
Dengan sedikit kebingungan Ziva melakukan apa yang diperintahkan oleh Aksa. Wajah datar dan penuh keseriusan membuat nyali Ziva menciut.
Setelah masuk ke kamar mandi. Ziva kembali ke dapur di mana Aksa sudah menunggu. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Aksa setelah Ziva menyerahkan mangkuk yang berisi air seninya. Apalagi sekarang Aksa sudah memakai masker.
"Itu untuk apa?" tanya Ziva setelah Aksa pergi menjauhinya. Aksa seperti manusia tuli. Padahal Ziva bertanya dengan suara yang cukup keras.
Aksa meletakkan mangkuk kecil itu di lantai. Tak lupa dia mengunci pintu kamar. Kamar yang dia gunakan pun bukan kamar yang ditempati oleh Ziva.
Semua testpack yang dia beli segera dia keluarkan. Satu per satu testpack itu dia celupkan ke air yang berada di dalam mangkuk. Setelah semua dicelupkan, dia meletakkan satu per satu testpack yang berada di lantai.
"Garis dua semua," gumamnya.
"Berarti ...."
Aksa terdiam sejenak, dia tidak menyangka akan memiliki anak dari Ziva wanita yang tidak dia cintai sama sekali.
"Bodoh kamu Aksa, bodoh," ucap Aksa sambil menarik rambutnya.
"Jika, itu anakku tidak akan mudah aku lepas dari wanita itu."
"Aku tidak mau dan aku harus melakukan sesuatu." Aksa pun meninggalkan rumah itu.
****
Yogyakarta.
Malam ini, Arka mengajak Riana untuk pergi menemui kedua orang tuanya. Riana sempat menolak, tetapi Arka terus membujuknya. Hingga Chintya menghubungi Riana dan memintanya. Jika, menyangkut ibu dari Arka, Riana tidak bisa menolak. Chintya sudah sangat baik terhadap Riana.
"Mana calon menantuku," sergah Chintya kepada Arka.
Arka menggeser tubuhnya dan berhasil memperlihatkan Riana.
"Ya ampun, kamu cantik sekali. Tante rindu sama kamu." Chintya memeluk Riana dengan penuh kehangatan.
"Mah, ajak masuk lah calon menantu kita," ujar Fikri.
"Calon menantu?" ulang Riana yang sedikit terkejut dengan ucapan Fikri.
"Jangan dengerin Papah aku," ujar Arka.
__ADS_1
Mereka mengajak Riana untuk makan malam bersama. Setelah itu mereka berbincang sejenak di ruang keluarga. Membahas ini dan itu.
"Riana, Tante ingin sekali kamu menjadi pendamping hidup Arka."
Mata Riana melebar mendengar penuturan Chintya dengan sorot mata penuh dengan keseriusan.
"Tante sangat yakin, kamu mampu mencintai Arka dengan sangat tulus. Kamu juga wanita baik yang mampu menjadi istri sekaligus ibu yang baik."
Riana membeku mendengar ucapan Chintya. Dia sudah berbicara terhadap Arka tentang ajakan ta'aruf. Dengan lembut Riana menolak. Banyak alasan yang Riana berikan perihal penolakan itu. Salah satunya dia ingin mengejar karir sebelum menikah. Setelah menikah, dia ingin menjadi ibu rumah tangga yang seutuhnya. Untung saja Arka bukan pria pemaksa. Dia menerima semua keputusan Riana. Asalkan Riana tidak memutuskan hubungan pertemanan mereka.
"Makasih, Tante selalu berprasangka baik terhadap Riana. Akan tetapi, Riana belum siap untuk menikah. Masih banyak mimpi yang belum terwujud. Salah satunya ingin membahagiakan Ayah serta Kakak Riana," sanggahnya dengan sangat lembut.
"Tidak apa-apa, Sayang." Chintya mengusap lembut rambut Riana. "Tante hanya ingin suatu saat nanti kamu dan Arka berjodoh. Menemani Arka hingga maut yang memisahkan kalian."
Ada rasa tidak enak di hati Riana. Namun, jika dia berbohong pun dia akan menyakiti Arka dan keluarganya. Lebih baik dia berkata jujur. Meskipun sama-sama akan menyakitkan.
Sepanjang perjalanan pulang Riana hanya menatap ke arah jendela mobil. Ucapan Chintya masih terngiang-ngiang di kepalanya.
"Jangan dipikirin ucapan Mama aku tadi. Mama emang ingin sekali memiliki menantu serta cucu. Mama ingin memamerkan menantu serta cucunya kepada teman-teman arisannya," kekeh Arka. Riana hanya tersenyum tipis.
Kamu terlalu baik untuk aku. Aku tidak ingin menyakiti kamu, Arkana. Tidak dipungkiri, hatiku masih terkunci. Masih ada satu nama yang belum bisa pergi dari hatiku. Pria yang sudah menyakitiku, tetapi masih sangat aku sayangi sampai detik ini.
"Maafkan Mamah aku, ya. Jika, perkataannya mengganggu pikiran kamu," sesal Arka.
"Tidak apa-apa, naluri seorang ibu," jawab Riana dengan seulas senyum.
"Aku masuk dulu, ya." Ketika Riana hendak membuka pintu, tangan Riana Arka tarik hingga tubuhnya masuk ke dalam pelukan Arka.
"Aku akan terus menunggu kamu. Sampai kamu siap melakukan ta'aruf dengan aku." Lagi-lagi Riana membeku mendengar ucapan dari Arka. Laki-laki yang sudah hampir dua minggu ini menjaganya dengan sangat baik.
Riana mencoba mengurai pelukan Arka. Dia menatap dalam manik mata hitam pekat milik Arka.
"Cinta tidak bisa dipaksakan. Aku tidak ingin menjelma menjadi wanita yang jahat. Membohongi perasaan aku sendiri demi untuk membahagiakan kamu. Pada akhirnya, bukan aku saja yang tersiksa. Kamu juga akan terluka."
"Maaf, jika kejujuran ku menyakiti kamu. Lebih baik sakit di awal cerita dari pada sakit di akhir kisah yang sudah terlanjur tenggelam di dalamnya," jelas Riana.
Senyuman manis yang Arka berikan kepada Riana setelah mendengar penjelasan dari wanita yang berada di depannya.
"Kenapa kamu senyum? Kamu tidak marah?" Riana menatap heran ke arah Arka.
__ADS_1
"Untuk apa? Aku malah suka dengan kejujuran kamu," jawab Arka.
Wajah Riana pun berubah, senyum manis Arka menular kepada Riana yang kini melengkungkan senyum.
"Makasih, telah mengerti aku," ucap tulus Riana.
"Bukankah semua wanita itu ingin dimengerti? Makanya, aku belajar mengerti kamu agar kamu mau menerima aku sebagai imam kamu." Senyum Riana pun pudar mendengar ucapan dari Arka.
Sedetik kemudian Arka tertawa dan mengusap lembut puncak kepala Riana.
"Aku bercanda. Bukankah sesama teman kita harus saling mengerti?" Tidak ada jawaban dari Riana. Dia masih menatap Arka dengan tatapan datar.
"Sekarang kamu masuk, ya. Udah malam, kamu harus istirahat."
****
Singapura.
Tibanya di Bandara hati Aska sudah mulai dilanda ketakutan. Dia terus saja merafalkan doa untuk kesembuhan sang kakek. Wajah khawatir Aska pun sangat terlihat jelas. Hatinya merasa sangat tidak tenang.
Baru saja mobil yang menjemput Aska tiba di depan rumah sakit. Aska segera turun dan berlari menuju tempat perawatan sang kakek. Dilihatnya semua orang yang berada di depan kamar perawatan tengah menunduk dalam seperti menyiratkan kesedihan.
"Ada apa ini?" tanya Aska. Namun, tidak ada jawaban dari mereka semua.
Hati Aska mulai tidak karuhan. Keringat dingin sudah membasahi telapak tangannya. Ada rasa takut di hati Aska sekarang ini. Tangannya mulai menekan gagang pintu. Baru saja pintu itu terbuka, Aska melihat pemandangan yang mengejutkan.
Tubuhnya lemah seketika melihat semua dokter menggelengkan kepala ke arah Aska. Dan sekarang tubuh sang kakek sudah ditutup dengan selimut hingga ke wajah.
"Kakek," teriaknya.
Di balik duka ada yang sedang tertawa gembira. Laki-laki yang berdiri di depan ruang perawatan Genta. Dia adalah salah satu anak buah dari Genta Wiguna.
Genta sudah tiada, giliran Christo yang akan segera menemui ajalnya.
...****************...
Ya Allah, komen kalian semakin berkurang aja ...
Apa kalian sudah bosan? 🤧
__ADS_1