Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Apa Salah?


__ADS_3

Rasa mual masih sering Aksa rasakan. Semua obat sudah dia coba, tetapi masih tetap sama. Obat yang paling mujarab adalah menatap wajah istrinya dari sambungan video.


"Penyakit yang aneh," ucap Aksa.


Walaupun begitu, Aska tetap menjalankan pekerjaan serta study-nya dengan sangat baik. Dia tidak mau menjadi manusia manja. Sakitnya ini harus dia lawan karena obat sesungguhnya ini adalah istrinya. Dia ingin segera kembali ke Indonesia menemui istri tercintanya.


Di lain Negara, Riana sdfàng memandangi tubuhnya di depan cermin. Dia merasa ukuran sumber asinya membesar begitu juga dengan bagian belakangnya. Dia menatap ke arah kalendar meja. Seharusnya dia sudah datang bulan.


"Masa sih hamil?" guna.nya tak percaya.


Dia mengusap lembut perut ratanya seraya tersenyum.


"Benarkah kamu sudah tumbuh di sini, Nak?" tanyanya pada perut ratanya.


Riana senyum-senyum sendiri dan membayangkan bagaimana jika dia hamil. Bagaimana juga reaksi Aksa.


"Jangan senang dulu, takutnya hanya prank," gumam Riana lagi.


Berbeda dengan Aksa dan juga Riana, Aska sedang dilanda kecemasan karena Jingga datang dengan luka lebam di wajahnya ketika bekerja. Dia mendapat kiriman foto dari Fahri. Ingin rasanya Aska terbang lagi ke Jogja, tetapi dia mendapat tugas yang tak kalah penting yaitu menjaga Riana.


"Kenapa gua mau aja dikasih tugas suruh jaga permaisuri raja?" dengkusnya kesal.


Aska benar-benar penasaran dengan kehidupan Jingga sebenernya. Siapa keluarganya? Selama dia mengenal Jingga, dia tidak pernah tahu di mana rumah Jingga.


Ketukan pintu terdengar, sang ibu memanggilnya dan menyuruhnya untuk turun ke bawah. Aska mengikutinya saja, seketika matanya memicing ketika Christina sudah ada di sana.


"Mommy tinggal, ya."


Ayanda tidak akan mengganggu anaknya ini. Biarlah mereka berdua menyelesaikan masalah.


"Mau apa ke sini? Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi," tukas Aska.


"Aku masih mencintai kamu, Aska," lirih Christina.


Aska menghela napas kasar. Dia menatap ke arah Christina yang sudah menangis.


"Tina, di luaran sana masih banyak pria yang lebih baik dari aku. Lebih segalanya dari aku. Aku bukan siapa-siapa. Aku tidak memiliki uang banyak," tuturnya.


"Aku tidak butuh harta kamu. Aku hanya butuh kamu membalas cinta aku." Christina benar-benar keras kepala. Sebenarnya Aska bingung dengan Christina ini. Sudah berkali-kali ditolak masih berani menampakkan wajahnya di depan Aska.


"Aku bukan orang yang mudah untuk jatuh cinta. Aku juga bukan orang yang senang menyakiti wanita. Jika, kamu begini terus orang menyangkanya aku yang menyakiti kamu. Padahal diri kamu sendirilah yang membuat kamu hancur.asih memaksa seseorang yang tidak suka sama kamu. Apa itu tidak buang-buang waktu?" pungkas Aska. Christina hanya terdiam. Dia memberanikan diri menatap Aska.


"Apa kurangnya aku, Aska?" tanya Christina.


"Kamu sempurna, Christina. Hanya saja, aku tidak mencintai kamu."


Christina menangis keras mendengar ucapan Aska. Aska tidak ingin meredakan dan hanya membiarkan. Dia tidak ingin membuat Christina salah paham.


"Kenapa tidak sedikit saja kamu buka hati kamu untuk aku?" tanya lirih Christina.


"Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Kamu harus mengerti itu," jawab Aska dengan tegas.


Aska memilih untuk pergi meninggalkan Christina yang menangis seorang diri. Riana yang mendengar keributan pun ingin mendekat tetapi takut. Dia lebih memilih masuk lagi ke dalam kamarnya sambil mengusap perutnya yang rata. Itu bukan ranahnya, kecuali Aska yang meminta bantuan kepadanya.


Lama Christian berdiam di rumah Aska. Ayanda pun tidak ingin mendekat. Christina seperti sedang mencari perhatian kepada semua orang. Dia lebih memilih menghampiri Aska di dalam kamarnya.


"Dek," panggil Ayanda.


Aska menoleh dan menghela napas kasar ketika sang mommy mendekat. Ayanda sudah duduk dibibir ranjang.


"Mom, Adek tidak suka sama dia. Jangan harap Adek bisa menyayanginya juga mencintainya," terang Aska.


Ayanda mengusap lembut kepala putra keduanya. Senyum hangat mengembang di wajahnya. Dia sangat mengerti perasaan putranya itu.


"Mommy tahu, alasan Adek menolaknya karena tidak seiman. Adek tidak ingin menjalankan satu kapal dengan dua nahkoda. Kasihan nanti anak-anak Adek, Mom."


"Mommy mengerti, Dek. Mommy tidak akan pernah memaksa kau untuk serta menikah atau menikah dengan si A Dan Si B. Segala sesuatu yang dipaksakan itu sangatlah tidak enak." Aska mengangguk setuju.


"Mommy percaya perihal pepatah yang mengatakan bahwa cinta akan hadir karena terbiasa. Namun, menuju proses cinta itu pasti tidak mudah, ada hal saling menyakiti dulu. Mommy tidak ingin itu terjadi di dalam rumah tangga anak-anak Mommy. Mommy ingin anak-anak Mommy menikah karena dasar yang kuat dan cinta itu akan membawa pada kabahagiaan yang abadi. Jika, pondasinya saja sudah kuat, terjangan hujan dan angin serta badai pun pasti akan sanggup dilalui." Aska memeluk tubuh sang ibu, yang dikatakan oleh Ayanda benar adanya.


"Ketika Adek mengatakan 'saya terima nikahnya' di situ Adek sudah berjanji kepada Tuhan bahwa Adek sudah harus mampu menerima segala baik buruknya istri Adek. Sudah harus bisa memenuhi segala kebutuhannya, dari makan, pakaian, alat make-up dan sebagainya. Untuk sekarang, Adek belum mampu karena finansial Adek belum seperti Abang begitu juga dengan wanitanya yang belum tentu mau menerima Adek 'kan," terangnya.

__ADS_1


"Bullshit kalau perempuan bilang tidak butuh hartamu. Tanpa uang rumah tangga tidak berjalan dengan semestinya," papar Aska. Aska berbicara akan realita yang ada.


"Berikan kebebasan kepada Adek untuk memilih wanita yang memang mampu menerima Adek apa adanya. Bukan ada apanya."


Ayanda sangat bangga dengan pemaparan putra bungsunya ini. Askara memiliki pikiran yang sangat luas.


"Mommy dan Daddy menyerahkan semuanya kepada kamu, Sayang."


Aska tersenyum dan menggenggam tangan sang ibu. Kemudian, dia mencium tangan Ayanda dengan sangat lama.


"Doakan Adek supaya berhasil menikung istri orang." Mata Ayanda melebar mendengar ucapan Aska.


Jogja.


Tidak biasanya sepulang kantor Fahrani duduk di pantry. Jingga tersenyum manis kepada Fahrani. Dia juga menawarkan kopi dan teh kepadanya. Namun, Fahrani menolaknya.


"Saya mau bicara serius sama kamu," tegas Fahrani.


Jingga merasa sedikit takut, tidak biasnya Fahrani seperti ini.


"Sudah sampai mana hubungan kamu dengan adik direktur utama?"


Deg.


Jantung Jingga seperti berhenti berdetak. Jingga menatap ke arah Fahrani yang sudah menunjukkan wajah serius.


"Maksud Mbak apa?" tanya Jingga.


"Jangan berlagak bodoh, Jingga." geramnya.


Fahrani mengambil sesuatu dari tasnya. Dia menunjukkan beberapa foto kepada Jingga.


"Apa itu?" tanya Fahrani.


Mulut Jingga teras kelu. Matanya menatap nanar.


"Sadar diri Jingga, kamu itu sudah punya calon suami. Jangan jadi wanita murahan!" sentaknya.


Air mata Jingga menetes begitu saja mendengar ucapan Fahrani. Orang-orang yang berlalu lalang di depan pantry menoleh ke arah dalam.


Jingga hanya menunduk dalam, dia tidak bisa menyanggah ucapan Fahrani. Apa yang dikatakan Fahrani memang benar.


"Jauhi Askara! Atau foto ini akan saya kasih kepada calon suami kamu."


"Jangan, Mbak!" Jingga sudah bersimpuh di hadapan Fahrani. Jika, sampai calon suaminya tahu sudah pasti dia akan mati.


Fahri sudah berkacak pinggang ketika melihat Fahrani datang. Dia menarik tangan Fahrani masuk ke dalam kosannya.


"Apaan sih?" sergah Fahrani.


"Lu yang apa-apaan? Yang jadi cewek murahan itu lu!" bentak Fahri.


"Apa maksud lu?" tanya Fahrani. Fahri berdecih kesal.


"Jangan berlagak polos deh lu. Lu sama aja kayak si Christina!" tekannya.


"Apa untungnya buat lu ngancam-ngancam si Jingga? Apa Askara bakal jatuh cinta sama lu? Apa dia akan bertekuk lutut sama lu? ENGGAK BAKAL," terang Fahri.


"Yang ada dia makin ilfeel sama lu," ejeknya.


Fahrani berdecak kesal kepada sang kembaran. "Kenapa lu gak pernah belain gua? Gua ini adik lu!" hardiknya.


Fahri tersenyum tipis dan dua menatap tajam ke arah Fahrani.


"Malu gua punya adik seperti lu," jawabnya.


Fahri meninggalakan Fahrani begitu saja. Teriakan keras terdengar. Begitulah Fahrani, jika sudah marah.


Sepanjang perjalanan Jingga masih teringat akan ancaman dari Fahrani. Ketika dia tiba di kontrakan, Fajar sang calon suami sudah ada di sana. Hati Jingga berdetak sangat cepat. Apalagi terlihat gurat-gurat penuh kemurkaan di wajah Fajar.


Fajar segera merampas kunci di tangan Jingga. Kemudian, dia menguncinya dari dalam. Wajah takut Jingga sangat kentara. Urat-urat kemarahan sudah nampak jelas di wajah Fajar.

__ADS_1


Plak!


Tamparan keras mendarat di pipinya. Belum juga sembuh luka yang kemarin, kini sudah ditambah lagi. Fajar sudah mendorong tubuh Jingga hingga dia tersungkur. Tak segan-segan Fajar pun menendang tubuh Jingga hingga dia terus mengeluh kesakitan.


"Ampun, Mas. Ampun," rintihnya.


Fajar melihat ada kemoceng yang menggantung. Dia memukul tubuh Jingga hingga kemoceng itu patah menjadi dua. Hanya air mata ya g mengalir deras membasahi wajah Jingga.


"Apa salah aku, Mas?" tanya Jingga yang tengah menahan kesakitan.


Fajar melempar lembaran foto ke wajah Jingga. Tubuh Jingga menegang dan matanya nanar menatap foto itu.


"Itu alasannya kamu tidak mau aku cium, iya?"


Plak!


Satu tamparan lagi mendarat di wajah cantik Jingga. Ujung bibirnya kini robek.


"Kamu harusnya tahu diri siapa kamu? Tanpa aku harusnya kamu sudah mati," geram Fajar.


Jingga terus menangis dan dia menunduk dalam. Rasa sakit sudah menjalar di sekujur tubuhnya, tetapi tak dia hiraukan.


"Apa kamu mau aku bunuh, iya?" bentak Fajar.


Jingga menggeleng dengan cepat dengan Isak tangis yang terdengar sangat lirih. Jingga sadar, tanpa jasa Fajar mungkin sekarang dia sudah mati.


Fajar pergi begitu saja dengan sisa kemarahan. Jingga hanya bisa menangis. Dia mencoba untuk bangun tetapi tidak bisa. Dia merangkak dengan rasa nyeri di sekujur punggungnya untuk mengunci pintu kembali. Bukan hal pertama Jingga diperlakukan seperti ini. Jingga hanya bisa menangis lalu tertidur.


Pernah sekali Jingga kabur dari Fajar, tetapi Fajar mampu mengetahui tempat persembunyiannya dan kemarahan Fajar semakin menjadi. Tangan Jingga hampir patah karena dipelintir oleh Fajar dengan sangat keras. Keningnya harus dijahit karena terkena besi.


Jalan satu-satunya hanya pasrah dan menyerahkan semuanya kepada sang maha kuasa.


Pagi harinya, Jingga jalan dengan tertatih. Ringisan tertahan terdengar sangat memilukan. Wajahnya yang penuh dengan luka lebam, yang tak mampu ditutup dengan foundation mampu dilihat jelas oleh para karyawan lain.


Jingga berpapasan dengan Fahrani, tetap Jingga memilih menghindar. Dia tidak ingin menambah masalah. Semua karyawan yang melihat Jingga nampak Iba. Ketika mereka menjawab, Jingga hanya mengatakan terjatuh. Tidak ada jatuh yang berakibat luka seperti itu.


Fahri pun sempat melihat Jingga dengan keadaan yang mengenaskan. Akhirnya, dia memanggil Jingga ke ruangan direktur utama. Jingga duduk dengan menundukkan kepala.


"Katakan sama saya, wajah kamu kenapa?" tanya Fahri dengan nada yang sangat lembut.


Senyum tipis mengembang dia wajah Jingga. "Saya terjatuh, Pak."


Fahri menggelengkan kepalanya tak percaya. Apalagi robekan yang terdapat di sudut bibir Jingga.


"Jingga, Katakan yang sejujurnya. Kalau ada yang bersikap kasar kepada kamu katakan saja. Saya akan melaporkan ke ranah hukum."


"Tidak ada, Pak. Ini murni hanya kecelakaan," jawabnya.


"Kaki dan punggung kamu juga akibat jatuh?" sergah Fahri. Jingga mengangguk mantap.


Fahri hanya menghela napas kasar. Dia sama sekali tidak bisa mengorek informasi lebih dalam lagi. Hingga dia membalikkan ponsel yang sedari tadi berdiri tegak tak jauh dari hadapan Jingga.


Fahri menunjukkan gambar Aska yang tengah menatap jingga dalam.


"Kamu tidak bisa berbohong sama, Bang As," ucap Aska dari balik sambungan video.


Jingga terkejut, sepersekian detik mereka saling tatap dan kemudian dia menundukan seraya menangis.


"Siapa yang melakukannya?" tanya Aska.


Jingga masih menunduk dia belum berani mengungkapkan semuanya.


"Jigong, jawab Bang As," pinta Aska.


Akhirnya Jingga menegakkan kepalanya dan menatap Aska.


"Ini kesalahan kamu, Bang As. Kalau kamu tidak membawaku ke pantai ... ini semua tidak akan pernah terjadi!" pekiknya.


Aska sedikit terkejut dengan jawaban Jingga begitu juga dengan Fahri. Jingga pergi dari ruang direktur utama dengan air mata yanh sudah menetes. Tak dia hiraukan pandangan para karyawan lain. Dia masuk ke toilet dan menangis sejadi-jadinya di dalam sana.


"Maafkan aku, Bang As. Aku harus melakukan ini demi kebaikan kita. Aku tidak mau kamu dicelakai oleh Mas Fajar," gumamnya lirih.

__ADS_1


Aska benar-benar sedih mendengar ucapan Jingga. Tak terasa bulir bening menetes di wajahnya.


"Apa aku salah mencintai calon istri orang lain?"


__ADS_2