
Kedatangan keluarga Riana membuat suasana semakin ramai. Apalagi ketiak Giondra datang, riuh pun tak terelakkan. Mereka bercanda sekaligus meledek satu sama.lain sehingga suasana makin seru.
"Om kecil, si Empin kenapa gak takut sama makhluk-makhluk yang ikut dengan kita, ya?" Aleesa memandang Gavin yang tengah terlelap dengan damainya. Padahal, Iyan datang ke sini senang rombongan makhluk astral. Teman-teman Iyan seakan ingin suasana baru. Berkelilinh rumah besar Giondra.
"Dia itu pemberani, apalagi kalau lihat om poci pasti dia tertawa." Aleesa hanya menganggukkan kepalanya. Membenarkan apa yang dikatakan sang om.
"Tapi, rumah ini bersih banget, ya." Iyan menoleh kepada keponakannya yang sangat cerewet.
"Kamu lihat penghuni pohon itu 'kan?" tunjuk Iyan ke arah pohon besar percis di dekat lapangan basket. "Dialah yang membuat rumah ini bersih dan tenang." Ada sosok pria berkopiah putih berdiri di bawah pohon besar. Ditambah penerangan di rumah Gio tidak pelit, jadi mereka enggan datang ke area yang terang.
Banyak pembicaraan UNFAEDAH yang terdengar. Apalagi ketiga pria paruh baya itu tengah berandai-andai jika Riana tengah mengandung empat anak.
"Gua satu, lu satu, Rion satu sama si Radit satu." Arya mengatur semuanya.
"Terus emaknya dapat apa?" tanya Rion.
"Dia urus aja si Empin. Tuh anak bakal calon anak Sultan yang ngeselin."
Mereka semua pun tertawa dan Riana membawa Gavin yang sudah terlelap ke kamarnya. Riana tidak ingin Gavin terbangun karena suara berisik orang-orang dewasa.
.
Pagi harinya rumah Giondra sudah didatangi oleh Echa dan juga Radit. Dahi Riana mengkerut melihat kedatangan dua kakaknya itu. Apalagi di pagi hari begini.
"Kakak mau bawa Empin, ya." Sudah Riana duga pasti Gavin yang menjadi incaran.
"Enggak! Hari ini Mamah yang akan bawa Gavin," sahut Ayanda yang sudah rapi. Dia pun tidak mau kalah. Ayanda adalah nenek kekinian. Bukan harta yang dia pamerkan, melainkan cucu tampannya.
"Dih, Echa ingin bawa Gavin ke rumah Mbak Nesha, Mah. Udah janji sama Mbak Nesha," tuturnya.
"Enggak! Mamah bilang enggak ya enggak." Ayanda tetap bersikukuh dengan ucapannya. Apalagi dia sudah berjanji kepada teman arisnannya untuk membawa serta cucunya.
Riana hanya menjadi penonton atas perdebatan antara ibu mertua juga kakaknya. Dia memilih untuk tidak memihak kepada siapapun. Sudah biasa ini terjadi. Anaknya selalu menjadi bintang di dua keluarganya. Gavin juga sudah menunjukka pesonanya kepada keluarga Addhitama.
"Ri," panggil Echa.
"Empin anak Ri apa piala bergilir sih?" tanyanya heran. Ayanda dan Echa pun tertawa mendengar ucapan dari Riana.
"Setiap hari anak Ri gak pernah ada di rumah. Lama-lama namanya ganti jadi Delan, gede di jalan." Riana bersungut-sungut karena Gavin selalu menjadi ajang pamer keluarganya.
"Keseringan sama kakak dan Mommy, entar anak Ri manggil ke Ri tante." Lagi-lagi Echa dan Ayanda tertawa mendengar ucapan Riana. Inilah unek-unek Riana selama ini karena putranya selalu dibawa oleh kedua wanita beda usia di hadapannya.
Sebenarnya Riana tidak akan melarang Gavin dibawa oleh anggota keluarganya. Putranya pun memang bayi yang manis dan juga lucu. Tidak pernah rewel ke manapun dia dibawa pergi, asalkan bersama orang yang dia kenal. Itulah yang membuat semua anggota keluarga ingin selalu membawa Gavin jalan-jalan.
Riana tengah duduk di sofa sambil menggenggam ponsel di tangannya. Pintu kamar terbuka dan membuat Riana menoleh.
"Mommy akan bawa Empin ke acara arisan, setelah itu Kakak akan bawa Empin ke rumah Rindra," lapor Ayanda. Riana hanya mengembuskan napas kasar.
"Terus Ri sama siapa?" Wajah Riana terlihat sangat memelas. Namun, ibu mertuanya tak menunjukkan wajah iba sama sekali. Itu hanya akal-akalan Riana saja.
"Kamu istirahat jangan kecapek-an." Riana memanyunkan bibirnya membuat Ayanda terkekeh.
Muncul sebuah ide dan membuat Riana bertanya, "boleh ke kantor Abang?" Ayanda pun tertawa dan mengusap lembut rambut menantunya.
"Tentu boleh. Mommy tanya dulu Abang ada di kantor atau gak."
Setelah ibu mertuanya pergi, Riana pun sudah cantik dengan dress selutut juga flat shoes senada dengan pakaiannya. Tak lupa dia memakai masker karena dia tidak kuat mencium aroma aneh-aneh. Hidungnya sangat sensitif sekali semenjak diantarkan hamil anak kedua.
__ADS_1
Bibir Riana terus melengkung ketika dia ingin memberikan kejutan kepada suaminya dengan membawakan makan siang yang sudah dia beli di sebuah restoran favorit suaminya. Sebelum menuju kantor Aksa, dia mampir ke restoran kesukaan Aksa. Membelikan menu yang menjadi favorit sang suami.
Tibanya di lobi kantor, langkah Riana dihadang oleh pihak keamanan. Riana menghela napas kasar dan menurunkan masker ke bawah dagu. Pihak keamanan itupun terlihat panik karena mengetahui wajah itu.
"Ma-maaf, Bu." Riana hanya mengangguk. Riana sudah memangnya lagi.
"Banyak sekali wanita yang mencari Pak Aksara ke perusahaan ini makanya harus saya cegah."
Mata Riana melebar ketika mendengar apa yang diucapkan oleh security itu. Pikirannya sudah tak karuhan.
"Banyak juga yang bawa makanan untuk Pak Aksara, seperti Ibu ini."
Dada Riana sudah bergemuruh, jantungnya sudah berdetak sangat cepat karena mendengar ucapan yang membuat hatinya panas.
"Tapi, oleh Pak Ak--"
Riana meninggalakan security tersebut dan segera menuju lift. Menekan angka di mana ruangan sang suami berada. Maskernya pun masih dia gunakan karena di tempat seperti ini akan banyak wangi parfum yang bercampur aduk. Jika, berlama-lama dengan security itu akan membuat Riana stress sendiri. Riana tidak ingin kepikiran hal apapun. Dia hanya ingin hidup tenang dan berpikiran baik kepada semua orang. Itulah kunci hidup bahagia.
Ketika keluar dari lift, banyak mata menatap ke arah Riana. Beberapa karyawan juga banyak yang menggodanya terlebih penampilan Riana yang sudah berubah. Lebih berisi dengan rambut sebahu yang diwarnai light brown, sangat kontras dengan kulit Riana yang putih. Wajahnya pun sebagian tertutup oleh masker membuat mereka semakin menggoda istri bos mereka.
"Apa boleh penggemar Pak Aksa naik ke lantai ini?" Riana masih dapat mendengar apa yang dikatakan oleh para karyawan. Mereka mengira Riana adalah fans dari Aksa. Dia segera menuju ruangan Aksara karena tidak ingin mendengar omongan apapun.
Tangannya sudah memegang gagang pintu. Dia menarik napas terlebih dahulu sebelum menekan gagang pintu tersebut.
"Kalau masuk ketuk pintu du-"
Bentakan itu terhenti ketika seorang wanita tengah mematung di tempatnya. "Maaf, ganggu."
Riana membalikkan tubuhnya karena dia tidak sanggup melihat suaminya tengah bersama dengan wanita seksi di dalam sana. Duduk berdekatan dengan wanita yang memakai rok di atas lutut juga kemeja yang sengaja kancingnya dibuka hingga terlihat belahan dadanya.
"Selingkuhan Pak Aksa?" bisik para karyawan yang tengah bersembunyi memprhatikan interaksi dua orang tersebut. Lambe murah berjalan, itulah sebutan bagi para karyawan yang senang bergosip.
"Sepertinya," timpal yang lain.
"Aku mau pulang." Suara Riana sudah bergetar. Aksa segera memeluk tubuh Riana dari belakang ketika mendengar ucapan istrinya. Dia meletakkan dagunya di bahu sang istri dengan tangan yang melingkar erat di pinggang Riana.
"Gak akan Abang ijinin kamu pulang." Ketegasan yang Riana dengar dari mulut istrinya. Aksa pun membalikkan tubuh istrinya dan membuka masker yang dikenakan Riana.
"Masuk ke ruangan Abang." Aksa menggenggam tangan Riana dan membawa paksa ke ruangannya.
"Gila! Istri Pak bos makin cantik," ucap salah seorang karyawan.
"Pantes aja pak bos gak mau nerima tamu wanita selain klien."
Di manapun tempat kerjanya, pasti akan ada tukang gosip seperti ini. Tak tanggung-tanggung atasan mereka yang mereka gosipkan.
Ketika Aksa dan Riana masuk ke dalam ruangan, klien dari Aksa sudah menarik roknya hingga ke atas. Terlihat pangkal paha dan juga sedikit terlihat belahan apem miliknya. Riana segera menutup mata sang suami dengan kedua telapak tangannya walaupun dia harus rela berjinjit.
"Rudal Abang akan bangun jika hanya sama kamu, Sayang." Riana berdecih dan menyuruh suaminya menutup mata. Tangan Aksa melingkar di pinggang sang istri.
Kini, Riana menatap ke arah wanita yang sudah mulai membenarkan pakaiannya. "Anda datang ke sini untuk membicarakan perihal bisnis atau mau menggoda suami saya?"
Jleb.
Sangat menusuk sekali ucapan dari Riana ini. Wanita yang kalem dan tak banyak bicara ternyata bermulut pedas juga.
"Jaga bicara Anda, Nyonya. Saya datang ke sini karena memiliki urusan dengan Pak Aksara, bukan dengan Anda."
__ADS_1
Rasa kesal sudah naik ke ubun-ubun. Namun, Aksa mengusap lembut perut istrinya yang masih rata.
"Kamu ikut dalam pembahasan ini." Aksa sudah menarik tangan Riana dan duduk tepat di sampingnya.
Sedari tadi Aksa memang sudah risih dengan rekan bisnisnya yang satu ini. Bukan karena dia tergoda, tetapi cara berpakaiannya tidak menandakan seorang pengusaha.
"Kita lanjut Pak Aksa." Wanita itu kini mulai mendekat ke arah suaminya dengan mencondongkan tubuhnya ke lembaran-lembaran yang akan mereka bahas. Juga memperlihatkan belahan dadanya.
Riana menangkup paksa wajah suaminya. Dahi Aksa mengkerut dan sebuah kecupan hangat Riana berikan di bibir suaminya membuat Aksa melebarkan mata dan wanita yang menjadi rekan bisnisnya pun berdecak kesal.
Aksa hanya tersenyum dan merengkuh pinggang istrinya agar semakin dekat dengannya. "Tak akan lama." Sebuah kecupan pun dia berikan di ujung kepala Riana.
Wanita itu masih bekerja keras mendekati seorang Aksara, tetapi kali ini Aksa menolak dengan sangat tegas. "Anda cukup di sana, Nona. Biarkan saya yang baca satu per satu poinnya."
Riana tersenyum kecil karena dia tetap menjadi pemenang di hati Aksa. Hembusan napas kasar keluar dari mulut Aksara. Kemudian, menutup map yang ada di hadapannya.
"Keputusannya nanti akan saya kabarkan." Senyum wanita itu pun merekah mendengar ucapan Aksa.
"Baik, akan saya tunggu kabar dari Anda, Pak." Hanya anggukan kecil yang menjadi jawaban dari Aksa.
"Sayang sekali, Pak. Tadinya saya ingin mengajak Anda makan siang bersama di restoran favorit saya." Mata wanita itu melirik ke arah Riana seolah mengatakan bahwa dia adalah pengganggu.
"Maaf sekali, Nona. Ada atau tidak adanya istri saya ... saya tidak akan pernah bisa makan siang dengan wanita yang bukan muhrim saya. Apalagi hanya berdua, saya sangat mengharamkan itu."
Angin segar untuk Riana, tetapi kekesalan luar biasa untuk wanita itu. Tatapan tajamnya tidak membuat Riana gentar.
"Kalau begitu saya permisi."
Bantingan pintu cukup keras terdengar. Riana hanya tersenyum tipis. Hembusan napas kesal pun keluar dari mulutnya. Tangan Riana sudah dilipat di depan dada dengan wajah yang ditekuk. Aksa hanya mengulum senyum karena jika marah seperti ini istrinya tambah terlihat cantik.
"Kenapa sih?" tanya Aksara yang sudah mengubah posisi duduknya. Dia kini menghadap ke arah samping istrinya dengan satu kaki dia letakkan di atas sofa.
Riana tidak menoleh sedikit pun, dia masih menatap lurus ke depan. Aksa memeluk pinggang istrinya dari samping dan meletakkan dagunya di bahu Riana.
"Cemburu?"
"Pake nanya." Riana menjawab dengan sangat ketus. "Kenapa gak bilang setiap jam makan siang banyak wanita yang mengantarkan makan siang untuk Abang?" Aksa terkejut, dahinya mengkerut dari mana istrinya tahu akan hal itu?
"Kenapa?" desak Riana. Dia sudah menatap manik Aksa dengan sangat tajam.
Aksa tersenyum, dia malah menyondongkan tubuhnya membuat Riana memundurkan tubuhnya juga. Tangannya menahan dada Aksa karena dia tahu suaminya ini akan melakukan apa.
"Jawab." Tangan Riana masih menghadang dada Aksa.
"Untuk apa? Semua makanan yang mereka kirim tidak pernah Abang terima juga." Riana mencari kebenaran atas ucapan suaminya ini. Apakah suaminya berkata jujur atau malah sebaliknya.
Cup.
Aksa memang cepat bertindak, dia sudah mengunci bibir mungil Riana dengan bibirnya. Tak membiarkan istrinya melepaskannya barang sedetik pun. Ketika napas mereka mulai terasa sesak, Aksa mulai memundurkan wajahnya dan menyentuh bibir Riana dengan ibu jarinya.
"Jangan berpikiran buruk terhadap Abang karena di mata Abang hanya kamu yang paling cantik. Kamu pemilik hati Abang dan kamu ... wanita yang satu-satunya bisa membuat Abang jatuh cinta sangat dalam," terang Aksa.
"Dengar ya Mommy-nya Gavin Agha Wiguna, suamimu ini tidak akan pernah bisa berpaling kepada wanita lain walaupun secara fisik lebih cantik dan menarik." Aksa membelai lembut pipi Riana dengan senyum yang mengembang di bibirnya. "Pada hakikatnya Abang hanya mencari wanita yang mau menerima Abang apa adanya. Baik buruknya Abang dan mau menyempurnakan hidup Abang yang pada nyatanya jauh dari kata sempurna." Tangan Aksa kini menggenggam tangan Riana. "Sekarang, Abang sudah menemukannya. Abang telah memilikinya dan Abang akan selalu menjaganya hingga akhir napas Abang. Love you so much, Riana Amara Juanda."
...****************...
Komen dong ...
__ADS_1