
Ketika semua keluarga Aksa telah kembali ke rumah, tinggal Aksa yang masih betah berada di halaman samping rumah Riana.
"Bang, seriusan satu Minggu lagi?"
Aksa yang baru saja menelepon Fahri mengangguk mantap. Dia membuka ponselnya dan menunjukkan persiapan semuanya. Dari surat undangan, busana, tempat akad dan juga tempat resepsi.
"Semuanya sudah siap, tinggal fitting baju aja sambil foto prewed."
Riana tidak menjawab ucapan Aksa. Dia masih sibuk menggeser gambar demi gambar di ponsel sang kekasih.
"Ini 'kan pernikahan impianku."
"Kamu suka 'kan?"
Riana memandang wajah Aksa dengan penuh cinta. Bibirnya tersenyum lebar dan kecupan hangat dan singkat mendarat di bibir Aksa.
"Gak kerasa, Yang," keluh Aksa.
"Belum sah, Bang. Pamali." Aksa mendelik kesal ke arah Riana yang sudah tertawa mengejek.
Riana meletakkan ponsel Aksa dan menggenggam tangan calon suaminya.
"Abang benar sudah resmi bercerai?" Pertanyaan yang terdengar pilu di telinga Aksa.
Aksa menarik tangan Riana dan mendekapnya dengan hangat.
"Jika, Abang belum mendapat akta cerai. Abang tidak akan pernah berani melamar kamu," tegasnya.
Riana tersenyum dan membalas pelukan Aksa dengan sangat erat.
"Abang gak mau terlalu lama menunggu. Semua syarat pernikahan yang Daddy berikan sudah bisa Abang penuhi," tuturnya.
Riana merasa terkejut dengan ucapan Aksa. Dia mengurai pelukannya tanpa melepaskan tangannya yang masih melingkar di pinggang Aksa.
"Daddy mengajukan persyaratan?" Aksa pun mengangguk. Dada Riana kini bergemuruh.
"Daddy mengharuskan kedua putranya sukses terlebih dahulu sebelum menikah karena Daddy tidak ingin melihat menantunya dijadikan babu bukan ratu."
Hati Riana meleleh mendengar persyaratan yang diberikan oleh calon ayah mertuanya. Sungguh calon mertua idaman.
"Apa cukup segini uang bulanan untuk kamu?" Aksa menunjukkan sembilan digit angka kepada Riana dengan angka pertama adalah dua dan angka kedua adalah lima.
"Seperempat M?"
Riana tercengang dan tidak bisa berkata apa-apa. Dia menatap nektra berwarna hitam milik Aksa yang menyiratkan keseriusan.
"Cukup gak, Sayang? Kalau gak cukup Abang tambah lagi."
"Apa itu gak kebanyakan?" Bukannya menjawab, Riana malah balik bertanya. Aksa tertawa melihat ekspresi Riana, sangat syok.
"Ya enggak lah, Sayang. Itu 'kan untuk kebutuhan semuanya pasti memerlukan biaya yang gak sedikit 'kan. Kalau untuk biaya kamu pribadi, akan Abang beri black card."
Seharian ini Riana dikejutkan terus-terusan. Untung saja jantung Riana kuat, jika tidak dia bisa pingsan.
__ADS_1
Keesokan paginya, Aksa sudah menjemput Riana. Mereka akan fitting baju sekaligus foto prewed. Menuju butik ternama dan desainer sangat terkenal di negeri ini. Mereka disambut hangat oleh designer sekaligus pemilik butik tersebut
Riana merasa sangat istimewa ketika mengetahui baju yang akan dia kenakan di acara akad maupun resepsi adalah baju khusus yang sengaja designer itu buatkan untuknya. Tiga bulan yang lalu, Gio dan Ayanda datang ke butik ini dan mengatakan akan mengadakan acara pernikahan putra pertama mereka. Hanya dengan melihat calon pengantin pria dan wanita melalui sebuah foto, designer itu langsung mencoret-coret kertas dan jadilah hasil yang sangat bagus ini.
Namun, acara foto pre-wedding harus batal karena sang photografer ada rapat dadakan dengan klien besar. Jadi, diundur besok. Di tengah perjalanan, ponsel Aksa berdering. Dia menepikan mobilnya karena Fahri lah yang menghubunginya.
....
"Memangnya tidak bisa diwakilkan?"
Riana mulai menatap Aksa. Matanya penuh tanya. Terdengar helaan napas kasar ketika sambungan telepon itu berakhir.
"Ada apa?" selidik Riana.
"Besok Abang harus ke Jogja. Ada rapat penting dengan perusahaan besar yang tidak bisa ditunda ataupun diwakilkan." Riana mengangguk pelan dengan ekspresi datar. Tidak mungkin, dia melarang calon suaminya untuk mengurus perusahaan 'kan.
Melihat wajah kecewa Riana, Aksa merasa tidak tega. Dia mengusap lembut kepala Riana.
"Kamu besok ikut ke Jogja, ya. Kita foto pre wedding-nya di sana aja. Gimana?" Wajah Riana mulai berbinar bertanda dia setuju.
Menjelang hari bahagianya, seakan Aksa enggan berpisah dengan Riana. Dia ingin Riana terus berada di sampingnya. Mengikuti ke mana kakinya melangkah.
Semuanya sudah Aksa atur, dari baju pre wedding, photographer akan diterbangkan ke Jogja terlebih dahulu. Sedangkan Aksa dan Riana akan berangkat esok pagi.
"Bang, Ri boleh 'kan ikut ke kantor. Ri, ingin bertemu dengan Jingga."
Aksa yang tengah fokus pada lembaran-lembaran kertas menatap ke arah sang kekasih yang sudah memperlihatkan mata yang penuh harap.
Senyum pun mengembang di bibir Riana. Dia mulai merangkul mesra lengan sang calon suami.
Tibanya di WAG Grup, Aksa berjalan beriringan dengan Riana dengan tangan yang bertautan. Beberapa orang yang melihatnya menatap heran.
"Abang ke ruang meeting, ya. Kamu langsung ke pantry aja. Nanti, setelah selesai meeting Abang jemput kamu di pantry." Kecupan hangat mendarat di kening Riana.
Di sinilah Riana dan Aksa harus berpisah. Aksa menggunakan lift khusus petinggi dan Riana menggunakan lift khusus karyawan. Riana bergegas keluar ketika lift sudah tiba di lantai yang dia tuju. Dia segera menuju pantry untuk bertemu Jingga.
Kehadiran Riana mampu membuat Jingga terkejut. Dia sangat bahagia karena Riana datang kembali.
"Mbak kerja lagi?" Riana menggeleng. Wajah kecewa Jingga terlihat jelas.
"Jangan khawatir, aku akan sering-sering datang ke sini kok."
"Serius?" Riana pun mengangguk.
Mereka berbincang hingga ponsel Riana berdering. Riana hanya menjawab dengan kata iya. Riana pun bangkit dari duduknya, tetapi dicegah oleh Jingga.
"Aku harus masuk ke ruangan direktur utama."
Mata Jingga melebar ketika mendengar ucapan Riana. Mau ngapain? Ingin rasanya Jingga bertanya seperti itu, tetapi dia urungkan.
Riana pergi meninggalkan Jingga dan berjalan santai menuju ruangan direktur utama.
"Mau ngapain lu datang ke sini? Mau ngemis-ngemis pekerjaaan lagi ke Pak direktur?" hardik Denisa.
__ADS_1
Riana tidak ingin meladeni orang yang memiliki otak yang kurang seperempat. Dia memilih untuk pergi, tetapi tangannya dicekal oleh Denisa.
"Gak akan gua biarkan lu ganggu calon suami gua?"
"Mimpi!" balas Riana spontan.
Denisa semakin memelintir tangan Riana hingga dia mengaduh kesakitan.
"Hentikan!"
Randi segera menarik tangan Denisa agar melepaskan cengkeramannya pada tangan Riana.
"Mau jadi pahlawan kesiangan lu!" sentak Denisa. Tubuhnya membentur tembok akibat ditarik Randi.
Riana sudah mengeluh kesakitan hingga Randi mendekat dan ingin menyentuh tangan Riana.
"Sayang."
Aksa baru tiba di lantai di mana ruangannya berada. Matanya memicing ketika posisi Randi sangat dekat dengan Riana. Apalagi ada Denisa juga.
Kecupan hangat mendarat di kening Riana membuat Denisa dan Randi melebarkan mata. Riana pun merasa cukup terkejut akan tindakan Aksa. Namun, hatinya menghangat. Dia merasa dilindungi oleh Aksa.
Aksa menggenggam tangan Riana dan membawa Riana masuk ke dalam ruangannya. Tanpa berbicara apapun kepada dua karyawannya itu. Membiarkan mereka bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.
"Riana adalah calon istri Pak direktur. Lima hari lagi acara pernikahan mereka," ucap Fahri.
Tubuh Randi maupun Denisa seketika lemah tak berdaya. Hati mereka patah berkeping-keping. Namun, Randi enggan untuk percaya. Dia masih menunggu Riana.
Lama menunggu, akhirnya Riana keluar dari ruangan direktur utama. Akan tetapi, Tangan Riana sudah melingkar di lengan direktur utama. Wajahnya pun nampak bahagia, membuat Randi kecewa.
"Riana," lirihnya, ketika Riana dan Aksa sudah meninggalakan ruangan tersebut.
Ketika baru saja masuk ke dalam lift. Denisa memanggil Aksa dengan napas yang tersengal.
"Kenapa Bapak pecat saya? Saya tidak melakukan kesalahan," tekannya.
Aksa tersenyum miring, dia menatap tajam ke arah Denisa yang juga tengah menatapnya.
"Kesalahan kamu sudah sangat banyak. Dari kinerja kerja kamu pun sangat kurang. Ditambah kamu selalu menggosipkan Riana, dan hari ini kamu telah membuat tangan Riana terluka," terangnya.
"Bapak tidak bisa memecat saya. Saya 'kan ...."
"Tidak usah membawa-bawa ayah kamu. Tidak ada urusannya dengan saya karena saya tidak merasa memiliki hubungan apapun dengan keluarga kamu."
Riana sudah mengusap lembut lengan Aksa. Dia pun menggeleng kecil menandakan jangan dilanjut lagi. Tak segan Aksa mengecup ujung kepala Riana di depan Denisa.
"Kita ke tempat foto prewed."
...****************...
Komen dong ....
Jangan lupa ngamplop ya di pernikahannya Riana-Aksa.
__ADS_1