
Wajahnya seperti pernah lihat.
Mata Riana memicing ketika melihat ada seseorang yang berada di dalam mobil pria itu hentikan. Seperti ada seorang pria di dalam sana. Namun, masih anteng di kursi penumpang depan.
"Kenapa kamu masih di sini? Cepet masuk!" Kali ini pria itu mengusir Riana.
Baru kali ini Riana bertemu dengan pria bermulut pedas layaknya ibu-ibu tukang ghibah. Riana memilih masuk dari pada berdebat dengan pria yang sama sekali tidak dia kenali.
Riana menghela napas kasar ketika masuk ke dalam kosan. Dia menuju dapur karena perutnya sudah meronta untuk diisi. Ada Rani di sana sedang membuat susu. Riana menikmati makanannya dengan terus menatap Rani. Dia menelisik wajah Rani.
"Kok hampir sama," ucapnya dalam hati.
"Kenapa kamu lihatin saya?" hardik Rani.
Riana pun gelagapan sendiri. "Ng-nggak, Mbak."
Rani seakan sangat peka akan sekelilingnya. Matanya sangat tajam dan instingnya sangat kuat. Membuat Riana sedikit takut jika berhadapan dengan Rani.
"Kamu mau tanya pria tadi 'kan. Pria yang mengusir teman laki-laki kamu." Rani bagai cenayang yang mengetahui isi pikiran Riana.
"Dia tetangga kita sekaligus pemilik kosan ini." Riana terkejut mendengar penjelasan Rani.
"Dia sangat tegas dan juga bisa bersikap kejam. Dia sangat tidak suka jIka ada penghuni kosan ini melanggar aturan yang telah dibuatnya. Makanya, hanya orang-orang tertentu yang bisa menyewa kosan ini. Salah satunya, orang yang sibuk seperti saya. Waktu saya hanya dihabiskan untuk bekerja dan bekerja," tambahnya.
Riana mengangguk mengerti. Rasa penasarannya terhadap pria itu sudah terjawab. Namun, masih ada satu lagi yang mengganjal pikirannya. Siapa pria yang duduk di kursi penumpang depan di dalam mobil pemilik kosan itu? Wajahnya sangat familiar sekali. Postur tubuhnya Riana kenali. Hanya saja, dia tidak bisa memastikan karena kaca mobil dibuat sangatlah gelap.
"Apa dia tinggal berdua?" Rani menggeleng. "Sendiri," jawabnya.
Rani melenggang begitu saja meninggalkan Riana. Awalnya perutnya keroncongan tetapi kini mendadak merasa kenyang karena rasa penasaran.
Di kosan sampingnya, seorang pria tengah menghembuskan napas kasar. Dia memejamkan mata dengan pikiran yang terus berkelana.
"Semuanya sudah beres?" Pria pemilik kosan itu pun mengangguk.
"Pastikan besok berjalan seperti biasanya." Perintah pria itu bagai perintah Baginda raja yang harus dilaksanakan.
Keesokan paginya, Riana sudah rapih dengan setelan kampusnya. Hari ini dia akan melakukan sidang skripsi. Tanpa dia ketahui, ada seorang yang memperhatikannya dalam diam. Hati Riana berdegup kencang ketika dia sudah tiba di depan pintu gerbang kampus. Ada ketakutan di hatinya.
Bully, sudah pasti akan dia terima. Kata-kata kasar dan menyakitkan sudah menari-nari di telinganya. Membayangkannya saja sudah bergidik ngeri. Riana cukup lama mematung di sana. Menata hatinya agar mampu menghadapi kenyataan yang ada.
__ADS_1
"Riana!"
Lamunan Riana pun buyar dengan cepat dia menoleh dan bibirnya tersenyum lebar ketika melihat dua sahabatnya Risa dan Raisa menghampirinya.
"Ayo masuk! Kita harus segera lulus dan mencari pekerjaan," celoteh Risa. Disambut senyuman manis dari Riana.
Hati Riana merasa tenang dengan kehadiran dua sahabatnya ini. Apalagi, Risa dan Raisa tidak mempertanyakan perihal masalahnya. Padahal, mereka adalah perempuan kekinia yang sangat senang dengan dunia kekepoan. Ada rasa penasaran di hatinya. Akan tetapi, Riana memilih diam.
Tak Riana duga, semua warga kampus pun bersikap biasa kepada Riana. Tidak ada hujatan, tidak ada bully-an dan tidak ada perkataan yang menyakitkan. Semuanya menyapa Riana dengan hangat. Seakan tidak terjadi apa-apa dengannya.
Apa mereka tidak mengetahui beritanya? tanya Riana dalam hati.
Riana tidak ingin memikirkan perihal itu dulu. Dia ingin fokus pada sidang. Menyiapkan diri dan mental itulah yang Riana lakukan sekarang.
Ting!
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
Abang Tercinta
Semangat Sayang. Cepatlah lulus agar kita cepat bersatu dalam ikatan cinta yang sah di mata negara dan agama.
Satu buah pesan yang membuat Riana tersenyum bahagia. Menambah mood booster untuknya agar bisa menghadapi sidang skripsi hari ini. Beginilah wanita, tidak perlu barang mewah. Sedikit perhatian kecil mampu membuat mereka bahagia.
"Lega," imbuh Risa.
Untuk merayakan kelegaan mereka, mereka bertiga memutuskan untuk berjalan-jalan ke mall yang tak jauh dari kampus. Wajah bahagia terpancar jelas. Layaknya perempuan pada umumnya, mereka hanya berkeliling mall tanpa membeli apapun. Pada akhirnya, mereka berhenti dia sebuah food court.
"Lulus kuliah mau kembali ke Jakarta?" tanya Raisa.
"Sepertinya tidak, aku mau cari kerja di sini," jawab Riana sambil memakan ice cream.
"Bukannya keluarga kamu memiliki usaha cukup besar?" Risa menatap Riana lamat-lamat.
"Itu milik Kakakku, tetapi aku ingin berusaha sendiri. Ingin melamar bekerja sesuai dengan cita-citaku," imbuhnya.
"Sekretaris?" Sebuah anggukan yang menjadi jawaban atas pertanyaan Raisa.
"Udah punya rekomendasi perusahaan yang mau kamu masukkan lamaran?" Raisa benar-benar penasaran dengan Riana.
__ADS_1
"Kakakku merekomendasikan WAG grup." Mata Risa dan Raisa melebar dengan sempurna.
"Perusahaan yang sangat selektif," ucapnya berbarengan.
"Katanya sih seperti itu." Riana membenarkan ucapan kedua sahabatnya ini.
"Kamu yakin mau nyoba ke sana?" Riana mengangguk mantab.
"Jika tidak diterima?" ucap Risa.
"Datanglah ke perusahaan Papahku. Papahku juga sedang mencari sekretaris." Suara seorang pria yang membuat ketiga wanita menoleh.
Senyum khas terukir di bibirnya. Wajahnya cerah bagai sinar bulan purnama. Siapa lagi jika bukan Arka.
"Wah link-nya Riana banyak juga," goda Risa.
Riana hanya terdiam, matanya masih menatap Arka dengan tatapan sulit diartikan. Namun, Arka seakan tidak memperdulikannya. Dia memilih duduk di samping Riana membuat Risa dan Raisa semakin menggoda mereka.
"Cocok banget deh, Ri," ujar Risa.
"Cantik dan tampan," ucap Raisa.
Arka tersenyum lebar sedangkan Riana hanya terdiam. Ponsel Riana berdenting.
Abang Tercinta.
Ketika kamu sedang berada dengan pria lain. Ingatlah, aku ada di setiap detak jantungmu.
Tanpa Riana sadari, dia memegang cincin yang menjadi liontin kalungnya. Aksa seperti sedang memata-matainya. Hari ini, semua kegiatannya seakan Aksa tahu. Padahal, Riana tidak memberitahukannya. Seperti saat ini, ketika Arka ada di sampingnya. Aksa mengirim pesan seperti itu.
Kenapa feeling-nya selalu kuat?
Bingung dan heran menjadi satu. Riana merasakan kehadiran Aksa di sana. Matanya mencoba berkeliling mencari sosok yang sangat dia cintai. Matanya terkunci pada sosok pria yang memakai kemeja biru langit yang tengah menatapnya lamat-lamat.
Itu 'kan ... pemilik kosan.
Riana terus memandangi wajah pria tersebut. Dia sedang menyamakan wajah pria itu dengan seseorang.
Ya, mirip sekali. Apa Mbak Rani memiliki kembaran?
__ADS_1
...****************...
Suka lanjutkan baca, gak suka silahkan skip aja!!!