riana dilanda ketakutan. Suara bel pintu terdengar membuat Riana terlonjak kaget. Dia tidak berani beranjak dari kamar. Apalagi dia ingat akan perkataan suaminya. Hingga ponselnya berdering, nama Askalah sekarang yang muncul.


"Bukain! Kakak di depan."


Riana dapat bernapas lega. Dia pun segera membukakan pintu untuk Aska, adik iparnya.


"Lama ih," oceh Aska.


"Maaf," ucap Riana.


"Di luar itu banyak banget yang jagain kamu. Jadi, jangan takut. Mereka hanya akan menghadang orang yang tidak mereka kenal. Paham?" Riana mengangguk.


Aska mendudukkan dirinya di atas sofa. Tangannya mengurut pangkal hidungnya yang terasa sangat pusing.


"Kakak mau minum apa?" Aska mengangkat tangannya. Riana menutup mulutnya.


"Ri, kamu kenal Jingga 'kan?"


Pertanyaan Aska membuat Riana mengerutkan dahi. Dia menatap bingung ke arah adik iparnya.


"Benar dia akan menikah?"


Riana sedikit terkejut, kenapa Aska bisa menanyakan perihal Jingga dan dari mana juga Aska tahu bahwa Jingga akan segera melangsungkan pernikahan.


"Jawab Ri," pinta Aska.


Hanya sebuah anggukan yang menjadikan jawaban dari Riana. Helaan napas kasar keluar dari mulut Aska. Dia pun bangkit dari duduknya.


"Aku pulang," pamit Aska.


Riana sangat melihat kekecewaan yang ada di wajah Aska. Namun, dia tidak berani menanyakannya. Setiap orang memiliki privasi. Riana harus menghormati itu.


Jam dua belas lewat sedikit, Riana yang tengah merapihkan baju kotor tersentak ketika mendapat pelukan dari belakang. Wangi parfum yang dapat Riana cium membuatnya tersenyum.


"Istriku lagi apa?" tanya Aksa, tangannya masih memeluk erat perut sang istri.


"Mau cuci baju kita, Bang."


"Bawa aja ke laundry."


Sungguh enteng sekali kalimat yang diucapkan oleh Aksa. Riana membalikkan tubuhnya tanpa melepaskan lingkaran tangan Aska di pinggangnya.


"Di sini ada mesin cuci. Alangkah baiknya jika Ri gunakan. Dari pada hanya jadi pajangan."


Aska tersenyum dan mengecup kening Riana sangat dalam.


"Jangan kecapekan, Sayang. Abang menikahi kamu bukan untuk menjadikan kamu sebagai pembantu, tetapi Abang ingin menjadikan kamu ratu di rumah kita."


Riana benar-benar merasa tersanjung dengan ucapan Aksa. Apalagi melihat senyum tulus suaminya.


"Makasih ya, Bang."


"Untuk apa berterima kasih, Sayang? Aku menikahi kamu memang untuk membahagiakan kamu. Lebih baik sekarang kita fokus bikin Aksara junior." Aksa sudah membawa tubuh istrinya dan dia letakkan di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati.


Sentuhan bibir Aksa membuat Riana melayang ke udara. Dia sudah tak bisa berkata. Tanpa dia sadari pun tubuhnya sudah tak berbusana. Setiap inchi selalu Aksa nikmati. Tak lupa dia bubuhi bunga mawar merah sebagai tanda cinta darinya. Meskipun tangan Riana sudah berada di atas rambut Aksa, dia tidak menghiraukannya. Malah sangat menikmatinya. Setiap jambakan rambut yang Riana lakukan membuat aliran darahnya mengalir sangat deras. Apalagi alunan merdu yang Riana keluarkan. Membuat Aksa semakin semangat.


Siang ini, Aksa hanya akan membawa istrinya ke awang-awang sebentar. Ketika Riana berteriak kecil di situlah dia segera menghajarnya. Sontak teriakan dan the sahan terdengar bersamaan. Maju mundur cantik dengan ritme sedang hingga cepat semakin membuat Riana kalang kabut sendiri.


"Keluarkan saja, Sayang," bisik Aksa.


Riana benar-benar tidak dapat mendengar jelas apa yang dikatakan oleh suaminya. Raganya sudah dibawa ke kahyangan. Sungguh dia sangat menikmatinya. Hingga aliran air terasa sangat deras keluar bersamaan dengan tubuh Riana yang melemah. Napasnya pun terengah-engah, seperti habis melakukan lari maraton.


"Abang lanjut, ya."


Riana mengangguk dan kali ini dia benar-benar dibawa kembali ke awang-awang. Pergerakan Aksa sungguh membuatnya ketagihan dan terbang kembali. Tangan mereka bartaut. Mereka pun terus melakukan silat lidah yang cukup kasar. Mereka benar-benar sudah tidak sadar. Tak mereka pedulikan dering ponsel yang terus mengganggu. Mereka hanya fokus pada kegiatan ini. Sangat mengasyikkan menyelam dalam lautan kenikmatan yang tak bisa diungkapkan.


Suara merdu saling bersahutan. Mata mereka terpejam seakan ada sesuatu yang akan meledak di ujung sana. Bibit unggul Aksa ditanamkan di ladang basah Riana. Dia hanya berharap, penanamannya kali ini berhasil dan akan tumbuh sebuah janin di rahim sang istri tercinta.


Napas yang terengah-engah, juga kucuran peluh yang membasahi badan setelah erangan panjang. Aksa mencium kening Riana sangat lama, dia belum beranjak dari tempatnya. Masih menikmati pijatan hangat yang membuat adiknya sangat puas.


Ingin rasanya melanjutkan lagi, tetapi dokter Jenita melarangnya. Maksimal dalam semalam melakukannya dua kali. Itu pun dengan ritme sedang. Ada kekecewaan, tetapi Aksa juga tidak mau egois. Dia tidak mau menyakiti istrinya kembali.


Aksa berbaring di samping sang istri yang sudah seperti kebun bunga mawar. Dia terkekeh pelan, bunga mawar itu dia berikan di setiap inchi kulit putih bersih Riana.


"Capek?" tanya Aksa.


Hanya anggukan yang Riana berikan. Aksa memeluk tubuh Riana, dia mengusap lembut perut istrinya yang masih rata. Riana tersenyum dan membenamkan wajahnya di dada sang suami.


"Abang ingin mereka tumbuh di sini," ucapnya.


"Tetap berusaha dan berdoa," jawab Riana sambil mendongakkan kepala.


Aksa tersenyum dan mengecup bibir mungil istrinya. "Kalau berusaha pasti akan tiap hari." Riana mencubit pelan pinggang sang suami membuat Aksa tertawa.


Ketika dua insan manusia ini hendak terlelap, dering ponsel mengusik kenyamanan mereka berdua. Aksa mendengkus kesal, Riana yang sudah terpejam kini sudah membuka matanya kembali.

__ADS_1


"Mereka ingin bertemu dengan Anda, Pak. Juga istri Anda."


Aksa tidak menjawab. Riana yang tengah memeluk perut dan suami menatap Aksa heran.


"Satu jam lagi saya ke sana." Aksa meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Mau pergi lagi?" Aksa mengangguk.


Tangan yang tengah memeluk pinggang Aksa pun terlepas. Riana menaikkan selimut yang dia gunakan dan pura-pura memejamkan mata.


"Sayang."


Kini Aksa yang gantian memeluk tubuh Riana yang masih polos.


"Bukan hanya Abang yang harus pergi. Kamu juga harus ikut Abang," jelasnya.


"Ri, gak mau ikut," ketusnya.


Aksara menghela napas panjang. Istrinya jika sudah merajuk akan sulit untuk dibujuk.


"Sekalian kita makan siang, Sayang. Kita harus ketemu pengacara Christian."


Mata Riana terbuka, dia menatap intens ke arah Aksa.


"Keluarga Fikri ingin bertemu."


Deg.


Jantung Riana berdegup sangat cepat, inilah jawaban dari panggilan yang tak henti dari Chintya.


"Sekarang kita bersih-bersih dan bersiap."


Ketika Riana hendak memakai make up. Dia menggelengkan kepala melihat lehernya. Sungguh seperti drakula suaminya ini. Foundation sudah di tangan, tetapi Aksa melarang tangani Riana untuk menutup mawar merah pemberiannya.


"Malu, Bang," ujar Riana.


"Kamu 'kan sudah punya suami. Kenapa harus malu?"


"Apa Abang ingin memperlihatkan tanda ini kepada Arka? Bahwa Abang sudah memiliki Ri sepenuhnya?"


Aksa pun terdiam. Riana bangkit dari duduknya. Tangannya melingkar di pinggang sang suami.


"Tanpa Abang menunjukkan pun dia pasti tahu. Malah seisi dunia ini tahu kalau Ri adalah milik Abang sepenuhnya. Semuanya sudah Ri berikan kepada Abang. Tidak usah menunjukkan sesuatu yang tidak penting," tuturnya.


Aksa tersenyum dan dia mengecup ujung kepala Riana. Sekarang malah dia yang membantu Riana menutup mawar merah pemberiannya drakula tak bertaring.


Sepasang suami istri ini sangatlah cocok. Tampan dan juga cantik. Apalagi, keposesifan Aksa di mata mereka yang melihatnya membuat mereka iri.


Dia masih betah bersandar di bahu sang suami. Ke mana pun Aksa pergi di jam kantor, pasti akan didampingi sopir.


Tibanya di rumah sakit, Riana menggenggam erat tangan Aksa. Hatinya berdegup tak karuhan. Ketika tiba di lantai tiga, di mana Fikri dan Broto ditangani oleh dokter. Riana sudah melihat para polisi yang berjaga. Seperti mengingat kejadian Arka tempo hari.


Mereka masuk ke dalam ruangan. Di sana sudah ada dua pasien yang terbaring lemah. Riana terdiam ketika melihat Chintya sudah sembab.


"Riana," panggilnya lirih.


Chintya hendak menghampiri Riana, tetapi Riana malah mundur tanpa melepaskan rangkulan tangannya di lengan Aksa.


"Maaf Nyonya, klien saya ketakutan. Saya harap Anda tidak mendekat," ucap Christian.


Chintya pun mengalah, hanya tatapan datar dan dingin yang Aksa berikan kepada dua orang yang sudah seperti mangga bonyok.


"Katakan! Apa keinginan Anda?" Suara yang sangat dingin dan juga menakutkan.


Chintya tersentak, ternyata Aksa bisa membaca keinginannya.


"Tolong beri keringanan hukuman kepada suami saya." Chintya sudah menangkupkan kedua tangannya kepada Aksa. Namun, Aksa masih bergeming.


"Riana ... Tante mohon, tolong bantu Tante," ujar Chintya seraya menangis. Dia berharap Riana akan iba dan membantunya. Chintya yakin, jika Riana akan bisa meluluhkan hati Aksa.


"Maaf Tante, Ri tidak bisa. Semua keputusannya ada di tangan suami Ri. Tante mungkin tahu, target dari Om Fikri dan juga Pak Broto adalah suami Ri, tetapi mereka salah sasaran dan menyebabkan tewasnya rekan dari suami Ri. Apa itu bukan termasuk ke dalam pasal pembunuhan berencana?"


Chintya pun terdiam, dia tidak bisa menjawab ucapan Riana. Riana yang lembut dan penuh rasa simpati kini berbuah sebaliknya.


"Berita ini belum sampai di telinga Ayah. Jika, ayah mengetahuinya mungkin hukumannya akan diperberat lagi," tukasnya.


Aksa tersenyum bahagia ke arah sang istri yang memiliki dua kepribadian. Riana bisa menjelma menjadi perempuan lembut dan juga tegas seperti ini.


"Siapkan pengacara terbaik untuk melawan saya," pungkas Aksa.


Dia membawa Riana menjauh dari tempat itu. Tujuan Chintya sudah bisa Aksa tebak apalagi meminta Riana untuk ikut. Baru saja keluar dari pintu kamar perawatan, mereka berpapasan dengan seseorang yang berada di atas kursi roda.


"Riana."


Wajah pucat itu tersenyum ke arah Riana. Berbeda dengan Aksa yang semakin mengeratkan genggamannya.


Riana hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Dia juga sadar siapa dia sekarang. Seorang istri harus menjaga perasaan suami.


"Selamat ya." Arka mengulurkan tangan ke arah Riana. Namun, Riana menatap ke arah Aksa seperti sedang meminta persetujuan. Anggukan kecil yang Riana lihat membuatnya menerima uluran tangan tersebut.


"Makasih," jawab Riana.

__ADS_1


Dengan cepat Riana menarik tangannya kembali. Dia tidak ingin berlama-lama menjabat tangan Arka.


"Bang, Ri lapar."


Sengaja Riana mempercepat pertemuannya dengan Arka. Dia tidak ingin rumah tangga yang baru menginjak seminggu sudah bertengkar karena hal seperti ini.


Aksa tersenyum dan membawa Riana pergi dari hadapan Arka. Hanya pamit ala kadarnya yang Riana berikan. Di sepanjang perjalanan Riana terus bertanya. Suaminya marah atau tidak.


"Enggak, Sayang. Udah ya, jangan bahas masalah itu." Riana mengangguk pelan dan semakin membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


Setelah makan siang, mereka kembali ke rumah. Aksa segera mengambil laptop miliknya sambil bersandar di kepala ranjang.


"Ini Bang, kopinya."


Aksa tersenyum ketika sang istri sudah mencepol rambutnya ke atas. Memperlihatkan mawar merah Karena foundation yang menutup mawar merah tersebut sudah dihapus oleh Riana.


"Makasih, Sayang."


Riana hendak pergi, tetapi tangannya ditahan oleh Aksa. "Mau ke mana?"


"Cuci baju dulu, tadi 'kan gak sempat karena kita olahraga siang," jawab Riana.


"Temani Abang aja di sini," pinta Aksa.


"Ri, cuci baju dulu, ya. Nanti Ri kesini lagi, temani Abang."


Aksa sangat beruntung memiliki istri Riana. Dia benar-benar tidak memanfaatkan fasilitas yang Aksa berikan. Sesuai dengan yang dikatakan Riana, setelah selesai mencuci baju dia kembali ke kamar. Kali ini membawa buah potong untuk sang suami. Riana menyuapi Aksa yang masih fokus pada laptopnya.


"Masih lama?" tanya Riana yang kini sudah berbaring di samping Aksa.


"Sebentar lagi, Sayang." Aksa mengusap lembut kepala istrinya. Aksa manarik tangan Riana untuk memeluk perutnya.


"Kalau kamu ngantuk, tidur aja, ya." Aksa tahu, istrinya sedari tadi menahan kantuk hanya untuk menemaninya.


Tak berselang lama, dengkuran halus pun terdengar. Aksa tersenyum ke arah istrinya. Setelah pekerjaannya selesai, Aksa bangkit dari tempat tidur. Dia ingin mengambil air putih sepertinya Riana lupa menyiapkannya.


Ketika keluar kamar kondisi apartemen sangatlah rapi. Aksa tersenyum, sudah pasti istrinya yang membersihkannya. Dua gelas air dia bawa ke kamar. Satunya untuk Riana. Dia ikut merebahkan diri di samping sang istri yang sudah terlelap dengan damainya. Perlahan mata Aksa tertutup. Sore menjelang, Riana membuka matanya. Bibirnya melengkung dengan sempurna ketika melihat sang suami ikut tidur siang bersamanya.


"Abang tuh kurang istirahat," gumam Riana, dengan sangat hati-hati Riana turun dari ranjang. Dia mencuci wajahnya terlebih dahulu sebelum ke dapur. Baru saja melangkah menuju dapur, suara bel berbunyi. Dia masih ingat akan ucapan Aska. Riana pun membukakan pintu dan matanya melebar ketika melihat ketiga keponakannya yang ada di depan apartment.


"Aunty!" Mereka memeluk tubuh Riana dengan begitu eratnya.


Mereka bertiga diantar Fahri ke apartment Aksa karena sang ibu ada rapat penting dan kemungkinan malam akan kembali. Fahri hanya mengantarkan saja dan si triplets sudah menerobos masuk. Mata mereka memicing ketika melihat leher Riana banyak terdapat bunga mawar.


"Aunty, leher Aunty kenapa?" Aleena si anak ingin serba tahu mendekat dan menyentuh beberapa bunga mawar di leher Riana.


Riana terdiam, dia merutuki kebodohannya karena tidak menutupi bekas hisapan drakula tak bertaring.


"Aunty masuk angin, jadi dikerokin." Riana berharap ketiga keponakannya ini percaya.


Aleeya dan Aleesa ikut mendekat. "Kerokan bukan begitu," sahut Aleesa.


"Ini sama kayak leher Bubu waktu itu. Kata Bubu, Baba yang udah gigit leher Bubu," ungkap Aleeya.


Mata Aleena dan Aleesa melebar. "Uncle gigit Aunty?" tanya mereka berdua. Belum juga Riana menjawab mereka bertiga sudah masuk ke dalam kamar utama.


"Uncle!" teriak mereka bertiga.


...****************...


Komennya jangan lupa ...


Aku akan jawab pertanyaan dari kalian.



Kisah Aska dan jodohnya akan disatuin di sini atau gak?



Jawab : Kalau yang ikutin IG aku pasti tahu, ya. Aska dan jodohnya ada di cerita yang berbeda.



Kenapa kisah Aksa duluan dibandingkan Aska?



Jawab : Lihatlah pertemuan mereka kembali kapan.



Kok Jingga ada di Jakarta jadi pengasuh Kalfa? Kan dia ada di Jogja.



Jawab : Lihat setting waktu Yang Terluka kapan. Lihat juga setting waktu Jodoh Rahasia kapan.


Udah ya, semoga jawabannya memuaskan kalian.


Love you ...😘

__ADS_1


__ADS_2