
Pelukan hangat yang Aska berikan kepada perempuan yang baru saja datang membuat hati Jingga terasa sakit dan sesak. Matanya sudah nanar melihat Aska yang sangat erat memeluk tubuh perempuan itu.
Siapa dia? Sangat cantik dan muda.
Batin Jingga terus berkata dan menerka-nerka. Betapa sangat cocok sekali mereka berdua.
"Kenapa gak bilang dulu?" tanya Aska seraya membawa perempuan itu duduk di sampingnya.
"Mau jemput emang?" Aska hanya tertawa dan mengusap lembut rambutnya.
Kenapa hatiku sangat perih. Senyuman itu adalah senyuman yang selalu Bang As berikan kepadaku.
Perempuan itu menatap ke arah Jingga dengan dahi yang mengkerut. Dia menatap Jingga dari atas sampai bawah.
"Dia siapa?" tanya perempuan di samping Aksa, dengan jari telunjuk yang mengarah ke arah Jingga.
Jingga berharap Aska akan memperkenalkannya sebagai teman sekolahnya agar tidak terlalu menyakitkan hatinya.
"Asisten." Sebuah jawaban yang membuat hati Jingga terkoyak parah.
"Hanya asisten 'kan? Gak ada modus-modusan," sergah perempuan itu.
"Enggak," jawab Aska dengan senyum yang sangat manis. Refleks, Jingga memegang dadanya. Sakit sekali rasanya.
Sudut mata Aska mampu melihat mimik wajah Jingga. Dalam hatinya dia tersenyum puas.
"Benar, ya. Awas kalau bohong," ucapnya dengan tatapan tajam.
"Iya, Beeya Sayang."
Ternyata namanya Beeya. Apa dia kekasih bang As? Kenapa dia begitu cepat melupakan perasaannya kepadaku?
Hati Jingga terus bertanya-tanya, apalagi Beeya terus bergelayut manja. Tak dia pedulikan di sana ada Ken dan juga Juno, seakan mereka berdua tahu kebiasaan Beeya serta Aska.
"Mbak-nya!" panggil Beeya kepada Jingga. Dia pun terbangun dari lamunannya.
"Ka-kak manggil saya?" tanya balik Jingga.
"Dih, mon maap nih Mbak-nya. Jangan sekata-kata manggil saya dengan sebutan Kakak. Muka saya imut, beda dengan muka Mbak yang terlihat boros," balas Beeya.
Ketiga pria yang ada di sana hanya mengulum senyum mendengar ucapan Beeya. Bocah yang memang benar-benar menyebalkan. Ucapan seperti petasan banting, nyaring dan nyelekit.
Beeya baru saja tiba dari Singapura untuk bertemu ibunya. Beby Putri Winarya tengah sibuk mengurus perusahaan peninggalan mendiang sang ayah yang diwariskan kepadanya. Jadi, untuk sementara waktu Arya dan Beeya harus tinggal terpisah dengan Beby hingga semua pekerjaan di Singapura selesai. Tidak ada janjian antara Beeya juga Aska untuk hari ini. Beeya memang ingin bertemu dengan Aska.
Di lantai bawah para karyawan tengah membicarakan bos mereka. Baru kali ini ada perempuan yang mencari Aska dan dengan lancangnya masuk ke dalam ruangan atas di mana Aska berada.
"Apa itu pacar Pak Aska?" tanya salah seorang karyawan.
"Bisa jadi."
Ketika mereka tengah asyik bergosip, salah seorang karyawan melebarkan mata ketika melihat dua orang yang baru masuk ke dalam kafe.
"Su-su-sultan."
Ucapan karyawan tersebut mampu membuat mereka semua menoleh. Panik, itulah yang mereka rasakan.
"Gimana ini?" tanya karyawan yang lainya.
"Emangnya Pak Ken atau Pak Juno gak bilang kalau Sultan dan istrinya berkunjung ke sini?" tanya yang lainnya. Mereka pun menggeleng.
__ADS_1
Aksa dengan posesifnya menggandeng tangan Riana, Mereka duduk di meja yang berada di pojokan karena tidak terlalu suka keramaian.
Salah seorang karyawan memutuskan untuk naik ke lantai atas. Tidak perduli mau dibentak ataupun dimarahi oleh para bosnya. Ini lebih genting dari terciduk satpol PP.
Ketukan pintu terdengar membuat orang-orang yang berada di dalam menoleh. Ken segera membuka pintu, dan dia nampak terkejut ketika melihat salah seorang karyawan sudah ada di depan pintu.
"Ada apa?" tanya Ken.
"Di bawah ... ada Sultan dan istrinya," jawab karyawan tersebut.
"Mampoes!"
Ken menuju Aska juga Juno dengan tergesa. Dia berbisik kepada Juno dan mata Juno pun hampir keluar dari tempatnya.
"Sa ... Sultan ada di bawah, sama istrinya." Juno mencoba memberitahukan kepada bosnya itu. Namun, respon Aska biasa saja.
"Mereka hanya ingin makan siang." Begitulah jawaban dari Aska.
Juno dan Ken segera turun ke bawah untuk menemui Aksa juga istrinya. Mereka berdua tidak mau para karyawannya sawan ketika mendengar ucapan pedas nan menyakitkan yang keluar dari mulut kembaran Aska. Berbeda dengan Jingga yang masih memandangi Beeya dan Aska. Aska tengah menunjukkan ponselnya ke arah Beeya dan Beeya pun tertawa.
"Mau sungkem ah ke calon Abang ipar." Aska pun tertawa dan tangannya mengusap lembut rambut Beeya.
"Inilah yang Bee rindukan," ucap Beeya sambil memegang tangan Aska yang masih ada di atas kepalanya.
"Sini-sini, aku peluk." Beeya pun masuk ke dalam pelukan Aska. Jingga sudah berkaca-kaca melihatnya. Tidak dipungkiri hatinya semakin sakit. Dia menolak Aska, tetapi dia tidak rela jika melihat Aska bersama wanita lain. Egois sekali memang dirinya.
"Eh, Mbak-nya. Kenapa masih di situ? Bukannya ikut sambut Sultan di bawah," usir Beeya dengan nada yang sangat ketus.
Jingga menatap ke arah Aska, berharap Aska akan mencegahnya. Lagi-lagi Aska acuh dan tidak peduli. Membiarkannya begitu saja. Akhirnya, Jingga pun pergi dengan hati yang pedih.
Sebenarnya, Beeya tidak tahu siapa Jingga. Dia datang ke kafe milik Aska karena ada hal yang ingin Beeya ceritakan. Aska adalah tempat curhat untuk gadis itu.
Di lantai bawah, dua sahabat Aska sudah menyambut Aksa. Mereka berdua sudah berada di samping meja Sultan juga istrinya.
"Buatkan makanan paling enak yang ada di kafe ini." Sontak Ken dan Juno terperangah.
"Makanan di sini enak semua, Bang," sahut Ken. Mata tajam Aksa seakan ingin membunuh Ken hidup-hidup.
"Di antara yang enak pasti ada yang terenak," sentaknya. "Sama halnya di antara yang baik pasti ada yang terbaik," lanjut Aksa lagi.
Itu bukan kalimat sindiran, tetapi timing-nya sangat tepat karena Jingga mendengar apa yang dikatakan Aksa. Jingga yang hendak melangkahkan kaki ke dapur menghentikan langkahnya.
Terdengar suara langkah kaki menuju akan tangga membuat Jingga segera menuju area dapur. Dia tahu siapa yang turun. Kemesraan dua orang itu membuat hati Jingga memanas. Apalagi tangan Beeya yang merangkul manja lengan Aska. Mereka berdua tengah menjadi trending topik di area dapur.
"Cocok banget, ganteng dan tampan." Begitulah kata para karyawan.
Jingga semakin minder dan keputusan untuknya menjauh sudah tepat. Dia bukan dari kalangan ningrat. Dia hanya kalangan orang melarat.
"Baru kali ini loh Pak Aska go public. Dia 'kan orang yang sangat tertutup dalam hal pribadi," ujar yang lainnya.
JIngga hanya bisa menunduk dalam mendengar ucapan dari karyawan lainnya. Bersama dirinya saja, Aska selalu menutup-nutupi dari semua orang, sedangkan bersama Beeya dia seakan Santai dan bahagia.
"Jangan bergosip!" seru Juno yang baru saja masuk ke dapur. Semua karyawan pun menutup mulut mereka.
"Buatkan dua ayam panggang yang spesial. Satu pakai kentang, satu lagi pakai nasi," tukas Juno. "Jus strawberry dengan sedikit es batu. Susu kental manis diganti dengan susu full cream." Pesanan Sultan dan istrinya pasti akan merepotkan semua orang.
Di meja Aksa dan Riana, Beeya sudah memeluk hangat tubuh wanita yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri.
"Kak Ri pasti kuat," ucap Jingga dengan nada yang sangat lirih. Dia baru mengetahui kabar tersebut dari Aska. Hanya seulas senyum yang Riana berikan.
__ADS_1
Aksa segera menarik tangan Riana dan memeluknya dengan sangat erat. Dia tahu bagaimana hati Riana sesungguhnya.
"Jangan pernah menitikan air mata lagi." Riana mengangguk dan membalas pelukan sang suami.
Beeya yang merasa terharu akan sikap Aksa pun memeluk tubuh Aska.
"Langit ... bisakah engkau turunkan pria seperti Abang Aksa."
Aksa, Riana serta Aska pun tertawa. Cubitan gemas di pipi putih Beeya Aska berikan. Bagi orang lain melihat Aska dan juga Beeya tengah bermesraan seperti sepasang insan yang tengah dimabuk cinta sungguhan. Hati Jingga semakin sakit karena sedari tadi pandangannya tak terlepas pada meja yang tengah diisi empat orang itu.
Bang, kamu nampak sangat bahagia.
Mata Jingga sudah nanar, hatinya terasa sakit sekali. Padahal, dia yang menginginkan Aska menemukan orang yang tepat untuknya. Akan tetapi, dia sendiri yang tidak ikhlas melepaskan Aska.
🎶
Ternyata belum siap diriku
Kehilangan dirimu
Belum sanggup untuk jauh darimu
Yang masih slalu ada dalam hatiku
Lagu galau yang tengah menemani makan siang di Jomblo's kafe, seperti soundtrack lagu kisah dirinya dan juga Aska.
"Jingga, nanti kamu ya yang antar pesanan ini ke meja Sultan dan istrinya," ucap salah satu karyawan.
Ingin rasanya Jingga menolak, tetapi ini adalah tugasnya. Apakah kakinya masih sanggup untuk melangkah menuju pria yang tengah berbahagia? Apa matanya masih sanggup menatap ke arah pria yang sedang tertawa lepas? Apakah hatinya akan kuat?
Mata Jingga terus terpaku pada Aska yang sangat berbeda hari ini. Terutama kepada dirinya. Lima belas menit berselang, panggilan terdengar dari juru masak di belakang.
"Ini pesanan Sultan dan juga istrinya," ucap juru masak. "Sajikan dengan benar agar mereka berdua puas dan kita terbebas." Jingga mengangguk mengerti.
Sebelum menuju meja Sultan, Jingga menarik napas panjang terlebih dahulu. Menyiapkan mental dan hatinya yang sudah terasa perih. Langkah kakinya membawanya menuju meja yang berisikan empat orang tersebut. Dia mampu mendengar tawa bahagia antara mereka berempat.
"Permisi," ucap Jingga dengan sopan.
Semua mata kini tertuju pada Jingga yang sudah membawa nampan di tangannya. Dia juga sudah meletakkan pesanan yang Aksa dan Riana pesan.
"Mbak-nya," panggil Jingga ketika Jingga hendak pamit pergi.
"Tolong fotoin kami berempat dong.
Deg.
Mata Jingga segera tertuju pada Aska. Namun, Aska menampakkan wajah acuh dan biasa saja. Begitu juga dengan Aska dan Riana.
"Biar kaya Kapten Yoo Si Jin dan Sersan Soe Dae Young di film DOTS yang lagi kencan sama dua pramugari cantik," tuturnya.
Aska tertawa dan merangkulkan lengannya di pundak Beeya. Aksa dan Riana saling tatap dan tersenyum. Mereka akan mengikuti permainan duo manusia edan itu.
Beeya yang memang ingin memanas-memanasi kesebelas pacarnya ingin berfoto mesra bersama Aska. Partner gila yang selalu akan membantunya. Akhirnya, Jingga menerima ponsel yang Beeya berikan.
Sesaat tubuhnya menegang ketika Beeya mencium pipi Aska dengan mesranya di hadapannya, sedangkan Aska dan Riana tengah saling tatap dengan penuh cinta. Bukannya mengambil gambar, Jingga malah menjatuhkan ponsel itu karena tangannya seolah tak memiliki tenaga.
"Mbak-nya ... itu hape apel kegigit gua!"
...****************...
__ADS_1
Komen dong ... 1600 Kata ini.