Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
257


__ADS_3

Jangan dibaca dulu, ya. masih sama.


"Kenapa lama angkat teleponnya?" tanya Aska pada Jingga.


"Enggak apa-apa."


Jawaban Jingga terdengar sangat pilu hingga membuat Aska tertawa.


"Jangan ngambek dong, aku cuma bercanda," tuturnya.


"Gak lucu!"


"Ciye ... yang cemburu," goda Aska.


Mereka berdua pun mendadak terdiam. Hanya deru napas mereka yang terdengar.


"Jingga," panggil Aska, setelah beberapa menit mereka terdiam.


"Iya."


"Do you love me?"


Deg.


Jantung Jingga berhenti berdetak seketika.


"Kamu marah, ketika aku bilang aku akan dijodohkan. Bukankah itu namanya cinta?"


Jingga masih terdiam, sedangkan Aska menanti jawaban.


"Katakan Jingga. Apa kamu mencintaiku juga?" tanyanya lagi.


Tut-tut--


Sambungan telepon pun terputus. Aska mengumpat kesal ke arah ponselnya yang ternyata sudah mati.


****


"Anak Ayah udah sampai."


Ayanda hanya terdiam, dia tidak menunjukkan ekspresi apapun. Berbeda dengan Melati yang terlihat sangat terkejut.


"Iya, Ayah," jawabnya.


"Ini Melati, putriku," ujar Eki kepada Giondra. Gio hanya mengangguk pelan.


Berbeda dengan Aksa juga Riana yang sudah tak peduli dengan kedatangan Melati. Dokter yang sudah menaruh hati kepada Aska.


"Mommy panggil Adek dulu," imbuh Ayanda. Wanita itu beranjak dari duduknya.


"Mom, Ri ikut," ucap Riana. Dia menatap ke arah Aksa terlebih dahulu sebelum pergi. Sang suami pun mengangguk setuju.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Ayanda sebelum pergi dari ruang tengah.


"Ri ingin susu cokelat dingin," bisik Riana di telinga sang ibu mertua.


Ayanda pun tertawa dan mengusap lembut rambut sang menantu. Melati yang menatap ke arah Ayanda juga Riana sedikit sedih melihatnya. Dia juga ingin merasakan bagaimana sentuhan lembut ibunya.


Memori otaknya berputar ke belakang. Ketika usianya menginjak empat tahun, Melati mulai menanyakan tentang ibunya kepada Eki.


"Ayah, Bunda di mana?" tanya Melati kecil. Bukan hanya sekali dua kali Melati menanyakan ibunya.


Eki yang merasa iba dan kasihan kepada sang putri, akhirnya dia mengajak Melati ke rumah sakit jiwa.

__ADS_1


"Ini tempat apa, Ayah?" tanyanya.


Eki tidak menjawab, dia hanya terus menggenggam tangan Melati memasuki rumah sakit tempat orang-orang yang terganggu kejiwaannya.


"Selamat siang dokter Eki," sapa salah seorang perawat yang mengenal Eki.


"Siang, saya ingin menemui Kenny,"


Kenny adalah istri sah Eki. Dialah yang telah membuat Eki berubah terhadap Jessi. Wanita pilihan ibunya yang membuat Eki jatuh cinta.


Perawat itu membawa Eki dan anaknya ke sebuah kamar perawatan. Mereka hanya bisa melihat dari pintu kaca.


Seorang wanita yang terus menjerit keras. "Aku bukan pelakor!"


Itulah yang dia katakan. Melati yang tidak mengerti apa-apa menatap ke arah sang ayah dengan penuh tanya.


"Tante itu siapa? Dia kenapa?" Pertanyaan yang keluar dari bibir anak kecil yang berusia empat tahun.


Eki menatap pilu ke arah putrinya yang tengah menunggu jawaban dari sang ayah.


"Itu bukan Bundaku 'kan, Yah."


Seketika air mata Eki menetes mendengar sebuah penolakan halus dari mulut putrinya.


"Tante itu orang gila," tuturnya lagi


Eki segera memeluk tubuh Melati. Tangis Eki pecah mendengar ucapan dari Melati.


"Kenapa Ayah menangis?" tanyanya lagi.


Sungguh Eki sangat tidak kuat menahan semuanya. Dia sudah lama membohongi Melati. Sekarang, sudah waktunya Melati mengetahui semuanya.


Eki mengurai pelukannya. Dia memperlihatkan sebuah foto kepada Melati.


"Ini ... Tante itu 'kan," tunjuknya ke arah Kenny.


"Iya, dan ini adalah kamu," tunjuknya ke arah bayi yang digendong oleh Kenny


Seketika bocah empat tahun itu terdiam. Dia menatap ke arah ayahnya dengan mata yang nanar.


"Ayah, bohong 'kan? Tidak mungkin aku punya Bunda orang gila," tolaknya seraya menjerit.


Eki hanya bisa menangis. Dia mencoba menenangkan Melati, tetapi Melati tidak mau.


"Dia bukan bundaku!" tunjuk Melati ke arah Kenny yang ternyata sudah berada di balik pintu kaca.


"A-anakku."


Ucap pelan Kenny seraya tangannya ingin menyentuh Melati. Akan tetapi, Melati malah pergi begitu saja meninggalakan Kenny dan juga Eki.


"Aku gak mau punya ibu gila!"


Sampai usianya menginjak dua puluh empat tahun, Melati tidak ingin menemui ibunya kembali. Dia sudah mengaggap ibunya mati.


off.


Rasa iri kini berkecamuk di dada Melati melihat Ayanda dan juga Riana akrab seperti itu. Padahal mereka menantu dan mertua, seperti tidak ada jarak di antara mereka berdua.


Ayanda memilih menemui Aska, sedangkan Riana menuju dapur untuk membuka lemari pendingin khusus camilan untuknya dan juga ketiga keponakannya. Dia mengambil susu kotak rasa cokelat yang berukuran lima ratus mili. Tak lupa dia membawa kopi dalam kemasan kotak kesukaan sang suami.


Tak lama, Riana kembali dengan susu kotak juga kopi dalam kemasan di tangannya. Aksa yang melihat istrinya segera menghampiri Riana dan menggandengnya sampai ke sofa.


"Makasih, Sayang." Kecupan di ujung kepala Aksa berikan untuk Riana.

__ADS_1


"Stok susunya masih banyak gak, Ri? Kalau sudah menipis Daddy pesankan lagi."


Melati benar-benar merasakan kasih sayang pria yang menjadi sahabat ayahnya ini sangat tulus kepada istri dari penanam modal terbesar, di rumah sakit tempatnya praktek.


"Masih ada satu dus kok, Dad."


Giondra tersenyum mendengarnya. "Kalau ada yang habis, jangan sungkan bilang kepada Daddy."


Riana pun mengangguk.


Ayanda masuk kembali ke ruang tengah. Dahi Gio mengkerut karena sang istri tidak datang bersama Aska.


"Loh, Adek ke mana?" tanya Giondra.


"Lagi charge ponselnya, Dad. Nanti dia ke sini kok," jelas sang istri. Gio pun mengangguk dan mengajak Eki juga Melati untuk menikmati makan malam bersama.


Mereka sudah berada di ruang makan, di mana Riana yang pastinya akan menempel layaknya perangko di lengan sang suami.


"Manja," ucap Melati pelan, tapi mampu didengar oleh Riana.


"Bang, apa manjanya Ri mengganggu Abang?" tanya Riana sedikit menyindir Melati.


"Enggak, Sayang. Memangnya kenapa?" tanya balik Aksa.


"Ada tetangga baru yang merasa terganggu, Bang."


"Tetangga baru?" ulang Gio dan juga Ayanda. Riana hanya mengangguk.


"Siapa Sayang? Biar Abang labrak dia sekarang juga," sungutnya. "Kamu yang manja kepada Abang, kenapa dia yang hareudang? Aneh," omel Aksa lagi. Belum selesai Omelan Aksa, suara tiga anak perempuan kesayangan terdengar.


"Aki!"


"Mimo!"


Suara anak kecil menggema, Ayanda dan juga Giondra menoleh dan tersenyum ke arah dua kurcaci cantik itu.


"Loh, Bubu dan Baba mana?" tanya Ayanda.


"Di rumah, sedang ganti baju," sahut Aleena.


"Ini baju baru dari Mamih Aunty," ucap Aleeya serta menunjukkan baju bermerk Chann**.


"Cantik sekali bajunya," puji Ayanda.


Berbeda dengan kedua saudaranya, Aleesa si anak spesial tengah menatap tajam ke arah Melati. Padahal, Melati sudah tersenyum hangat kepada Aleesa.


"Hai, cantik!" sapa Melati.


"Kata siapa aku ganteng. Aku cewek!" ketus Aleesa.


"Kakak Sa, tidak boleh begitu," ucap Giondra. "Salim ke teman Aki, dan Tante cantik di sampingnya," titah Gio.


"Masih cantikan Dedek, Aki!" seru Aleeya.


Gio dan Eki lu tertawa melihat tingkah lucu si triplets. Mereka mencium tangan Eki dengan sopan, tetapi berbeda kepada Melati. Mereka menatap sinis seperti orang yang memiliki dendam.


"I don't like her."


Kalimat yang sangat tegas Aleesa katakan ketika dia sudah duduk di kursi meja makan.


...****************...


Komen ya ....

__ADS_1


__ADS_2