Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Tamu


__ADS_3

"Mau nambah lagi gak?" tanya Aksa.


Belum juga Riana menjawab pertanyaan sang suami, ponsel Aksa berdering dan mengganggu kegiatan yang akan mereka mulai kembali.


Aksa meraih ponselnya yang berada di atas nakas, dia tidak membiarkan istrinya pergi dari pelukannya.


"Ada yang nungguin Bapak sedari tadi," ujar Fahri dari balik sambungan telepon.


"Siapa? Bilang saya tidak bisa diganggu."


"Tapi, Pak ...."


Fahri menjeda ucapannya. Dia juga sedikit takut melanjutkan perkataannya karena orang itu bisa menembus WAG grup.


"Tapi apa? Bicara yang jelas!" bentak Aksa.


Riana mengecup singkat bibir sang suami. Kemudian, menggelengkan kepalanya menandakan Aksa harus bisa mengontrol emosi.


"Lebih baik Bapak datang ke sini, dia sangat amat keras kepala."


Terdengar helaan napas kasar dari balik sambungan telepon. Menandakan bahwa Aksa memang tengah emosi.


"Baik saya akan ke sana. Jika, tamunya tidak penting saya akan pecat kamu!" tegasnya.


Aksa mengakhiri sambungan teleponnya. Dia mendengkus kesal membuat Riana semakin mengeratkan pelukannya.


"Jangan emosian, Abang Sayang."


Aksa tersenyum dan meraih dagu sang istri. Dia kecup dengan sangat lembut. Setelah puas, mereka melayangkan senyum penuh cinta. Aksa mulai menggeser tubuhnya ke arah bawah. Dia mencium perut Riana penuh cinta.


"Cepat hadir di perut Mommy ya, Nak."


Kalimat yang Aksa ucapkan membuat Riana menitikan air mata. Setelah mereka melakukan hubungan suami-istri, Aksa selalu mengatakan kalimat tersebut. Hati Riana benar-benar terenyuh. Suaminya benar-benar menginginkan kehadiran seorang anak.


"Sayang, Abang harus kembali ke kantor. Ada tamu katanya di sana," ujar Aksa.


Riana yang sudah membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami mendongak ke atas.


"Keganggu lagi?" Aksa pun mengecup kening Riana.


"Nanti malam kita bisa melakukannya lagi, Sayang," jawab Aksa.


"Ri, ikut," pintanya. Aksa pun mengangguk dan mencium gemas pipi sang istri.


Setelah membersihkan tubuh mereka, Aksa sudah rapi dengan kemeja yang tadi dia gunakan. Begitu juga Riana. Namun, Aksa menukikkan kedua alisnya.


"Sayang, ini banyak mawar merah," kata Aksa, tangannya sudah menyentuh leher Riana.


"Bukannya ini indah? Ini menandakan suami Ri sangat garang, sampai menggigit Ri seperti ini."


Aksa pun tergelak dan memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat. "Abang takut, kalau kamu malu," terangnya.

__ADS_1


"Kenapa harus malu? Mawar merah yang diberikan oleh suami Ri sendiri. Itu menandakan bahwa yang bisa menyentuh Ri hanya Abang seorang," tuturnya.


Sebenarnya, Riana tidak membawa alat make up. Dia membiarkannya saja. Dia sudah menikah, wajar saja jika banyak tanaman mawar merah di lehernya. Di dalam hotel sendirian pun dia pasti akan merasa kesal. Lebih baik ikut dengan sang suami ke kantor.


Di tengah perjalanan, Aksa mengehentikan mobilnya di sebuah toko kosmetik besar.


"Kenapa berhenti?" tanya Riana.


"Kita beli foundation untuk menyamarkan bunga mawar merah kamu itu," sahut Aksa. Dahi Riana mengkerut.


"Abang gak suka?" sergah Riana. Dia mulai tersulut emosi.


"Bukan begitu, Sayang. Abang hanya tidak ingin kamu menjadi bulan-bulanan karyawan lain. Abang tahu, banyak yang sirik kepada kamu," terangnya.


Riana terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Aksa. Berarti suaminya pun sudah tahu perihal Randi menyukainya. Kini, Riana yang menatap tajam ke arah Aksa.


"Jadi ... Abang tahu dong kalau ...."


"Randi suka sama kamu," potong Aksa. Riana mengangguk.


"Apa yang gak Abang tahu tentang kamu selama bekerja di WAG grup?" Sombongnya.


"Kenapa Abang tadi marah?" tanya Riana heran.


"Lucu aja kalau lihat kamu panik."


Sangat menyebalkan suaminya ini. Dia menatap penuh kekesalan kepada Aksa. Namun, Aksa malah terkekeh.


"Coba deh cek notif i-banking kamu," ujar Aksa mengalihkan kemarahan sang istri.


Riana masih melirik suaminya dengan tajam. Tangannya mencari ponsel di dalam tas kecilnya. Ketika dia membuka notifikasi yang dia terima, matanya terbelalak.


"Serius?" tanya Riana dengan raut bingung.


"Iya, itu bonus untuk kamu karena sudah memberikan mawar merah di leher Abang." Riana menggeleng tak percaya mendengar ucapan dari suaminya.


"Satu mawar merah seratus juta, dan kamu memberikan Abang tiga mawar merah. Jadi, itu uang yang berhak kamu terima," terangnya.


"Gak usah, Bang. Uangnya untuk apa? Uang bulanan dari Abang aja belum dipake. Belum lagi black card yang Abang kasih," tolaknya.


Aksa mencubit gemas pipi sang istri. "Itu khusus untuk kamu, Sayang. Masuknya pun ke nomor rekening kamu. Jadi, bebas mau kamu gunakan untuk apapun. Asalkan dalam hal positif."


Lengkungan senyum pun terukir jelas di wajah Riana. Dia memeluk tubuh suaminya dan mengecup pipi Aksa bertubi-tubi.


"Makasih, Abang."


Apa yang dikatakan oleh kakak iparnya benar. Ketika istri merajuk harus disogok dengan seonggok uang agar hatinya melemah.


"Sayang, bedak yang kamu pakai apa?" tanya Aksa.


Riana melihat brand yang tertera di toko kosmetik tersebut. Kosmetik dari New York. Riana mencari gambar di mesin pencari agar suaminya membelinya tak salah shade. Dia menunjukan gambarnya ke arah sang suami.

__ADS_1


"Hanya ini?" tanya Aksa.


"Iya. Kebetulan foundation Ri sudah mau habis." Aksa pun terkekeh dan mengacak-acak rambut sang istri.


Aksa keluar dari mobil dan membawa ponsel Riana untuk menunjukkan apa yang ingin dia beli.


"Punya istri kok hemat banget," gumam Aksa.


Barang yang Aksa beli hanya foundation serta lip cream tidak ada yang lain. Dia masuk ke dalam mobil dan memberikannya kepada sang istri.


"Serius cuma ini aja?" tanya Aksa.


"Iya, emang kenapa?" Aksa menggeleng.


Aksa memperhatikan istrinya berdandan. Tidak sampai sepuluh menit Riana bilang selesai.


"Cepat banget?" tanya Aksa.


"Emang pernah ya ngerasain punya pacar dandannya lama?" sergah Riana dengan tatapan tajam.


"Salah lagi," keluh Aksa.


Dia memilih untuk melajukan mobilnya. Apa yang dikatakan oleh sang Daddy benar adanya. Lelaki selalu salah di mata wanita.


Tibanya di depan kantor, Riana masih menatap tajam ke arah sang suami. Aksa hanya menghela napas kasar, kini istrinya tengah merajuk.


"Ayo dong, Sayang ... kita turun," bujuk Aksa.


"Jawab dulu, pacar yang mana yang dandannya lama?" Aksa mengurut pangkal hidungnya yang terasa pusing. Tidak boleh salah bicara, istrinya sedang sensitif.


"Enggak ada, Sayang. Mana ada Abang pacaran. Kamu tahu siapa mantan Abang 'kan. Itu pun zaman masih ingusan," terang Aksa.


"Lalu itu tadi?"


"Teman-teman Abang selalu mengeluh istri atau pacar mereka kalau dandan lama. Udah ya, jangan berpikiran yang macam-macam. Nanti Abang macam-macamin nih." Aksa sudah menaik-turunkan kedua alisnya, menggoda sang istri.


Aksa mencuri ciuman singkat di bibir sang istri yang selalu terlihat cantik.


"Yuk, kita turun," ajak Aksa.


Semua mata para karyawan tertuju pada Aksa dan juga Riana. Apalagi, direktur utama tersebut menggenggam erat tangan Riana.


"Tamunya siapa, Bang?" tanya Riana di dalam lift.


"Gak tahu, Sayang. Fahri bilang dia sudah menunggu Abang sedari makan siang."


Pintu lift terbuka, mereka segera menuju ruangan direktur utama. Randi masih menatap Riana dengan tatapan berbeda. Namun, Aksa semakin mengeratkan genggamannya ke tangan Riana.


Aksa membuka pintu ruangannya dan kedua alisnya menukik tajam ketika dia melihat siapa yang ada di sana. Begitu juga Riana, langkahnya mundur satu langkah. Namun, genggamannya semakin dia eratkan ke tangan Aksa.


...****************...

__ADS_1


Komen ya, biar nanti aku UP lagi.


__ADS_2