Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Penasaran


__ADS_3

Aska masih terjaga sampai pagi datang. Hatinya bertanya-tanya siapa anak perempuan itu. Otaknya berpikir keras, tetapi dia belum mendapat jawaban yang sesuai logika.


"Uncle," gumamnya.


Ketiga keponakannya tidak ada yang memanggilnya uncle. Si triplets memanggilnya dengan sebutan Om, sedangkan kepada Aksa barulah mereka memanggil uncle. Hanya kepada calon anak Aksa dan Rianalah dia mulai menyebut dirinya uncle.


"Apa ...."


Ucapannya menggantung, hatinya berdegup sangat cepat. Pikiran jelek sudah mengitari otaknya.


"Jangan sampai hal buruk menimpa keponakanku, Tuhan," ucapnya seraya berdoa dengan serius.


Baru saja dia hendak memejamkan mata, suara dering telepon. mengganggunya. Sudah jam setengah tujuh pagi dan Aska baru tertidur jam enam. Sekarang abangnyalah yang mengganggu tidurnya.


"Apa?" ucap Aska dengan mata yang masih terpejam.


"Riana mana? Kasih teleponnya ke Riana," titah Aksa dengan nada yang sangat khawatir.


"Bisa gak sih sehari aja gak ganggu gua, gua baru aja tidur nih," ucap Aska.


"Cepet Dek!" Suara Aksa sudah memekik gendang telinga dan sontak membuat Aska memaki-maki abangnya.


Langkah malasnya membawa tubuhnya yang lemah ke ruang makan. Istri dari kakaknya ada di sana, tengah menikmati sarapan dengan wajah sendu. Tanpa berucap lagi, Aska memberikan ponselnya ke arah Riana.


"Laki lu," ujar Aska.


"Biarin aja. Ri, gak mau ngomong," jawabnya.


Gio dan Ayanda hanya saling tatap. Mereka tahu bagaimana hati Riana setelah mendengar kabar bahwa Aksa akan lebih lama di sana.


"Lu dengar 'kan. Bini lu gak mau ngomong," ucap Aska ke arah ponselnya.


Tangan Gio sudah menengadah ke arah Aska. Meminta ponsel Aska.


"Riana baik-baik saja, dia butuh waktu untuk sendiri dulu. Jangan memaksanya, semakin kamu memaksa Riana akan semakin stres. Itu tidak baik untuk kandungannya," ujar Gio sedikit memberikan pengertian.


"Tolong loudspeaker, Dad," pinta Aksa. Gio mengikuti ucapan Aksa.


"Sudah," balas Gio.


"Riana, istriku Sayang. Maafkan Abang ... Abang melakukan ini untuk masa depan kamu dan anak-anak kita. Abang ingin memberikan yang terbaik untuk kamu. Juga membahagiakan kamu serta anak-anak kita nantinya. Sabar dulu ya, Sayang. Abang janji, setelah ini kita akan bersama-sama lagi. Abang, kamu dan calon anak kita."

__ADS_1


Tes.


Bulir bening pun menetes begitu saja membasahi wajah Riana. Hati Ayanda terenyuh mendengarnya. Begitu juga dengan Aska yang merasa tergelitik hatinya mendengar ucapan tulus dari sang Abang.


"Anak-anak Daddy, jaga Mommy ya, Nak. Jangan buat Mommy repot selama Daddy gak ada di samping kalian. Jadi anak baik dulu ya, Nak. Ketika Daddy kembali, kalian boleh bermanja dengan Daddy. Daddy sayang kalian."


Suara Aksa terdengar sangat berat, seperti sedang menahan sesak di dadanya. Gio menunduk dalam merasakan apa yang tengah Aksa rasakan di sana. Riana semakin terisak mendengar ucapan Aksa. Ayanda segera memeluk tubuh menantunya.


"Mommy tahu, ini berat untuk kamu, Sayang. Percayalah, suami kamu juga lebih berat meninggalkan kamu," ucap Ayanda.


Hanya isakan tangis yang keluar dari mulut Riana. Perutnya yang sedari kram, ketika mendengar suara Aksa kembali normal lagi. Anak di dalam kandungannya inilah yang tidak ingin jauh dari sang ayah.


"Setelah perpisahan pasti ada kebahagiaan, percaya itu, Nak," imbuh Gio.


Aska tidak bisa berucap, jujur dia sangat sedih melihat kakak dan kakak iparnya yang tersiksa seperti ini. Dia tidak tega melihat Riana menangis.


Jam sembilan Aska sudah rapi, dia menuruni anak tangga. Di ruangan bawah ada sang ibu yang tengah menyusun cemilan ke dalam toples.


"Mom, Adek jemput si triplets dulu, ya."


Dahi Ayanda mengkerut mendengar ucapan dari putra bungsunya. Tidak biasanya anaknya ini menjemput tiga keponakannya.


"Kakak nyuruh kamu?" Aska menggeleng sambil mengunyah cemilan yang ibunya susun ke dalam toples.


"Hati-hati," teriak sang ibu.


Sebenarnya Aska penasaran dengan anak perempuan yang hadir di mimpinya semalam. Dia ingin mencari tahu melalui keponakannya yang memiliki kelebihan.


Ketiga bocah cantik itu berlari ke arah sang om yang tengah bersandar di mobil hitam yang dia bawa.


"Om!" panggil mereka.


Aska tersenyum dan merentangkan tangannya ke arah ketiga keponakannya. Mereka masuk ke dalam pelukan Aska.


"Tumben," cibir Aleena.


Aska sangat gemas dengan anak pertama Radit dan Echa ini. Mulut Aleena itu bagai cabai gunung. Kecil-kecil tetapi pedasnya nampol.


"Kamu kenapa sih sangat menyebalkan seperti Baba kamu," balas Aska sambil mencubit pipi Aleena.


"Sakit, Om," keluh Aleena dengan menekuk wajahnya.

__ADS_1


Aska tertawa dan menyuruh ketiga keponakannya untuk masuk ke dalam mobil.


"Om, ke kedai es krim, ya." Aleeya sudah berucap dengan sangat semangat.


"Bangkrut kalau ke kedai es krim yang kalian suka mah," balas Aska sambil fokus ke jalanan.


Aleeya mengerucutkan bibirnya, sedangkan Aska sudah tertawa melihat wajah Aleeya. Sungguh mood booster sekali ketiga keponakannya ini.


Mereka bersorak gembira ketika mobil sang paman berhenti di kedai es krim kesukaan mereka. Mereka segera turun dan langsung memesan apa yang mereka inginkan. Aska hanya menggelengkan kepala.


"Om mau bicara apa?" Kali ini Aleesa sudah membuka suara.


Keponakan dari Aska ini bagai cenayang yang mampu menebak niatan seseorang. Aleena dan Aleeya hanya melihat ke arah sang om yang terlihat speechless.


"Aleesa," kata Aska. Akan tetapi, dia menjeda ucapannya.


Dahi Aleesa mengerut, sedangkan kedua saudaranya sudah menikmati es krim yang sudah disuguhkan.


"Semalam Om mimpi ...."


"Kakak Sa bukan pelamar, Om," potong Aleesa. Aska tercengang dengan ucapan Aleesa. Sesungguhnya dia tidak mengerti dengan perkataan keponakannya ini.


"Peramal, Kakak Sa," ralat Aleena si jenius.


"Apalah itu, belibet ngomongnya," sahut Aleesa.


Aska berdecak kesal. Dia menatap serius ke arah Aleesa yang sudah menyendokkan es krim untuk dia makan.


"Om serius, Aleesa. Om penasaran sama anak kecil perempuan itu," tutur Aska.


"Anak kecil perempuan?" ulang Aleesa. Kini sorot matanya meminta Aska untuk menjelaskan lebih rinci lagi.


"Dia memanggil Om dengan sebutan uncle. Wajahnya mirip dengan aunty Riana," lanjut Aska lagi.


Terdengar hembusan napas kasar dari Aleesa. Mulutnya tiba-tiba terbungkam. Aska menatap heran ke arah Aleesa yang mimik wajahnya berubah.


"Aleesa," panggil Aska.


"Itu hanya bunga tidur, Om." Aleesa berucap dengan nada yang sangat datar. "Kata Baba kemampuan Kakak Sa hanya seujung kuku Tuhan. Jadi, jangan menanyakan hal itu kepada Kakak Sa karena Kakak Sa bukan Tuhan," terangnya.


Apa yang Aleesa katakan memang benar. Namun, Aska melihat ada gurat berbeda dari wajah Aleesa. Dia seperti tengah menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


...****************...


Up lagi jangan nih?


__ADS_2