
Kebahagiaan Aksa dan Riana masih mereka pendam berdua. Gavin pun belum mereka beri tahu. Mereka tidak ingin merusak kebahagiaan Aska nantinya. Biarlah Aska bahagia terlebih dahulu, barulah mereka.
Pagi hari di rumah besar itu terlihat sangat sibuk. Namun, Aksa tak membiarkan istrinya kelelahan.
"Kenapa diam di sini? Bukannya bantuin," sergah Rion kepada Riana. Dia merasa tidak enak ketika semua wanita berada di dapur, Riana malah duduk manis menemani sang putra tersayang menonton acara televisi.
"Riana lagi kurang sehat, Yah." Aksalah yang menjawab sergahan dari Rion. Aksa membawakan buah potong untuk istrinya juga Gavin.
"Dih, Ayah agak dibawain?" Aksa pun tertawa.
"Emang Ayah mau?"
"Pake ditanya lagi," omel Rion.
Riana hanya menggelengkan kepala melihat tingkah ayahnya yang tak pernah berubah.
Jam sembilan pagi, mereka sudah harus bertolak ke sebuah hotel. Itupun menggunakan bus membuat Aksa menggelengkan kepala tak percaya. Sungguh ide yang sedikit gila.
Gavin memeluk perut Riana terus. Terkadang, dia mengecup perut rata Riana. Aksa sedikit terkejut dan hanya bisa menyunggingkan senyum.
"Kalau Daddy boleh tahu, Empin mau punya adik berapa?" Kini, Aksa mengajak berbincang sang putra. Beberapa hari tak bertemu dengan Gavin rasanya sangat rindu.
"Banak, Daddy. Atu mau punya banyak Adit."
Riana pun tertawa begitu juga dengan Aksa. "Nanti jadi kakaknya galak gak ke adiknya?"
"No, Dad. Halus ditayan. Dak boleh dalak."
Aksa mengusap lembut rambut Gavin dengan penuh cinta. Putranya memang sudah sangat siap menjadi seorang kakak.
"Dad, talo atu puna adit. Atu mau di tunat, ya."
Permintaan Gavin membuat kedua orang tuanya melabarkan mata. Apalagi Riana yang sedikit terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh putranya itu.
"Dapat kata sunat dari mana, Nak?"
"Daddy."
Kini, Riana menatap tajam ke arah suaminya yang sudah tersenyum.
"Atu inin monton titus atu belubah dadi tepala damul." (Aku ingin moncong tikus aku berubah jadi kepala jamur)
Riana benar-benar tersentak mendengar ucapan dari Gavin. Tatapannya tertuju pada suaminya. Ini adalah ajaran sesat dari suaminya. Aksa hanya meresponnya dengan acuh.
Ketika tiba di tempat diadakannya akad, Aksa dan Gavin bisa beristirahat sejenak sedangkan para wanita harus segera mengantre untuk di make-up.
"Daddy, boleh matan mie?" Ibunya melarang Gavin untuk memakan makanan instan sedangkan dia ingin merasakan bagaimana rasa mie instan itu.
Ternyata si triplets sedang makan mie dalam cup membuat Gavin ingin merasakannya juga.
"Tentu boleh, tapi jangan bilang Mommy." Gavin pun mengangguk.
Aksa bertanya kepada ketiga keponakannya dan ternyata mereka memang sengaja membawanya. Kebetulan masih ada satu cup lagi.
"Makasih."
"Seratus ribu," balas Aleeya.
Aksa mengerutkan dahi sedangkan tangan Aleeya sudah menengadah. Dia hanya bisa menggelengkan kepala.
"Jualan mie begini seratus ribu mah cepat naik haji," ujar Aksa.
"Dedek mah mau ke Pluto," balas Aleeya.
Aksa pun tertawa dan mengusap lembut rambut keponakannya.
Gavin sangat lahap menyantap mie dalam cup tersebut. Aksa tidak akan melarang.
"Pelan-pelan, Nak."
"Nanti, tetauan Mommy."
Aksa tertawa, "Nanti Daddy yang bilang ke Mommy." Mata Gavin pun berbinar.
Setelah mie dalam cup habis, anak itu malah terlelap di dalam dekapan sang ayah. Riana yang tengah menahan mual segera keluar dari ruangan rias. Dia menghampiri suaminya yang tengah memeluk Gavin.
"Kenapa?"
Riana merebahkan kepalanya di pundak sang suami. Melingkarkan tangan di lengan Aksara. "Mual."
Aksa mengecup kening Riana sangat dalam. "Kayaknya semua gak mau jauh dari Daddy," ucapnya seraya tersenyum bahagia.
Kali ini, giliran Riana seorang diri yang dihias. Gavin pun sudah terbangun dan Aksa mengajak putranya untuk berganti pakaian.
"Tamaan."
Gavin merasa sangat bahagia ketika memakai baju yang sama dengan sang ayah. "Kelen."
Aksa pun tertawa. Dia membenarkan pakaian yang Gavin kenakan agar putranya terlihat lebih mempesona. Dari kejauhan om dari Gavin memperhatikan Aksa dan juga Gavin. Mereka berdua sangat kompak dan tampan. Tiba Riana di sana, dia membenarkan baju batik sang suami dan merapihkan rambut suaminya yang sedikit berantakan. Melihat mereka bertiga membuat semua orang yang ada di sana merasa iri. Sangat harmonis.
Selesai acara, Riana malah bergelayut manja di lengan suami tercinta. Rion dan Ayanda mengerutkan dahi mereka karena mereka berdua merasa ada yang berbeda pada Riana.
"Apa Riana hamil?" batin Rion.
Pagi hari, ketika semua orang masih berada di kamar hotel, Aksa dan Riana serta Gavin sudah berangkat menuju rumah sakit. Sang putra merasa bingung karena tidak biasanya kedua orang tua mereka mengajaknya ke rumah sakit.
"My, atu dak tuta lumah tatit." Gavin tidak ingin pergi ke sana. Namun, Aksa masih tetap memaksa.
"Nanti Empin akan bahagia kok kalau tahu Mommy dan Daddy mau ngapain di sana."
Terdengar helaan napas kasar dari mulut Gavin. Dia juga merebahkan tubuhnya dengan kasar ke jok mobil. Riana hanya tertawa melihat putranya.
"Sabar ya, Nak."
Mobil sudah berbelok ke rumah sakit. Aksa tak membolehkan istrinya membuka pintu mobil sendiri. Dia memutari mobil dan membukakannya untuk istri dan putranya.
__ADS_1
Tangan Aksa menggandeng tangan Riana dan tangan satunya lagi menuntun Gavin. Banyak mata tertuju pada mereka karena mereka definisi pasangan yang sempurna.
Gavin sedikit merengek ketika menunggu antrean cukup lama. Namun, Aksa tak tinggal diam. Dia menyerahkan ponsel miliknya agar digunakan oleh putranya.
Riana mengeluh mual dan Aksa segera mengecup kening sang istri tercinta. Merebahkan kepala Riana di bahunya.
"Sabar, ya."
Gavin yang tidak mengerti terkadang memanggil ayahnya dan meminta bantuan kepadanya. Aksa benar-benar menjadi suami sekaligus ayah yang luar biasa.
Tiba saatnya Riana masuk ke dalam ruangan dokter obgyn. Riana dan Aksa sudah duduk di hadapan sang dokter wanita. Riana menjelaskan keluhannya dan membawa salah satu testpack yang dia gunakan.
Dokter Obgyn menyuruh Riana untuk berbaring di ranjang dan dia akan memeriksa perut Riana. Gavin yang tidak mengerti hanya mengerutkan dahi saja. Aksa mendekat ke arah sang istri. Menggenggam tangan Riana dengan sangat erat.
Dokter memperhatikan layar monitor dan terlihat senyum kecil yang tersungging di bibirnya.
"Anda bisa lihat ini 'kan."
Dokter obgyn menunjuk ke arah titik yang ada di monitor. Itu mengingatkan pada Gavin yang masih berada di dalam kandungan.
"Istri Bapak memang mengandung."
Ucapan syukur keluar dari mulut Aksa juga Riana. Senyum bahagia terukir di wajahnya. Kini, dokter menghampiri Gavin.
"Senang gak mau jadi kakak?" Gavin tak mengerti dengan ucapan sang dokter.
"Di dalam perut mamah ada dedeknya." Mendengar kata dedek membuat Gavin bersorak gembira. Dia mengampiri ibunya yang baru turun dari ranjang pemeriksaan.
"My, pelut Mommy ada dedekna?" Riana mengangguk dan membuat Gavin memeluk perut sang ibu dengan sangat erat. Dia juga menciumi perut ibunya.
"Cepat betal, de. Nanti main tama Mash."
"Mas?" Riana terheran-heran mendengar ucapan Gavin.
"Dia ngedenger percakapan antara Mommy dan ayah." Riana hanya ber-oh ria.
Keluar dari ruang pemeriksaan Gavin terlihat sangat bahagia. Namun, sang ayah mengatakan bahwa kabar ini jangan sampai bocor kepada siapapun. Hanya rahasia mereka bertiga.
"Lahatia lati-lati."
Mereka berdua pun melakukan tos membuat Riana menggelengkan kepala.
Di acara makan malam semua orang sudah berkumpul. Riana, Aksa dan Gavin datang paling terakhir membuat semua orang berdecak kesal.
"Pengantin baru aja datangnya cepat, lah kalian," cibir Rion. Aksa hanya tersenyum begitu juga dengan Riana.
Mereka menikmati makan malam yang sudah mereka pesan. Gavin terlihat sangat lahap sedangkan Riana seakan ogah-ogahan membuat Aksa harus menyuapi istrinya.
Kejanggalan demi kejanggalan yang ada pada diri Riana membuat mereka bertanya-tanya. Riana biasanya tidak seperti itu.
"Udah."
Aksa tersenyum dan mengusap lembut kepala Riana. Tak segan dia pun mencium kening istrinya.
Setelah makan malam selesai, mereka berbincang santai dan ketika ada waktu yang tepat, Aksa membuka suara.
Kalimat Aksa membuat semua orang terdiam dan menatap bingung ke arah Aksara. Apalagi senyum yang sudah mengembang dari putra pertama Giondra.
Aksa meletakkan sebuah kotak di tengah-tengah meja membuat mereka semua mengerutkan dahi. Rionlah yang mengambil kotak itu dan membukanya. Sepuluh testpack yang ditaruh dalam keadaan terbalik, juga dua buah foto yang diletakkan terbalik juga. Tangan Rion mengambil testpack tersebut dan ketika melihat garis yang ada di testpack tersebut tubuh Rion menegang.
Dia menatap putri dan menantunya. "Ini serius?" Rion benar-benar tak percaya.
Riana dan Aksa mengangguk, yang lainnya pun ikut mendekat ke arah kotak dan mengambil isi kotak tersebut dan mereka berteriak gembira.
"Selamat, Ri."
Riana tersenyum bahagia. Apalagi sang mamah mertua sudah memeluknya dengan sangat erat.
"Mamah senang, Ri. Senang sekali."
Double kebahagiaan yang mereka rasakan. Pernikahan Askara dengan wanita yang Askara cintai juga kehamilan Riana yang membuat kebahagiaan itu semakin sempurna.
.
Kehamilan Riana kali ini sangatlah biasa saja. Hanya saja, dia tidak mau berpisah jauh dengan suaminya.
"Jangan lama-lama." Begitulah manjanya Riana kepada Aksa.
"Enggak, Sayang. Empin cuma mau ke alpa." Sebelum pergi Aksa selalu menyempatkan untuk berpamitan kepada buah hatinya yang baru berusia tiga bulan di dalam perut Riana. Dia juga mengecup kening serta bibir Riana dengan sangat lama.
"Abang berangkat, ya." Riana pun mengangguk.
Riana benar-benar tidak boleh melakukan hal apapun ketika Aksa berada di rumah. Harusnya Aksa beristirahat, tetapi tak dia lakukan. Di hari liburnya, Aksa akan mengajak Gavin bermain juga menemani istrinya.
"Maaf ya."
Kata itu keluar dari mulut Riana ketika mereka selesai melakukan ritual jenguk Dedek bayi.
"Untuk apa?" tanya Aska yang masih membelai punggung halus Riana.
"Abang gak pernah lelah mengurus Ri dan juga Empin." Reaksi Aksa malah tertawa. Dia mengusap lembht rambut Riana dan mencium ujung kepala sang istri.
"Ini keputusan Abang, Sayang. Tidak akan ada kata lelah untuk mengurus dua malaikat kesayangan Abang." Senyum Riana pun merekah dan mereka mengulang kembali acara penjengukan bayi untuk kedua kalinya. Di kehamilan kedua ini baik Aksa maupun Riana seakan memiliki hasrat yang lebih.
.
"My, atu penen tunat."
Riana yang tengah memakan buah anggur tersedak mendengarnya. Begitu juga Ayanda yang tengah memakan nasi goreng hampir menyemburkan apa yang dia makan.
"Eh bocah! Kalau kamu disunat entar burung mini kamu habis." Aska mulai menakuti sang keponakan. Pasalnya usia Gavin masih tiga tahun. Masih sangat kecil untuk disunat.
"Atu dak mau puna monton titus. Atu mau puna tepala damul taya Daddy."
(Aku gak mau punya moncong tikus. Aku mau punya kepala jamur kayak Daddy)
__ADS_1
Sontak Aska menyemburkan makanan di mulutnya membuat mata sang ibu melebar dengan sempurna.
"Ri, anak lu dapat kosakata begituan dari mana?" Aksa menggeleng tak percaya mendengar ucapan keponakan tampannya.
"Siapa lagi," jawab Riana.
Ya, Aksa sedang ke Jogja karena ada sedikit masalah di perusahaan WAG. Sedangkan Gio tengah ke Singapura ada rapat yang tidak bisa diwakilkan.
"Potona atu mau ditunat. Ti-tit!"
(Pokonya aku mau disunat. Ti-tik!)
Riana menghela napas kasar. Dia memanggil putranya agar mendekat ke arahnya.
"Mommy mau tanya. Kalau disunat nanti Empin akan nangis gak?" Kepala balita itu menggeleng.
"Beneran?" Riana memastikan.
"Atu mu dadi tata. Atu dak boleh Nanis. Atu dak boleh tenen."
(Aku mau jadi kakak. Aku gak boleh nangis. Aku gak boleh cengeng)
Riana tersenyum dan mengusap lembut kepala putra pertamanya. "Ya udah, tapi bilang Daddy dulu, ya. Kalau Daddy mengijinkan nanti kita cari hari bagusnya dan Empin akan segera disunat."
"Yeay! Tu-nat! Tu-nat! Tu-nat!"
Aska sebagai om dari Gavin Agha Wiguna hanya dapat menggelengkan kepala. Anak itu sungguh luar biasa. Tidak ada rasa takut sama sekali. Apalagi selalu menjadi anak yang penurut kepada kedua orang tuanya.
"Antel, atu minta sepuluh libu dolal.
Singapul."
(Uncle, aku minta sepuluh ribu dollar Singapura)
Mata Aska melebar mendengar ucapan dari keponakannya itu. Ini acara sunatan-menyunat apa palak-memalak.
"Uncle gak punya uang dollar." Aska merogoh saku celana dan ada uang lembaran yang berwarna ungu. "Ada juga yang ini." Aska menunjukkan uang sepuluh ribu rupiah kepada Gavin.
"Buat balay palkil itu mah."
(Buat bayar parkir itu mah)
Ayanda dan Riana pun tertawa mendengar ucapan dari Gavin. Kini, dia malah memainkan perut Riana yang sedikit terlihat menonjol.
"Dede, tau dak tita itu punya antel pelit."
(Dedek, tau gak kita itu punah uncle pelit)
Lagi-lagi mereka tertawa mendengar ucapan dari Gavin. Ponsel Riana bergetar dan terlihat suaminya tengah melakukan panggilan video.
"Iya, Dad."
"My, atu mau bitala Tama Daddy." Gavin merebut ponsel sang ibu dan kini layar ponselnya penuh serangan wajah Gavin.
"Daddy, atu mau tunat."
Mereka semua menunggu respon dari Aksa. Apa Aksa mengijinkan atau tidak.
"Wah, serius? Kapan mau sunatnya?"
Mereka tercengang mendengar jawabnya dari Aksa. Sungguh di luar ekspektasi mereka.
"Tata Mommy, bilang dulu te Daddy."
Aksa tersenyum. "Setelah Daddy pulang dari Jogja aja, ya. Daddy akan temani Empin sunat."
"Hole! Asik!"
"Berikan ponselnya kepada Mommy."
Gavin menuruti perintah sang ayah dan kini wajah Riana yang memenuhi layar ponsel itu.
"Jangan khawatir. Nanti Daddy akan searching dulu metode sunat apa yang tidak terlalu sakit." Riana pun tersenyum. Suaminya ini selalu tahu kegundahan hatinya.
"My, atu mu bilang te Enton."
Anak itu berlari dan diikuti oleh Aska karena Aska ditugaskan untuk menjadi baby sitter Gavin selama Aksa tidak ada.
"Enton!"
Rion yang hendak menyesap kopi pun terkejut bukan main karena teriakan sang cucu tercinta.
"Kalau jantung Engkong copot gimana?" omel Rion.
"Pasang Adi." (Pasang lagi)
Rion mencubit gemas pipi sang cucu tercinta. "Ada apa pagi-pagi ke sini?" tanya Rion.
"Atu mau tu-nat."
"Hah?" Bukan Rion yang terkejut, tetapi Arya yang baru saja datang ke rumah sahabatnya itu.
"Kamu masih kecil."
"Atu udah gede."
Rion hanya tertawa. Dia mengusap lembut rambut hitam cucunya.
"Emang gak takut?" Gavin menggeleng.
"Bial atu dapat hadiah Dali Enton. Hadiah mahal, bukan cuma totelat payun yan buat pelut atau tatit."
(Biar aku dapat hadiah dari engkong. Hadiah mahal bukan cuma cokelat payung yang buat perut aku sakit)
...****************...
__ADS_1
Insha Allah UP banyak. Jangan bosan ya ...