Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Fitting Dan Tamasya


__ADS_3

Hari ini saatnya keluarga besar dari Aksa maupun Riana melakukan fitting baju. Suara riuh terdengar di lantai bawah. Aska yang baru saja membuka mata mendengkus kesal karena tidurnya terganggu. Dia meraih ponsel yang masih tersambung dengan charger di atas nakas. Bibirnya tersenyum bahagia ketika melihat satu pesan di aplikasi pesan yang dipakai sejuta umat.


"Pagi."


Satu kata yang tidak terlalu bermakna, tetapi bagi Aska itu adalah kata cinta yang Jingga berikan kepadanya. Ucapan selamat pagi yang akan menjadi penyemangat untuknya di pagi hari ini.


"Pagi juga mentari pagiku.♥️"


Sebuah kalimat yang Aska balas sebelum dirinya masuk ke dalam kamar mandi. Gedoran pintu terdengar sangat nyaring. Siapa lagi pelakunya jika bukan ketiga keponakannya yang tak sabaran.


"Om cepetan bangun!" Teriakan layaknya Tarzan yang mereka lakukan.


Daripada terkena semprotan trio tuyul lebih baik dia masuk ke dalam kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Kemudian, dia memakai pakaiannya dan keluar kamar untuk menemui semua keluarga. Mata Aska terbelalak ketika semua orang sudah berada di ruang tengah, seperti kumpul keluarga di hari raya.


"Mommy gak salah?" Kalimat itulah yang keluar dari mulut Aska. Tangannya sudah menunjuk ke arah semua orang yang sedang bercengkrama. Jika, dihitung lebih dari dua puluh orang. Belum lagi yang absen hadir, seperti Beby dan keluarga Azkano.


"Kita memang keluarga besar."


Aska hanya menggelengkan kepalanya saja. Dia tidak mengerti dengan apa yang ada di kepala ibunya. Senang sekali mengeluarkan uang banyak hanya untuk memakai baju yang senada. Tak main-main, baju yang ibunya pesan selalu di butik langganannya.


Dahi Aska mengkerut ketika dia belum melihat sang Abang juga istrinya. "Yang punya hajat mana?" sergah Aska yang sudah merampas keripik singkong di tangan Iyan.


"Kakak!" seru Iyan. Aska tak peduli, dia memang hobi membuat anak-anak kesal.


"Masih di kamar."


Tak lama Aksa dan Riana keluar dari kamar dengan mengenakan baju senada yang membuat semua orang terpana. Apalagi tangan Aksa yang terus menggenggam tangan Riana dengan begitu eratnya.


Lengkungan senyum terukir dengan sempurna di wajah mereka semua. Pandangan mereka terpaku pada perut Riana yang terlihat sudah menonjol. Apalagi Riana mengenakan dress yang sangat cantik, membuat perutnya sedikit terlihat membukit.


"Aura kecantikan kamu semakin terpancar," puji Echa kepada adiknya. Riana hanya tersenyum, kemudian dia menatap ke arah suaminya yang tak segan mencium kening Riana.


"Pantas aja si Abang ngurungin Riana terus. Semakin menggoda," canda Arya.


Wajah Riana memerah karena malu, sedangkan Aksa hanya tertawa mendengar celotehan sahabat dari ayah juga ayah mertuanya.


"Mimo, ayo!"


Aleeya sungguh tidak sabar, dia terus merengek ingin segera pergi. Begitu juga dengan Aleena juga Aleesa.


"Sebentar ya, kita tunggu aki dulu," imbuh Ayanda.

__ADS_1


Ketiga cucunya pun mengangguk pelan dengan menyimpan sedikit kecewa. Beberapa menit berselang sang aki masuk ke dalam rumah dan membuat ketiga cucunya riang gembira.


"Udah siap Aki?" tanya Aleeya dengan sangat antusias.


"Sudah."


"Yeay!" Mereka bertiga berteriak bahagia, sedangkan Aska masih fokus pada toples keripik singkong di tangannya.


Semua orang keluar dari rumah Ayanda dan Aska tersentak ketika melihat sebuah bus sudah terparkir. di depan rumahnya.


"Kita mau fitting baju apa mau tamasya?" Aska berucap dengan kepala yang menggeleng tak percaya.


"Dua-duanya." Ketiga keponakan Asal menjawab dengan penuh suka cita.


"Mereka ingin naik bus. Makanya Daddy turutin." Aska hanya bisa menganga mendengar ucapan dari sang ayah. Betapa enteng sekali ucapan ayahnya ini.


Tak menunggu lama, semua orang sudah masuk ke dalam bus. Mereka mengambil tempat duduk masing-masing.


"Bang, kursi roda udah dibawa?" tanya Gio, ketika Aksa membenarkan kursi sang istri agar nyaman.


"Sudah, Dad." Gio tersenyum. Dia duduk di samping Riana yang sedikit terkejut dengan kehadirannya hingga membuat Gio tertawa.


Tangan Gio sudah berada di atas perut Riana sekarang. "Kalau kamu gak nakal, nanti Pipo ajak kamu ke Bali."


"Iya, Sayang. Nanti Daddy akan siapkan baby moon kalian."


Riana memeluk tubuh ayah mertuanya. "Makasih Daddy." Sungguh sangat bahagia Riana. Sesungguhnya dia sudah sangat bosan berada di dalam rumah karena sang suami tidak mengijinkan Riana pergi tanpa dia yang menemani.


Anak kedua Gio malah tengah asyik memotret kursi penumpang di sampingnya yang masih kosong.


"Semua orang berpasangan. Kapan kamu jadi pasangan aku?"


Sebuah pesan yang Aska kirimkan ke nomor Jingga. Bibirnya tak henti menyunggingkan senyum.


"Sejak kapan gila?"


Seseorang tanpa permisi duduk di kursi samping Aska. Siapa lagi jika bukan sang duda judes dan ngenes. Aska berdecak kesal.


"Ngapain sih duduk di sini? Masih banyak tempat yang kosong kali," usir Aska.


"Ayah ingin di sini."

__ADS_1


Aska mulai menatap jengah ke arah ayah mertua dari sang Abang. Semakin tua kelakuan Rion semakin membuatnya pusing. Benar kata ayahnya Beeya. Rion semakin tua semakin gila.


Sekarang, kursi itu diduduki oleh pria kesepian lainnya. Siapa lagi jika bukan Arya yang ditinggal istrinya ke Singapura.


"Astaga!" erang Aska.


"Ngapa sih?" hardik Arya.


Aska terus berdecak kesal karena diganggu oleh dua pria paruh baya ini. Berbeda dengan Aska, ketiga kurcaci itu tengah asyik berdendang dengan sangat riang. Ini kali pertama mereka naik bus. Maklum, cucu Sultan. Kendaraan mereka sehari-hari saja Alphard. Jadi, ingin merasakan kendaraan yang merakyat.


Aska memilih pindah dari kursi tersebut. Dia memilih berada di kursi samping sang Abang. Melihat abangnya memperlakukan Riana dengan sangat lembut, membuat hatinya menghangat. Apalagi, sekarang Aksa yang tengah mengusap lembut perut istrinya, sedangkan Riana sudah menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


"Ya Tuhan ... apa menikah akan sebahagia itu?"


Aska melihat ke arah belakang. Di mana ada sang kakak perempuannya yang juga tengah diperlakukan manis oleh sang suami. Aska akui, Radit adalah pria yang sangat baik. Mampu membahagiakan kakaknya sampai detik ini.


Hal yang paling Aska takutkan ketika sang kakak diharuskan melakukan pengangkatan rahim. Seluruh keluarga takut, jika Radit akan mendua dan lain sebagainya. Namun, pada nyatanya itu tidak terjadi. Radit malah semakin menyayangi Echa. Kehadiran tiga anaknya sudah menjadi kebahagiaan yang tak ternilai. Aska sangat bangga pada kakak iparnya tersebut.


Ting!


Otw Istri.


"Kapan kamu ngenalin aku ke orang tua kamu?"


Mata Aska terbelalak ketika membaca balasan pesan yang dikirimkan oleh Jingga.


"Ini serius?" gumamnya.


Baru saja tangannya hendak membalas pesan Jingga, pesan lainnya dari Jingga masuk.


"Aku bercanda, Bang.😁"


Pupus sudah harapan Aska. Dia kira ucapan Jingga itu serius. Tangan Aska mulai menari-nari di layar ponsel kembali.


"Candaan kamu aku anggap serius."


"Secepatnya aku akan bawa kamu ke depan orang tuaku."


Aska mengirim pesan tersebut ke nomor ponsel Jingga dengan senyum penuh kemenangan.


"Jangan!"

__ADS_1


...****************...


Komen ya ...


__ADS_2